Siapapun bisa menjadi analis fundamental (updated 30/08/16)

Fundamental analisis

Fundamental analisisMungkin pernyataan berikut sekilas terkesan sombong tapi adalah fakta. Tidak jarang saya mendapat pujian dari teman-teman investor newbie atas “kemampuan” (dalam kutip) saya menganalisa saham secara fundamental. Mungkin sebagian mereka merasa terbantu, mungkin juga karena merasa berterima kasih atas effort yg sudah saya berikan.

Tapi kenyataannya saya cukup sungkan menerima pujian-pujian ini. Apa yg saya lakukan adalah sangat dasar tanpa kemampuan lebih, dan semua newbie investor pun bisa melakukan hal yg sama.

Jadi utk article kali ini saya ingin membahas persis itu, cara menganalisa fundamental saham ala newbie. Tapi sebelum kita masuk ke analisa, pertama kita harus temukan dulu saham yg mau dianalisa. Mungkin saat ini kita langsung keingat headline news yg pernah dibaca kemarin, contoh: Proyek listrik 35.000Megawatt Jokowi, Pembentukan holding BUMN Migas, Mataharimal the next Alibaba, DPR mengesahkan UU Tax Amnesty dst…dan mulai kebayang saham apa yg wajib kita invest sekarang.

Ingat, jika kita adalah seorang newbie, jangankan kompleksitas visi misi proyek/kebijakan yg disebut atas, membedah saham secara sangat dasar saja belum kuasai, bagaimana bisa mengartikan semua kebijkan yg mempengaruhi makro ekonomi hingga mikro perusahaan?

Lantas apa yg harus kita lakukan? Kita hanya butuh 3 hal, yaitu: Niat, Dapur dan Koneksi Internet.

Niat adalah kemauan utk menyisihkan sedikit waktu utk menganalisa saham (ini selalu menjadi masalah newbie, selalu maunya instant, tanpa ribet tanpa repot, TAPI return of investment harus segede gajah dan secepat mungkin).
Dapur adalah tempat dimana kita temukan saham unggulan kita. Ini sangat gampang dilakukan asal jeli.
Sedangkan Koneksi Internet adalah senjata utk bisa dapatkan info laporan keuangan saham yg sudah kita temukan di dapur tadi.

Mungkin sebagian kita belum menyadari bahwa dapur kita adalah gudang watchlist saham kita yg paling bagus. Saya bisa dgn cepat menyebutkan minimal 5 saham yg berhubungan langsung, contoh: sabun cuci Rinso adalah produk dr UNVR, Mie instan Indomie adalah produk ICBP, Pel lantai S.O.S. adalah produk TSPC, Susu UHT Ultramilk adalah produk ULTJ, beras cap Ayam Jago adalah produk AISA, Roti tawar Sariroti adalah produk ROTI, minyak goreng Bimoli adalah produk SIMP, dst… dan itu baru produknya saja, belum lagi saat cek struk perbelanjaan, belinya di mana? MIDI, RANC, HERO, AMRT, MPPA? bayarnya pakai kartu kredit/debit dari bank apa? BBCA, BBNI, BBRI, BMRI? Ini hanya memberi gambaran bahwa begitu gampang sebetulnya menemukan saham tanpa harus mengecek situs pakar saham maupun lacak google.

Terus, mungkin kita bertanya, walaupun dapur bisa kita temukan banyak saham, lantas apakah saham-saham ini layak kita beli? Jawabannya adalah Iya dan Tidak. Iya karena produk dapur adalah produk-produk yg di konsumsi oleh orang banyak termasuk keluarga saya, keluarga anda dan 250 juta penduduk Indonesia lainnya, sehingga potensi penjualannya masif dan perusahaannya pun cenderung sudah mapan. Karena sudah mapan maka harga sahamnya pun dijual sangat premium di bursa, sehingga menjadi Tidak layak utk dibeli begitu saja. Ini membawa kita ke pembahasan pokok article ini, yaitu analisa fundamental hingga valuasi harga saham secara newbie.

Untuk mendapatkan data keuangan perusahaan, kita butuh koneksi internet (hint: LINK, TLKM, tbk lagi tbk lagi!!!). Saya akan mengulas bagaimana kita mengfasilitasi internet utk lebih mudah melakukan analisa saham.

1. MENGANALISA LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Utk cara cepat mendapatkan laporan keuangan 10 tahun terakhir tanpa harus download Laporan Keuangan mentah satu per satu dari situs IDX, kita bisa menggunakan situs Morningstar lewat link ini http://financials.morningstar.com/ratios/r.html?t=XXXX&region=idn&culture=en-US dimana XXXX adalah kode emiten yg harus kita ganti.

NOTE: Tidak semua saham yg ada di BEI dengan rajin di input satu per satu oleh Morningstar ke situsnya, tapi sebagian besar dan yg cenderung sahamnya liquid ada. Jika perusahaan tersebut IPO belum genap 10 tahun, maka data yg tampil adalah apa adanya saja pasca sudah IPO.

Sebagai contoh, let say, kita ingin cek kinerja perusahaan SARI ROTI, dimana kita tau bahwa kode sahamnya adalah ROTI, sehingga link atas akan kita rubah menjadi http://financials.morningstar.com/ratios/r.html?t=ROTI&region=idn&culture=en-US

Tampilan yg kita liat adalah sbb:


Dari data atas, hanya 3 hal yg kita tertarik: Revenue, Operating Income dan Net Income. Dan hanya perhatikan data dari 2009-12 (paling awal) hingga 2015-12 (paling kini), sedangkan utk column terakhir yg headingnya TTM bisa diabaikan saja. Mari kita mulai!

A. Revenue adalah pendapatan perusahaan dalam setahun penuh. Terlihat bahwa Revenue ROTI meningkat drastis dari Rp485,920 miliar di 2009 menjadi Rp2,174 502 triliun di 2015. Selama 6 tahun beruntun, ROTI tidak pernah mengalami kontraksi pendapatan, sangat fantastis. Tidak semua perusahaan bisa demikian, kadang kita akan menemukan pendapatan perusahaan sebagian naik, sebagian lagi menurun, tapi secara garis besar, jika 6 dalam 10 tahun adalah naik, itu sudah cukup baik terutama jika naiknya di tahun-tahun paling kini, itu lebih bagus.
Revenue [PASSED]

B. Operating Income adalah laba dari pendapatan yg sudah dikurangi biaya produksi, biaya administrasi, biaya penjualan dan biaya riset (jika ada). Operating Income ROTI meningkat dari Rp88,295 miliar di tahun 2009 menjadi Rp453,658 miliar di 2015. Selama 6 tahun juga belum pernah terjadi kontraksi. Sangat fantastis!
Operating Income [PASSED]

C. Net Income adalah laba bersih dari Operating Income yg sudah dikurangi biaya beban keuangan, pajak dan lain-lain. Kadang kita akan menemukan pendapatan lain-lain juga seperti pendapatan bunga, akuisisi usaha, jual asset dll, itu semua akan dimasukkan ke sini. Net Income ROTI sepanjang 6 tahun terakhir sangat joss. Dari Rp57,115 miliar di 2009 meningkat menjadi Rp270,539 miliar di 2015. Belum pernah mengalami kontraksi juga. Fantastis! Tapi hati-hati, jika Net Income > Operating Income, karena terdapat pendapatan lain-lain yg diluar operasi yg memberi kontribusi terhadap Net Income. Namum jika itu terjadi, terpaksa kita galinya lebih dalam dgn membuka laporan keuangan yg di terbit oleh emiten ke situs IDX, tapi disini saya tidak bahas dulu, kita konsentrasi di analisa newbie dulu.
Net Income [PASSED]

Dari 3 point atas saja kita sudah mendapatkan gambaran bahwa perusahaan ini setiap tahun omzetnya meningkat, dan perusahaan juga konsisten mencetak laba yg positif dan makin meningkat dari tahun ke tahun. Jadi ini langsung bisa kita simpulkan secara kasat mata, adalah perusahaan yg memiliki kinerja yg bagus. Namun sebagus apa? itulah yg butuh kita gali lebih dalam.

Cara membedah kinerja sebuah perusahaan secara komplit bisa di bagi menjadi 5 komponen penting, yaitu:
1. Profitability / Profitablilitas :: seberapa hebat perusahaan mencetak laba
2. Growth / Pertumbuhan :: seberapa hebat kinerja perusahaan bertumbuh
3. Cashflow / Arus Kas :: seberapa kuat kas keuangan perusahaan
4. Financial Health / Kesehatan Keuangan :: seberapa sehat posisi keuangan perusahaan
5. Efficiency Ratio / Rasio Efisiensi Putaran Uang :: seberapa cepat pemutaran uang perusahaan

Jika anda sedang membuka halaman yg sama lewat browser, maka anda akan bisa melihat 5 komponen ini dibagian bawah di halaman yg sama. Mari kita ulas satu per satu!!!


KOMPONEN #1: PROFITABILITY


A. Gross Margin adalah persentase laba terhadap pendapatan (Marjin Laba Bruto) setelah dikurangi biaya produksi. Gross Margin tidak masalah jika menurun, karena umumnya sebuah bisnis pada awalnya melakukan terobosan baru sehingga bisa menjual produknya dgn harga yg lebih mahal karena tidak banyak saingan sehingga mampu menghasilkan Gross Margin yg lebih tinggi, tapi begitu kompetisi banyak masuk, terjadi persaingan harga, maka mau tidak mau, Gross Margin pun menurun. Tetapi jika kita liat data atas, ternyata Gross Margin ROTI malah meningkat dari 45,7% di 2009 menjadi 53,1% di 2015. Walaupun kita tidak tau apa yg menyebabkan hal itu, tapi kita bisa berpendapat bahwa perusahaan sudah melakukan sesuatu yg benar sehingga bisa menjual lebih mahal atau memproduksi lebih murah (sehingga Gross Margin meningkat) dan di waktu yg sama menjual lebih banyak (terlihat pendapatan meningkat drastis).
Gross Margin [PASSED]

B. Operating Margin adalah persentase laba bruto setelah dikurangi biaya produksi, biaya administrasi, biaya penjualan, dan biaya riset (jika ada) terhadap pendapatan (Marjin Laba Usaha atau Marjin Laba Operasi). Sama halnya dgn Gross Margin, Operating Margin juga meningkat sedikit dari 18,2% di 2009 menjadi 20,9% di 2015. Walaupun sepanjang 6 tahun terjadi kenaikan dan penyusutan Operating Margin, tapi bergarak di range sempit antara 15% dan 21%, jadi masih sangat konsisten dan stabil. Kadang butuh sedikit logika dalam melihatnya, umpamanya jika kita temukan di tahun-tahun tertentu ada Operating Margin yg berada di 5%, lalu ada pula yg 20% dgn jarak lebih dari 10%, again hati-hati dan terpaksa buka laporan keungan download dari situs IDX utk mengetahui mengapa.
Operating Margin [PASSED]

C. Net Margin % adalah persentase laba usaha atau laba operasi setelah dikurangi biaya beban bunga dan beban pajak terhadap pendapatan (Marjin Laba Bersih). Net Margin % sedikit berfluktuasi dari 11,75% di 2009 menjadi 12,44% di 2015. Walaupun sepanjang 6 tahun terjadi kenaikan dan penyusutan Net Margin, tapi bergarak di range sempit antara 10% dan 15%, jadi masih konsisten dan stabil.
Net Margin [PASSED]

D. Return on Assets % adalah persentase laba bersih terhadap total asset perusahaan. Ini rasio yg mengukur seberapa efisien perusahaan mengutilisasikan asset untuk mencetak laba. Dalam kata lain, jika Return on Assets % adalah 10%, berarti dalam bahasa sesehari maksudnya adalah utk setiap Rp1000 asset yg diinvestasikan ke perusahaan, asset tersebut bisa menghasilkan keuntungan Rp100,-. Sebagai standard umum, Return on Assets % yg lazim adalah minimal 10%. Nanti jika kita sudah mendalami fundamental, kita akan lebih mengerti mengapa sebagain industri Return on Assets lebih rendah atau tinggi dari yg lain. Tapi utk saat ini cukup seperti yg saya sebut diatas saja. Dalam hal ROTI, terlihat dalam 6 tahun, cuman 1 tahun yg sempat jatuh dibawah 10% yaitu di tahun 2014. Sedangkan utk tahun tahun lain, masih sangat ok.
Return on Assets % [PASSED]

E. Return on Equity % adalah persentase laba bersih terhadap total ekuitas. Ini rasio yg mengukur seberapa mampu modal yg diinvestasikan di perusahan bisa menghasilkan laba. Prinsipnya sama, hanya beda antara Asset dan Ekuitas saja. Tapi karena umumnya Asset perusahaan adalah terbentuk dari Utang + Ekuitas, maka utk Return on Equity % kita meminta lebih besar dr Return on Assets %. Standard umum adalah 15%. Again, jika merujuk kepada kinerja di gambar atas, ROTI berhasil mencapai standard ini.
Return on Equity % [PASSED]

KOMPONEN #2: GROWTH

Hingga detik ini, kita sudah menganalisa pertumbuhan kinerja perusahaan secara tahun ke tahun, tapi kita belum menghitung tarif pertumbuhan tahunan kinerja perusahaan dalam jangka waktu yg lebih panjang, contoh: 3 tahun, 5 tahun bahkan 10 tahun ini. Ini adalah tugas dari tarif pertumbuhan majemuk (Compounded Average Growth Rate / CAGR). Mengapa CAGR penting? Karena kita ingin tau dgn pertumbuhan tahunan yg fluktuatif setiap tahun dari 2010 hingga 2015 yg sudah kita liat di kinerja ROTI atas, sebetulnya berapa sih tarif pertumbuhan setahunnya supaya nanti saat invest, kita boleh berharap bahwa kinerjanya dlm jangka panjang 5 hingga 10 tahun mendatang akan menghasilkan tarif pertumbuhan tahunan yg sama seperti yg sudah terjadi. Again, dasarnya seperti itu, tapi tentu banyak faktor lain yg akan merubah hal ini. Utk saat ini, cukup mengetahui itu saja demi ilustrasi, saya janji nanti pengetahuan kita sudah lebih dalam, kita akan lebih menguasai prihal yg lebih mendalam.

A. Revenue % adalah tarif pertumbuhan majemuk pendapatan dalam setahun yg diukur berdasarkan data, 3-Year Average (rerata 3 tahun), 5-Year Average (rerata 5 tahun), 10 tahun tidak ada karena perusahaan ini baru IPO selama 6 tahun. Jadi, seandainya kita ingin invest di saham ROTI hanya utk 3 tahun kedepan, berarti kita bisa berasumpsi bahwa pendapatan ROTI akan tumbuh 22,23% setiap tahunnya utk 3 tahun mendatang. Jika kita ingin invest selama 5 tahun, maka kita akan bisa melihat pendapatan ROTI tumbuh dgn tarif 28,85% setahun utk 5 tahun mendatang. Utk tarif pertumbuhan ini, saya tidak punya standard tertentu yg penting pertumbuhannya jangan negatif saja.
Revenue % [PASSED]

B. Operating Income % adalah sama dengan Revenue %, tapi yg diukur adalah pertumbuhan tarif tahunan di Laba Usaha alias Operating Income. Dalam 3 tahun ROTI tumbuh 31,52% per tahun dan 29,27% per tahun dalam 5 tahun. NOTE: satu hal penting yg harus kita ingat, semasa perusahaan masih lagi giat berekspansi dan membuka pasar baru, bisa terjadi pertumbuhan Operating Income % lebih tinggi banding Revenue %, karena perusahaan bisa menekan efisiensi baik dari segi produksi maupun operasional demi menghasilkan laba operasi yg lebih besar. Namum sehebat apapun satu perusahaan efisiensi ada batasnya, sehingga pada waktunya tiba kita akan melihat bahwa Revenue % akan mulai meningkat lebih tinggi banding Operating Income % dan itu bisa kita simpulkan bahwa ROTI sudah mulai mapan dan pertumbuhannya pun menjadi lebih stabil. Jadi utk saat ini, kita bisa bilang bahwa ROTI adalah perusahaan yg belum matang karena masih giat berekspansi dan melakukan efisiensi sehingga laba operasi bisa tumbuh lebih tinggi banding pendapatan dalam 5 tahun terakhir, yaitu 28,85% (pendapatan) vs 29,27% (laba operasi).
Operating Income % [PASSED]

C. Net Income % adalah sama dgn Operating Income % tapi mengukur pertumbuhan tarif tahunan laba bersih. Note: sama konsepnya dgn perbandingan pertumbuhan antara Revenue dgn Operating Income, hingga suatu titik Net Income % pun akan tumbuh dibawah tarif Operating Income %. Tarif pertumbuhan Net Income ROTI baik dalam 3 tahun maupun 5 tahun adalah > 20%, jadi cukup fantastis! Sebagai standar umum tarif 15% adalah sangat bagus. Utk EPS, jika tidak terjadi perubahan jumlah saham yg ditempatkan oleh perusahaan (tidak ada aksi korporasi), maka tarif pertumbuhan EPS akan selalu sama dgn tarif pertumbuhan Net Income %. Terlihat di 2012 ada selisih tarif, itu karena ada stocksplit di tahun 2012, tapi utk saat ini, kita bisa abaikan saja EPS, cukup fokus di Net Income saja.
Net Income % [PASSED]

KOMPONEN #3: CASHFLOW

cashflow

Cashflow atau Arus Kas terdiri dari 3 bagian, yaitu: Operating Cashflow, Investing Cashflow dan Financing Cashflow.

Operating Cashflow adalah laporan yg mencatat semua transaksi antara uang masuk dan keluar yg berhubungan dgn operasi. Contoh: pembayaran ke pemasok, penerimaan tagihan dari langganan, pembayaran gaji karyawan, beban sewa, beban bunga bank dsb. Umumnya Operating Cashflow akan dan memang seharusnya lebih besar dari Laba bersih, sehingga laba yg di hasilkan oleh perusahaan benar ada uangnya dan bukan hanya laba dalam pembukuan saja. Contoh yg extreme: jika perusahaan menjual produknya dgn memberi utang tempo kepada pelanggan dgn masa kredit hingga 2 tahun, maka perusahaan secara laba akan tercatat bagus, namun secara operating cashflow tidak ada. Inilah hal penting yg harus kita selalu crosscheck saat melihat laba yg positif, pastikan cashflow operasi juga positif dan sebagusnya lebih besar dari laba. Lebih besar karena laba yg dihasilkan oleh perusahaan sebagain sudah di potong biaya non tunai seperti penyusutan asset, beban pajak dll, ini sesungguhnya tidak mengurangi kas namun mengurangi laba.

Investing Cashflow (Cap. Spending) adalah laporan yg mencatat semua transaksi yg berhubungan dgn investasi/pelepasan asset, alias berhubungan dgn ekspansi usaha. Contoh: pembelian mesin produksi, pembangunan pabrik, penjualan mobil perusahaan, dsb. Umumnya Investing Cashflow selalu negatif, ini tanda yg bagus, karena perusahaan sedang membeli asset utk ekspansi usaha. Namun sebaliknya jika Investing Cashflow adalah positif, maka harus waspada karena bisa terjadi perusahaan dalam kesulitan keuangan sehingga harus menjual asset.

Sedangkan Financing Cashflow adalah laporan yg mencatat semua transaksi yg berhubungan dgn pendanaan. Contoh: Pinjaman bank, pinjaman obligasi, pembayaran utang bank/obligasi, pembayaran dividen. Umumnya Financing Cashflow tidak terlalu penting, karena bagian ini lebih cenderung bersifat “akibat”. Artinya, jika uang dari operasi yg tersisa tidak cukup untuk menutupi pengeluaran utk investasi/ekspansi usaha, maka financing cashflow akan bertambah. Sedangkan jika terlalu banyak dana yg tersisa dari kas operasi setelah dikurangi pengeluaran utk investasi/ekspansi usaha, maka cenderung perusahaan akan mengurangi utang bank atau membayar dividen dgn sisa cashflow yg ada. Mungkin bagian ini bersifat akibat sehingga tidak terlalu penting, maka dalam rincian laporan diatas tidak di tampilkan oleh morningstar.

Selain 3 laporan atas, masih ada satu lagi yg kita sebut FREE Cashflow. Free Cashflow adalah Operating Cashflow dipotong Investing Cashflow. Bayangkan, jika perusahaan memiliki kas yg mencukup utk operasional dan pembiayaan ekspansi usaha, maka yg tersisa adalah cashflow nganggur, makanya disebut FREE. Cashflow nganggur ini nantinya bisa di alokasikan ke bagian financing cashflow utk bayar utang maupun bagi dividen kepada pemegang saham perusahaan. Jika free cashflow bisa meningkat setiap tahunnya dgn konsisten maka itu adalah tanda tanda perusahaan yg mapan, banyak duit!.

Ok, balik ke CASHFLOW sahamnya ROTI atas. Jadi 2 bagian laporan yg paling penting dari laporan Cashflow adalah: Operating Cashflow dan Free Cashflow.

Terlihat dari data atas bahwa Operating Cashflow ROTI terus bertumbuh setiap tahun dan selalu diatas laba bersih, ini adalah indikasi yg baik bahwa laba yg dicetak oleh perusahaan benar ada kasnya bukan hanya untung dalam pembukuan saja. Lalu kita juga bisa liat bahwa Free Cashflow hampir selalu negatif pula. Ini bukan tanda yg jelek, namun bisa kita tafsir bahwa perusahaan giat berekspansi sehingga Investing Cashflownya selalu lebih besar dari Operating Cashflow makanya Free Cashflow menjadi negatif. Jadi dari Free Cashflow kita juga bisa ukur kematangan sebuah perusahaan, seperti halnya ROTI bisa kita tafsir sebagain perusahaan yg masih giat berekspansi dan belum capai usia matangnya. Growth company!
Cashflow [PASSED]

KOMPONEN #4: FINANCIAL HEALTH

A. Current Ratio adalah rasio Asset Lancar (Total Current Assets) di banding Liabilitas Janga Pendek (Total Current Liabilities). Contoh di tahun 2015 = 30.04 : 14.63 = 2.05
Itu artinya, jika dalam waktu dekat perusahaan harus membayar semua liabilitas jangka pendek, maka dgn kesehatan perusahaan saat ini, perusahaan mampu membayarnya hingga 2,05x. Sehingga kesehatan keuangan perusahaan masih sangat aman. Standard umum adalah 1,5x.
Current Ratio [PASSED]

B. Quick Ratio adalah rasio yg lebih rinci dibanding Current Ratio. Rasio ini membandingkan Asset Lancar (Total Current Asset) dikurangi Persediaan (Inventory) dibagi Liabilitas Jangka Pendek (Total Current Liabilities). Mengapa ini penting? Karena walaupun Asset Lancar adalah Asset yg tergolong liquid, tapi tidak semestinya semua itu bisa dgn sangat cepat dikonversikan ke uang utk bayar Liabilitas tanpa harus mengalami penurunan nilai. Contoh inventory perusahaan. Jika pada saat dadakan perusahaan harus menjualnya utk membayar Liabilitas, mungkin harus menjualnya dgn harga diskon supaya cepat laku. Nah, dgn Quick Rasio ini, kita hanya membandingkan seporsi dari Asset Lancar yg lebih liquid terhadap total Liabilitas Jangka Pendek. Contoh di tahun 2015 = (30.04-1.60) : 14.63 = 1.93
Quick Ratio [PASSED]

C. Financial Leverage adalah Total Asset dibagi Total Ekuitas. Lebih tinggi rasio ini, artinya lebih dominan utang yg dipakai utk membiayai permodalan usaha. Contoh di tahun 2015 = 100 : 43.92 = 2.28
Ini artinya Total Asset perusahaan adalah 2,28x dari Ekuitasnya. Berarti Ekuitas hanya 43,92% dari Total Asset, sehingga dalam kata lain Utang menjadi lebih dominan dalam permodalan perusahan. Standar umum adalah 2x. Nanum jika kita melihatnya secara jangka pendek yaitu 1 tahun, resiko utang perusahaan masih sangat terkontrol, ini terkonfirmasi dari 2 rasio yg sudah kita liat diatas yaitu Current dan Quick Ratios.
Financial Leverage [FAILED]

D. Debt/Equity adalah Utang Jangka Panjang (Long-Term Debt) dibagi Total Ekuitas (Total Shareholders’ Equity). Contoh tahun 2015 = 36.74 : 43.92 = 0.84
Artinya, porsi utang berbunga jangka panjang perusahaan adalah 0,84x dari total ekuitas perusahaan. Sebagai standar umum, Debt/Equity (DER) <= 1x adalah masih ok.
Debt/Equity [PASSED]

KOMPONEN #5: EFFICIENCY RATIOS

Di sini cuman satu hal yg kita butuh tau, yaitu “Cash Conversion Cycle” yaitu berapa hari yg dibutukan utk uang perusahaan berputar. Caranya ambil total hari penerimaan Piutang (Days Sales Outstanding) ditambah dgn total hari Persediaan di tangan sebelum dipakai utk produksi (Days Inventory) lalu dikurangi total hari pembayaran Utang (Payables Period).

Contoh tahun 2015 = 18.95 + 13.73 – 27.41 = 5.27 hari
(yg tampil adalah 5.28 itu karena ada pembulatan secara otomatis dari sistem Morningstar saja sehingga sedikit beda).

Apa arti dari 5.28 hari itu? Setiap kali perusahaan beroperasi, perusahaan harus mengeluarkan modal 5.28 hari terlebih dahulu utk membayar ke supplier sebelum barangnya di produksi, dijual dan ditagih ke langganannya, namun uang yg kembali adalah uang yg sama ditambah dengan laba.

Utk lebih mudah di cernah, saya memberikan sebuah contoh sebagai ilustrasi:

“Amir adalah seorang reseller HP. Amir membeli sebuah HP seharga 1jt dari distributor, namun dia diminta utk bayar cash, jadi Payable Period = 0 hari.

Lalu HP tersebut dipajang oleh Amir di kiostnya selama 1 minggu, namun belum ada yg membelinya, jadi Days of Inventory = 7 hari.

Lalu tiba-tiba, teman Amir datang ke kiost dan ia pun membeli HP tersebut dari Amir dengan harga 1,2jt, namun teman Amir akan bayar 3 hari lagi setelah dia mendapatkan gajinya. Jadi, Days of Sales Outstanding = 3 hari.

Maka, Cash Conversion Cycle kiost Amir = 3 hari + 7 hari – 0 hari = 10 hari.

Amir harus keluarin uang sejumlah 1jt dulu, utk 10 hari kemudian mendapatkan uang 1,2jt.”

Semoga mengerti ya, arti dari cash conversion cycle ini.

Jika kita bisa temukan Cash Conversion Cycle yg negatif lebih baik lagi, berarti perusahaan terlebih dulu terima uang dari pelanggan sebelum harus membayar ke supplier, dalam kata lain, bisnis yg tidak membutuhkan uang operasi. Namun semua kembali lagi ke model bisnis yg dijalankan, ada bisnis yg memang putaran uangnya cepat, ada juga bisnis yg putaran uangnya lambat.
Cash Conversion Cycle [PASSED]

Jadi apa yg sudah dibahas atas adalah rangkuman dari analisa fundamental yg boleh di bilang sudah sangat lengkap yaitu sudah meliputi: profitabilitas, pertumbuhan kinerja, arus kas, kesehatan keuangan dan efisiensi perputaran uang.

Secara over-all hanya terpadat 1 angka merah di saham ROTI, jadi kita bisa simpulkan bahwa ROTI adalah perusahaan yg sangat menarik utk kita invest. Tapi kita kini menemukan masalah baru, mau beli di harga berapa supaya tidak kemahalan? Ini adalah bagian terakhir dari analisa saham, yaitu STOCK VALUTION / valuasi saham.

2. MENGVALUASI HARGA WAJAR SAHAM PERUSAHAAN

Again, kita tidak perlu melakukan kalkulasi apapun, cukup kunjungi sebuah situs lain yg sudah menyediakan layanan valuasi saham secara gratis, dan boleh dipercaya. Ini dia https://stockbit.com/valuation

Di halaman situs ini, kita tidak perlu menyetel apapun selain memasukkan kode saham yg kita ingin tau harga wajarnya. Sebagai contoh liat bawah:

Apa yg kita mau tau dari hasil halaman atas?

1. Target Price ROTI, seperti yg sudah di hasilkan yaitu Rp1924 (inilah harga wajar saham ROTI saat ini, nanti jika Laporan Keuangan Q2, 2016 terbit, angka ini mungkin bisa berubah, tergantung kinerja saham ROTI nantinya). Utk cek valuasi, sebaiknya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali, setelah laporan keuangan sudah terbit.

2. Margin of Safety, alias % diskon ke harga wajar. Artinya jika kita beli saat ROTI di harga kini yaitu Rp1530, dan suatu saat harga sahamnya naik ke harga wajar yaitu Rp1924, maka profit yg kita dapat adalah 26%. (1924-1530)/1530 = 26%. Jika kita menemukan Margin of Safety = 0% berarti saham tersebut tidak memberikan diskon alias harga kini sudah mahal dan diatas harga wajar.

3. Consensus Target, artinya ada beberapa pakar yg sudah melakukan pantauan dan menurut versi voting mereka, selayaknya harga wajar ROTI saat ini adalah pesimis Rp1316, neutral Rp1480, optimis Rp1852. Tapi karena saya tidak tau pakarnya siapa saja, jadi utk bagian Consensus lebih baik kita abaikan saja, dan fokus di valuasi bagian atas saja.

Ok sekian utk pembahasan kita tentang analisa fundamental saham + valuasi dalam article ini. Jika pertama kali baca agak membingungkan, mohon bersabarlah. Dipecahkan saja article ini menjadi 5 komponen lalu dicernah secara perlahan-lahan satu per satu. Ini adalah cara bagainmana kita menganalisa dan melihat sebuah perusahaan secara OVERVIEW (gambaran besar) dgn mengamati kinerjanya selama 5-10 tahun terakhir. Dengan gitu, kita bisa mendapatkan pemahaman yg lebih jelas atas fundamental perusahaan yg kita analisa secara BIG PICTURE. Jika kita sudah tau apa yg kita beli, maka saat harga sahamnya bergerak melawan arah, kita tidak akan langsung panik, tapi mulai berfikir logika mengingat kembali PR yg sudah kita kerjakan. Dengan metode yg sama ini, kita juga bisa melakukan analisa kinerja perusahaan secara kuartalan, namun akan lebih banyak hal yg harus kita kuasai terlebih dahulu utk bisa lakukan itu. Ini yg saya sebut FOLLOW THE STORY. Namun, itu utk kita bahas di article yg akan datang saja.

Semoga article ini tidak terlalu panjang dan membosankan, sehingga membuat anda jadi makin malas utk belajar menganalisa fundamental saham. Jika anda bisa membagung PASSION dalam analisa, maka nanti anda akan makin ingin belajar utk mengetahui lebih banyak lagi tentang FA.

Sekian, selamat belaja dan berinvestasi!

** Article ini saya edit ulang (lebih ke penambahan materi sebetulnya) supaya semua komponen FA bisa dicover dalam article ini. Komponen-komponen tersebut antara lain:

1. Profitability / Profit Margin

2. Growth / Pertumbuhan
>> Yg membahas tentang Laporan Laba Rugi (Income Statement)

3. Cashflow / Arus Kas
>> Yg membahas tentang Laporan Arus Kas (Cashflow Statement)

4. Financial Health / Kesehatan Keuangan
>> Yg membahas tentang Laporan Neraca (Balance Sheet)

5. Efficiency Ratios / Efisiensi Putaran Uang
>> Yg membahas tentang hubungan Neraca dan Laporan Laba Rugi

Originally Published on 07/07/16 00:06

ROTI, saham anti-krisis! Laba tumbuh 43% di FY 2015

Logo Sari Roti

Logo Sari RotiKejutan yg menyenangkan datang dari kinerja tahun buku 2015 di saham ROTI. Pertumbuhan laba bersih yang fantastis disaat terjadinya perlambatan ekonomi nasional. Banyak perusahaan yg membukukan kinerja negatif bahkan merugi, tapi ROTI berhasil mengalahkan ekspektasi dan melawan arus ekonomi. Mari kita breakdown kinerja FY 20015 ROTI:

Pertumbuhan CAGR perusahaan utk 6 tahun terakhir sbb:
Pendapatan @ 28,37%
Laba operasi @ 31,36%
Laba bersih @ 29,59%
(botom-line laba tumbuh lebih tinggi kebanding 5 tahun yg sudah pernah diulas sebelumnya dan walaupun pendapatan menurun)

Secara jenis roti, kontribusi pendapatan di FY 2015 sbb:
Roti tawar SARI ROTI 1,541T = 58,9% ==> tumbuh 20%
Roti manis SARI ROTI 965M = 39,2% ==> turun 0,65%
Dorayaki 28,7M = 1,2% ==> tumbuh 171020%
Mini bun 5,4M, Kue sari 3,5M, Lain-lain 8,3M = 0,7% ==> tumbuh 61%
**Returan 287M = 11,65% dari total penjualan ==> tumbuh 6%

Penjualan distributor/agen > 10% di FY 2015 sbb:
Indomarco (Indomaret) = 838M = 38,5% ==> tumbuh 25%
Sumber Alfaria (Alfamart) = 561M = 25,8% ==> tumbuh 20%
(Dua pelanggan ROTI ini memberi kontribusi 64% vs 61% di 2014, mengindikasikan ketergantungan ROTI kepada indomaret dan alfamart meningkat)

Laporan Neraca FY 2015:
Asset lancar = 813M
Asset tidak lancar = 1,893T
Liabilitas jangka pendek = 396M
Liabilitas jangka panjang = 1,122T (994M adalah utang berbunga berupa obligasi)
Ekuitas = 1,188T
Kas dan setara kas = 515M (Rp102 / saham)
Jumlah saham = 5.061.800.000 lembar

Laporan Laba/Rugi FY 2015:
Pendapatan = 2,175T ==> tumbuh 15,7%
Laba bruto = 1,155T (margin 53,l%) ==> tumbuh 28,1%
Laba usaha = 454M (margin 20,9%) ==> tumbuh 51,9%
Laba bersih = 271M (margin 12,4%) ==> tumbuh 43,4%
EPS = Rp 53,45

Laporan Arus Kas FY 2015:
Kas operasi = 556M vs 365M
Kas investasi = -241M vs -396M
>> FREE cashflow (FCF) = 315M vs -31M
(Baik operating cashflow maupun free cashflow masih positif dan lebih besar dari laba bersih, berarti perusahaan tidak menombok utk putaran bisnis dan investasi)

Dari sisi utang berbunga, perusahaan tidak memiliki utang jangka pendek yg jatuh tempo dlm wkt 1 tahun, utk utang jangka panjang, hanya terdapat utang obligasi sebesar 994M (2 tahap masing-masing 500M gross) dgn bunga 8% dan 10% p.a. dan jatuh tempo di tahun 2018 dan 2020.

Utk valuasi saham ROTI, dgn EPS Rp53,45 dan harga saham saat ini ada di Rp1255, maka PER = 23,5x. Secara PER 5 tahun terakhir, ROTI berada di range antara 27x – 47x, dengan kata lain, saat ini ROTI sudah berada di PER termurah selama 5 tahun terakhir. Walaupun secara umum PER >= 20x boleh dibilang mahal, tapi khusus utk sektor consumer goods yg memiliki pertumbuhan kinerja yg stabil dan bagus, sebetulnya PER 25x masih tergolong wajar.

roti-valuasiUtk pembahasan analisa ROTI sebelumnya bisa di baca disini

ROTI, highly valued di BEI

Logo Sari Roti

Logo Sari RotiROTI adalah emiten yg menjual roti dgn merk SARI ROTI, sepertinya sudah tidak perlu banyak penjelasan lagi, karena merk ini adanya dimana-mana, baik di sekeliling kompleks perumahan kita maupun di setiap indomaret dan alfamart. ROTI juga merupakan anak usaha dari Indofood.

Secara kinerja pertumbuhan CAGR perusahaan utk 5 tahun terakhir terlihat sangat menarik, yaitu:
Pendapatan @ 31,08%
Laba operasi @ 27,60%
Laba bersih @ 26,98%

Secara jenis roti, kontribusi pendapatan per LK Q3/2015 sbb:
Roti tawar SARI ROTI 1,04T = 58%
Roti manis SARI ROTI 713M = 40%
Dorayaki 18,2M = 1%
Mini bun 5,4M, Kue sari 2,5M, Lain-lain 5,5M = 1%
(Returan 212M = 12% dari pendapatan)

Secara distributor/agen yg penjualan > 10%, kontribusi pendapatan per LK Q3/2015 sbb:
Indomarco (Indomaret) = 605M (34%)
Sumber Alfaria (Alfamart) = 406M (23%)

LK per 30 Sept 2015:
Asset lancar = 758M
Asset tidak lancar = 1,803T
Liabilitas jangka pendek = 336M
Liabilitas jangka panjang = 1,108T (994M adalah utang berbunga)
Ekuitas = 1,117T
Jumlah saham = 5.061.800.000 lembar

Kas dan setara kas = 474M (Rp93 / saham)
Pendapatan = 1,57T (retur 212M)
Laba kotor = 829M (margin 47%)
Laba usaha = 305M (margin 19%)
Laba bersih = 193M (margin 12%)
EPS = 38 (ttm = 49)

Jika di annualised secara ttm, laba bersih ROTI utk 2015 adalah 209M (tumbuh 11%).

Dari sisi utang berbunga, perusahaan tidak memiliki utang jangka pendek yg jatuh tempo dlm wkt 1 tahun, utk utang jangka panjang, hanya terdapat utang obligasi sebesar 994M (2 tahap masing-masing 500M) dgn bunga 8% dan 10% p.a. dan jatuh tempo di tahun 2018 dan 2020.

Utk valuasi saham ROTI, dgn EPS 49 dan harga saham saat ini ada di 1240, maka PER = 25x. Secara historis 5 tahun terakhir, PER ROTI berada di range antara 27x – 47x. Dalam kata lain, saat ini ROTI berada di PER new low. Apakah saatnya utk beli?

roti-valuasi