Jasamarga (JSMR): toll road to success

Logo Jasa Marga

Logo Jasa MargaOk, saya melihat saham JSMR belakangan jatuh cukup dalam, maka saya merasa ini kesempatan yg baik membahasnya secara fundamental. Mungkin bisa memberi sedikit view kepada para investor dalam pertimbangan apakah saham JSMR layak utk di beli.

Jika anda ingin mengerti lebih dalam tentang prospek dan sejarah JSMR, coba baca di sini, karena sudah pernah di ulas oleh teman komunitas saya, Bima Setiaji N, seorang investor muda usia 20an tapi sangat passionate dan mengerti fundamental analysis yg sangat dalam dan memiliki kepribadian yg sungguh luar biasa dan sungguh rela berbagi.

Dalam article ini, saya ingin kembali membahas (restate), mengapa saham ini sangat layak di koleksi dari segi kinerja secara overall. Jadi kita mulai lagi membahas 5 komponen sebagaimana saya menganalisa melihat gambaran besar suatu saham secara historis.

1. OVERVIEW – BIG PICTURE

Secara Revenue, Operating Income dan Net Income, Perseroan sudah menunjukan kinerja yg sangat bagus, bertumbuh tambah tinggi setiap tahunnya, walaupun ada sedikit hambatan di laba tahun 2013 namun setelah itu, kinerja Perseroan kembali menancap ke arah yg lebih tinggi. Jadi, sekilas ini sudah tergolong saham yg berfundamental bagus, tinggal kita pelajari secara per komponen sebagus apa JSMR ini.

1. A. PROFITABILITY

Jika sekilas kita lihat dari margin yg dihasilkan Perseroan, sepertinya Perseroan kehilangan MOAT sehingga sejak tahun 2012 margin keuntungan jatuh cukup drastis. Contohnya Gross Margin, yg sebelumnya bisa bertahan dikisaran 60%-70% namun sejak 2012 hingga kini bertegar di kisaran 30%-40%. Sama halnya dgn Operating Margin dan Net Margin. Namun, jika kita kembali membaca laporan keuangan pada tahun 2012 contohnya, kita akan menemukan alasannya. Pada 2012 JSMR menggenjot pembangunan secara berskala besar sesuai dgn MISI dan VISI pemerintah saat itu, MP3EI. Oleh sebab itu, di tahun 2012 Pendapatan Perseroan dari segment konstruksi pun melonjak hingga mencapai 3,4T (38% dari total pendapatan).

Namun pendapatan dari segment konstruksi tidaklah menyumbang laba kepada Perseroan, karena pembangunannya adalah utk pemakaian sendiri dimana keuntungannya akan dirasakan nanti hari begitu tol sudah beroperasi. Hal tersebut terus berjalan hingga kini, dimana Perseroan terus menggenjot pembangunan/konstruksi tol baru. Jadi, jangan kaget nanti di masa depan, pendapatan JSMR tiba-tiba turus drastis begitu sudah tidak ada pembangungan/konstruksi tol baru lagi, namun laba mala meningkat. Dan itu akan membuat margin Perseroan membaik nantinya.

Sebagai contoh, jika kita keluarkan konstruksi dari kinerja tahun 2012, maka hasilnya akan seperti ini:
Pendapatan = 5,581T
Beban Kotor = 2,150T
Laba Kotor = 3,431T
Margin kotor / Gross Margin = 61,48% <— masih sama seperti sebelum-sebelumnya toh!

1. B. GROWTH

Secara pertumbuhan, karena Revenue/pendapatan sudah tidak murni lagi, sehingga susah utk kita jadikan patokan, namun secara pertumbuhan Operating Income dan Net Income tidak terganggu gugat sehingga ini yg layak kita perhatikan utk JSMR.

Terlihat bahwa pertumbuhan laba utk 10 tahun terakhir masih diatas 15% jadi masih cukup bagus, namun secara jangka lebih pendek 3 dan 5 tahun, terlihat ada indikasi slowdown. Jadi sebetulnya JSMR jika tidak kembali berekspansi, akan menjadi sebuah saham yg kita sebut slow grower dimana pertumbuhan tahunan masa depan tidak beda jauh dari pertumbuhan PDB negara yaitu di kisaran 5% saja. Namun, sejak tahun 2012, JSMR sudah kembali giat berekspansi, maka ini bisa dijadikan acuan utk pertumbuhan baru yg akan dirasakan di beberapa tahun mendatang. Kita tinggal pantau saja kinerja Perseroan utk memastikan hal tersebut apakah benar.

1. C. CASHFLOW

Terlihat sejak 2012, capital spending (Capex) Perseroan mulai meningkat dgn drastis. Ini sejalan dgn ekspansi usaha yg di lakukan oleh Perseroan. Namun Jika kita melihat kembali ke Free Cashflow, sesungguhnya tidak terlalu menarik juga. Lini usaha tol memang berat di capex, dan membutuhkan dana yg besar utk berekspansi. Namun, lini usaha ini memberikan return yg menarik utk jangka panjang. Arus kas operasi netto hampir setiap tahun dikalahkan oleh Arus kas Investasi netto, sehingga terjadi kekurangan dana yg harus di biayai oleh pinjamanan. Namun jika suatu hari nanti, Arus kas investasi sudah bisa dikurangi pengeluarannya (alias mengurangi ekspansi), maka Free cashflow akan menjadi dahsyat, namun hal ini tidak akan terlihat dalam kurun waktu dekat, tapi harus tunggu ekspansi besar-besaran yg kini dilakukan Perseroan sudah mencapai titik puncak dan mulai meredup maka hasil dari investasi tol-tol yg sudah dibangun ini nanti kana membuah kan hasil seperti yg kita liat dari laba dan arus kas operasi yg disajikan atas.

Jadi dari gambar atas, kita juga bisa simpulkan sesungguhnya, JSMR akan terbebani jika setiap tahunnya harus membagikan dividen yg besar. Namun karena JSMR adalah perusahaan BUMN dimana pemerintah setiap tahun ingin menarik dana dari dia supaya utk menopang pembiayaan APBN, maka tidak mustahil jika JSMR pun setiap tahun terpaksa membagikan dividen. Either way, selagi kesehatan keuangan Perseroan memungkinkan, maka semua tidak masalah. Mari kita cek seberapa sehat keuangan Perseroan dgn ekspansi yg begitu masif dalam beberapa tahun terakhir.

1.D. FINANCIAL HEALTH

Secara jangka pendek (dalam 1 tahun), kesehatan keuangan Perseroan sedikit memprihatinkan. Baik dari segi Current Ratio maupun Quick Ratio, memberikan hasil yg sama, yaitu 0,48x dan 0,45x di tahun 2015. Kabar baiknya adalah, Jika dilihat dari trend sebelum ekspansi besar-besaran di tahun 2012, sebetulnya kesehatan keuangan Perseroan tergolong cukup bagus. Namun karena kebutuhan modal yg besar utk berekspansi maka sejak tahun 2012, resiko kesehatan keuangan Perseroan pun mulai meningkat. Jadi, ini bisa kita pakai sebagai gambaran kedepannya, dimana jika ekspansi besar-besaran sudah kelar, maka cenderung kesehatan keuangan Perseroan bisa kembali normal lagi seperti yg sudah sudah. Namun, saat ini secara jangka pendek cukup mendesak, karena banyak beban yg harus selesaikan, dan itu juga mengapa Perseroan giat melakukan refinancing baik itu pinjaman bank maupun penerbitan obligasi dan PMN.

Secara jangka panjang (lebih dari 1 tahun), Financial leverage menceritakan hal yg sedikit berbeda. Walaupun utang Perseroan terus meningkat hingga kini sudah mencapai 1,52x (3,52x dikurang 2x) di tahun 2015 dari tota utang namun angka ini tidaklah terlalu besar, menimbang cashflow operasi Perseroan yg cenderung stabil dan terus meningkat. Lalu jika kita melihat total beban utang berbasis bunga banding ekuitas, hanya 1,15x di tahun 2015. Ini juga tidak terlalu besar sesungguhnya.

Jadi kesimpulannya, resiko keuangan tetap ada, namun jika Perseroan bisa terus mencetak laba yg memuaskan dan cashflow operasi yg memuaskan, toh, utk refinancing sesungguhnya bukan menjadi masalah.

1.E. CASH CONVERSION CYCLE
Karena semua transaksi pendapatan Perseroan adalah dalam bentuk tunai, dan tidak memiliki Persediaan, maka sudah bisa di pastikan bahwa putaran uang Perseroan lancar. Ini mirip sekali dgn pola perputaran uang supermarket dan minimarket. Yg masuk selalu dalam bentuk tunai, sedangkan yg keluar dalam bentuk utang tempo. Dan lebih bagus lagi, Perseroan tidak memiliki Persediaan seperti para retail.

2. FOLLOW THE STORY

Ini adalah salah satu cara saya mengukur kinerja Perseroan secara gambaran kecil. Jika yg 5 komponen atas sudah kita bahas melihat kinerja 5-10 tahun terakhir, maka yg bagian ini kita menggali lebih dalam utk melihat kinerjanya hanya selama 5 kuartal terakhir utk menentukan trend FUNDAMENTAL Perseroan.

Caranya sama, kita selalu mulai dari Revenue lalu turun ke Operating income dan selesai dgn Net income dan EPS.

Seperti sudah kita ketahui, disini Revenue tidak bisa kita jadikan patokan karena segment konstruksi yg tidak menopang laba. Jadi utk JSMR, kita abaikan saja, kecuali kita ingin membedahnya lebih specific dgn mengeluarkan pendapatan bagian konstruksi.

Secara Operating income terlihat sangat fantastis. dari 2Q15 di 794M terus meingkat di tahun 2016. Dgn gambaran ini kita sudah bisa membayangkan, bahwa Operating income Perseroan di tahun 2016 akan jauh diatas 2015.

Secara Net income terlihat sama. dari 2Q15 di 293M terus meningkat hingga 517M di 2Q16, dan ini juga sudah memberi kita bayangan tanpa harus hitung persisnya, tapi tahun 2016, laba bersih Perseroan akan jauh masif dibanding sama tahun 2015 silam.

Sebetulnya masih banyak yg bisa kita lakukan sebagai langkah utk follow the story. Kita bisa kembali baca Annual report dan Pubex yg di paparka Perseroan sebelumnya, lalu secara specific mengikuti perkembangan berita tentang hal tersebut, supaya bisa mengukur pencapainnya. Namun saya tidak akan mengulas lebih panjang, karena teman saya yg baik hati sudah mengulasnya sebelumnya dgn sangat detail dan lengkap.

3. VALUASI
Sesuai dgn valuasi saya, saham JSMR saat ini menawarkan MOS yg sangat menarik yaitu 60% diskon ke harga wajar. Jarang kita bisa mendapatkan sebuah saham yg merupakan market leader dan kinerjanya sudah teruji dan berfundamental solid memberikan diskon sebesar ini, umumnya 20% sudah sangat bagus. Namun, kenyataannya ada. Terlepas dari spekulasi alasannya apa saham ini turun drastis, saya sendiri sangat percaya ini adalah kesempatan yg baik utk koleksi.

Saya sudah bahkan belinya jauh lebih awal di atas 5000. Hingga kini AVG modal saya pun masih di harga Rp5,013 dan sudah menjadi saham penempatan porsi terbesar di porto yaitu 15% dari total modal.

INFO TAMBAHAN MENGENAI RIGHT ISSUE JSMR

Sesuai dgn kutipan dari situs IDX tentang “Keterbukaan Informasi Yang Perlu Diketahui Publik [JSMR]“, maka disebutkan total maximum lembaran saham baru yg akan diterbitkan (bagian A), lalu juga disebutkan jika RI tidak kita manfaatin nanti, maka maksimum dilusi atas hak kita adalah 6,74% (bagian C). Dalam kata lain, jika wajar saham JSMR adalah Rp 7,415, maka setelah RI, wajar JSMR akan mejadi Rp6,915. Artinya, saat ini JSMR masih memberi diskon ke harga wajar lebih kurang 50%, masih sangat menarik.

Walaupun secara hitungan kasar, harga RI JSMR akan berada di kisaran Rp3,600 namun yg harus kita sadar adalah porsinya hanya sekitar 6,74% alias lebih kurang 15 saham banding 1. Artinya Jika anda saat ini membeli 15 lot saham JSMR dgn harga 4630 (Rp6,945,000) anda nanti akan berhak utk menebus 1lot saham JSMR di harga 3,600 (Rp 360,000), sehingga modal AVG anda akan menjadi:
(Rp 6,945,000 + Rp 360,000) / 16 lot saham = Rp 4,565 / saham. (hanya selisih 1,4% saja). Jadi jika ada yg berasumpsi bahwa RI JSMR di harga 3,600 maka saham JSMR akan menuju ke harga 3,600 mungkin sedikit keliru. Namun namanya shortterm, apapun bisa terjadi, jika itu benar terjadi, mungkin saya harus mencari dana / menjual sebagian saham lain saya utk menaikan porsi JSMR minimal 30% dari porto.

Well sekian ulasan saya tentang JSMR. Semoga article ini membantu memberikan sedikit banyak gambaran tentang fundamental JSMR dan membantu anda dalam pertimbangan apakah layak di koleksi.

Selamat berinvestasi!

Featuring: Jasa Marga (JSMR): Pertumbuhan kinerja REBORN! by Bima Setiaji N

Logo Jasa Marga

Logo Jasa Marga

Profil Jasa Marga

Untuk mendukung gerak pertumbuhan ekonomi, Indonesia membutuhkan jaringan jalan yang handal. Jasa Marga (JSMR), seperti yang kita ketahui, merupakan perusahaan operator jalan tol terbesar di Indonesia, dimana per akhir tahun 2012, perusahaan mengoperasikan total 73% dari seluruh panjang ruas jalan tol di Indonesia. Pada awal berdirinya, JSMR berperan tidak hanya sebagai operator tetapi memikul tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Hingga tahun 1987 Jasa Marga adalah satu-satunya penyelenggara jalan tol di Indonesia yang pengembangannya dibiayai Pemerintah dengan dana berasal dari pinjaman luar negeri serta penerbitan obligasi Jasa Marga dan sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Perseroan, Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) merupakan tonggak sejarah bagi perkembangan industri jalan tol di Tanah Air yang mulai dioperasikan sejak tahun 1978.

1

Dalam masa hingga tahun 2019 kedepan pembangunan jalan tol merupakan salah satu prioritas pembangunan Mewujudkan Infrastruktur untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional infrastruktur, pemerintah telah menargetkan pembangunan infrastruktur melalui penambahan panjang jalan tol sepanjang 1000 km. Jasa Marga berkomitmen untuk turut serta mewujudkan pencapaian target tersebut melalui pembangunan ruas-ruas jalan tol potensial untuk dibangun. Komitmen Jasa Marga yang berkelanjutan tersebut merupakan upaya yang sejalan dengan visi dan misi Jasa Marga untuk tetap menjadi perusahaan jalan tol yang terpercaya dan unggul. Jasa Marga saat ini terus merampungkan ruas-ruas jalan tol yang konsesinya telah dimiliki dan tengah dalam pembangunan, hingga akhir tahun 2015 Jasa Marga memiliki jalan tol yang beroperasi sepanjang 590 km dan 987 km hingga tahun 2018.

Sekilas Sektor Infrastruktur Jalan Tol Di Indonesia

Tertinggal, begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan pembangunan infrastruktur di Indonesia, utamanya pembangunan jalan tol. Setelah 70 tahun merdeka, Indonesia hanya memiliki panjang jalan tol dibawah 1.000 kilo meter (km) atau tepatnya sepanjang 949 km. Jangan dibandingkan dengan Malaysia yang telah memiliki jalan tol sepanjang 3.000 km, apalagi membandingkan dengan China yang telah memiliki jalan tol sepanjang 65.100 km.

Melihat kenyataan ini, Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo berambisi untuk membangun jalan tol sepanjang 1.000 km dalam waktu lima tahun. Pemerintah Indonesia sedang berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur termasuk jalan tol dengan menyiapkan anggaran yang fantastis seperti yang tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 sebesar Rp. 313,5 triliun. Perusahaan pengelola jalan tol, utamanya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menggenjot kinerjanya untuk mencapai target tersebut. Pemerintah juga telah menyiapkan beberapa ruas jalan tol untuk ditawarkan ke pihak swasta, baik swasta lokal maupun asing.

2

Menurut data yang saya baca, tahun 2015 lalu ruas jalan tol yang dalam konstruksi di seluruh Indonesia sebanyak 26 ruas dengan panjang 1.380,92 km. Terbanyak berada di Pulau Jawa 17 ruas sepanjang 670,13 km, di Sumatera 8 ruas sepanjang 611,77 km dan di Kalimantan 1 ruas sepanjang 99,02 km. Jalan tol terpanjang di Pulau Jawa adalah Probolinggo-Banyuwangi (190 km), sedangkan di Sumatera terpanjang adalah Bakauheni-Bandar Lampung-Terbanggi Besar (140,41 km), disusul ruas tol Kayuagung-PalembangBetung (137 km) dan ruas tol Pekanbaru-Kandis-Dumai (135 km)

Dalam tiga tahun terakhir, kinerja perusahaan jalan tol di Indonesia memperlihatkan peningkatan yang tinggi, itu terlihat dari tingginya pendapatan yang dihasilkan dengan laba yang sangat fantastis. PT. Jasa Marga Tbk, sebagai perusahaan terbesar menemukan kejayaan bisnisnya tahun 2013 lalu dengan pendapatan Rp. 10,29 triliun, sedangkan PT. Hutama Karya (Persero) mengalami lompatan pendapatan
tahun 2014 sebesar Rp. 5,71 triliun. Perusahaan lainnya yang mulai memberikan kontribusi pendapatan di sektor jalan tol adalah PT. Waskita Karya Tbk, PT. Wijaya Karya Tbk dan PT Adhi Karya Tbk. Di prediksi tahun 2016 dan 2017 pendapatan perusahaan ini dan perusahaan lainnya akan semakin melejit.

3

Gencarnya pembangunan jalan tol di Indonesia dan banyaknya investor yang masuk ke bisnis jalan tol membuat pihak perbankan gencar menyalurkan kreditnya seperti : Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia dan beberapa Bank Swasta.

Namun hambatan untuk pembangunan jalan tol kedepan juga tidak bisa kita hiraukan, salah satunya berasal dari porsi infrastruktur oleh APBN. Ada dua faktor utama yang membuat APBN Perubahan 2016 dinilai tidak kredibel. Pertama adalah pengeluaran yang terlalu besar untuk membangun infrastruktur. Dana pada APBN tahun berjalan untuk membangun infrastruktur sebesar Rp 300 triliun lebih atau 15 persen dari total anggaran belanja.

4

Kedua, membengkaknya dana infrastruktur tidak diimbangi oleh pendapatan negara. Penerimaan pajak diperkirakan di bawah target. Dari data perhitungan penerimaan pajak diatas, tahun 2016 ini pemerintah diprediksi mendapatkan pendapatan pajak sebesar 1530 Triliun, sedangkan pengeluaran APBN meningkat jadi 2000 Triliun yang berarti deficit anggaran membesar menjadi 561 Triliun. Satu-satunya harapan untuk menyelamatkan APBN tahun ini adalah pajak dari kebijakan tax amnesty. UU Pajak Pengampunan diharapkan mampu menjadi landasan hukum masuknya dana pajak Rp 165 triliun.

5

Untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia, pemerintah sendiri mengalokasikan dana APBN dalam jumlah besar untuk pembangunan infrastruktur. Sebelum tahun anggaran 2016, dana infrastruktur kurang dari 5 persen dari APBN. Kenaikan dana infrastruktur hingga tiga kali lipat adalah keputusan politik Presiden Jokowi yang sangat tepat menurut saya.

6

Yang membuat saya lega, baru-baru ini berdasarkan data realisasi investasi triwulan II-2016 terjadi peningkatan investasi sebesar 12,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015, yakni Rp135,1 triliun menjadi Rp151,6 triliun. Secara kumulatif, realisasi investasi selama bulan Januari hingga Juni 2016 adalah Rp298,1 triliun atau meningkat 14,8 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya Rp259,7 triliun. Sektor konstruksi sendiri terutama tol dengan realisasi PMDN dengan nilai Rp8,35 triliun dan realisasi PMA total sebesar USD75,26 juta.
Lalu data Kemenkeu, mencatat serapan belanja modal yang meningkat tajam pada semester I tahun ini dibanding semester I tahun lalu. Dari data Kementerian Keuangan yang dikutip Jumat, 22 Juli, tercatat realisasi belanja modal mencapai Rp44,4 triliun. Sedangkan pada semester I tahun lalu, realisasinya sebesar Rp26,9 triliun.

Laporan Kinerja JSMR

Jasa Marga sampai dengan saat ini telah mengoperasikan 590 km jalan tol, atau 63% dari keseluruhan total panjang jalan tol beroperasi di Indonesia ±940 km.

7

Sampai dengan tahun 2018, Perseroan berencana akan menambah ± 400 km jalan tol baru sehingga total jalan tol yang dioperasikan pada tahun 2018 akan menjadi 987 km.

8

Di sisi lain, jumlah kendaraan yang melewati jalan tol pun, sekitar 80% melewati jalan tol yang dioperasikan oleh Perseroan. Dengan kondisi-kondisi tersebut di atas, Perseroan memimpin (leading) dalam industri jalan tol di Indonesia baik dari sisi panjang jalan tol beroperasi maupun volume lalu lintas transaksi yang melalui jalan tol.

9

Jasa Marga jika kita lihat laporan keuangannya maka masih memiliki 13 konsesi ruas jalan tol dengan masa konsesi 40 tahun sejak 2005. Konsensi tol inilah yang terus menghasilkan arus kas yang kuat bagi Jasa Marga

10

Rinciannya sebagai berikut, Memiliki konsesi jalan tol selama 45 tahun untuk 3 jalan tol baru sejak 2006 (Bogor Outer Ring Road, Semarang-Solo dan Gempol-Pasuruan); konsesi 35 tahun untuk 2 jalan tol baru sejak 2008 dan 2009 (Cengkareng-Kunciran dan Kunciran Serpong); konsesi 42 tahun untuk satu jalan tol yang diakusisi sejak 2009 (Surabaya-Mojokerto) dan konsesi 35 tahun sejak 2011 (Gempol-Pandaan); konsesi 45 tahun untuk 1 jalan tol baru sejak 2011 (Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa); konsesi 40 tahun untuk 1 jalan tol baru sejak 2014 (Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi) dan konsesi 35 tahun untuk 3 jalan tol baru yang diakuisisi sejak 2015 (Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono dan Cinere-Serpong).

11

Pada kuartal 1 2016, Jasa Marga mampu mencatat kinerja yang cukup mengesankan. Kinerja yang cukup mengesankan ini diperoleh saat Perseroan sedang giat-giatnya melakukan investasi. Pencapaian Laba Tahun Berjalan sebesar Rp 384 miliar, naik 22 % atau Rp71 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya Pendapatan Tol Perseroan yang terlihat dari naiknya volume lalu lintas dan kenaikan tarif tol.

12

Pendapatan dari hasil pengoperasian jalan tol Kelompok Usaha diakui pada saat penjualan karcis tol. Pendapatan tol dari hasil kerjasama pengoperasian jalan tol dengan investor dengan kuasa penyelenggaraan diakui pada saat penjualan karcis tol setelah dikurangi bagian investor tersebut. Pada Q2 2016, Pendapatan tol mencapai Rp2.04 triliun atau meningkat 15 % dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,7 triliun.

13

Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya volume lalu lintas transaksi dan adanya penyesuaian tarif yang diprediksi terjadi pada tahun 2016 sesuai gambar diatas. Dari tabel dan grafik diatas, terlihat pertumbuhan hampir di beberapa ruas tol Perseroan. Kontribusi terbesar pendapatan tol berasal dari ruas jalan tol Jakarta-Cikampek yang mencapai Rp1,259 triliun atau 15,98% dari total Pendapatan Tol secara keseluruhan dengan jumlah trafik mobil mencapai 231 juta kendaraan, sedangkan ruas-ruas yang berlokasi di Jakarta dan sekitarnya masih penyumbang terbesar pendapatan yang diperoleh Perusahaan.

14

Sementara hingga semester 1 ini, Jasa Marga mendapat momentum lebaran idul fitri. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) lebih percaya diri bahwa jumlah warga yang mudik akan naik 6,7 persen untuk mencapai 2,23 juta kendaraan pada tahun 2016 ini. Ini pun diprediksi akan mendorong pendapatan Jasa Marga.

15

Pertumbuhan penjualan mobil yang fluktuatif di Indonesia pun ternyata tidak berdampak signifikan terhadap volume lalu lintas Jasa Marga berdasarkan table diatas.

16

Lalu pendapatan konstruksi merupakan pendapatan jasa pembangunan jalan tol baru dan peningkatan kapasitas jalan tol. Di kuartal 2 ini, Pendapatan Konstruksi naik 155 % menjadi Rp 5,1 Miliar.

17

Laba tahun berjalan Jasa Marga sendiri pada akhirnya mencapai Rp 1,424 triliun secara TTM dan 384 miliar secara kuartal 1, apabila dibandingkan dengan pencapaian kuartal 1 tahun 2015 yang sebesar 313 miliar, maka laba tahun berjalan mengalami kenaikan sebesar 22,6%.

18

Total Aset Perseroan adalah Rp36,87 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp153 miliar atau 0,4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh penambahan kas serta hak penggunaan ruas jalan yang masih dalam konstruksi melalui beberapa entitas anak, seperti Jalan Tol Solo-Ngawi, Jalan Tol Ngawi-Kertosono, Jalan Tol Bogor Ring Road Seksi IIB Kedung Badak-Yasmin, Jalan Tol Semarang Solo Seksi III Bawen-Salatiga, Jalan Tol Gempol-Pasuruan Seksi I Gempol-Rembang.

19

Liabilitas Jasa Marga pada semester 1 2016 adalah sebesar Rp24,31 triliun, turun sebesar Rp42 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh adanya berkurangnya hutang bank jangka pendek walau di sisi lain ada penambahan pinjaman jangka panjang, baik kepada bank maupun lembaga keuangan bukan bank untuk mendukung aktivitas konstruksi jalan tol baru. Hutang Kontraktor sendiri meningkat karena beberapa proyek Perseroan melalui entitas anaknya sedang aktif melakukan konstruksi pembangunan jalan tol baru

20

Arus Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi 2015 mencapai Rp1,71 triliun atau turun2,61% dibanding tahun 2014. Penurunan ini antara lain disebabkan adanya penurunan pembayaran kepada
pemasok. Selain itu, karena telah selesainya kerjasama operasi antara Perseroan dengan PT Bangun Tjipta Sarana (BTS) untuk ruas Cibitung-Cikampek, menyebabkan pembayaran beban kerjasama operasi juga mengalami penurunan.

21

Salah satu indicator lain yang menunjukkan kinerja Jasa Marga yang semakin bagus adalah jumlah kecelakaan lalu lintas. Dari data diatas, terlihat pertumbuhan jumlah kecelakaan yang semakin menurun. Artinya adalah semakin kecil jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi menunjukkan semakin baik system lalu lintas dan tol yang dimiliki Jasa Marga juga mengurangi beban yang ditanggung perusahaan.

Prospek Jalan Toll dan Jasa Marga Kedepan

Untuk tetap menempati posisi sebagai market leader dalam pengoperasian jalan tol di Indonesia, Perseroan melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan panjang jalan tol yang dioperasikan dengan membangun ruas-ruas tol baru yang memiliki kelayakan dari segi finansial. Pengoperasian jalan tol baru yang diusahakan oleh Perseroan harus terkoneksi dengan jalan tol yang telah beroperasi untuk memberikan jaminan adanya volume lalu lintas pada jalan-jalan tol baru.

22

23

Selain itu, beberapa Anak Perusahaan telah mulai berkontribusi terhadap pencapaian volume lalu lintas Perseroan, seperti Jalan Tol Bogor Ring Road seksi Sentul-Kedung Halang dan Kedung Halang-Kedung Badak, Jalan Tol SurabayaMojokerto seksi Waru-Sepanjang, Jalan Tol Semarang-Solo Seksi Semarang-Ungaran dan Ungaran-Bawen, Jalan Tol Bali- Mandara, Jalan Tol JORR W2 Utara seksi Kebon Jeruk-Cileduk dan CiledukUlujami, serta yang terbaru diresmikan beroperasi pada 12 Juni 2015, Jalan Tol Gempol-Pandaan. Dan berdasarkan gambar dibawah, kedepan Jasa Marga akan terus meraup peningkatan pendapatan dari tol-tol baru mereka.

24

Sementara jumlah pengguna kartu elektronik alias e-toll yang digunakan untuk membayar biaya masuk melalui gardu tol otomatis (GTO) setiap tahun mengalami kenaikan. Meski belum mampu berkontribusi separuh dari kendaraan pengguna jalan tol, kenaikan ini disebut mampu menambah pundi-pundi pendapatan Jasa Marga dan Bank yang bersangkutan kedepan.

25

Berita bagus lainnya adalah penggunaan e-toll bagi seluruh tol yang dikelola Jasa Marga baru mencapai sekitar 23 persen berdasarkan table diatas. Jumlah tersebut meningkat karena sepanjang Q1 2016 penetrasi pembayaran elektronik di seluruh ruas tol yang dioperasikan Jasa Marga mencapai 15,6 persen dari total transaksi. Tahun 2016 sendiri PT Jasa Marga Tbk menargetkan tingkat pemakaian atau penetrasi pembayaran transaksi tol elektronik (E-Toll) mencapai 30-40 persen.

Yang juga harus diiperhatikan kedepan, menurut saya adalah sengketa antara PT Jasa Marga Tbk dengan salah satu mitranya, PT Tirtobumi Prakarsatama ternyata belum usai. Kasus ini bermula dari keterlambatan Jasa Marga menyampaikan permohonan perpanjangan konsesi yang diajukan Tirtobumi ke Menteri Pekerjaan Umum pada tahun 2011. Sebelumnya, kedua perusahaan ini melakukan kerjasama bagi hasil di ruas jalan tol Kebon Jeruk-Tangerang Barat. Pada 2011, Tirtobumi meminta perpanjangan konsesi karena Tirtobumi memiliki satu jalur di ruas tersebut. Sayangnya, perusahaan dengan kode emiten JSMR ini tak segera meneruskan permintaan perpanjangan itu ke Menteri PU. Alasannya, perlu dievaluasi lebih dahulu. Alhasil, Tirtobumi membawa perkara ini ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Jasamarga terancam membayar ganti rugi Rp 1,24 triliun.

26

Kesimpulannya, prospek sector jalan tol termasuk Jasa Marga didalamnya sangat cerah. Berdasarkan data diatas, Pemerintahan Jokowi sendiri mentargetkan hingga 1798 km Jalan tol. Sedangkan sekarang baru ada 980 km, berarti ada potensi penambahan jalan tol hingga 2x lipat.

27

Valuasi Jasa Marga sendiri jika kita melihat grafik PE SD diatas termasuk masih sangat murah di harga sekarang, ditambah dengan prospek kedepan yang sangat bagus saya melihat masih ada potensi kenaikan jumlah km dan pengguna jalan tol di Indonesia serta kenaikan penjualan mobil yang mulai pulih. Berdasarkan chart PE SD diatas range beli terbaik Jasa Marga adalah diharga 5820 kebawah dengan asumsi PER 25,67. Jika tahun 2016 ini laba Jasa Marga bisa meningkat, maka bukan tidak mungkin valuasi Jasa Marga di harga sekarang akan semakin murah. Dengan potensi jumlah trafik kendaraan yang melewati tol Jasa Marga tumbuh 10% setiap tahun plus penambahan jalan tol yang dimiliki Jasa Marga hingga 983 km di 2018, maka EPS Jasa Marga berpotensi menjadi 350 2 tahun kedepan. Dengan PER sekarang di 24,4 maka harga valuasi untuk membeli Jasa Marga saya menjadi 5221 – 5,820. Berdasarkan perhitungan DCF saya di atas, Valuasi Harga Jasa Marga untuk tahun 2016 adalah 6,500 per saham. Saya sendiri sudah mengakumulasi Jasa Marga di harga 5,300 dan berencana memegang saham tersebut untuk jangka panjang paling tidak hingga ada jenis tranpsortasi baru yang bisa menggantikan mobil dan jalan tol kedepannya.

Comparison to Sector

Salah satu cara lain untuk melihat kinerja Jasa Marga bagus atau tidak adalah dengan membandingkannya dengan emiten pesaing. Oleh karena itu berikut saya berikan data perbandingan Jasa Marga dengan perusahaan lainnya.

28

Berdasarkan valuasi PER, CMNP memiliki valuasi yang paling murah dan paling mahal JSMR. Dan jika kita melihat PBV, ternyata hanya CMNP yang masih memiliki valuasi PBV murah dengan dibawah 1.5 sedangkan JSMR sendiri sudah diatas 2. Hal ini bisa terjadi karena CMNP mempunyai ekuitas/modal yang lebih kecil dibanding JSMR. Dari sisi margin laba, sudah dapat disimpulkan kalo JSMR adalah juaranya. JSMR memiliki Profit Margin sebesar 14% yang artinya perusahaan bagus dalam efisiensi operasionalnya serta menunjukkan tingginya tingkat profitabilitas yang dihasilkan sedangkan CMNP menempati peringkat kedua. Dari sisi return, JSMR jelas memiliki ROE dan ROA paling besar disusul CMNP.

29

Selanjutnya yang akan kita bandingkan adalah Solvency ratio/ leverage, rasio ini adalah hubungan antara utang dan risiko. Ada yang perlu dikaitkan antara biaya atas penggunaan asset dengan biaya atas modal (cost of capital). Semakin sedikit utang maka semakin sedikit risiko keuangan (financial risk). Dasar pendekatannya adalah neraca dan rugi-laba. Pertama dari Quick Ratio, CMNP memiliki rasio paling besar diikuti JSMR, artinya adalah CMNP mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan segera menggunakan aset lancar tanpa memperhitungkan persediaan yang dimiliki. Dari rasio hutang DER, JSMR adalah yang paling tinggi. Namun karena hutang digunakan untuk terus berekspansi menambah jumlah km tol maka diharapkan kedepan akan bermanfaat bagi peningkatan laba perusahaan di sisi lain DER JSMR masih dibawah 2 maka masih bisa ditoleransi. Hal ini bisa dilihat dari Interest Coverage JSMR masih diatas 2 yang berarti masih baik. Jika sebuah perusahaan memiliki rasio Interest Coverage kurang dari 1 ini menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam kesehatan keuangan yang buruk untuk membayar beban bunga dengan EBIT yang dihasilkan. Sisi positifnya adalah dibanding yang lain, FCF JSMR ternyata lebih bagus dibanding CMNP. Dari sisi pembagian dividen, JSMR lebih royal karena div yieldnya tinggi sedangkan CMNP belum terlihat membagikan dividen besar. Terakhir, dari sisi harga terlihat JSMR yang paling tahan dan stabil. Dari kinerja harga 3 tahunnya, JSMR masih -5,1% bandingkan dengan CMNP yang masih minus >30%. Kesimpulan saya dari perbandingan diatas, JSMR masih menjadi
juara di sector infrastruktur khususnya Jalan Told an terus akan berlanjut dominasinya hingga 5 tahun kedepan.

Penulis: Bima Setiaji N