Analisa sektoral: MEDIA (aneka model bisnis dan industri di dalamnya)

TV channels

TV channelsTema kali ini sedikit berbeda. Jika anda sering mengikuti tulisan blog ini anda akan tau bahwa saya adalah orang yg tergolong cuek terhadap makro ekonomi. Motto saya simple, jika kita belum bisa mengenal dan menganalisa sebuah perusahaan secara mendalam, apalah gunanya memiliki segudang data tentang makro ekonomi di meja, namun tidak bisa memanfaatkannya utk memilih saham secara tepat dan benar.

Kita yg malas belajar sering memikirkan jalan pintas menuju sukses, namun setiap orang sukses akan bilang kepada kita bahwa apa yg dia capai bukanlah kebetulan, tapi kerja keras yg tanpa lelah dan pengorbanan bertahun-tahun utk bisa berada di posisinya sekarang. Sayangnya kita lebih tertarik utk mendengarkan cerita kesuksesannya saja dan mengabaikan proses dia menuju sukses, padahal proses inilah yg lebih penting, ingat Sebab dan Akibat. Di saham juga sama. Cuan adalah hasil (akibat), namun yg menentukan cuan adalah proses (sebab). Jadi proses apa yg kita jalankan pada akhirnya akan menentukan hasil yg kita capai dalam investasi.

Pengetahuan tentang sektor itu sebetulnya penting, tapi hanya benar jika kita mengerti bagaimana sektornya bekerja. Membaca sebuah berita di sektor tertentu lalu langsung membeli saham salah satu emiten di dalamnya adalah tindakan yg tidak bijak dan menyesatkan. Kita harus terlebih dulu mengenal perusahaan yg di dalam sektor tersebut, menganalisanya secara mendalam, lalu terakhir baru kita evaluasi apa dampak dari berita tersebut terhadap kinerja perusahaan, apakah efeknya hanya jangka pendek atau jangka panjang.

Makanya sebelum saya mencoba mengulas topic yg lebih melebar dalam pengetahuan fundamental, saya banyak belajar dan mengpraktekan analisa mikro dulu (analisa perusahaan), sehingga saya bisa mengerti dan menerapkan strategi yg benar dan konsisten dulu sebelum saya mencoba utk ilmu yg lebih tinggi. Namun saya merasa sudah cukup banyak ulasan saya tentang fundamental mikro, maka dalam article ini saya memberanikan diri utk mengsharing sesuatu yg lebih high-up yaitu analisa sektoral khususnya sektor MEDIA.

Saya memilih utk mulai dari sektor media bukan secara acak, tapi karena saat ini di sektor media ada emiten yg cukup menarik utk di perhatikan, tapi saya akan ulasnya di article berikut.

Mengutip dari sang guru besar Pat Dorsey, perusahaan media menawarkan banyak potensi keuntungan besar dalam investasi jangka panjang. Namun sukses dalam memilih saham media yg tepat bukanlah sekedar bisa menemukan sebuah acara TV yg lagi popular, memprediksi film blockbuster yg berikut, maupun mengetahui buku baru yg akan menjadi best-selling.

Kunci sukses dalam memilih saham media adalah kemampuan utk mengidentifikasi mereka yg akan terus bertumbuh secara konsisten utk tahun-tahun mendatang dan pada waktu yg sama mampu mencetak arus kas bersih (free cash flow) yg masif.

Sektor media juga di untungkan dari beberapa keunggulan kompetitif seperti: economies of scale dan monopolies sehingga akan memudahkan perusahaan utk mencetak laba yg besar utk jangka panjang. Yang di maksud dgn economies of scales adalah kemampuan utk membagi beban tetap (fixed cost) dgn volume produk/jasa yg lebih besar, sehingga secara beban per produk/jasa menjadi lebih kecil/murah. Sedangkan yg dimaksud dengan monopoly adalah lisensi, regulasi pemerintah dan hak cipta yg mampu menghalang kompetisi utk masuk ke industrinya atau merebut pangsa pasarnya.

Media itu mencakup banyak industri dan sangat luas, namun pada umumnya di bagi menjadi 3 jenis yaitu: Publikasi (koran, majalah, buku), Penyiaran dan TV kabel (TV, radio) dan Produksi hiburan (film, CD audio).

Cara perusahaan media mencari uang
Perusahaan media mendapakan uang dengan mengproduksi atau mengirim pesan ke publik. Pesan atau kontent bisa dalam format video, audio, ataupun cetak. TV, film, radio, internet, buku, majalah dan koran adalah metode distribusi pesan/kontent yg paling popular saat ini. Namun setiap industri punya model bisnis yg berbeda tergantung sumber pendapatan utama perusahaan tersebut.

Model bisnis 1: User fees (fee sekali bayar)
Contoh perusahaan yg memiliki model bisnis ini adalah perusahaan yg menjual film, buku, CD. Nasabah di charge sekali bayar utk kontent yg di dapatkan.

Jeleknya, perusahaan dgn model bisnis ini memiliki kinerja yg agak fluktuatif. Kinerja akan sangat tergantung pada setiap hasil produksi baru. Dengan 1 seri produksi yg terus-terusan menjadi best-selling maka perusahaan akan bisa meraup keuntungan yg super fantastis, namun sebaliknya jika perusahaan terus-terusan gagal mencetak produksi bagus, maka kinerja perushaaan juga agak sangat buruk. Karena ketidakpastian ini dan fluktuasi kinerja yg cenderung lebih sering terjadi, akan membuat kita amat sulit utk mengprediksi kinerja masa depan perusahaan dalam model bisnis ini.

Selain itu, negatif dari model bisnis ini adalah ketergantungkan terhadap peranan sang aktor, penulis, penyanyi yg sangat popular utk membuat produknya lebih sukses. Namun, dgn nama besar para individu yg popular ini, maka biaya yg harus dibayarkan kepada mereka atau pembangian hasil dgn porsi yg lebih besar, sehingga membuat keuntungan perusahaan menjadi lebih tipis.

Di BEI terdapat beberapa emiten yg bergerak dibidang ini, namun pendapatan yg dihasilkan bukanlah pendapatan utama, contohnya: MNCN dan SCMA yg memiliki production house utk bikin film layar lebar dan seri TV panjang.

Model bisnis 2: Subscriptions (Subskripsi)
Contoh perusahaan yg memiliki model bisnis ini adalah perusahaan yg menjual kabel TV, koran, majalah. Model bisnis ini akan lebih menarik daripada user fees karena kinerja masa depannya akan lebih gampang diprediksi sehingga membuat analisa lebih terukur.

Selain itu, keuntungan lain adalah subskripsi selalu dibayar dimuka sebelum produk dikirimkan kepada nasabah. Walaupun uang yg dibayar dimuka ini belum bisa diakui secara langsung sebagai pendapatan, namun uangnya bisa langsung dimanfaatkan utk kebutuhan operasional maupun ekspansi usaha sehingga ketergantungan terhadap pinjaman luar bisa di minimalisir. Selain itu, dampak dari gejolak ekonomi pun lebih minim, karena uang sudah dibayar terlebih dulu, jadi sudah tidak ada beda buat nasabah.

Model bisnis ini umumnya memiliki biaya tetap (fixed cost) yg besar, sehingga dengan memiliki nasabah yg lebih banyak membuat keuntungan makin besar. Contoh yg baik adalah koran dan majalah. Beban berubah (varibale cost) yg paling besar adalah kertas, selain itu hampir semua biaya lain adalah beban tetap (fixed cost) sehingga tidak penting perusahaan mencetak berapa banyak koran maupun majalah, lebih banyak maka perpecahan cost per produk akan menjadi makin murah, sehingga marjin laba pun menjadi semakin besar.

Namun tidak berarti model bisnis ini tidak memiliki sisi negatif juga. Terutama di bisnis TV kabel dan TV satelit dimana pembiayaan utk infrastruktur sangat besar dan upgrade system adalah proses yg berulang-ulang demi meningkatkan mutu layanan sehingga beban ini umumnya memakan sebagian besar laba perusahaan dan tidak ada hentinya.

Di BEI juga terdapat beberapa emiten yg tergolong di kategori ini antara lain: MSKY, LINK, KBLV, TLKM.

Model bisnis 3: Advertising revenue (Pendapatan iklan)
Contoh perusahaan yg memiliki model bisnis ini antara lain: TV, radio, dan media internet seperti youtube.

Model bisnis ini bisa menikmati marjin keuntungan yg cukup lumayan karena beban yg dikeluarkan cenderung bersifat beban tetap. Namun sisi jelak dari model bisnis ini adalah pendapatan cenderung turun drastis saat ekonomi lesu. Iklan adalah beban yg pertama nasabah potong pada masa kesulitan ekonomi, sehingga membuat kinerja perusahaan lebih fluktuatif. Tentunya dgn percepatan pertumbuhan ekonomi, kinerja perusahaan periklanan pun akan tumbuh fantastis karena nasabah akan lebih berani dan agresif beriklan.

Di BEI terdapat beberapa emiten yg core businessnya identik dgn model bisnis ini antara lain: MNCN, SCMA, VIVA dan MARI.

Economic moats di sektor Media
Perusahaan media memiliki beberapa keunggulan kompetitif yg bisa membantunya mencetak arus kas bersih (free cash flow) secara konsisten, seperti: economies of scale, monopolies dan asset tidak berwujud. Economies of scale sangat penting bagi industri penerbit dan penyiar sedangkan monopoly penting bagi industri kabel TV dan koran. Namun asset tidak berwujud seperti lisensi, hak cipta, perizinan pemerintah dan merek adalah sangat penting bagi semua industri dalam sektor media.

Monopoly, lisensi dan deregulasi
Carilah perusahaan yg memegang monopoly di marketnya. Perusahaan ini cenderung memiliki keleluasaan dalam mengatur harga jual sehingga berdampak pada laba yg fantastis utk jangka yg panjang. Contoh yg baik adalah koran. Jarang di satu wilayah yg sama kita melihat ada lebih dari 1 koran yg dominan.

Lisensi juga merupakan sebuah keunggulan kompetitif yg bagus sehingga bisa menyumbang laba yg fantastis utk jangka panjang kepada perusahaan yg memilikinya. Contohnya TV dan radio. Walaupun di industri ini perusahaan tidak mendapatkan keistimewaan monopoly namun mereka diberi kelebihan oligopoly, artinya hanya segelintir perusahaan saja yg diberi izin utk menyiar. Di Indonesia, masa berlaku lisensi adalah 10 tahun dan bisa di perpanjang, sehingga ini membuat pemain baru susah utk masuk ke industri yg sudah ada.

Deregulasi juga merupakan keuntungan yg fantastis. Dengan deregulasi, maka perusahaan yg sudah dulu berada di dalam industri ini akan memiliki kesempatan utk mengakuisisi perusahaan lain dibidang yg sama sehingga bisa mengurangi kompetisi sekaligus memperluas pangsa pasarnya. Ini bisa kita lihat di Indonesia juga, seperti MNCN memiliki stasiun TV seperti RCTI, Global TV dan MNC TV, sedang SCMA memiliki stasiun TV SCTV dan Indosiar. Dengan terjadinya deregulasi, maka perusahaan bisa berkonsolidasi utk memperkuat struktur perusahaan sekaligus melakukan banyak kebijakan efisiensi biaya sehingga mampu menyetir laba ke level yg lebih tinggi. Dengan laba yg lebih tinggi maka modal lebih kuat sehingga kemampuan utk mengakuisisi kedepannya pun lebih besar dan proses ini bisa berulang-ulang.

Industri 1: Publikasi
Industri publikasi adalah tempat yg bagus utk mencari kesempatan investasi. Banyak perusahaan terutama koran mendapat hak istimewa monopoly di market mereka. Dengan monopoly tentunya perusahaan memiliki keleluasaan utk mengatur harga jual tanpa hawatir dampak negatif yg berefek besar. Dengan kenaikan harga maka marjin laba ikut meningkat sehingga modal menjadi lebih kuat dan pada akhirnya memberi perusahaan kemampuan utk berekspansi ke wilayah lain dgn strategi yg sama, dan proses ini bisa berulang-ulang.

Selain itu, perusahaan publikasi juga diuntungakn dari economies of scale. Dengan volume market yg makin besar, produksi menjadi lebih banyak maka cost per barang menjadi lebih murah dan pada akhirnya meningkatkan marjin laba.

Industri 2: Penyiar dan Kabel
Perusahaan radio, TV dan TV kabel cenderung memiliki keunggulan kompetitif yg solid yg bisa memberi laba marjin yg lebih tinggi dan berkelanjutan.

Keuntungan deregulasi dari pemerintah membuat kompetisi di industrinya menjadi kurang agresif karena kini pemainnya di dominasi oleh sekelompok kecil yg cenderung memegang market share yg besar dan izin yg menghalang pemain baru utk masuk sehingga membuat marjin laba mereka menjadi makin menarik.

Penyiar mendapatkan uangnya dari jasa iklan dengan menayangkan program-program yg menarik banyak pemirsa. Program yg ditangkan adalah merupakan biaya terbesar dari perusahaan dan sifatnya adalah beban tetap (fixed cost) tidak tergantung pada jumlah pemirsa. Namun dgn lebih banyak pemirsa, maka perusahaan bisa menarik nasabah yg lebih banyak utk jasa iklannya sehingga pada akhirnya akan menimgkatkan laba perusahaan. Dengan bertambahnya deregulasi berarti perusahaan juga bisa mengdistribukan sebagian beban tetap ini kepada stasiun-stasiun TVnya yg lain, sehingga membuat cost lebih efisien.

Sesungguhnya penyiar memiliki model bisnis yg paling solid.  Investasi di segment ini cenderung hanya masalah valuasi harga saja. Jadi, investasi di perusahaan sejenis akan memberikan imbalan hasil jangka panjang yg sangat menjanjikan, namun pastikan perusahaan yg anda invest tidak melakukan deworsifikasi (menghemburkan uang dalam akuisisi bisnis yg tidak jelas).

Industri 3: Produksi hiburan
Seperti sudah disampai diatas, industri yg tergantung pada fee sekali bayar cenderung memiliki beberapa sisi negatif terutama fluktuasi dalam kinerja dan juga marjin overall yg lebih rendah, termasuk industri perfilman bioskop, seri TV, buku maupun rekaman musik.

Namun satu sisi positif dr industri ini adalah semua hak cipta yg sdh di produksi adalah seutuhnya menjadi milik perusahaan dan karena beban sudah di hitung di masa lalu. Disamping itu, industri ini juga memiliki keunggulan utk menghalang kompetisi utk masuk (barrier of entry), karena modal utk membuat sebuah film atau seri TV panjang tidaklah kecil dan butuh waktu yg cukup panjang. Namun perkembangan teknologi kini memberi ancaman besar terhadap industri ini dengan maraknya edaran bajakan yg gampang di download lewat internet.

Jadi jika anda jeli maka mungkin saat ini anda juga sudah bisa membayangkan beberapa emiten di BEI yg menarik utk di incar, namun ingat selalu melakukan analisa mikro dan valuasi sebelum anda mengambil tindakan beli.

Itulah kira-kira ringkasan singat (well not so singkat haha) dari apa yg Pat Dorsey ulas tentang industri Media.

Semoga dengan lebih mengenal model bisnis dan aneka ragam industri di sektor Media, sedikit banyak memberi anda gambaran apa yg harus di perhatikan saat memilih saham di sektor ini.

Sekian ulasan utk kali ini.

Salam berinvestasi!