Surya Citra Media (SCMA): Saham mesin pencetak uang di BEI! (Updated 21/10/16)

Logo SCM

Logo SCMDi akhir pekan lalu saya sempat mengulas sektor Media dengan penjelasan tentang model bisnis dan industri-industri di dalamnya, maka hari ini saya ingin kembali mengulas tentang fundamental mikro perusahaan, dan emiten yg ingin saya ulas adalah Surya Citra Media (SCMA) yg bergerak di industri Media.

Kutib dari situs britama.com, inilah sejarah singkat Perseroan:

Surya Citra Media Tbk (SCMA) didirikan 29 Januari 1999 dengan nama PT Cipta Aneka Selaras dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2002. Kantor pusat SCMA berlokasi di SCTV Tower – Senayan City, Jalan Asia Afrika Lot 19, Jakarta 10270.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Surya Citra Media Tbk, adalah Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) (induk usaha) (61,80%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SCMA adalah bergerak dalam bidang produksi televisi hiburan, komunikasi dan layanan jasa multimedia. Saat ini kegiatan usaha utama SMCA meliputi bisnis multimedia, konsultasi media massa, manajemen dan konsultasi administrasi, mendirikan bisnis manajemen rumah produksi, animasi, media online, hiburan, film dan musik.

Anak usaha SCMA yang kegiatan utamanya jasa media penyiaran televisi antara lain SCTV (PT Surya Citra Televisi) (Nasional), Indosiar (PT Indosiar Visual Mandiri) (Nasional), PT Bangka TeleVision (Bangka Belitung) dan PT Surya Citra Pesona (Gorontalo).

Pada tanggal 28 Juni 2002, SCMA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham SCMA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 375.000.000 dengan nilai nominal Rp250,- per saham dengan harga penawaran Rp1.100,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 16 Juli 2002.

Mari kita liat sebagus apa kinerja Perseroan semala 1 dekade terakhir ini:

A. Overview

Revenue yg terus meningkat dari tahun ke tahun dan hanya gagal sekali di tahun 2009, mencerminkan kokohnya bisnis Perseroan.

Namun walaupun terjadi pertumbuhan negatif di Revenue pada tahaun 2009, Perseroan malah berhasil menekan beban produksi sehingga Operating Income dan Net Income tetap bisa tumbuh positif selama 1 dekade, tanpa gagal.

Dengan sekilas, terlihat bahwa Perseroan adalah emiten yg kita cari utk invest jangka panjang. Memiliki track record fundamental yg bagus, sekaligus bergerak di bidang usaha yg sangat menjanjikan yaitu Media.

Mari kita analisa lebih rinci 5 komponen fundamental Perseroan:

A.1. Profitability

Selama 10 tahun terakhir, Gross margin terus meningkat dari awalnya 45% (dan angka ini sudah superb) hingga mencapai puncak tertinggi di tahun 2011-2012 yaitu mendekati 70%, namun setelah itu, Gross margin mulai menurun dan stagnan di kisaran 62%-64% hingga kini.

Secara Operating Margin sedikit membaik. Meningkat dari 19% hingga mencapai titik tertinggi di 53%, lalu dalam 3 tahun terakhir menurun ke kisaran 47%-48%.

Secara Net Margin tidak beda jauh dgn Operating Income. Net margin meningkat dari 6% di 1 dekade yg lalu, terus meningkat dan mencapai puncak di tahun 2012 di angka 41%, setelah itu konsisten berada di angka 35%-36%.

Perbandingan Kompetitor: SCMA memiliki margin yg lebih besar vs pesaing seperti MNCN. MNCN memiliki Gross margin yg lebih kecil yaitu dikisaran 54%-58%, Operating margin 36%-38% dan Net margin 18%-26%.

A.2. Growth

Secara pertumbuhan terjadi sedikit keanehan.

Revenue growth Perseroan justru megalami akselerasi pertumbuhan. Jika kita keluarkan pertumbuhan tahun 2015 yg memang merupakan tahun yg berat bagi semua industri bukan industri penyiar saja, terlihat bahwa dalam 10 thn terakhir Perseroan hanya tumbuh 15% per tahun, namun jika dilihat dalam waktu yg lebih dekat yaitu 5 tahun terakhir, pertumbuhan adalah (17% sedikit membaik). Jika kita liat 3 tahun terkini, pertumbuhan adalah 24% per tahun.

Terus jika kita amati bagian Operating Income dan Net Income growth, polanya terbalik. Makin dekat waktu ke masa kini, pertumbuhan makin melambat. Namun pertumbuhan Net Income yg masih diatas 15% sesungguhnya masih sangat menarik, karena secara compounding dgn pertumbuhan 15% per tahun, maka setiap 5 tahun pertumbuhan menjadi 2 kali lipat.

Perbandingan Kompetitor: Trend Revenue growth SCMA sangat menarik, karena bertolak belakang dengan pola pesaing yaitu MNCN. Revenue MNCN dalam 5 tahun terakhir hanya tumbuh 6%, lalu turun menjadi 1% dalam 3 tahun terakhir. Walaupun SCMA berada di urutan ke 2 sebagai market leader di industrinya, namun secara fundamental terlihat jelas SCMA berada di peringkat pertama.

A.3. Cash Flow

Secara Operating Cash Flow cukup konsisten. Bergerak sejajar atau hampir sejajar dengan Net Income (dari gambar 1).

Namun yg lebih menarik dari data atas adalah Free Cash Flow Perseroan. Free Cash Flow itu adalah Sisa uang tunai Perseroan setelah di potong semua pembayaran tunai utk operasi dan investasi. Sehingga apa yg tersisa adalah uang tunai yg tidak memiliki kebutuhan khusus alias nganggur. Makin besar uang tunai ini, maka makin mapan pula struktur permodalan Perseroan.

Menurut Pat Dorsey, perusahaan yg tergolong mapan adalah perusahaan yg mampu secara konsisten mencetak Free Cash Flow 8%-10% dari Revenue. Jika anda bisa menemukan perusahaan seperti ini, maka anda sudah menemukan berlian, sesungguhnya ini adalah contoh perusahaan MESIN CETAK UANG. Sebagai catatan saja, hingga 2003 sesuai dgn apa yg Pat Dorsey jelaskan di bukunya hanya ada sekitar 50% emiten yg ada di S&P 500 (500 emiten) yg memenuhi persyaratan ini. Kondisi ini tidak beda jauh dengan BEI, makanya selama ini saya tidak mengulas tentang rasio ini karena perusahaan yg berhasil mencetak Free Cash Flow yg besar dan konsisten sangatlah langka, namun SCMA adalah salah satu yg ada dan baru saya ketahui.

Jika kita perhatikan data atas, maka bisa di lihat bahwa free cash flow / sales % Perseroan adalah lebih besar dari 20% secara konsisten sejak tahun 2009. Ini jauh dari mesin cetak uang yg Pat Dorsey bayangkan, superb!!!

Perbandingan Kompetitor: Jika dilihat dari Free Cash Flow / Sales % MNCN, terlihat jelas SCMA lebih mapan. Dalam 9 tahun berjalan, MNCN hanya 3x mencetak rasio yg diatas 10%. Namun utk fair saja, free cash flow yg kecil tidak berarti jelek karena banyak faktor lain yg bisa mempengaruhi angka ini, namun jika free cash flow secara konsisten > 8%-10% itu adalah selalu bagus!

A.4. Financial Health

Secara janga pendek yaitu selama satu tahun, Current rasio Perseroan selalu berada di kisaran > 3x. Hanya dua kali dalam 10 tahun terakhir Current rasio Perseroan pernah turun ke 2,05x di tahun 2007 dan 1,58x di 2011. Ini mencerminkan kesehatan keuangan Perseroan yg sangat bagus.

Secara jangka panjang yaitu lebih dari satu tahun, Financial Leverage selalu berada di bawah 2x, artinya Ekuitas (modal + laba) selalu lebih besar dari Liabilitas (Utang), dengan ini kita juga bisa menyimpulkan model bisnis Perseroan sesungguhnya lebih dimodali modal kebanding utang. Sisi positifi lain, sejak 2011, Persereon sudah tidak lagi memiliki utang berbunga, ini bisa kita liat dari rasio Debt/Equity dimana nilainya nihil. Fantastis!

Perbandingan Kompetitor: Secara kesehantan keuangan MNCN juga superb! tidak ada indikasi masalah. Bahkan secara jangka pendek asset MNCN sangatlah liquid lebih tinggi vs SCMA. Utk jangka panjang, utang berbunga MNCN juga tergolong aman sehingga juga tidak terlihat ada masalah kedepannya.

A.5. Efficiency Ratios

Baik perputaran piutang alias Receivables Turnover maupun perputaran persediaan alias Inventory Turnover Perseroan adalah di kisaran 3x-4x setahun saja. Oleh karena itu, Cash Conversion Cycle pun cukup lambat, meningkat mendekati 190 hari pada 2015 dengan masing-masing turnover 3,2x dan 3,1x.

Perbandingan Kompetitor: Sedikit lambat vs SCMA. MNCN hanya memiliki Receivables Turnover antara 2x-3x dalam setahun, sedangkan Inventory Turnover berada di 1x-3x. Karena itu, Cash Conversion Cycle MNCN pun lebih lambat yaitu 310 hari di tahun 2015 dgn turnover masing 2,4x dan 1,8x.

B. Follow the Story (updated 21/10/16)

Pada ulasan pertama di article ini, saya lupa utk memasukan ulasan kinerja terkini, yaitu follow the story. Untung ada teman di sosmed yg baik hati, yg mengingatikan saya hal itu. Ok, jadi ini adalah tambahan data tapi sesungguhnya ini adalah bagian dari analisa yg patut kita lakukan di setiap emiten yg ingin kita keep di porto. 

Untuk mengetahui secara garis besar seperti apa fundamental emiten, kita lalukan analisa dgn 5 komponen atas (bagian A). Lalu kita juga mau tau seperti apa posisi fundamental emiten secara lebih singkat dan terkini maka kita butuh zoom in, dan liat pergerakan fundamental secara rinci dengan menggunakan data dari 5 triwulan terkini (bagian B ini).

Disini saya sajikan ulang, laporan laba rugi Perseroan dgn penambahan sedikit data secara manual yaitu Arus Kas sehingga kita bisa mengukur laba terhadap Kas.

Bisa diliat dari laporan atas bahwa sejak Q3-15, kinerja Perseroan sedikit melambat dan hal itu terus berjalan hingga Q1-16, dimana perolehan pendapatan per triwulan berada di bawah Q2-15. Oleh karena itu juga di tahun 2015 Revenue Perseroan hanya mampu tumbuh sebesar 4%an saja vs tahun 2014.

Tapi jika kita liat di Q2-16, ada perbaikan kinerja, dimana Revenue sudah naik kembali melampaui Revenue Q1-15. Jika trend ini bisa berlanjut, maka sudah dipastikan bahwa pertumbuhan Revenue utk tahun 2016 akan jauh membaik dibanding tahun 2015 (tumbuh >= 15%).

Pada umumnya perusahaan yg memiliki track record yg baik akan bisa memperbaiki kinerjanya dalam kurun waktu setahun atau dua maksimum, toh seperti saya selalu bilang, direksi dan management di gaji mahal bukan utk duduk manis tunggu nasib, tapi adalah kewajiban mereka utk bekerja keras memajukan perusahaan dan memakmurkan para pemangku kepentingan termasuk kita-kita ini. Hahaha!

Mungkin sebagian dari kita tidak punya waktu utk memantau berita yg di release baik itu secara official maupun non-official yg merupakan riset dari pihak ke tiga, tapi ujung-ujungnya angka-angka yg di paparkan di laporan keuangan interim yaitu setiap 3 bulan sekali akan berbicara fakta. Kita cukup pantau laporan keuanganya saja maka kita pun akan sudah bisa mendapatkan gamabaran yg cukup baik tentang progress kemajuan perusahaan.

Di bagian ini saya tidak akan menulis panjang lebar tentang beragam rasio seperti yg sudah kita lakukan di bagian A, karena prosesnya sama, hanya beda di timeframe saja. Jika di bagian A kita lalukan analisa per tahun utk 10 tahun terkini, maka di bagian B kita lakukan per triwulan utk 5 triwulan terkini. 

Jika anda jeli membaca data atas, mungkin anda akan bertanya, mengapa operating cash flow Perseroan cukup fluktuatif dari triwulan ke triwulan terhadap laba? Ada triwulan dimana Operating cash flow lebih tinggi dari laba, dan pada triwulan lain laba lebih tinggi dari Operating cash flow? 

Nah jika anda menanyakan hal itu, anda sudah mulai menangkap konsep bagian A. Mengapa kita lakukan analisa secara timeframe 10 tahun? karena dgn timeframe yg lebih besar, maka fluktuasi makin kecil, sehingga lebih gampang utk kita melihat arah pergerakan fundamental Perseroan. Namun pada saat kita zoom in lebih rinci yaitu membaca laporan keuangan secara per triwulan, maka noise pun makin banyak, sama persis dgn Technical Analysis bukan? 🙂

Maaf jika saya tidak banyak bahas tentang kinerja secara jangka pendek, karena saya selalu merasa jangka pendek banyak surprises yg mungkin bisa terjadi, yg penting kita ikutin ceritanya atau paling tidak baca laporan keuangan interim, laporan keungan full year, public expose dan laporan tahunan, maka seharusnya kita akan fine-fine saja dalam investasi kita secara jangka panjang. 

Ok, jadi itu saja yg ingin saya tambahkan utk bagian B ini. Semoga bermanfaat.

C. VALUASI

Berdasarkan hitungan rata-rata 3 tahun terakhir yaitu data dari stockbit, PER Perseroan adalah 32,28x. Dengan EPS ttm (4 triwulan terkini) yaitu Rp106,44 maka harga wajar adalah Rp3436.

Sedangkan harga saat in adalah Rp2600 (PER = 24,43x), maka diskon ke harga wajar adalah 32%.

Namun jika menggunakan metode saya, dengan perhitungan rata-rata yg lebih lama, yaitu 5 tahun terakhir dan dividen rasio 70%, maka harga wajar adalah Rp2836, jadi diskon ke harga wajar saat ini adalah 9%.

Terlepas dari besar kecilnya diskon yg ditawarkan, saat ini SCMA berada di bawah harga wajar sehingga menjadi menarik utk diperhatikan. Untuk besar/kecilnya diskon kembali ke kita masing-masing, seberapa sabar utk menantinya. Bahkan perusahaan sekelas UNVR hanya memiliki free cash flow / sales % di kisaran 15% per tahun secara konsisten. Jadi, dgn model bisnis dan industri dimana Perseroan berada, menurut saya dengan diskon saat ini baik secara MEAN PER 3 tahun ataupun 5 tahun, sama saja menarik.

Saya sendiri belum memiliki kesempatan utk membeli sahamnya karena saat in porto sudah penuh. Utk membeli SCMA maka saya terlebih dahulu harus menjual 1-2 saham yg ada di tangan. Namun sayangnya saya senang dgn semua saham yg sudah saya beli, sehingga membuat keputusan jual menjadi sulit, kecuali ada yg naik terlalu tinggi dari kewajaran. Semoga di laporan akhir bulan ini, saya sudah bisa menunjukan kode SCMA di porto saya, aminnn! 🙂

D. Prospek Usaha Perseroan

Walaupun Perseroan bukan merupakan market leader di industrinya dengan pangsa pasar pemirsa sekitar 29% (gabungan antara SCTV dan Indosiar), namun terlihat jelas bahwa fundamental Perseroan adalah yg terbaik. Menurut paparan dari management, strategi yg mereka lalukan tidak terlepas dari segementasi produk. Dengan diferensiasi produk dan perbanyak program yg cost efisien (inhouse production), Perseroan berhasil unggul di niche market (market khusus) yg mereka fokus dan tekuni, sehingga tetap menarik buat para pemirsa maupun nasabah iklan.

Utk beberapa tahun kedepan, pertumbuhan industri periklanan di TV diprediksi hanya akan tumbuh sekitar 6,5% per tahun saja hingga 2020. Namun sebaliknya pertumbuhan iklan di media online diprediksi akan tumbuh dengan sangat pesat. Hingga akhir tahun 2015, pendapatan periklanan secara total masih di dominasi oleh iklan TV dgn porsi 67% sedangkan iklan media online berkontribusi 9%. Namun angka ini diprediksi akan bergeser. Iklan di media online akan tumbuh menjadi 21% di tahun 2020 sedangkan iklan di TV menyusut ke angka 58%.

Namun terlepas dari itu semua, tidak bisa kita pungkiri bahwa Perseroan memiliki fundamental yg solid, efisiensi yg baik dan struktur modal yg kuat, sehingga akan lebih siap menghadapi tantangan yg akan datang sekaligus merebut peluang yg timbul.

Jadi kesimpulannya, SCMA adalah salah satu saham premium (PER akan selalu diatas 20x), namun yg membuat sahamnya premium adalah fundamentalnya yg premium, tidak jauh dari saham sekelas UNVR, dengan arus kas bersih secara konsisten di 20% hingga 30% dari pendapatan sangat layak kita dijuluki dia sebagai saham mesin pencetak uang di bursa!

Akan sangat menarik jika bisa membelinya di harga yg wajar lalu di simpan utk jangka panjang. Semoga anda lebih beruntung daripada saya dalam mendapatkan saham ini di porto anda!

Sekian utk ulasan kali ini! Sampai ketemu di article berikut dan semoga bermanfaat bagi yg membacanya.

Selamat berinvestasi!

nb: utk komunikasi dgn Corsec SCMA bisa di baca disini