Link Net (LINK): Menghubungkan interkoneksi jaringan antar Nusantara

Company profile

Perseroan didirikan dengan nama PT Seruling Indah Permai pada tahun 1996 dan kemudian berubah nama menjadi PT Link Net pada tahun 2000. Perseroan pada awalnya memiliki kegiatan usaha di bidang perdagangan barang dan jasa. Pada tahun 2000, kegiatan usaha Perseroan berubah menjadi di bidang teknologi informasi dan jasa penyelenggaraan internet serta jasa pada umumnya.

Pada tahun 2011 terdapat penambahan kegiatan usaha di dalam Perseroan, sehingga kegiatan usaha Perseroan sampai dengan saat ini adalah bergerak dalam bidang penyelenggaraan jaringan tetap berbasis kabel, jasa multimedia, internet serta jasa konsultasi manajemen bisnis.

Saat ini Perseroan bergerak dalam bidang usaha sebagai penyedia jasa layanan internet broadband berkecepatan tinggi di Indonesia serta bekerjasama dengan PT First Media Television dalam menyediakan jasa televisi berlangganan serta penyedia jasa layanan komunikasi data.

Perseroan mengoperasikan sistem kabel Hybrid Fiber Coaxial (“HFC”) dengan teknologi tinggi dan mampu mengoperasikan 870 MHz two-way broadband services. Per 31 Desember 2015, Perseroan telah memiliki jaringan lebih dari 1,67 juta homes passed terbentang di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Surabaya.

Pada tahun 2014, Perseroan mengambil langkah pasti dengan menjadi PT Link Net Tbk yang tercatat sebagai perusahaan publik atau perusahaan terbuka (tbk), melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) kepada masyarakat sebanyak 10% total saham dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 2 Juni 2014 dengan harga IPO Rp 1.600 per lembar saham.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Link Net Tbk, antara lain:
First Media Tbk (KBLV) (pengendali) (33,82%) dan
Asia Link Dewa Pte. Ltd. (CVC Capital Partners Ltd.) (33,45%).

Perseroan merupakan perusahaan yang berada di bawah PT First Media Tbk atau First Media Group. Perseroan menjalankan bisnis internet dan multimedia sebagai bentuk untuk mendukung era konvergensi dan masyarakat digital di Indonesia.

(Data atas di berasal dari Annual Report 2015 LINK dan situs Britama.com)

Analisa Fundamental

A. Overview

Ok, sebetulnya saat ini masih terlalu dini untuk mengukur fundamental LINK. Karena perusahaan ini baru saja IPO di tahun 2014, sehingga jika dihitung umurnya di bursa saham pun belum genap 3 tahun.

Namun tidak bisa di pungkiri kinerja LINK sungguh menakjubkan, memiliki kinerja yang sangat fantatis sekaligus bergerak di bidang yang sangat promising untuk masa depan.

Mari kita pelajari dulu fundamentalnya!

Dari 2013 (sebelum IPO sesungguhnya tidak bisa menjadi bahan ukur, namun memang kinerja perusahaan ini sangat menggiurkan sehingga saya membuat pengecualian), Pendapatan terus bertumbuh dari 1,655T menjadi 2,564T di tahun 2015.

Dari segi Laba bersih juga sama, tumbuh dari 362M menjadi 640M di tahun 2015 alias tumbuh 77% dalam kurun waktu 2 tahun, tidak heran jika harga sahamnya sudah naik dari 1.600 saat IPO ke 5.000 saat ini, menimbang kinerja Perseroan yang cemerlang.

1. Profitabilitas

Laba kotor konsisten terjaga di rentang 78% hingga 79%, sangat efisien dalam mencetak laba.

Sedangkan Laba usaha konsisten di rentang 36% hingga 39%, juga sangat menjanjikan.

Namun sayangnya tidak se-superb TBIG, Laba bersih Perseroan hanya berkisar antara 22% dan 26%, tapi tetap saja menarik. Toh, perusahaan yang mampu mencetak marjin laba bersih diatas 15% menurut saya adalah perusahaan yang layak kita pelajari.

Selain itu, untuk lebih meyakinkan lagi saya juga mencoba menambah 2 rasio profitabilitas lainnya, yaitu: ROA dan ROE. Pada umumnya, perusahaan yang dinilai bagus adalah yang bisa mencetak ROA > 10% dan ROE > 15% dan LINK juga memenuhi syarat ROA dan ROE ini.

2. Pertumbuhan

Secara pertumbuhan Pendapatan, LINK tumbuh 28% dari 2013 ke 2014 dan 20% dari 2014 ke 2015. Inilah yang susah buat kita ukur jika perusahaan baru IPO tidak lama, terlalu minim data yang bisa kita manfaatkan untuk mengukur kinerja lebih jauh.

Secara pertumbuhan Laba kotor juga terindikasi melambat dari 27% menjadi 20% di tahun 2015.

Dari pertumbuhan Laba usaha penurunan yang cukup signifikan di 2015, hanya tumbuh 12% dibanding pertumbuhan 2014 yang mencapai 41%.

Sama halnya dengan pertumbuhan Laba bersih, turun menjadi 15% di 2015 banding 54% di tahun 2014, namun tetap masih tumbuh!

Lantas, apa yang menyebabkan penurunan pertumbuhan di tahun 2015 atau melonjaknya pertumbuhan di tahun 2014 itu?

Jika di gali dari laporan tahunan, secara marjin laba kotor tidak terlihat adanya perubahan drastis baik untuk divisi internet maupun tv kabel marjin kotor masih terjaga +/- 90% dan 68% masing-masing. Namun terjadi efisiensi di beban usaha, turun ke 38,6℅ di 2014 dibanding peningkatan ke 43,1℅ di 2015. Selain itu Perseroan juga mulai melakukan beberapa kebijakan baru seperti layanan bundling internet dan tv kabel dan juga mulai menyasar ke segment korporasi dimana sampai akhir tahun 2014, sudah terdapat 98 gedung perkantoran yang terpasang layanan internet Perseroan, termasuk di dalamnya gedung BEI yang kita cintai. Alhasil, pertumbuhan Pendapatan tumbuh 28℅ dan Laba bersih tumbuh 54℅ di tahun 2014.

3. Arus Kas

Sungguh fantastis jika di tinjau dari segi cashflow. Operating cashflow alias Arus kas operasi Perseroan sejak 2013 hingga 2015 selalu berada di kisaran 2xlipat laba bersih yang di hasilkan, tumbuh dari 742M menjadi 1,182T. Ini membuat Perseroan memiliki kas yg berlimpah, sehingga pembiayaan ekspansi usaha menjadi mudah dan bisa mengandalkan dari kas internal tanpa butuh pinjaman pihak ke 3, paling tidak porsi besarnya demikian dan ini bisa menjaga efisiensi dari beban non-operasi.

Data atas juga menunjukan tingkat ekspansif Perseroan. Walaupun Perseroan berhasil menghasilkan arus kas operasi yang besar, secara arus kas bebas alias free cashflow, hampir belum ada. Apa yang tersisa dari operasi selalu ditanamkan kembali untuk perbelanjaan modal dengan capex 856M di 2013 meningkat menjadi 1,108T di 2015. Jika di lihat dari polanya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Perseroan mulai mencetak arus kas bebas positif dimasa mendatang.

4. Kesehatan keuangan

Secara jangka pendek (dalam 1 tahun), current ratio dan quick ratio sama (karena Perseroan jual jasa bukan produk fisik sehingga tidak ada persediaan barang dagang), berada di tingkat 0,9x hingga 1,2x. Walaupun sedikit dibawah ratio yg dibutuhkan yaitu current ratio minimal 1,5x, namun menimbang arus kas yang sangat lancar, maka hal itu bisa kita maklumin.

Sedangkan dalam jangka panjang, utang berbunga terhadap ekuitas hanyalah antara 0,03x dan 0,11x saja, dan dalam trend menurun sehingga sangat sehat. Utang berbunga 2015 hanyalah 3℅ (0,03x) dari ekuitas, boleh di bilang Perseroan hampir tidak ada beban utang berbunga dalam jangka panjang, jadi sangat aman.

Jika diukur dari total utang (total liabilitas) terhadap ekuitas juga sangat sehat yaitu 0,21x saja alias 21% dari ekuitas. Oleh karena itu bisa kita simpulkan bahwa kesehatan keuangan Perseroan adalah sangat sehat!

5. Rasio efisiensi

Ini juga menjadi alasan mengapa arus kas Perseroan begitu fantastis. Dengan Cash Conversion Cycle yang negatif dan > 2 bulan (63 hari) di 2015 artinya uang yang Perseroan terima dari pelanggan bisa di simpan dalam deposito bank selama > 2 bulan sebelum harus ditarik sebagian untuk dibayar kepada pemasok.

Sampai di sini kita sudah selesai membahas 5 komponen longterm view kinerja Perseroan, dan dari hasil yang kita kaji, bisa saya simpulkan bahwa terdapat lebih banyak sisi positif dibanding negatif sehingga LINK sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai salah satu calon investasi kita.

Mari kita lihat kinerja terkini dalam 10 triwulan terbaru untuk memantau perkembangan kinerja Perseroan dalam bagian “Follow the story“.

B. Follow the story

1. Kinerja 10 triwulan terkini

Apa yang bisa anda lihat sebagai hal aneh di 10 triwulan atas?

Yup, hampir saja kecuali 1Q16, Pendapatan Perseroan meningkat setiap triwulan dari 523M di 2Q14 menjadi 752M di 3Q16.

Sama halnya dengan Laba kotor, Laba usaha dan juga Laba bersih, memiliki pola yang hampir sama yang cenderung meningkat dari triwulan ke triwulan. Inilah keunggulan model bisnis yang berbasis recurring, dengan meningkatnya pelanggan, Pendapatan dan Laba juga ikut meningkat, belum lagi added value yang bisa Perseroan tawarkan kepada pelanggan untuk meningkatkan ARPU (Average Revenue Per User alias Omzet per pelanggan), akan ikut menyumbang peningkatan dalam Pendapatan.

Jika kita tinjau dari segi marjin juga terlihat sangat stabil. Laba kotor ada di kisaran 77% dan 80% secara konsisten dari triwulan ke triwulan.

Laba usaha sedikit bergejolak, menurun dari 41% hingga 34% namun kembali naik ke 38% hingga triwulan terkini.

Laba bersih juga agak bergejolak menurun dari 27% ke 23% namun kembali meningkat ke level yang lebih tinggi yaitu 28% di triwulan 3Q16.

Jika dilihat dari trend pertumbuhan, hanya masalah waktu sebelum LINK menjadi mesin pencetak uang berikut seperti saudaranya LPPF.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa 2016 akan menjadi tahun yang lebih baik buat Perseroan, karena secara konsekutif dari 1Q16 hingga 3Q16 marjin laba bersih meningkat lebih tinggi dibanding marjin tahun-tahun sebelumnya.

2. Pandangan makro dan Prospek industri

Ini sebetulnya bagian yang paling menarik, namun jika di bahas secara lengkap akan membutuhkan sangat banyak riset dan galian, jadi saya hanya akan mengulas sebagian saja. Mungkin nanti jika ada yang mengerti prospek industri bisnis internet dan kabel tv bisa bantu menambahnya dibagian komentar dibawah article ini.

Sedikit riwayat tentang bingungnya hubungan merk dan perusahaan Link Net Tbk (LINK) dan First Media Tbk. (KBLV).

Ini penjelasannya:

Pada tahun 2011 PT First Media Tbk (FM) selaku pemegang saham melakukan Reorganisasi terhadap Perseroan melalui Reorganization Agreement. Dengan adanya reorganisasi tersebut FM melakukan pengalihan dan/atau penjualan aset dan hak serta lisensi dari FM kepada Perseroan termasuk pengalihan beberapa perjanjian penting sehubungan dengan reorganisasi ini, maka sejak tahun 2011 sampai dengan saat ini kegiatan usaha Perseroan adalah bergerak dalam bidang penyelenggaraan jaringan tetap berbasis kabel, jasa multimedia, internet serta jasa konsultasi manajemen bisnis.

Dengan demikian Perseroan dapat menggunakan label bisnis “First Media” dengan tiga unit bisnis utama yaitu: HomeCable (layanan televisi berlangganan yang disediakan oleh PT First Media Television yang bekerjasama dengan Perseroan), FastNet (layanan internet broadband berkecepatan tinggi), dan DataComm
(data komunikasi berkecepatan tinggi guna keperluan bisnis).

Nah sekarang lebih mengerti ya, mengapa Perseroan lebih dikenal sebagai First Media.

Dikutib dari paparan Presiden Komisaris Perseroan di Laporan Tahunan 2015, Bpk Ali Chendra:

Berdasarkan data riset oleh Ericsson di tahun 2013, total konsumsi bandwidth data per bulan untuk laptop rata-rata 3,3 GB, tablet PC 1 GB, dan smartphone 600 MB.

Nantinya di tahun 2019, rata-rata trafik data akan lebih besar dalam hal konsumsi data. Konsumsi data per bulan untuk laptop akan menembus rata-rata 13 GB, di tablet PC sekitar 4,5 GB, dan di smartphone tumbuh menjadi 2,2 GB.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa video online memiliki kontribusi terbesar terhadap volume trafik data, dimana 25% dari total trafik smartphone dan 40% dari total trafik tablet.

Terlebih di Indonesia, kebutuhan akan bandwidth internet yang cepat sangat dirindukan oleh masyarakat digital (netizen). Hal ini mengingat
akan perubahan perilaku konsumen digital melalui pertumbuhan agresif bisnis e-commerce di Indonesia.

Pertumbuhan pesat pangsa pasar e-commerce di Indonesia memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Dengan jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30% dari total penduduk di Indonesia, pasar e-commerce menjadi tambang emas yang sangat menggoda bagi sebagian orang yang bisa melihat potensi ke depannya.

Pertumbuhan ini didukung dengan data dari Menkominfo yang menyebutkan bahwa nilai transaksi e-commerce pada tahun 2013 mencapai angka Rp130 triliun. Dengan demikian Perseroan sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang TIK memiliki kesempatan untuk dapat mendukung tren bisnis e-commerce di Indonesia. Kebutuhan
akan bandwidth yang cepat sangat dibutuhkan oleh para netizen dalam melakukan transaksi e-commerce.

Data atas adalah hasil dari presentasi IR Perseroan saat dirilisnya kinerja 3Q16.

Berdasarkan data riset tahun 2015, total penduduk Indonesia adalah 254jt jiwa dan 54% berada di umur < 30 tahun sehingga Indonesia menjadi negara dengan populasi termudah di dunia saat ini.

Berdasarkan data tahun 2013, Indonesia adalah negara konsumtif dimana konsumsi berkontribusi 59% terhadap PDB dan kaum konsumtif akan meningkat sebesar 90jt jiwa dari tahun 2010 hingga 2030 nanti.

Berdasarkan data tahun 2010, terdapat 53% penduduk yang tinggal di kota dan berkontribusi 74% terhadap PDB Indonesia. Pada tahun 2030 nanti, di estimasi penduduk yang tinggal di kota akan meningkat drastis menjadi 71% dan berkontribusi 86% terhadap PDB.

Penetrasi fixed line broadband (BB) di Indonesia pun masih cukup rendah, hanya 7,7% di tahun 2015, namun trend ini di estimasi akan terus meningkat menggantikan ADSL. Seperti yang terlihat di gambar ini, ADSL hingga kini masih menguasai 75% pelanggan namun di prediksi di tahun 2020, angka ini akan tergeser menjadi 52% saja.

Mungkin sebagian kita berfikir bahwa wireless network dengan perkembangan teknologinya akan menggantikan fixed line BB, namun sesungguhnya 2 jenis teknologi ini tidaklah saling merebut pasar, namun saling melengkapi.

Ibaratnya kalau teknologi ponsel adalah mobil pickup untuk pengantaran data kecil dan yang praktis, maka fixed line BB adalah mobil tronton yang dibutuhkan untuk mengangkut dan proses data berat dan strategis untuk jangkauan wilayah yang sulit mendapatkan signal, seperti dalam gedung maupun zona trafik overload.

3. Prospek Kinerja

Target Perseroan adalah 200ribu homespassed (rumah yang dilewati jaringan kabel Perseroan) setiap tahun. Namun di tahun 2016 mungkin hanya 150rb yang akan dicapai, karena hingga 3Q16 penambahan homespassed baru 117rb rumah saja.

Sebetulnya jika diukur secara sederhana, potensi penambahan homespassed masih sangat luas di Indonesia. Jika kita berasumsi bahwa setiap rumah ditempati oleh 5 penduduk, maka potensi homespassed adalah 51jt rumah seIndonesia (namun menurut Menkominfo, estimasi pangsa pasar homespassed Indonesia adalah 60jt). Merujuk pada data Laporan Tahunan 2015 terdapat pemain besar fixed line BB yang memiliki homespassed sbb:
– Telkom 10juta (data 4Q15)
– DSS (Sinarmas) 500rb (data 4Q15)
– Indosat 375ribu (data 4Q15)
– BizNet 374ribu (data kini)
– LinkNet 1,673juta (data 4Q15)

Sehingga secara total di tahun 2015, homespassed di Indonesia baru mencapai +/- 13jt rumah, +/- 25% dari total kebutuhan, sedangkan penduduk kota sudah mencapai 53% alias kebutuhan lebih dari 25jt rumah, maka potensi untuk berekspansi masih terbuka luas bagi semua pemain fixed line BB. Hanya saja tetap terjadi kompetisi karena pada berebutan pasar yang paling optimal.

Hal ini juga dijelaskan oleh management LINK. Fokus utama Perseroan bukan di kapasitas homespassed yang mampu dibangun, namun di optimalisasi homespassed yang sudah ada. Saat ini Perseroan berfokus di 3 kota yang memiliki penduduk terbesar dan berkontribusi PDB terbaik di Indonesia yaitu: Jakarta (10,1jt penduduk), Bandung (2,5jt penduduk) dan Surabaya (3,1jt penduduk). Selain itu, Perseroan juga memiliki jaringan di Bali khusus untuk perkantoran dan perhotelan dan mulai penetrasi ke pasar baru seperti Batam dan Medan dan Malang.

Sekedar info juga, biaya untuk menghadirkan jaringan kabel ke setiap rumah itu tidaklah murah. Setiap homepassed akan memakan biaya +/- Rp5jt hingga Rp5,5jt per rumah, dan itu hanya sampai di depan rumah, belum termasuk setup koneksi ke dalam rumah dan peralatan. Biaya homespassed juga akan jauh lebih mahal lagi untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Biaya ini di estimasi akan lebih terjangkau jika nanti proyek Palapa Ring Timur sudah selesai dibangun.

Dengan Churn rate (tingkat pemutusan langganan) yang terkendali di rata-rata 2,1% hingga 2,2%, pelanggan Perseroan terus bertumbuh dan kini sudah mendekati angka 1jt RGU (Revenue Generating Unit alias Pelanggan) dengan omzet per pelanggan (ARPU) ada di Rp403ribu per bulan di 3Q16.

Saat ini Perseroan juga lagi jalin kerjasama dengan perusahaan afiliasi grup Lippo, yaitu anak usaha Multi Polar, PT. Graha Teknologi Nusantara (GTN) untung mengembangkan bisnis Data Center Lokal.

Menurut IDPRO, bisnis data center di Indonesia akan tumbuh dari saat ini USD480jt menjadi USD850jt di tahun 2020 nanti. Seiring dengan makin ramainya bisnis digital dan ecom, Menkominfo berharap perusahaan lokal bisa mulai memindahkan dan menggunakan data center mereka ke lokal dimana kualitas penyediaan jasa data center lokal tidak kalah sama pemain asing.

Namun hingga saat ini, saya masih belum mendapatkan balasan email dari IR LINK tentang detail kerjasama tersebut. Mungkin nanti jika ada info lebih jelas akan saya post di bagian Email @ Corsec.

C. Valuasi Harga Saham

Diatas adalah chart fundamental yang menggambarkan korelasi antara Harga saham, Laba bersih dan Arus kas operasi Perseroan sejak IPO hingga kini.

Bisa dilihat bahwa Laba bersih dan Arus kas operasi bertumbuh secara stabil sedangkan harga saham pasca IPO terus naik hingga > 7000, namun akhirnya turun dan menyesuai pertumbuhan Laba bersih. Inilah yang sering saya ingatkan kepada investor baru bahwa ada kalanya harga sebuah saham bisa naik ke level yang tidak logika namun itu hanya masalah waktu sebelum 2 kemungkinan akan terjadi:

1. Laba bersih naik secara drastis mengejar harga yang tinggi, atau
2. Harga saham turun menyesuai posisi Laba bersih

dan dari chart atas kita bisa lihat bahwa, yang terjadi adalah nomor 2. Harga turun hingga dibawah garis Laba bersih kemudian kembali naik mendekati garis Laba bersih hingga kini.

Gambar atas adalah cara lain untuk melihat kewajaran valuasi sebuah saham. Namun diukur dalam faktor standard deviation. Garis lurus biru tengah adalah PER rata-rata alias MEAN PER. Sedangkan 2 garis diatas MEAN PER adalah premium dan 2 garis dibawah MEAN PER adalah murah, well pada umumnya begitu tafsiran kita.

Tentunya kita tidak bisa langsung terjun ke valuasi tanpa melihat lebih rinci performa kinerja perusahaan selama beberapa tahun terakhir, lebih ideal jika bisa 10 tahun, sehingga kita bisa mengenal dan mengetahui apakah PER murah itu bukan murahan dan PER mahal itu sesungguhnya tidak mahal.

Jadi dari chart standard deviation kita bisa ketahui bahwa saat ini harga saham LINK masih sedikit terdiskon karena dibawah garis MEAN PER. Namun tidak terlalu murah karena masih jauh diatas garis -1 PE.

Gambar terakhir ini memberikan valuasi secara absolute, menggunakan MEAN PER x EPS ttm, sehingga mendapatkan harga wajar 5494. Karena penutupan terakhir saham LINK adalah 5150, maka saat ini diskon ke harga wajar adalah 7%. Ini dilakukan dengan asumsi tidak terjadi pertumbuhan Laba alias EPS di Q4 nanti.

Sebetulnya diskon yang paling ideal buat saham non Bluechip adalah diskon >= 40%, jadi +/- di harga Rp 3920. Tentunya perusahaan yang tumbuh dengan baik tidak selalu akan memberi diskon sebesar itu, namun sebaliknya di pasar saham jika ada 1 hal yang bisa kita pasti, maka IRASIONALITAS INVESTOR lah jawabannya, artinya di bursa semua jadi mungkin.

Jadi ingat, jika kita patok diskon 40% tidak berarti kita harus selalu tunggu di harga Rp 3920, karena angka ini akan bergeser dengan setiap Laporan Keuangan yang di rilis. Makin tinggi Laba yang di cetak, maka makin besar pula EPS sehingga nilai wajar pun jadi makin tinggi, karena harga wajar = MEAN PER x EPS.

Link Net sangat menjanjikan karena memiliki bisnis yang pangsa pasarnya masih begitu luas, namun penetrasi masih begitu rendah. Sebagai market leader ke 2 setelah si raksasa Telkom, Link Net memiliki jaringan yang jauh luas di banding pesaing lain dimana momentum era digital sedang berada.

Karena kesiapan serta fokusnya di bidang usaha yang di rintis, maka Link Net akan menjadi penghubung interkoneksi jaringan digital antar Nusantara yang terdepan dan terpercaya bagi semua penduduk Indonesia.

Sekian untuk article kali ini, semoga bermanfaat dan tidak lupa saya ucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2017, semoga 2017 akan membawa lebih banyak rezeki dan peningkatan kapasitas buat kita semua.

Oh ya, jika anda senang dengan data LK dan fundamental charts yang disajikan dalam article ini, anda bisa mendapatkannya dari StockbitPro, dan untuk mendapatkan diskon 5% silahkan masukkan kode promo “ILTPROMO“.

Sampai ketemu lagi di article berikut. Happy New Year 2017!

Salam longterm investment!