MIDI, berani berhutang demi ekspansi!

Logo Alfamidi

Logo AlfamidiMungkin banyak investor retail yg belum sempat memperhatikan emiten satu ini, apalagi para trader. Alasannya simple, sahamnya jarang bergerak, lot antri pun sangat kecil alias tidak liquid, sehingga jika suatu hari anda memutuskan utk masuk di saham ini, anda harus memiliki kesabaran yg kuat utk menunggu sahamnya naik. Tapi, emiten ini is worth the wait, jika menimbang prospek dan potensi masa depan bisnisnya.

PT. Midi Utama Indonesia Tbk. atau dikenal dgn kode emiten saham MIDI, adalah perusahaan yg bergerak di bidang trading FMCG (fast moving consumer goods), dgn brand name yg kuat “Alfamidi”. IPO sejak tanggal 30 Nov 2010 dgn harga IPO di Rp275. Sebanyak 12,6% dari total saham yg ditempatkan di miliki oleh publik saat ini. Sisanya, semua digenggam oleh induk perusahaan maupun management yg merupakan keluarga dari induk perusahaan. Itu juga alasan mengapa saham MIDI tidak liquid, karena peredaran jumlah saham di publik sangat minim.

Iika anda tinggal di pulau Jawa terutama Jabodetabek, sudah pasti tidak asing lagi dgn gerai-gerai MIDI yg bernama “Alfamidi”. MIDI adalah perusahaan yg fantastis baik dalam segi ekspansi maupun prospek bisnis (terima kasih kepada teman-teman komunitas saya yg memberi banyak input dan insight tentang prospek bisnis MIDI). Hanya dalam kurun waktu 8 tahun (berdiri sejak 2007), hingga penghujung 2015, perseroan sudah berhasil membuka sebanyak 1023 gerai Alfamidi. Alfamidi memiliki business model yg tepat utk menggarap potensi trend perbelanjaan baru, yaitu perbelajanaan dapur secara mingguan di masa boomingnya bonus demografi yg berlangsung. Dengan size gerai yg lebih besar dibanding dgn minimarket, Alfamidi sanggup mengdisplay sebanyak 7000 SKU vs minimarket yg hanya 6000 SKU sehingga Alfamidi menawarkan seleksi produk yg lebih banyak dan lengkap kepada para konsumen.

Sebetulnya selain Alfamidi, perseroan juga memiliki porto bisnis di 2 merk lain antara lain:
1. Lawson 38 gerai (sudah tutup puluhan hingga 2015)
2. Alfasupermarket 2 gerai (model bisnis baru yg di rintis)

Tapi duanya masih belum memberikan kontribusi yg berarti kepada kinerja perseroan. Bahkan, jika mengikuti perkembangan usaha MIDI, Lawson adalah keputusan yg salah sehingga kini perseroan mencoba utk membatasi gerainya, dan memilih utk bertahan saja dgn sisa 38 gerai yg sudah ada. Sedangkan utk Alfasupermarket, ini masih konsep baru sebatas market testing, sehingga prospek kedepannya masih belum jelas.

Untuk lebih mengerti sebagus apa kinerja perseroan, mari kita liat data keuangan perseroan dari 2009-2015 yg sudah saya ringkas dari data situs idx:

1

Apa yg bisa kita tarik dari data atas?
1. Pendapatan (SALES) tumbuh setiap tahun
2. Laba bruto (GROSS PROFIT) tumbuh setiap tahun
3. Laba operasi (OP PROFIT) tumbuh setiap tahun
4. Laba bersih (NET PROFIT) tumbuh hampir setiap tahun, kecuali di tahun 2015 yg disebabkan oleh beban keuangan yg meningkat.
5. Arus kas operasi (OCF) tumbuh hampir setiap tahun juga, dan selalu lebih besar dari laba bersih, berarti laba bersih yg diperoleh bisa kita validasi, bukan hanya keuntungan di dalam pembukuan saja.

Rasio keuangan MIDI dari 2010-2015:

2

Beberapa hal penting dari rasio atas,

yg positif dulu:
1. Pendapatan (SALE) selalu tumbuh > 20% selama 5 tahun terakhir

2. Margin laba bruto (GPM) terus meningkat dari 20% menjadi 25%, memberi tahu kita bahwa perseroan sudah melakukan sesuatu yg benar dalam usaha, sehingga dia berhasil meningkatkan margin brutonya seiring dgn meningkatnya pendapatan.

3. Walaupun margin laba operasi (OPM) maupun margin laba bersih (NPM) masih sangat tipis, yaitu < 5%, tapi terus bertumbuh, hanya saja margin laba bersih 2015 yg sedikit menurun yg disebabkan oleh beban keuangan yg meningkat

4. Arus kas operasi setiap tahunnya jauh lebih besar dari laba bersih (KAS OP), minimal 2-6x

5. Baik ROE maupun ROA juga terus naik kecuali tahun 2015.

yg negatif:
1. Karena margin laba operasi dan margin laba bersih yg masih tipis dibawah 5%, maka perseroan akan lebih rentan terhadap gejolak ekonomi, bumper utk menahan lonjakan beban yg tidak diperhitungkan akan lebih besar dan resiko.

2. Liabilitas terhadap ekuitas setiap tahun meningkat (DER) dari 2x hingga kini 3x, menunjukan perseroan sangat agresif memanfaatkan utang utk berekspansi. Jika nanti hasil tidak sesuai rencana, maka perseroan pun akan terbelit utang. Sesungguhnya, jika kita hanya menghitungkan utang berbunga, maka utang perseroan terhadap ekuitas adalah 2x saja.

3. Umumnya sebuah perusahaan yg boleh dibilang layak utk di invest adalah pada saat perusahaan tersebut sudah bisa mencetak ROE >= 15% dan ROA >= 10%. Tapi karena MIDI adalah perusahaan yg di fianance dari utang, maka penggunaan ROA akan lebih akurat. Saat ini ROA MIDI baru mencapai 5%, sehingga masih cukup dini utk menyimpulkan bahwa MIDI adalah perusahaan yg layak utk di invest.

Kesimpulan:
Selalu menjadi dilemma bagi para investor utk bisa mendapatkan sebuah perusahaan yg memiliki kinerja cemerlang tapi di harga saham yg murah kecuali terjadinya krisis. Tentunya jika perusahaan tersebut sudah membuktikan bahwa dia bisa mencetak pertumbuhan yg bagus dgn return yg fantastis, cenderung semua investor sudah mengetahuinya dan harga sahamnya pun sudah naik setinggi langit, dan valuasi pun menjadi mahal sehingga tidak layak utk dilirik.

Karena terdapat beberapa unsur resiko di saham MIDI, maka mungkin itu juga salah satu alasan mengapa hingga kini sahamnya masih cuman dihargai oleh pasar dgn PER = 15x. Padahal kalau kita merujuk kepada semua saham sejenis di BEI seperti: AMRT, MPPA, RANC, HERO maka MIDI memiliki kinerja yg paling baik dan konsisten utk 5 tahun terakhir dan pas kebetulan saat ini juga dihargai sangat murah oleh pasar, seperti valuasi yg terlihat dibawah ini. Ini juga merupakan alasan saya membeli saham MIDI. Semoga suatu hari nanti dia membuktikan bahwa keputusan yg saya ambil utk invest di dia, adalah benar! Utk lebih kenal tentang prospek MIDI, anda bisa membaca PUBEX 2016 yg bisa di download dari sini dan hasil pubexnya disini.

Valuasi MIDI