Gudang Garam (GGRM): Keep smoking HOT by Bima Setiaji N

Logo Gudang Garam

Logo Gudang Garam

Profil GGRM

Gudang Garam adalah produsen rokok kretek terkemuka yang identik dengan Indonesia, Sejarah Perjuangan PT Gudang Garam Tbk hingga mencapai sukses seperti sekarang ini dimulai sejak tahun 1958. Pada tanggal 26 Juni 1958, Bapak Surya Wonowidjojo memulai usaha membuat rokok kretek dengan merek dagang “Gudang Garam” dengan bercirikan industri rumah tangga yang hanya menggunakan alat tradisional sederhana.

Setelah menjalankan usaha selama 10 tahun Gudang Garam menjadi semakin terkenal sehingga pendirinya mempertimbangkan untuk memperluas usaha. Pada tahun 1969, perusahaan beralih status menjadi sebuah Firma guna mengikuti perkembangan dunia usaha. Gudang Garam juga mendapat dukungan dari BNI 1946 untuk memenuhi kebutuhan modal kerja yang berawal dari hanya jumlah jutaan rupiah hingga menjadi milyaran rupiah.

Kemudian pada tahun 1971, status perusahaan berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan mendapatkan fasilitas PMDN. Dengan status Perseroan Terbatas, PT. Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam semakin berkembang, baik dari segi kualitas produksi, menejemen maupun teknologi, sehingga pada tahun 1979 mulai memproduksi Sigaret Kretek Mesin (SKM). Produksi sigaret kretek mesin ini tidak merubah sifat PT. Gudang Garam sebagai perusahaan yang menganut sistem padat karya, bahkan semakin memperluas kesempatan kerja.

Untuk memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan perusahaan, maka pada tahun 1990 PT. Gudang Garam melakukan penawaran umum untuk menjual sebagian saham perusahaan kepada masyarakat melalui bursa effek.

Pada tahun 1991, perusahaan mengembangkan usaha di bidang kertas industri melalui PT Surya Pamenang, berkedudukan di Kediri. Prosentase pemilikan saham PT Gudang Garam Tbk. pada PT Surya Pamenang saat ini adalah 100% kurang 1 (satu) saham. Salah satu tujuan pengembangan bidang usaha ini adalah untuk menjamin kesinambungan akan pasok bahan pengepakan bermutu tinggi, yang sebelumnya kebutuhan bahan pengepakan berkualitas tertentu masih harus diimpor. PT Surya Pamenang akan ikut serta memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia dan di luar negeri di samping juga untuk memenuhi kebutuhan kertas kemasan PT Gudang Garam Tbk. sendiri.

Berdasarkan riset pasar Nielsen, pada akhir tahun 2015 Gudang Garam memiliki pangsa pasar rokok dalam negeri sekitar 21,5% dengan produk-produk yang sudah dikenal luas oleh masyarakat di seluruh Nusantara. Gudang Garam menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 36.900 orang yang terlibat dalam produksi rokok, pemasaran dan distribusi di akhir tahun 2015. Perusahaan juga memilliki 67 kantor perwakilan daerah dengan 282 titik distribusi di seluruh Indonesia dan armada penjualan lebih dari 7.000 kendaraan, termasuk sepeda motor untuk melayani pasar. Gudang Garam sendiri memiliki fasilitas produksi rokok kretek di dua lokasi. Pertama, di kota Kediri, dengan jumlah penduduk 249 ribu jiwa yang merupakan pusat perdagangan regional sekaligus lokasi kantor pusat Perseroan. fasilitas produksi kedua berlokasi di Gempol, Jawa Timur yang berjarak 50 kilometer dari Surabaya.

Sekilas Pengaruh Industri Rokok Di Indonesia

Industri tembakau dan turunannya, terbilang unik. Konstribusi industri pada lapangan kerja dan pendapatan negara mengidikasikan pengaruh tinggi industri pada perekonomian negara. Kementerian Perindutrian menyatakan bahwa saat pada tahun 2015 industri rokok melibatkan lebih kurang 6.1 juta jiwa. Konstribusi cukai terhadap pendapatan negara mencapai 12% pada 2015. Namun berbeda dengan manufaktur lainnya, industry tembakau dan rokok juga berhadapan dengan Regulation Risk yang cukup tinggi. Resiko regulasi dapat menjadi penghambat pertumbuhan industri dan menurunkan valuasi saham.

Industri Hasil Tembakau (IHT) sendiri mempunyai peran cukup besar terhadap penerimaan negara melalui pajak dan cukai, penyerapan tenaga kerja, penerimaan, dan perlindungan terhadap petani tembakau dan dampak ganda lainnya. Berdasarkan data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), prosentase kontribusi penerimaan negara dari IHT relatif lebih besar yaitu 52,7 persen dari besaran industri. Sementara industri dan BUMN hanya mampu berkontribusi senilai 8,5 persen meski dari sisi nilai industri mencapai Rp1,890 triliun.

1

Tidak ada satupun perusahaan di Indonesia yang pembayaran perpajakannya melebihi angka 50% dari nilai industrinya. Perpajakan yang dimaksud di sini adalah pembayaran cukai, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PBT (profit before tax) sebesar 10%, serta pajak daerah dan retribusi daerah yang besarnya 10% dari pajak yang disetor IHT. Data dari tabel di atas menunjukkan, sejak 2009 lalu, dengan nilai industri sebesar Rp 140 triliun, IHT bayar aneka pajak di atas mencapai Rp 71 triliun. Angka ini terus melonjak. Di tahun berikutnya, IHT membayar pajak Rp 80 triliun, meski nilai industrinya cuma naik sebesar Rp 11 triliun. Persentase pembayaran pajak naik menjadi 53,4% pada 2011 yakni sebesar Rp 92 triliun. Seiring dengan kenaikkan nilai industri pada 2014, pembayaran pajak mencapai Rp 154 triliun atau sebesar 55,8% dari nilai industri.

2

Sebagai perbandingan, berdasarkan gambar diatas, dari Rasio kontribusi cukai rokok terhadap penerimaan pajak di berbagai negara, Indonesia paling tinggi 9,8% dibanding negara lain. Australia hanya sebesar 2,3% dan Singapura 2,1%. Artinya industri ini menjadi andalan untuk perekonomian nasional.

Laporan Kementerian Keuangan (2015) sendiri kalau saya lihat mencatat bahwa realisasi penerimaan negara dari cukai rokok 2013 sebesar Rp 103,6 triliun atau sebesar 95,5 persen terhadap total pendapatan cukai. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pendapatan cukai rokok meningkat sebesar 13 persen. Angka tersebut juga sama dengan 9,6 persen dari total pendapatan negara dari penerimaan perpajakan. Belum lagi jika memasukkan pajak yang disetor sebagai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang besarannya mencapai 10 persen dari target cukai.

Sekilas Outlook Industri Rokok 2016

Industri rokok untuk tahun ini diprediksi mencatatkan penjualan yang stagnan dibandingkan tahun lalu. Sepanjang Januari-November 2015 total produksi rokok hanya sebesar 300 miliar batang. Angka ini menyusut 3,49% jika dibandingkan dengan realisasi produksi rokok pada periode yang sama tahun lalu sebesar 311 miliar batang.

3Untuk Tahun 2015 kmrn bisa dibilang tahun yang sulit bagi industri rokok Indonesia karena terjadi kenaikan cukai sebesar 8,7% untuk produk-produk tembakau pada awal tahun 2015 dan melemahnya daya beli masyarakat akibat perlambatan ekonomi negara ini. Pada sembilan bulan pertama tahun 2015 penjualan rokok di Indonesia jatuh 1,3% pada basis year-on-year (y/y) menjadi 232 miliar rokok. Tahun depan, tantangan-tantangan akan tetap ada karena Pemerintah Indonesia mempersiapkan kenaikan pajak tembakau yang baru (23%). Kendati begitu, daya beli masyarakat diprediksi membaik karena pertumbuhan ekonomi mungkin berakselerasi.

Salah satu penyebab terbesar berkurangnya produksi tak lain karena tarif cukai tahun depan rata-rata naik 17,3%. Sementara target penerimaan negara dari cukai rokok mengalami kenaikan sekitar 15%.
Sementara secara umum produksi rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) tetap tumbuh. Nah pertumbuhan SKM inilah yang membuat minat investasi produksi rokok masih menarik pada dua tahun mendatang.

4

Bisnis rokok terlihat ada perubahan tren perokok dari rokok sigaret kretek tangan (SKT) ke rokok sigaret kretek mesin (SKM) berdasarkan gambar diatas. Sejumlah perusahaan termasuk Gudang Garam juga ternyata tetap mendulang untung setelah sigap menangkap peluang pasar rokok SKM yang mengusung nama light dan mild. Pengalaman menghisap rokok mengalami pergeseran. Kondisi ini memaksa pabrik rokok sigaret kretek tangan (SKT) terpinggirkan oleh sigaret kretek mesin (SKM). Agar bisnis tak tergilas, produsen rokok berlomba mengeluarkan rokok SKM dan menciutkan bisnis rokok SKT.

Hal ini selaras dgn penurunan jumlah produksi SKT (sigaret kretek tangan) di hampir semua industri rokok. Industri rokok kalau saya baca di berita seperti sengaja mematikan pelan” produksi SKT karena biaya produksi per unitnya yang semakin mahal, walaupun tarif cukai yang dibayar jauh lebih murah dibanding SKM (sigaret kretek mesin). Dengan dalih perubahan selera, industri rokok sedang memaksa dominasi penetrasi rokok SKM kepada konsumen.

Market share SKM sendiri berdasarkan data diatas sebesar 73%, Dengan masket share sebesar itu, SKM selama ini menutup penurunan industri hasil tembakau, yang disbanding pada 2009 mencapai 3,225 unit usaha namun produksinya 284 miliar batang. Sedangkan pada 2014 terdapat 700 unit usaha dengan produksi 352 miliar batang.

SKT sendiri memiliki beberapa kelemahan produksi, yakni kecepatan produksi yang lambat dgn jumlah yang terbatas akibat penggunaan tenaga manusia yang juga memiliki keterbatasan. Dan tentu saja lebih mahal. Ini mengakibatkan harga jualnya pun lebih mahal drpd SKM. Padahal dgn masifnya iklan rokok, industri rokok bisa memanfaatkan momentum dgn mengguyur pasar dgn rokok SKM yang lebih cepat dan kapasitas produksi yg tinggi, serta harga murah. Pilihannya jadi menjual SKT yg mahal dgn jumlah sedikit atau SKM yg lebih murah tapi banyak?

Konsumen rokok di satu sisi usianya makin muda dan lebih suka kepraktisan. Artinya mereka cenderung tidak ingin mengkonsumsi rokok yg mahal, dan terlihat seperti orang tua. Produk SKT memang kebanyakan dikonsumsi oleh konsumen berusia lanjut yg merasa lebih bangga merokok SKT daripada SKM. Akibat jumlah konsumen tua yg semakin sedikit, tingkat penjualan rokok SKT pun juga makin menurun. Penurunan jumlah perokok SKT juga bukan dikarenakan terjadinya pergeseran selera perokok, tapi lebih karena iklan rokok SKM lebih dominan dibaca konsumen daripada iklan rokok SKT. Konsumen baru yang rata-rata berusia muda akibatnya lebih suka rokok SKM daripada SKT.

Akibat factor-faktor di atas, maka industri rokok memutuskan lebih banyak mengimpor mesin linting ke depannya sehingga ini akan mendorong kapasitas produksi yang lebih tinggi dan mengakibatkan jumlah produksi rokok yang lebih berlipat ganda, oleh karena itu membutuhkan ketersediaan bahan baku tembakau lebih banyak lagi. Industri rokok akan semakin rakus dgn tembakau sehingga jika lokal tidak sanggup memenuhi kebutuhannya, mereka akan menutupnya dgn tembakau impor. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah impor tembakau dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir sehingga mencapai 49% dari total produksi tembakau di tahyn 2015 kemarin berdasarkan gambar dibawah.

5

Indistri rokok saya perkirakan masih akan menghadapi kondisi yang penuh tantangan di tahun 2016 ini. Pemulihan ekonomi, meskipun lemah, diperkirakan akan terus berlangsung, didukung oleh adanya efek positif stimulus program pembangunan infrastruktur dari belanja Pemerintah. Untuk pemerintah menaikkan besaran cukai terhadap Industri Hasil Tembakau (IHT) tahun 2016 ini, menurut saya akan memberikan dampak pada meningkatnya garis kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan data yang saya dapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada periode Maret-September 2015, Akibat kebijakan kenaikan cukai tersebut, pada periode Maret-September 2015, garis kemiskinan naik 4,24%, yaitu Rp330,776 per kapita di bulan Maret, menjadi Rp344,809 per kapita per bulan Septeber 2015. Alasan mengenai hal ini menurut saya karena masyarakat cenderung mempertahankan mengonsumsi rokok. Dengan lonjakan kenaikan cukai per tahun, maka pola keuangan masyarakat pun terpengaruh.

Laporan Kinerja GGRM

Gudang Garam menutup tahun 2015 dengan pangsa pasar 23% berdasarkan estimasi Nielsen. Pada tahun 2015 kmrn, GGRM juga mengeluarkan produk SKM baru, Gudang Garam Signature Mild. Berikut data market share rokok di Indonesia.

6

Gudang Garam sendiri hingga Q2-2016 mampu membukukan kenaikan pendapatan dan peningkatan laba. Pendapatan penjualan naik 11,25% YoY, marjin laba bruto pun kembali meningkat selama tiga tahun berturut-turut menjadi 21,75%. Laba bersih meningkat +9.2% yoy atau setara Rp 3587.44 per lembar saham. Suku bunga pada awal tahun telah mengalami sedikit penurunan. Sedangkan kapasitas produksi saat ini dianggap memadai untuk memenuhi kebutuhan sesuai kondisi pasar.

7

Kenaikan penjualan sebesar 11,25% menjadi Rp 36,9 triliun terjadi karena adanya peningkatan penjualan baik di pasar ekspor maupun pasar domestik. Penjualan Ekspor naik 11% menjadi 1,6T sedangkan penjualan domestik juga mengalami kenaikan 11,2% menadi 35T. Harga jual rata-rata tertimbang per batang meningkat sebesar 1-3,7% untuk produk GG Surya dan 2,5% untuk produk GG Internasional.

8

Penjualan ekspor menyumbang 4,6% dari total pendapatan. Bauran produk Perseroan tidak banyak berubah dimana 89% dari total volume penjualan berasal dari produk SKM. Berdasarkan data yang saya dapat di Annual Report volume penjualan SKM turun 3,3% menjadi 70,2 miliar batang, sedangkan volume penjualan SKT meningkat 5,5% menjadi 8,5 miliar batang.

Biaya pokok penjualan naik 9,7% menjadi Rp 28,9 triliun, sedangkan laba bruto meningkat 17% menjadi Rp 8 triliun. Peningkatan marjin laba bruto dari 20,7% menjadi 21,75% adalah hasil dari penyesuaian harga jual yang meningkat lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya pokok penjualan. Persentase komponen cukai dalam total biaya pokok penjualan sedikit meningkat menjadi 72,6% atau sebesar Rp 21 triliun pada Semester 1 2016 dibandingkan dengan 71,0% atau sebesar Rp 18,7 triliun di Semester 2 2015. Biaya bahan baku meningkat 5,7% menjadi Rp 8,6 triliun seiring dengan peningkatan volume dan merupakan 29,8% dari total biaya pokok penjualan . Sejak dari awal tahun 2016, harga tembakau secara keseluruhan tidak mengalami banyak perubahan dan harga cengkeh relatif bertahan.

Laba sebelum pajak penghasilan mengalami peningkatan 18,6% menjadi Rp 3,8 triliun terutama disebabkan oleh peningkatan marjin laba bruto sekalipun beban usaha dan beban bunga meningkat . Beban usaha naik 24,6% menjadi Rp 5,6 triliun didorong oleh peningkatan beban pemasaran dan iklan, penjualan dan distribusi untuk menunjang upaya Perseroan dalam memperkuat jangkauan pasar salah satu merek baru mereka,yaitu gudang garam signature Mild, diluncurkan pada tahun 2015, dan program pemasaran ‘above-the-line’ terus Gudang Garam jalankan untuk semua varian produk utama. Beban umum dan administrasi meningkat 27% menjadi Rp 1,4 triliun.

9

Beban bunga menurun 15% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dari Rp 749 miliar menjadi Rp 631 miliar yang disebabkan oleh penurunan saldo rata-rata pinjaman bank sebesar 3,7%. tingkat suku bunga pinjaman relatif tidak berubah dari tahun sebelumnya dengan sedikit penurunan yang terjadi di penghujung tahun. Semua kebutuhan pendanaan Gudang Garam sendiri dipenuhi dalam mata uang Rupiah. Hebatnya Gudang Garam tidak memiliki pinjaman dalam mata uang asing. Risiko gejolak nilai tukar valuta asing terjadi dari waktu ke waktu antara lain pada saat pembelian mesin dan suku cadang dalam valuta asing.

Kenaikan laba bersih sebesar 19.2% dari Rp 2,4 triliun menjadi Rp 2,8 triliun merupakan lanjutan dari peningkatan marjin laba bruto. Marjin laba bersih meningkat hampir 1% menjadi 9,2% dari 8,3% setahun sebelumnya. laba per saham untuk tahun ini sebesar Rp 3587.44.

10

Penambahan persediaan, piutang dan aset tetap menjadi penyebab utama kenaikan total aset dari Rp 63,505 triliun pada Q2-2015 menjadi Rp 63,529 triliun pada Q2-2016. Aset lancar turun 0,2% menjadi Rp 42,4 triliun terutama disebabkan penurunan jumlah kas yang cukup signifikan. Posisi kas dan setara kas yang relatif lebih rendah -44,6% di Q2-2016 sebesar Rp 1,5 triliun, bersifat sementara dan diperuntukan untuk memenuhi kewajiban pembayaran di awal tahun 2016. Persediaan meningkat 1,4% dari Rp 37,2 triliun di q2-2015 menjadi Rp 37,8 triliun di Q2-2016.

Perseroan tidak memiliki pinjaman jangka panjang pada tahun 2016 ini. Kas yang diperoleh dari kegiatan usaha memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. Rasio utang terhadap ekuitas turun dari 44% di Q2-2105 menjadi 33% di Q2-2016. Manajemen menilai rasio tersebut berada di kisaran yang wajar. Kenaikan utang cukai menjadi Rp 7,5 triliun adalah akibat dari perubahan peraturan tentang tata cara pembayaran cukai rokok.

11

Ekuitas Perseroan menurun 5,5% dari Rp 38,0 triliun menjadi Rp 35,8 triliun yang berasal dari pembukuan laba yang ditahan setelah dikurangi pembayaran dividen. Rasio utang terhadap ekuitas dipandang memadai untuk mencukupi kebutuhan usaha di masa mendatang.

12

Di Semester 1 2016, Perseroan menghasilkan arus kas bersih sebesar Rp -1,3 triliun yang di kontribusi oleh kas bersih dari aktifitas operasi sebesar Rp 8,6 triliun, kas bersih yang digunakan untuk aktifitas investasi dan pendanaan, masing-masing sebesar Rp 1,1 triliun dan Rp 8,6 triliun.

13

Prospek Industri Rokok dan Gudang Garam Kedepan

Indonesia merupakan salah satu negara pengkonsumsi rokok terbesar di dunia. Tanpa memasukkan Amerika Serikat dan China, Indonesia merupakan pasar rokok terbesar ke-4 di dunia, setelah US, dengan volume produksi rokok mencapai 240 miliar batang pada 2014.

14

Berdasarkan data yang saya baca nilai pasar rokok di Indonesia pada 2013 ditaksir mencapai Rp 214,9 triliun atau enam kali dari penerimaan cukai negara. Prediksi itu mengacu pada taksiran dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri). Pada 2012, nilai pasar rokok di Indonesia mencapai Rp 197 triliun – Rp 199 triliun, naik 5%-6% dibanding tahun sebelumnya Rp 188 triliun. Pertumbuhan nilai penjualan seiring proyeksi kenaikan produksi rokok nasional sebesar 3%-4% menjadi 263 miliar batang – 266 miliar batang di 2012 dibanding tahun sebelumnya.

15

Sebuah survei yang dilakukan Deutsche Bank 2015 mengungkap fakta menarik. Harga rokok di Indonesia diklaim paling murah sedunia atau sekitar Rp 17 ribu per bungkus. Sedangkan di Australia mencapai Rp 423 ribu per bungkus. Data ini juga didukung oleh gambar diatas. Harga rokok di Indonesia yang di bawah USD2 per bungkus untuk merek premium juga sangat membantu pemasaran, mengingat sekitar 40 persen populasi berbiaya hidup di bawah USD3 per hari dan rokok masih mengambil porsi besar pengeluaran bulanan banyak rumah tangga.

16

Berdasarkan data diatas data perokok rata-rata masyarakat Indonesia (usia 15 tahun ke atas) adalah sekitar 30 persen, artinya dengan bertambahnya umur maka persentase perokoknya terus meningkat. Jumlah perokok di Indonesia sendiri terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak terkecuali jumlah perokok usia muda. Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar 2013, perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke atas berjumlah 58.750.592 orang.

17

Jumlah tersebut terdiri dari 56.860.457 perokok laki-laki dan 1.890.135 perokok perempuan. Hasil penelitian pun menunjukkan, setiap hari ada 616.881.205 batang di Indonesia atau 225.161.640.007 batang rokok dibakar setiap tahunnya. Jika harga 1 batang rokok Rp 1.000, maka uang yang dikeluarkan lebih dari 225 triliun Rupiah.

18

Konsumsi rokok di Indonesia sendiri sudah berganti tren menjadi SKM seperti yang saya jelaskan diatas dengan pangsa pasar 76%. Di industry SKM, pangsa pasarnya terbagi lagi menjadi full-flavor segment (36%), dan low-tar-low-nicotin (LTLN) segment (40%). Nah tahun 2015 kemarin FF segment mempertahankan pertumbuhannya dengan peningkatan growth sebesar 8%. Kebalikannya, segmen LTN mengalami penurunan 2% YoY. GGRM sendiri adalah pemimpin pasar FF Segment dengan 17% pangsa pasar dengan beberapa brand seperti GG Surya, dan GG Internasional. Dan kedepan manajemen akan terus focus di pasar SKM baik LTN maupun FF.

19

Manajemen sendiri optimistis pasar rokok Indonesia akan tumbuh 1-3 persen dalam jangka menengah, terutama berkat pertumbuhan jumlah penduduk. Optimisme itu bukan tanpa alasan, Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dunia dan lebih dari dua pertiga populasi pria adalah perokok. Indonesia, dengan populasi berusia muda besar dan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable) terus meningkat. Saya sendiri menilai GGRM masih memiliki kesempatan yang besar untuk terus berkembang. Ketika ekonomi meningkat dan kelas menengah makin besar, ini dorongan alami bagi GGRM untuk tumbuh sebab mereka menjual produk-produk SKM premium yang disukai golongan menengah dan muda.

20

Kesimpulan saya, Roda bisnis produsen rokok makin berat apabila daya beli masyarakat Indonesia tak kunjung membaik. Jika daya beli terus memburuk bukan tidak mungkin volume penjualan rokok 2016 menyusut. Karenanya industri rokok dan saya cuma bisa berharap akan ada perbaikan daya beli masyarakat agar animo merokok tetap tidak terbendung. Perbaikan daya beli masyarakat bisa terjadi apabila pemerintah segera merealisasikan pelbagai proyek infrastruktur. Dari data diatas, sudah mulai menunjukkan pertumbuhan GDP di Q2 2016 yang mulai menunjukkan perbaikan. Patut ditunggu dan dicermati potensi besar dari pertumbuhan industri rokok ini kedepan.

21

Valuasi Gudang Garam sendiri jika kita melihat grafik PE SD diatas termasuk masih murah di harga sekarang, namun dengan prospek kedepan yang sangat bagus saya melihat masih ada potensi kenaikan populasi di Indonesia serta kenaikan jumlah produksi rokok. Berdasarkan chart PE SD diatas range beli terbaik Gudang Garam adalah diharga 70,000 kebawah dengan asumsi PER 19,7. Jika tahun 2016 ini laba Gudang Garam bisa meningkat, maka bukan tidak mungkin valuasi Gudang Garam di harga sekarang akan semakin murah. Dengan potensi produksi batubara Gudang Garam tumbuh 10% setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rokok di Indonesia, maka EPS GGRM berpotensi menjadi 6381 5 tahun kedepan. Dengan PER sekarang di 18,8 maka harga valuasi Gudang Garam saya menjadi 62,000-70,000. Berdasarkan perhitungan DCF saya di atas, Valuasi Harga Gudang Garam untuk tahun 2016 adalah 75,298 per saham. Saya sendiri sudah mengakumulasi Gudang Garam di harga 65,000 dan berencana memegang saham tersebut untuk jangka panjang paling tidak hingga pemerintah benar benar melarang konsumsi rokok bagi masyarakat Indonesia.

Comparison to Sector

Salah satu cara lain untuk melihat kinerja Gudang Garam bagus atau tidak adalah dengan membandingkannya dengan emiten pesaing. Oleh karena itu berikut saya berikan data perbandingan Gudang Garam dengan perusahaan lainnya.

22

Berdasarkan valuasi PER, WIIM memiliki valuasi yang paling murah diikuti GGRM dan paling mahal HMSP. Dan jika kita melihat PBV, ternyata hanya WIIM yang masih memiliki valuasi PBV murah dengan dibawah 1 sedangkan GGRM dan HMSP sudah diatas 2. Hal ini bisa terjadi karena WIIM mempunyai ekuitas/modal yang lebih kecil dibanding HMSP apalagi GGRM. Dari sisi margin laba, sudah dapat disimpulkan kalo HMSP adalah juaranya. Hanya HMSP yang memiliki Profit Margin diatas 10% sedangkan GGRM menempati peringkat kedua, yang artinya perusahaan bagus dalam efisiensi operasionalnya serta menunjukkan tingginya tingkat profitabilitas yang dihasilkan. Dari sisi return, HMSP memiliki ROE dan ROA paling besar disusul GGRM, hal ini bisa dikarenakan Aset HMSP hanya 1/2 dari GGRM. Begitu juga Book Value GGRM 1,5x lebih besar dibanding HMSP. Dari sisi Management Effectiveness, Cash conversion HMSP paling kecil yang berarti semakin efisien perusahaan dalam mengatur siklus kas nya. Begitu juga Days Inventory jika dilihat HMSP kembali juara, menunjukkan semakin cepat pula perusahaan mengkonversi persediaan menjadi pendapatan. Sedangan untuk GGRM Days Inventory dan Cash cycle paling besar mengingat jumlah Persediaan GGRM yang sangat besar. Strategi manajemen GGRM memiliki tingkat persediaan yang besar ternyata untuk memperkecil dampak yang mungkin ditimbulkan oleh naik turunnya ketersediaan bahan baku di pasar. Kondisi cuaca dapat mempengaruhi hasil panen bahan baku utama yaitu tembakau dan cengkeh. Tujuan yang ingin dicapai manajemen adalah stabilitas kualitas dan biaya bahan baku. Saya sendiri melihat penguatan rantai pasokan dan strategi penjualan berhasil mempertahankan keberadaan produk GGRM di pasar kedepannya.

23

Selanjutnya yang akan kita bandingkan adalah Solvency ratio/ leverage, rasio ini adalah hubungan antara utang dan risiko. Ada yang perlu dikaitkan antara biaya atas penggunaan asset dengan biaya atas modal (cost of capital). Semakin sedikit utang maka semakin sedikit risiko keuangan (financial risk). Dasar pendekatannya adalah neraca dan rugi-laba. Pertama dari Quick Ratio, HMSP memiliki rasio paling besar diikuti RMBA, artinya adalah perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan segera menggunakan aset lancar tanpa memperhitungkan persediaan yang dimiliki. Dari rasio hutang DER, GGRM adalah yang paling tinggi. Namun karena masih dibawah 1 maka masih bisa ditoleransi. Hal ini bisa dilihat dari Interest Coverage GGRM masih diatas 1 yang berarti masih baik. Jika sebuah perusahaan memiliki rasio Interest Coverage kurang dari 1 ini menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam kesehatan keuangan yang buruk untuk membayar beban bunga dengan EBIT yang dihasilkan. Sisi positifnya adalah dibanding yang lain, FCF GGRM ternyata termasuk yang paling besar. Dari sisi pembagian dividen, WIIM lebih royal karena div yieldnya tinggi. Terakhir, dari sisi harga terlihat GGRM yang paling memberikan keuntungan. Dari kinerja harga 3 tahunnya, GGRM masih +59,5% bandingkan dengan RMBA dan WIIM yang masih minus >10%. Kesimpulan saya dari perbandingan diatas, HMSP masih juara namun mahal sedangkan GGRM walau berada diurutan kedua namun masih tergolong murah.

Penulis/Analis/Article donatur: Bima Setiaji N