Ringkasan Buku #2: The Warren Buffett way 3rd edition by Robert G. Hagstrom (Bagian 2 dari 2)

Menyambung pembahasan sebelumnya, ini adalah bagian ke 2 dari rincian buku The Warren Buffett Way dan merupakan bagian terakhir.

Di article sebelumnya, kita sudah membahas ciri-ciri karakter seorang WB, juga prinsip investasi WB dalam memilih saham yang di bagi menjadi 4 aspek dalam 12 prinsip, namun itu hanyalah setengah dari cerita utuh keberhasilan WB. Setengahnya lagi adalah cara bagaimana seorang WB berhasil mengelola portofolio sehingga bisa bertahan dan sukses hingga kini.

Selain merujuk kepada MOS dalam pengambilan keputusan untuk membeli, mempertahankan posisi atau menjual saham, ada 3 hal lain yang tidak kalah penting dalam keberhasilan investasi saham ala WB, yaitu:

1. Konsep dasar membangun sebuah portofolio untuk pertumbuhan jangka panjang.

2. Cara alternatif selain pergerakan harga untuk mengukur kemajuan sebuah portofolio.

3.  Teknik dalam mengendalikan emosi terhadap fluktuasi pasar.

Konsep dasar membangun sebuah portofolio untuk pertumbuhan jangka panjang

Beda dengan fund manager pada umumnya yang sibuk memantau dan mengelola ratusan saham dalam portofolio mereka, WB adalah penganut FOCUS INVESTING, dimana ia hanya fokus di beberapa saham yang luar biasa saja. Hal ini sangat mempermudahnya dalam mengelola portofolio.

Walaupun focus investing adalah ide yang simple secara teori, namun dalam praktek sebetulnya ide ini di dasari oleh fondasi yang cukup rumit.

Saat ini, ada 2 strategi pengelolaan portofolio yang kita kenal yaitu: pengelolaan aktif dan index investing.

Pengelolaan aktif bertujuan memberikan hasil maksimal dengan cara giat bertransaksi jual dan beli saham secara masif, sedangkan index investing bertujuan menduplikasi index sehingga mampu memberikan performa yang tidak jauh beda dari performa index.

Namun sesungguhnya, tujuan utama kedua strategi adalah sama, yaitu mencoba meminimalisir resiko lewat diversifikasi yang luas. Tapi masalahnya cuman satu, kedua strategi ini hanya mampu menghasilkan performa yang biasa-biasa saja, tidak spektakuler.

Menurut WB ada alternatif ke 3 yang jauh lebih ideal, yaitu focus investing dan secara bahasa gamblang, berarti: Berkonsentrasi di beberapa saham saja yang memiliki probabilitas untuk mencetak performa di atas rata-rata dalam jangka panjang, lalu siapin mental menghadapi gejolak pasar jangka pendek.

Jika anda kembali bertanya, bagaimana cara memilih saham yang bagus? Coba kembali baca bagian 1 dari buku ini!

Dalam strategi focus investing ataupun strategi investasi lainnya, kita tidak bisa lepas diri dari perhitungan probabilitas dan teori probabilitas ini lah yang merupakan salah satu konsep penting dalam focus investing.

Secara simplistik, bursa saham adalah sebuah gudang yang penuh dengan probabilitas. Tugas seorang investor cukup sederhana, yaitu menyaring apa ia tidak tau dan fokus pada apa yang ia tau.

Teori probabilitas pertama kali di kemukakan oleh Blaise Pascal di tahun 1654 yang kemudian menjadi dasar kita dalam pengambilan keputusan untuk mengendalikan resiko.

Teori Pascal ini kemudian dikembangkan lagi oleh Thomas Bayes yang berhasil mengimplementasikan teori probabilitas secara praktek di bursa saham yaitu dengan cara mempertimbangkan:

“Probabilitas rugi x jumlah nominal yang mungkin rugi banding probabilitas untung x jumlah nominal yang mungkin untung”.

Intinya, jika nilai untung lebih besar dibanding nilai rugi, maka penawaran tersebut menjadi layak untuk dieksekusi. Tidak sampai disitu saja, kita juga harus memasukan faktor “waktu” sehingga kita bisa menghitung ROI / tahun yang dihasilkan lalu dibandingkan dengan penawaran lainnya yang tersedia, yang mana memberikan probabilitas yang optimal lah yang menjadi fokus kita.

Harus diakui, strategi ini bukanlah solusi yang terbaik, namun layak di terapkan, toh dalam pengambilan keputusan, hal yang sama kita lalukan, memilih alternatif yang terbaik dari yang tersedia.

Selain Bayes Analysis, ada juga strategi Kelly Optimisation atau lebih dikenal dengan nama Optimal Growth Strategy yang awalnya diaplikasikan dalam permainan Black Jack.

Rumusnya adalah 2p – 1 = x

Penjelasan rumus atas: 2 x probabilitas kemenangan (p) dikurang 1 sama dengan persentase optimal pertaruhan kita (x).

Contoh: Jika diketahui probabilitas kemenangan adalah 55%, maka 2 (0,55) – 1 = 0,1, berarti pertahuran optimal kemenangan adalah 10% dana kita. Jika probabilitas kemenangan adalah 70%, maka taruhan optimal adalah 40% dana, dst.

Namun bursa saham sesungguhnya jauh lebih rumit dibandingkan Black Jack, tapi konsep dasarnya sama, kita harus selalu mengkalkulasi ulang probabilitas begitu kondisi/fakta berubah.

Charlie Munger juga memiliki strateginya tersendiri yang ia sebut “Pari-Mutuel” strategi, yang ia ilustrasikan dalam permainan pacu kuda.

Ibaratnya, orang bodoh sekalipun bisa melihat bahwa kuda yang memiliki beban paling ringan dan rekam jejak kemenangan yang fantastis akan memiliki probabilitas kemenangan yang lebih besar dibanding kuda yang memiliki beban lebih berat dan riwayat kalah terbanyak. Namun jika diamati bayarannya, umumnya kuda jelek adalah 100 banding 1, sedangkan kuda bagus adalah 3 banding 2. Nah, karena faktor bayaran yang adil, maka membuat pertaruhan menjadi kurang menarik bukan?

Analogi atas juga sekaligus mencerminkan bursa saham. Sering kali, investor terlalu optimis untuk mengambil posisi yang jelek demi mengejar keuntungan setinggi langit (membeli kudu jelek dengan iming-iming bayaran 100 banding 1) atau memilih posisi yang cenderung pasti untung tanpa mempertimbangkan pengembaliannya (kuda bagus dengan bayaran cuman 3 banding 2).

Menurut Munger, cara yang paling bijak adalah menunggu hingga probabilitas kemenangan membesar dan bayaran yang maksimal alias tunggu saham bagus di jual dengan diskon terhadap MOS.

Hampir mirip strategi Munger, Andrew Beyer memiliki strategi yang membagi taruhan menjadi 2 jenis: taruhan pokok dan taruhan aksi.

Taruhan Pokok adalah taruhan besar dimana hanya di pakai saat 2 kondisi muncul: probabilitas kemenangan sangat besar dan bayarannya menggiurkan. Sedangkan Taruhan Aksi dipakai untuk taruhan kecil dan tidak pernah boleh menjadi taruhan pokok dan fungsinya adalah untuk memenuhi kecanduan bertransaksi si penaruh semata.

Dari semua teori yang sudah disebutkan di atas, kesimpulan yang bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam investasi saham adalah:

1. Lakukan kalkulasi terhadap probabilitas kemenangan untuk hasil jangka panjang.

2. Sabar menunggu kesempatan yang berpihak muncul.

3. Beradaptasi terhadap informasi baru sehingga bisa mengevaluasi ulang probabilitas kemenangan.

4. Tentukan nominal investasi yang ingin di pakai berdasarkan teori Kelly, bisa juga 50% dari teori Kelly untuk pengendalian resiko salah hitung probabilitas.

The wise bet heavily wen the world offers them that opportunity. They bet big when they have the odds. And the rest of the time, they don’t. It’s just that simple. – Charlie Munger

Cara alternatif selain pergerakan harga untuk mengukur kemajuan sebuah portofolio

When the price of a stock market can be influenced by a herd on Wall Street with price set at the margin by the most emotional person, or the greediest person, or the most depressed person, it is hard to argue that the market always prices rationally. In fact, the market prices are frequently nonsensical. – WB

Ini penting, jika kita menganggap bahwa harga tidak selalu rasional, maka kita tidak lagi berpedoman pada harga dalam pengambilan keputusan investasi tapi berdasarkan apa yang sesungguhnya penting yaitu riset mendalam dan analisa bisnis.

Cara mengukur performa portofolio jika bukan berdasarkan harga, maka apa?

Kinerja perusahaan tentunya! Adalah fakta bahwa pergerakan harga cukup bermanfaat, karena secara berkala akan memberikan kita peluang untuk mendapatkan harga diskon, namun itu bukanlah hal yang utama.

Pada akhirnya, nasib sebuah perusahaan akan ditentukan oleh kinerjanya sendiri, dan bursa saham boleh mengabaikan kesuksesan sebuah bisnis untuk sementara waktu, namun pada akhirnya bursa saham tetap akan mengakuinya.

Berdasarkan data dari portofolio Berkshire sejak 1965, laba yang dihasilkan berhasil tumbuh secara paralel dengan kapitalisasi pasar perusahaannya, namun hal ini tidak berjalan secara konsisten setiap tahun, kadang laba mendahului dan di tahun yang beda kapitalisasi mendahului pula, namun secara jangka panjang selalu paralel.

Inti dari pendekatan ini adalah memaksa investor untuk menilai sebuah perusahaan dari sisi prospek usaha jangka panjang dan abaikan prospek jangka pendek, sebuah pendekatan yang akan membantu meningkatkan hasil investasi kita dalam skala panjang.

WB juga mejelaskan bahwa, setiap kali ia ingin membeli sebuah posisi baru, ia akan terlebih dulu membandingkan probabilitas keuntungan posisi baru dengan apa yang sudah dimiliki.

Sama dengan Munger yang menyarankan kepada semua investor bahwa apa yang di miliki harusnya menjadi pedoman/katalis dalam pengambilan keputusan beli. Dengan teknik ini, umumnya 99% saham baru akan tereliminiasi.

Sebagai seorang focus investor, target kita adalah mencapai tingkat pemahaman yang tinggi terhadap bisnis perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang banding investor lain. Mungkin terdengar tidak realistis sejenak, namun sesungguhnya tidaklah sulit menimbang banyak yang lebih fokus pada performa jangka pendek.

Kuncinya adalah, kita harus bekerja keras dan membiasakan diri untuk mempelajari analisa bisnis secara mendalam.

Teknik dalam mengendalikan emosi terhadap fluktuasi pasar

Untuk membahas tentang emosi, mari kita lihat dulu beberapa perangkap sikologi dalam dunia investing.

1. Kepedean (Overconfindence)

Investor yang tergolong kepedean umumnya beranggapan bahwa mereka lebih pinter dari investor pada umumnya. Mereka cenderung menaksir berlebihan atas kemampuan dan pengetahuan mereka.

Umumnya, mereka mengandalkan informasi yang mengkonfirmasi apa yang mereke percaya namun mengabaikan informasi yang tidak berpihak. Selain itu, mereka juga punya kebiasaan untuk menilai lewat informasi yang tersedia secara umum daripada informasi yang butuh riset yang mendalam.

2. Prasangka yang berlebihan (Overreaction Bias)

Manusia suka bereaksi berlebihan terhadap berita buruk namun lambat bertindak terhadap berita baik. Jadi tidak heran jika kinerja jangka pendek yang jelek menimbulkan reaksi berlebihan jangka pendek yang umumnya tercermin oleh pergerakan harga.

3. Menghindari kerugian (Loss Aversion)

Manusia menimbang untung dan rugi secara berbeda (tidak simetri). Menurut riset manusia 2x merasa sedih saat rugi dibanding bahagia saat untung.

Manusia juga jarang melihat hasil final yang akan di capai dalam jangka panjang dan cenderung terpaku pada peningkatan/penurunan nilai kini saja.

Dalam investasi saham efek dari menghindari kerugian ini juga sangat dominan.

Investor rela nyangkut di saham yang salah ketimbang cutloss dengan harapan harganya akan kembali naik sehingga ia tidak perlu mengakui kesalahannya.

4. Akuntansi Mental (Mental Accounting)

Manusia memiliki persepsi yang beda atas uang yang dimiliki dan fungsinya.

Contoh: pada umumnya manusia akan bertindak lebih pelit saat berbelanja jika uang tersebut adalah berasal dari gaji/hasil usaha sendiri banding uang yang ia dapat dari THR maupun menang loteri. Padahal sama-sama adalah uang miliknya juga.

Pikiran ini juga merupakan alasan mengapa investor cenderung bertahan di saham salah dibanding cutloss, karena menurut mereka tidak cutloss = belum rugi.

5. Menghindari kerugian jangka pendek (Myopic Loss Aversion)

Riset penulis menunjukan bahwa keberhasilan investasi jangka panjang jika di ukur dari waktu adalah efek dari 7% waktu saja sedangkan sisa 93% waktu hampir tidak berkontribusi terhadap peningkatan portofolio sama sekali.

Artinya jika kita cek dan mengukur performa portolio setiap hari, kita cenderung akan kecewa. Makin lama kita mengabaikan fluktuasi pasar, lebih menarik pula seleksi saham dalam portofolio kita menjadi.

6. Faktor ikutan masal (The Lemming Factor)

Faktor ini sudah banyak kita kenal baik di kalangan investor retail maupun para fund manager. Mengapa mereka melakukannya? Bagi seorang investor retail mungkin karena kurang pengetahuan sehingga membuat mereka ikut-ikutan, sedangkan bagi yang profesional adalah ketakutan untuk bertampil beda dan salah. Karier mereka menjadi pertaruhan.

Cara mengendalikan perangkap emosi

Menurut penulis dari semua perangkap emosi yang sudah dibahas atas, yang paling parah adalah no. 5. Inilah yang membuat banyak investor gagal berinvestasi seperti WB.

Semua pasti tau Coca-Cola adalah salah satu investasi terbaik WB. USD 1 miliar investasi Berkshire di Coca-Cola di tahun 1988 telah tumbuh 10xlipat dalam waktu 10 tahun saja dimana index S&P hanya tumbuh 3xlipat.

Sepanjang tahun 90an, di setiap seminar yang penulis hadir, penulis sering menanyakan: Siapa yang telah invest di Coca-Cola dalam 10 tahun terakhir? hampir semua menunjukan tangan, tidak aneh karena Coca-Cola emang perusahaan yang tidak sulit untuk di analisa. Namun, pertanyaan berikut ini yang banyak membuat banyak berenung: Lalu siapa di antara anda semua yang berhasil mendapat hasil investasi seperti WB di Coca-Cola?

Alasannya jelas adalah Myopic Loss Aversion. Dalam 10 tahun dari 1989-1998, Coca-Cola hanya mengalahkan performa index 6x. Sebagian besar investor melihat performa Coca-Cola yang kalah dari index di tahun tertentu memutuskan untuk menjualnya, sedangkan yang WB lakukan adalah mengkonfirmasi ulang analisanya dan bertahan saat ia melihat hasil risetnya yang masih memuaskan untuk hold.

I don’t need a stock price to tell me what I already know about value. – WB

Jadi kesimpulannya apa? WB adalah seorang investor yang rasional bukan emosional. Rasionalitas lah obat pencegah terjebaknya investor kedalam perangkap efek sikologi negatif ini.

Rasioanlitas dalam kamus oxford berdefinisi: sebuah kepercayaan bahwa sebuah opini atau aksi harus di dasari oleh alasan dan pengetahuan bukan emosi.

Kesabaran

Kita sering curiga dan bertanya, apakah benar strategi buy and hold bisa memberikan hasil investasi yang memuaskan dalam jangka panjang?

Untuk membuktikannya, dalam sebuah riset sang Penulis mencoba kalkulasi hasil investasi untuk satu tahun, tiga tahun dan lima tahun (murni berdasarkan pergerakan harga saham) antara tahun 1970 hingga 2012 yang mana memberikan hasil kenaikan 100% tercepat.

Dalam masa 43 tahun tersebut, rata-rata jumlah saham dalam index S&P 500 yang mengganda alias naik 100% dalam kurun waktu tertentu, adalah sbb:
– Dalam 1 tahun = 9 / 500 (1,8%)
– Dalam 3 tahun = 77 / 500 (15,3%)
– Dalam 5 tahun = 150 / 500 (29,9%)

Berdasarkan fakta ini, Penulis telah membuktikan kebenaran bahwa lebih lama kita menunggu, lebih besar kemungkinan harga saham di portofolio kita akan berganda.

Dengan menunggu 5 tahun, kesempatan kita untuk mendapatkan pengembalian 100% adalah sebesar 30%. Itu adalah CAGR 15%, kecuali kita masih menganggap return sebesar 15% per tahun secara majemuk adalah terlalu kecil.

Tentunya riset ini hanya relevan jika kita juga memiliki kemampuan untuk mengseleksi saham yang memiliki potensi bagus untuk tumbuh double dalam 5 tahun dan mengelola portofolio dengan baik, serta memiliki rasionalitas yang tinggi menghadapi gejolak pasar dan kesabaran yang besar untuk menanti return.

Di bursa saham di Indonesia, saya pribadi sangat optimis bahwa return yang bisa dihasilkan dengan strategi ini akan jauh di atas 15% per tahun, toh tidak jarang kita lihat saham yang kini kita nilai bagus, jika di banding harganya 10 tahun yang lalu, banyak yang telah tumbuh 5x hingga 10x lipat. Jadi, strategi dan filosofi yang dibahas dalam buku ini menurut saya adalah sangat patut untuk di pelajari.

Inilah ringkasan dari buku the Warren Buffett Way bagian terakhir dari saya. Pasti masih banyak detail dari buku ini yang belum tersimpul dalam article ini, dan setiap kali saya membaca ulang, selalu ada saja penambahan pengetahuan baru yang bisa saya sadari. Namun, lewat tulisan kesimpulan ini, pemahaman saya juga makin bertambah dan terinspirasi untuk mengikuti langkah sang WB.

Namun seperti yang diingatkan oleh si penulis, tidak sulit untuk mengerti teori investasi WB, yang sulit adalah menemukan keteguhan dan kedisiplinan dalam penerapannya.

Semoga siapapun yang telah membaca ringkasan ini akan terdorong untuk membaca bukunya secara utuh dan menemukan kekuatan dan keteguhan dalam diri untuk mempelajari dan menerapkan prinsip investasi WB secara tekun.

Semoga sukses menyertai anda selalu, salam longterm investment!

Alianto Chan

Ringkasan Buku #2: The Warren Buffett way 3rd edition by Robert G. Hagstrom (Bagian 1 dari 2)

Warren Buffett (WB), nama yang sudah sangat akrab di kalangan dunia saham baik anda itu adalah seorang trader maupun value investor, kita semua pasti sama, sangat kagum dengan ajaran sang guru besar value investing satu ini.

Buku yang saya baca kali ini sangat unik dan menarik karena tidak hanya sekedar membahas teori prinsip investasi WB, namun memberikan 10 contoh nyata bagaimana prinsip-prinsip ini dipraktekkan WB saat membeli perusahaan seperti Washington Post, GEICO, Coca-Cola, American Express dll (sebanyak 10 kasus).

Mungkin saya tidak akan membahas 10 perusahaan tersebut dalam article saya karena akan menjadi super panjang nanti, namun akan sangat berguna menurut saya untuk anda membacanya langsung supaya bisa mengerti bagaimana WB menggunakan prinsipnya dalam berinvestasi. Saya akan mengulas lebih ke sisi teori saja sehingga anda yang baca article ini bisa mendapatkan gambaran besar atas prinsip yang WB anut dalam menilai sebuah perusahaan bagus dan barangkali nanti bisa menjadi pedoman anda juga dalam berinvestasi.

Buku ini adalah sebuah super hit, selain karena sudah menjual lebih dari sejuta eksemplar, juga karena kata pengantar buku ini di tulis oleh sebanyak 5 orang praktisi saham yang cukup popular (Howard Marks, Bill Miller, Peter Lynch, Kenneth Fisher dan si penulis itu sendiri, Robert Hagstrom). Masing-masing memberikan apresiasi kepada WB lewat pandangan mereka masing-masing, namun banyak kesamaan, jadi saya coba bahas 1 saja yang menurut saya merepresentasikan mereka semua.

Kata pengantar dari Howard Marks menurut saya adalah yang paling menarik, karena lebih rinci mengilustrasikan karakter seorang WB yang kian sukses dalam dunia investasi, and menurut Howard, inilah alasannya:

WB itu sangat analistis dan cepat dalam memahami situasi, sehingga beliau bisa dengan sigap mengambil keputusan atas sebuah investasi.

WB juga orang yang tau diri. Beliau tau persis kekurangannya sehingga beliau hanya fokus di bisnis yang beliau bisa mengerti.

Namun WB juga fleksibel. Beliau tau jelas kapan harus berubah dan kapan tarik ulur. Contohnya: sebelumnya WB sangat fokus pada strategi Ben Graham yaitu Value Investing, namun kini WB lebih menganut Growth Investing yang dikembangkan oleh Phil Fisher.

WB tidak emosional. Baik saat market lagi euforia maupun kolaps. WB selalu bisa menjaga emosinya dengan baik sehingga selalu bisa melihat situasi dengan jernih. WB memiliki pandangan jangka panjang terhadap investasi, sehingga votalitas jangka pendek tidak memberi arti apapun kepadanya.

WB adalah seorang kontrarian. Namun bukan berarti beliau secara buta membeli semua saham yang dijauhi investor lain, namun menurut WB, kesempatan bagus tidak datang setiap hari, jadi beliau akan selalu sabar menanti kesempatan itu datang jikapun itu berarti beliau harus menunggu lama tanpa bertransaksi. Tapi saat WB beli, beliau berani membeli besar di ide yang luar biasa di kesempatan yang langka.

Waktu terbaik untuk membeli saham menurut WB bukanlah saat ekonomi lagi baik dan perusahaan mencatatkan kinerja yang fantastis, justru saat ekonomi lagi sulit dan perusahaan bagus melaporkan kinerja jelek dan sahamnya dihargai kelewatan murah alias salah harga.

Inilah nilai-nilai karakter seorang WB yang sangat lengkap di ringkas oleh Howard Marks, dan bisa menjadi pedoman kita dalam berinvestasi.

Setelah kata pengantar, sang penulis juga masuk membahas riwayat hidup WB sejak kecil baik sebagai seorang individu bocah cerdas maupun sebagai seorang investor hebat dan pendiri Berkshire. Penulis juga tidak lupa membahas tentang guru-guru WB dimana beliau belajar dan meningkatkan ilmu investasinya seperti sang legenda Ben Graham, Phil Fisher serta Charlie Munger (partner WB di Berkshire).

Dan masuk ke bab 3, penulis barulah mulai membahas inti dari buku ini, yaitu 12 prinsip investasi WB. 12 prinsip inilah yang menjadi kompas arah investasi WB dalam setiap perusahaan yang beliau akuisisi, mungkin tidak selalu 12 points yang dipakai dalam setiap akuisisi, namun setiap perusahaan yang dibeli selalu berdasarkan pedoman prinsip ini.

Sebagian kita suka berargumentasi bahwa, WB sukses karena beliau mampu membeli perusahaan bukan sekedar saham. Namun sesungguhnya menurut WB fundamental dalam pembelian itu sama saja. Benar ada sedikit beda, karena membeli sebuah perusahaan berarti bisa mengintervensi alokasi modal perusahaan tersebut, namun sebaliknya kelebihan membeli saham di bursa terbuka juga tidak kalah. Lebih banyak kesempatan bagus yang tersedia di bursa saham dengan modal yang lebih kecil, memanfaatkan mekanisme kepanikan pasar.

WB menyarankan bahwa, saat berinvestasi posisikan lah diri kita sebagai seorang analis bisnis, BUKAN analis pasar ataupun analis makro ekonomi. Caranya begini: Cek riwayat kinerja, selidiki aspek kualitas management, pelajari aspek finansial dan terakhir tentukan MOS.

Jika di perdalam, maka langkah-langkah atas bisa di kategorikan menjadi 4 aspek, yaitu:

A. Prinsip business (Business tenets) yang mencakup 3 prinsip tentang karakteristik dasar sebuah bisnis.

B. Prinsip manajemen (Management tenets) yang mencakup 3 prinsip penting yang wajib di miliki oleh setiap manager senior perusahaan.

C. Prinsip finansial (Financial tenets) yang mencakup 4 prinsip keputusan finansial super penting yang perusahaan harus pertahankan.

D. Prinsip Pasar (Market tenets) yaitu panduan antara nilai dan harga yang saling berhubungan.

A. Business Tenets

WB bilang, jika mau berinvestasi, posisikan lah diri anda sebagai seorang analis bisnis. Beliau tidak peduli dengan teori pasar, konsep makro maupun sektor. Beliau mengambil keputusan investasi murni berdasarkan cara kerja (operasi) sebuah bisnis itu sendiri.

Masalahnya jika investor membeli sebuah saham berdasarkan berita menarik yang tidak berbasis fundamental, maka disaat nanti masalah muncul, panik akan terjadi dan dalam proses akan merugikan investor tersebut.

Dan itulah mengapa WB akan selalu fokus mempelajari sebanyak mungkin tentang sebuah bisnis yang di lirik. 3 prinsip yang menjadi panutan beliau:

1. Sebuah bisnis harus sederhana dan bisa di pahami (Simple and Understandable).

Pemahaman tentang cara operasi sebuah bisnis adalah kunci utama. Tidak kurang penting pemahaman tentang angka-angak seperti Pendapatan, Beban, Arus kas, Hubungan ESDM, Keleluasaan dalam penentuan harga jual, dan Alokasi modal.

WB bisa mengerti cara kerja setiap bisnis yang beliau miliki bukan karena beliau super pintar, namun justru karena beliau telah menyingkir semua ide bisnis yang tidak bisa di fahami dan fokus di bisnis yang bisa di mengerti.

Intinya sukses dalam berinvestasi tidak di tentukan oleh seberapa banyak perusahaan yang anda tau, tapi seberapa arif anda bisa membatasi diri dalam hal yang anda tidak mengerti.

2. Sebuah bisnis wajib memiliki riwayat kinerja yang konsisten (Consistent Operating History).

WB tidak hanya menghindari model bisnis yang rumit, beliau juga menghindari bisnis yang mencoba memecahkan masalah dunia atau yang secara fundamental berubah arah karena rencana sebelumnya gagal. Bisnis yang secara bertahun-tahun memproduksi dan menjual produk dan jasa yang sama adalah bisnis yang patut di pelajari lebih dalam menurut WB.

Walaupun mencoba memprediksi kinerja masa depan sebuah perusahaan tidak lah mudah, namun perusahaan yang memiliki rekam jejak kinerja yang stabil dan masih menjual produk dan jasa yang sama selama bertahun-tahun maka tidaklah keterlaluan jika kita beranggapan trend kinerjanya akan berlanjut walaupun tidak selalu benar.

WB tidak percaya dengan bisnis turnaround (mampu berbalik badan), karena dari pengalamannya bersama Charlie, bisnis ini jarang sekali turn (berbalik badan). Jadi hikmah yang beliau terima adalah: hindari mereka!

3. Sebuah bisnis wajib memiliki prospek jangka panjang yang menguntungkan alias MOATS (Favourable longterm prospects).

Secara mendasar, WB menerangkan bahwa sebuah bisnis yang memiliki MOAT (kekuatan kompetisi yang berkesinambungan) adalah yang produk dan jasanya memiliki 3 karakteristik dasar yaitu:
– Di butuhkan atau di inginkan.
– Tidak memiliki pengganti (substitusi) yang dekat.
– Tidak di atur/limitasi oleh regulasi.

Dengan adanya 3 karakteristik atas, sebuah perusahaan bisa mempertahankan harga jual bahkan menaikannya tanpa harus hawatir kehilangan pangsa pasar atau terjadinya penurunan volume penjualan. Keleluasaan dalam pengaturan harga jual merupakan ciri sebuah bisnis yang kuat yang bisa memberikan pengembalian modal yang lebih tinggi dibanding sektor.

Disini WB juga memberi peringatan tentang bisnis komoditas yang tidak memiliki diferensiasi sehingga harga jual yang murah akan menjadi satu-satunya faktor dalam perebutan pangsa pasar. Namun hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap marjin perusahaan. Di masa lalu, minyak, gas, kimia, tembaga, kayu, gandum dan oren jus adalah produk komoditas. Namun hari ini bahkan komputer, otomotif, jasa penerbangan, bank dan asuransi pun telah menjadi komoditas karena tipisnya perbedaan produk antar perusahaan.

B. Management Tenets

WB menggaris bawahi kepentingan kualitas manajemen saat melirik sebuah bisnis. Kejujuran dan kompetensi adalah dua hal yang WB cari.

Terlepas dari seberapa menarik prospek sebuah bisnis, tanpa kejujuran dan kompetensi, WB percaya kemitraan tersebut tidak akan sehat dan berlangsung lama, mustahil bisa hasil.

Ada 3 pertanyaan penting (prinsip) yang WB lontarkan saat mencari manajemen yang jujur dan berkompetensi yaitu:

1. Apakah manajemen rasional? (Rationality)

Satu misi terpenting seorang manajer dalam bisnis menurut WB adalah pengalokasian modal. Secara jangka panjang modal akan berdampak pada nilai yang diterima oleh pemegang saham. Menginvestasikan ulang keuntungan atau mengembalikannya dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham menurut WB akan menunjukan rasionalitas manajemen.

Kemana keuntungan di alokasikan sangat lah berkaitan dengan fase siklus bisnis perusahaan (business life cycle) tersebut sedang berada.

Saat perpindahan siklus bisnis terjadi, tingkat pertumbuhan pendapatan, laba dan arus kas pun akan berubah drastis.

Di fase awal (development stage), perusahaan sering mengalami kerugian karena sedang membangun produk dan merintis pasar, itu sangat wajar.

Terus di fase berikut, penjualan bertumbuh kencang (growth stage), dan mulai mencetak laba, namun belum cukup untuk membiayai ekspansi usaha yang begitu ekspansif sehingga keuntungan cenderung diputar kembali bahkan seringkali harus berutang.

Berikut, perusahaan masuk ke fase kematangan (maturity stage). Pertumbuhan pendapatan mulai melambat namun akumulasi arus kas terus meningkat dan melebihi keperluan ekspansi dan kebutuhan operasional.

Terakhir fase penurunan (decline stage), perusahaan mulai mengalami kontraksi di pendapatan dan laba, namun masih terus mencetak kelebihan arus kas.

Di fase kematangan dan penurunan ini lah (terutama di fase kematangan) muncul pertanyaan, kemanakah sebaiknya kelebihan arus kas di alokasikan?

Menginvestasikan kembali kelebihan arus kas kedalam bisnis jika pengembalian ekuitas (ROE) bisa meningkat.

Namun kalau hal atas adalah mustahil, maka manajemen memiliki 3 opsi lain, yaitu:

–  Abaikan masalah yang ada dan tetap invest seperti yang di terangkan atas walaupun tingkat ROE makin memburuk.

– Membeli pertumbuhan baru lewat akuisisi bisnis.

– Kembalikan kelebihan uang ini kepada pemegang saham.

Naaah, di persimpangan jalan sinilah, WB dengan sangat teliti menanti tindakan yang akan diambil oleh manajemen karena akan mencerminkan rasionalitas manajemen dalam berbisnis.

Jika manajemen masih tetap melakukan investasi ulang walaupun ROE terus menurun, maka manajemen mengambil pandangan bahwa ini hanyalah masalah sementara, manajemen percaya kejayaan akan kembali.

Namun jika masalah ini berlarut lama dan manajemen terus mengabaikannya, maka kinerja akan semakin memburuk, kelebihan arus kas semakin menumpuk dan nganggur, harga saham pun akan mendapat sentimen negatif. Ini umumnya menandakan era manajemen baru, karena banyak korporasi yang akan sangat tertarik membelinya dengan kas yang melimpah dan di jual di harga murah.

Untuk menangkis ancaman ini, manajemen melakukan aksi akuisisi. Namun WB tidak terlalu optimis dengan cara membeli pertumbuhan, karena 1 hal, akuisisi itu mahal. Selain itu, menjalani bisnis baru cenderung menimbulkan kesalahan baru dan ini akan merugikan pemegang saham.

Jadi opsi yang paling rasional menurut WB adalah mengembalikan kelebihan uang kepada para pemegang saham. Ini bisa di lakukan lewat pembagian dividen atau membeli kembali saham perusahaan.

2. Apakah manajemen jujur kepada pemegang saham? (Candor)

WB sangat menghargai manajemen yang berani secara jujur dan terbuka melaporkan performa kinerja perusahaan apa adanya dan berani mengakui kesalahan dan sudi berbagi kesuksesan.

Setiap laporan kinerja yang dilaporkan minimal harus bisa menjawab 3 pertanyaan penting: estimasi nilai perusahaan, kemampuan keuangan untuk memenuhi kewajiban, dan tingkat kinerja manajemen saat ini.

3. Apakah manajemen mampu menaham tekanan korporat sejenis? (Institutional imperative/dependent thinking)

Jika setiap manajemen perusahaan pasti hebat dan jujur dalam mengatasi masalah, mengapa di laporan tahunan sering hanya ditemukan berita sukses saja? Jika alokasi modal begitu mudah dan logika, mengapa manajemen begitu ceroboh dalam mengaturnya?

Inilah yang disebut dengan tekanan korporat sejenis alias institutional imperative alias peer-pressure dalam bentuk korporat. Keinginan untuk meniru tindakan korporasi lain terlepas dari sebodoh apa dan se-irrasional apa tindakan tersebut.

Tekanan korporat sejenis bertanggung jawab atas 4 masalah serius sebuah perusahaan, antara lain?
– Penolakan terhadap perubahan arah bisnis yang salah (buta fakta).
– Kegagalan dalam optimalisasi alokasi modal yang selalu mengarah ke aksi akuisisi (deworsifikasi).
– Dukungan setia dari bawahan terhadap manajemen irrasional (krisis manajemen).
– Meniru tindakan irrasional perusahaan sejenis (ikut-ikutan).

Evaluasi terhadap tindakan manajemen dalam aspek: rasionalitas, kejujuran dan pemikiran mandiri tidaklah gampang namun sangat penting, karena akan memberi peringatan awal kepada para investor yang saat ini belum terlihat di angka-angka laporan keuangan maupun tercermin di harga saham.

Beda dengan kuantitatif rasio, kualitas tidak bisa diukur dengan angka. Karena menganalisa manajemen butuh galian informasi yang lebih mendalam, seringkali bahkan analis pun malas melakukannya, namun ini adalah kerugian mereka, dan keuntungan bagi yang rajin.

WB memberikan beberapa saran cara mengevaluasi manajemen perusahaan, antara lain:

– Baca laporan tahunan beberapa tahun terakhir dan letakkan perhatian khusus pada ucapan manajemen atas strategi bisnis yang akan mereka lakukan di masa depan, lalu bandingkan rencana sebelumnya dengan hasil sekarang, seberapa sukses?

– Bandingkan strategi bisnis beberapa tahun sebelumnya dengan strategi sekarang, bagaimana pemikiran manajemen berubah?

– Bandingkan laporan tahunan perusahaan dengan laporan tahunan para pesaing. Mungkin tidak mudah mencari pesaing yang persis sama, namun yang relatif sama adalah evaluasi yang cukup.

Pesan terakhir mengenai “prinsip manajemen”, WB menerangkan bahwa memiliki manajemen yang mantap tidaklah cukup untuk menggodanya. Beliau mengingatkan bahwa, banyak kali dalam bisnis jikapun memiliki tim manajemen yang hebat, perusahaan jelek tetaplah susah untuk bangkit, jadi tindakan bijak dari seorang investor adalah menghindari mereka.

C. Financial Tenets

Dalam aspek Finansial, WB melihat data secara periode panjang, bukan tahunan. Dan ada 4 prinsip yang memandu beliau dalam aspek ini, yaitu:

1. Return on Equity (ROE)

Secara umum di pasar saham, analis mengukur performa sebuah perusahaan berdasarkan Earning Per Share (EPS). Apakah EPS meningkat, apakah EPS mengalahkan ekspektasi, dan apakah EPS meningkat drastis sehingga bisa di sombong kan?

Namun WB menilai bahwa EPS hanyalah data samaran. Karena hanya mencerminkan pertumbuhan ekuitas dan itu tidak cukup. Yang WB ingin tau adalah seberapa efisien pertumbuhan tersebut, dan itu sebabnya WB menggunakan ROE.

ROE versi WB sedikit lebih detail, ini untuk menjamin apa yang diukur benar-benar merepresentasikan nilai sesungguhnya, sehingga beberapa revisi dilakukan:

– Semua jenis aset dalam bentuk sekuritas harus di nilai secara harga pokok. Karena jika di hargai secara pasar, maka ekuitas akan menjadi fluktuatif tergantung pergerakan nilai aset saat itu, sehingga tidak mencerminkan nilai dasar.

– Dari sisi laba, anggaran-anggaran yang hanya terjadi satu kali wajib di hapus (contoh: untung/rugi dari penjualan aset).

– Terakhir, WB percaya sebuah bisnis yang sehat adalah yang mampu mencetak pengembalian atas ekuitas yang bagus dengan menggunakan utang yang minim atau tanpa utang. Selain itu, perusahaan yang memiliki utang terlalu besar juga lebih bahaya di saat perlambatan ekonomi tiba.

Meskipun penilaian WB yang konservatif terhadap utang, WB menyarankan bahwa jika mau berutang, lakukan sebelum kebutuhan tersebut hadir sebagai langkah antisipasi. Karena pengalaman menunjukan seringkali jika suatu peluang bagus hadir uang adalah langka, sedangkan saat uang melimpah peluang adalah langka. Metafora​ yang WB pakai adalah, “Jika anda ingin menembak seekor gajah yang langka dan berlari cepat, anda harus selalu membawa senapang“.

2. Owner Earnings

WB mengingatkan bahwa setiap investor wajib mengerti data finansial yang ingin dipakai sehingga mengerti apa yang dia baca. Contohnya laba. Setiap model bisnis memiliki tingkat laba yang berbeda, ada yang aset ringan ada pula yang aset berat. Sama juga dengan arus kas. Beda industri akan memiliki hasil yang beda. Ada yang memiliki pola capex yang mengecil seiring fase siklus bisnis, ada juga yang capex tidak berubah di fase manapun bisnis tersebut berada.

Selain itu persis seperti Peter Lynch menceritakan, banyak analis menggunakan arus kas untuk mempromosikan suatu bisnis yang belum memiliki laba, sehingga arus kas dipakai untuk membenarkan analisa mereka.

Bagi WB, beliau lebih nyaman menggunakan Owner Earnings, yaitu:

Laba bersih + Depresiasi + Amortisasi + Laba dari non cash lainnya – Capex + Peningkatan di modal kerja*

*Modal kerja = Aset Lancar – Liabilitas jangka pendek

3. Profit Marjins

Tidak ada rahasia tentang profitabilitas. Semua adalah tentang pengendalian beban/biaya.

WB mengingatkan investor bahwa pengendalian beban adalah kewajiban rutinitas setiap perusahaan. Jika ada manajemen yang mengumumkan bahwa mereka akan membikin program potongan biaya, maka WB tau bahwa manajemen ini belum mengerti apa itu beban/biaya bagi perusahaan.

4. One-Dollar Premise

WB percaya jika beliau telah memilih sebuah perusahaan yang memiliki prospek jangka panjang yang bagus dan di kelola oleh manajemen yang hebat, rasional dan pro terhadap pemegang saham, maka hasilnya akan terlihat di nilai pasar perusahaan tersebut.

Hal yang sama juga berlaku atas laba yang di tahan. Jika perusahaan berhasil meningkatkan ROE maka market akan merefleksikan keberhasilan tersebut, dan sebaliknya juga akan terjadi jika ROE menurun.

WB menggunakan istilah One-Dollar Rule (Peraturan Satu-Dollar) sebagai alat ukur untuk menilai perubahan di nilai pasar terhadap efektivitas manajemen dalam meningkatkan nilai perusahaan.

Peraturan ini menyatakan bahwan peningkatan di setiap dollar laba ditahan harus disertai dengan kenaikan minimal setiap dollar nilai pasar.

D. Market Tenets

Semua prinsip yang sudah di bahas dari A hingga C diatas adalah bertuju pada 1 keputusan: beli atau tidak beli. Namun masih ada 2 prinsip lain untuk merampungkan sebuah transaksi, yaitu pengetahuan tentang nilai bisnis tersebut dan seberapa murah saham ini bisa di beli terhadap nilai wajarnya.

1. Menentukan nilai perusahaan

Menurut WB cara terbaik menghitung nilai sebuah bisnis sudah ditemukan 70 tahun yang lalu oleh John Burr Williams (JBW) dalam bukunya yang berjudul The theory of investment value.

WB mengutip JBW menerangkan, nilai sebuah bisnis bisa ditentukan dari Jumlah Arus Kas Bersih yang bisa dihasilkan di masa depan, lalu di hitung kembali ke nilai kini dengan menggunakan tarif diskon suku bunga yang wajar.

Mungkin terdengar sulit, namun sesungguhnya cukup mudah dilakukan, asal kita memiliki variabel yang tepat, yaitu: jumlah arus kas bersih masa depan dan tarif diskon yang tepat.

Jadi balik lagi ke aspek pertama tentang prinsip bisnis tadi. Jika sebuah bisnis adalah mudah dan bisa dimengerti, dan memiliki rekam jejak yang konsisten, maka WB yakin arus kas bersih masa depan bisa dihitung. Namun jika beliau tidak bisa, beliau tidak akan coba menilai perusahaan tersebut, inilah letaknya perbedaan antara pendekatan WB dengan investor lain, yang selalu mengacu pada prinsip hindari resiko.

Tarif diskon yang WB pakai adalah tarif suku bunga obligasi jangka panjang pemerintah Amerika Serikat (long-term US government bond).

2. Membeli di harga yang menarik

WB mencatat, investasi di perusahaan bagus yang mudah dan bisa dimengerti dan memiliki prospek jangka panjang yang bagus dan di kelola oleh manajemen yang baik tidaklah memberi garansi sukses. Investor harus membeli di harga yang wajar dan perusahaan tersebut pun harus menghasilkan kinerja yang sesuai ekspektasi.

Jika gagal, kemungkinan ada 3 faktor:
– Harga yang di bayar
– Manajemen perusahaan
– Prospek bisnis masa depan
dan yang paling sering terjadi adalah salah kalkulasi di prospek bisnis masa depan.

Jika seorang investor sudah tau nilai sebuah perusahaan, maka dia akan dengan gampang menilai harga yang harus dia bayar dan ini kita kenal dengan istilah Margin of Safety (MOS) alias diskon terhadap harga wajar yang di ciptakan oleh Ben Graham.

Inilah ringkasan dari 12 prinsip investasi WB yang beliau pakai dalam menganalisa sebuah bisnis. Untuk selengkapnya mohon di baca langsung dari bukunya.

Tadinya saya ingin menulis secara lengkap ringkasan buku ini dalam 1 article, namun masih cukup banyak yang mau di bahas, sehingga saya memutuskan untuk berhenti disini dulu supaya anda yang membaca bisa mencerna dulu, dan saya juga bisa menunda sejenak dalam meringkas.

Semoga article ini bisa memberi banyak manfaat kepada anda yang sedang belajar.

Sampai ketemu lagi di bagian ke 2 dari buku The Warren Buffett Way.

Selamat menikmati dan jangan sampai ketiduran!

Alianto Chan

Ringkasan Buku #1: Common stocks and uncommon profits by Philip A. Fisher

Philip A. Fisher adalah seorang investor yang sangat sukses di eranya. Strategi analisa Fisher bertitik berat pada 2 hal: management dan prospek kinerja perusahaan.

Beliau adalah sosok yang tidak menyukai publisitas, namun menjadi sangat terkenal di era 1950-1960an pasca penerbitan bukunya yang berjudul “Common stocks and Uncommon profits” ini.

Hal utama dalam investasi saham menurut Fisher adalah memiliki mindset yang benar. Membeli saham dan menyimpannya untuk jangka panjang.

Jikapun dari waktu ke waktu harga saham bisa menjadi cukup mahal berdasarkan valuasi wajar, namun jika prospek pertumbuhan kinerja masa depan masih bagus dan cerah, tidak ada alasan mengapa investor harus menjualnya sekarang. Dengan menjual saham di harga mahal, maka investor seakan-akan membatasi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan masa depan.

Ini mirip dengan prinsip yang diajarkan oleh Admin grup kami. Jika anda jual saat cuan 50% maka anda tidak akan pernah merasakan cuan 51%, dan jika anda jual saat cuan 100% maka anda tidak akan pernah merasakan cuan 101% dst. Tentunya, kita harus bijak mengikuti perkembangan fundamental dan prospek kinerja perusahaan, namun bukan pergerakan harga saham.

Lihat saja saham MYOR, bukankah dah cukup mahal secara valuasi, namun karena prospek pertumbuhan kinerja masih sangat terbuka, sehingga sahamnya masih layak di pegang untuk jangka panjang.

Sama halnya seperti saham ROTI, UNVR, ICBP, MLBI, HMSP dkk walaupun secara PER dinilai sudah premium, namun mereka berhasil bertahan di harga mahal, ya karena mereka adalah perusahaan hebat yang masih akan bertumbuh di masa depan.

Konsep growth investing mungkin cukup asing bagi kita, karena kebanyakan kita yang berjurus FA masih lebih fokus ke value investing, yaitu beli saat murah, jual saat mahal.

Dalam buku Common stocks and uncommon profits, Fisher mencoba mengajarkan kita cara menemukan perusahaan hebat yang memiliki prospek kinerja dahsyat. Dan dari buku ini juga, kita di perkenalkan analisa KUALItatif, sangat berbeda dengan analisa KUANTI-tatif yang sering kita pelajari dari berbagai pakar dalam bentuk berbagai rasio finansial.

Inilah letaknya perbedaan antara Phil Fisher dan Ben Graham, namun yang paling hebat dan beruntung adalah Warren Buffett (WB) karena beliau berhasil meleburkan ke dua strategi ini dalam strategi investasi beliau. Toh, banyak kredit juga harus diberikan kepada Charlie Munger karena Charlie Munger lah yang mengenalkan growth investing kepada WB.

Ok, mari kita mulai masuk ke pembahasan buku Common stocks and uncommon profits.

Semua orang yang terjun ke dunia saham dengan alasan apapun pada akhirnya adalah demi keuntungan. Jadi, patut kita pelajari dulu sejarah bagaimana uang di hasilkan dari bursa saham sebelum kita masuk ke strategi dll.

Sejak era abad ke 19 hingga masuk ke awal 20, keberhasilan investasi saham di dominasi oleh 2 strategi utama.

Yang pertama adalah buy low, sell high. Beli saat sirklus sektor sedang buruk dan menjual saat sektor membaik. Pada masa itu, akses ke informasi khusus tidaklah mudah (sebetulnya hingga kini pun masih sama, hanya insider yang punya akses VIP terhadap data ginian), sehingga yang bisa benar-benar memanfaatkan teknik ini adalah sekaum kecil investor yang memiliki koneksi dekat dengan perusahaan, sedangkan bagi yang lain, itu murni spekulasi pasar alias mencoba market timing.

Namun ada strategi ke dua yang Fisher lebih menonjolkan karena strategi ini jauh lebih aman dan hasilnya jauh memuaskan, yaitu buy and hold. Membeli perusahaan hebat tanpa perlu melakukan market timing. Inilah yang kita kenal dengan strategi growth investing.

Sekali lagi, saya harus tekankan kembali perbedaan antara buku ini dengan banyak buku investasi lain yang sudah pernah kita baca. Analisa Fisher sangat terfokus ke sisi kualitas perusahaan, sangat sedikit membahas rasio finansial, dan itu menjadi tantangan bagi kita untuk meniru caranya, karena sesuatu yang berbasis non-angka menjadi cukup subyektif sehingga susah untuk membuat patokan antara apa yang kita yakin itu fakta dan apa yang sesungguhnya adalah fakta.

Dalam analisa growth investing, Fisher menggunakan istilah “Scuttlebutt”. Kita hanya butuh mengkoleksi pecahan-pecahan informasi dari berbagai narasumber yang berhubungan langsung dengan industri tersebut. Baik itu karyawan perusahaan, vendor, supplier, badan hukum, badan peneliti, kompetitor, bahkan mantan karyawan dll.

Fisher juga bilang, tidak semua informasi yang kita kumpulkan itu harus saling sinkron satu sama lain, namun jika kita berhasil menanyakan pertanyaan yang pinter kepada orang yang tepat, maka dari pecahan informasi yang terkumpul akan terlihat sangat jelas perusahaan mana yang jauh unggul. Terus langkah terakhir barulah kita tanyakan kepada management perusahaan untuk menyempurnakan analisa kita.

Menurut Fisher, ada 15 pedoman yang patut kita ketahui tentang sebuah perusahaan hebat yaitu:

1. Apakah perusahaan memiliki produk dan jasa dan pangsa pasar yang bisa menunjang pertumbuhan pendapatan di masa depan? 

Disini, Fisher membagikan perusahaan menjadi 2 jenis: “beruntung dan bisa” dan “beruntung karena mereka bisa”.

Yang pertama adalah perusahaan yang mendapatkan kiprah dari perubahan eksternal. Contoh: sejak dulu bisnis JNE bisa dibilang cukup bagus, namun sejak boomingnya penjualan online, kini pengiriman paket JNE meningkat pesat sehingga membuat bisnisnya tumbuh pesat.

Terus jenis yang kedua adalah perusahaan yang visioner yang mampu menciptakan produk baru atau sektor baru untuk menunjang kinerja masa depan. Contoh: Unilever, walaupun semua produknya sudah ada di Sabang sampai Merauke, namun perusahaan tidak pernah berhenti menciptakan produk baru yang bisa menunjang pertumbuhan baru.

2. Apakah management memiliki keteguhan untuk terus menciptakan produk baru jika permintaan atas produk sekarang sudah di tingkat matang?

Point ini hampir mirip dengan point no. 1 namun beda. Point no. 2 ini membahas tentang sikap management. Karena semua pasar pada satu saat pasti mencapai titik matang, sehingga management harus siap dan mampu terus menerus menciptakan produk baru untuk memperlebar pasar atau membuka pasar baru demi menunjang pertumbuhan pendapatan masa depan.

Contoh: Disaat lahan industri Lippo Cikarang sudah terbatas, management terus mencari cara untuk menunjang peningkatan pendapatan masa depan. Perusahaan sudah mulai beralih ke sektor residensial, komersil sekaligus pemeliharaan kota lewat mega proyek Orange County, dan perusahaan juga sudah memiliki rencana menjadikan Lippo Cikarang seperti Shenzhen nya China.

3. Seberapa efisien dan efektif penelitian dan pengembangan (R&D) perusahaan?

Secara umum, analis selalu membandingkan efektifitas R&D satu perusahaan dengan yang lain dengan cara membandingkan rasio beban R&D terhadap pendapatan. Namun sayangnya cara ini tidak memberikan kita kejelasan secara rinci pendapatan aktual yang di hasilkan oleh masing-masing setiap R&D. Tentunya, hal itu sangat sulit untuk di ukur, apalagi setiap perusahaan pasti memiliki kebijakan yang berbeda apa yang digolongkan sebagai R&D. Namun, R&D yang efektif adalah yang bisa memberi keunggulan kompetisi kepada perusahaan, yang bisa menciptakan produk baru namun tidak gampang di tiru oleh pesaing.

Contoh: KLBF yang terus berekspansi ke segment biofarmasi. Dengan product range yang sangat luas dalam kategori obat resep dan potensi pertumbuhan yang baik karena program BPJS, KLBF terus melakukan penelitian dan bangun pabrik. Inilah R&D yang efisien dan efektif yang bisa menciptakan produk-produk baru, memperbesar potensi pasar dan menekan biaya lewat produksi pabrik sendiri.

4. Apakah perusahaan memiliki team marketing dan penjual yang hebat?

Rasanya jarang sekali kita membahas hal ini di dalam analisa kita. Ini juga sempat di singgung oleh Fisher, investor amatir hingga “professional” cenderung suka salah persepsi antara sebab dan akibat. Justru apa yg kita lihat di pendapatan itu adalah refleksi dari akibat alias hasil, sedangkan penyebabnya adalah hal seperti yang di bahas di point no. 4 ini.

Walaupun ada pengecualian di beberapa produk yang bisa menjual sendiri, namun secara umum tim penjual yang handal ditambah dengan marketing dan logistik yang kuat lah yang menjadi jaminan peningkatan penjualan perusahaan.

Untuk mengetahui perusahaan mana yang memiliki tim penjual/pemasar yang handal, bisa kita tanya ke kompetitor, supplier maupun customer. Lalu kita juga bisa tanya langsung ke tim penjual tersebut bagaimana sistem bonus dan promosi mereka.

Di laporan tahunan juga bisa kita lihat pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kapasitas para sales dan management.

Contoh: Asuransi Prudential. Pelatihan yang diselenggarankan oleh perusahaan begitu hebat, setiap agen yang keluar dari sana pasti sudah memiliki kapasitas jual yang tinggi. Walaupun memang ada sebagian kecil manusia itu dilahirkan hebat dalam penjualan, namun banyak bisa dilatih dan dibentuk menjadi handal.

5. Seberapa bagus marjin laba perusahaan?

Fisher menyarankan investor untuk tidak berinvestasi di perusahaan yang memiliki marjin laba yang tipis, kecuali perusahaan memiliki rencana bagus untuk memperbaiki marjinnya di masa mendatang. Alasan Fisher adalah dengan marjin yang tipis, maka kinerja akan lebih fluktuatif. Pada saat ekonomi lagi bagus, maka laba mungkin bisa tumbuh pesat hingga 3-angka sama halnya saat ekonomi terpuruk, kerugian pun bisa saja sama.

Yang layak menjadi kandidat investasi jangka panjang itu adalah perusahaan yang sehat yang bisa tumbuh secara konsisten. Contoh: pada tahun 2015 saat sektor pakan ternak terpuruk, CPIN masih berhasil mencetak laba sedangkan MAIN dan JPFA sudah mengalami kerugian, terus di tahun 2016 semua sudah mulai mencetak laba, kinerja JPFA naik menggila, inkonsistensi inilah yang Fisher anjurkan kita hindari.

Namun Fisher juga menyingung tentang satu pengecualian, yaitu perusahaan yang memiliki turnover rate asset yang tinggi. Disini bisa kita tafsir bahwa yang di bicarakan adalah perusahaan yang memiliki turnover rate di persediaan yang tinggi, alias fast moving consumer goods. Contoh: MPPA, AMRT, MIDI, RANC dkk

6. Apa yang perusahaan akan lakukan untuk memperbaiki marjin laba?

Point ini mengingatkan seorang teman di grup kami yang sering membahas tentang prospek masa depan perusahaan. Banyak investor termasuk saya hingga para “pakar” sering berasumsi bahwa jika dalam 10 tahun terakhir marjin laba perusahaan adalah 10%/thn, maka cenderung untuk 10 tahun kedepan marjin laba perusahaan akan tetap di 10%/thn.

Fisher menyinggung bahwa, performa masa lampau bukanlah jaminan untuk performa masa depan. Investor jeli yang bisa membaca arah perbaikan marjin laba masa depan dan mengambil langkah yang tepat akan bisa mendapatkan keuntungan yang dahsyaat.

Contoh: NIRO. Perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan ruang pusat keramaian. Walaupun saat ini masih mencetak rugi, namun model bisnisnya sangat bagus.

Mereka mengetahui bahwa di kota-kota besar, tempat perbelanjaan sudah banyak jadi mereka berekspansi ke kota tier 2 hingga 4 dimana pusat perbelanjaan masih minim dan orang masih butuh tempat jalan-jalan dan hiburan keluarga sehingga okupansi penyewaan ruang usaha di mal NIRO selalu tinggi.

Contoh lain adalah AISA yang berfokus kepada penjualan beras premium dan menunda pembangunan pabrik. Inilah upaya perusahaan hebat dalam meningkatkan marjin laba.

7. Seberapa harmonis hubungan perusahaan dengan para pekerja dan buruh?

Point ini mencerminkan produktivitas pekerja. Jika pekerja selalu demo dan menuntut hak terhadap perusahaan, barang kali ada yang kurang harmonis dengan cara perusahaan mengatur para pekerja. Ini akan menghambat produktivitas sehingga akan meningkatkan beban alhasil marjin laba menurun.

Sesungguhnya dengan hubungan baik saja belum tentu produktivas para pekerja bisa meningkat, apalagi tidak harmonis. Namun jika perusahaan memiliki pekerja yang anthusias terhadap pekerjaan mereka, maka itu adalah perusahaan yang layak kita perhatikan.

Salah satu cara mengetahui perusahaan mana yang memiliki hubungan harmonis antar para pekerja adalah membandingkan labour turnover rate mereka, rate yang rendah bisa diasumpsikan sebagai hubungan yang baik, namun lebih baik lagi jika kita bisa mendengarkan langsung dari para pekerja tanggapan mereka terhadap perusahaan.

Contoh: Ada perusahaan tbk yang dekat dengan lingkungan saya. Saya sempat ngobrol dengan beberapa karyawannya dari beberapa divisi. Saya bermulai dengan memuji bahwa perusahaannya sekarang sudah menjadi perusahaan terbuka, namun tanggapan yang saya terima cukup membuat kaget.

Mereka menyeluh bahwa image perusahaan memang meningkat, namun bonus mereka sudah lama ditiadakan dan tunjangan pun tidak sesuai harapan. Ini adalah kata-kata awal yang dilontarkan ke saya. Bayangkan sebagus apa loyalitas para pekerja terhadap perusahaan jika hal pertama yang di ucap kepada orang luar adalah kritik terhadap perusahaannya sendiri.

8. Bagaimana pula hubungan dengan para eksekutif?

Sama dengan point no.7 namun di level eksekutif. Apakah eksekutif memiliki passion, motivasi dan antusiasme dalam menjalani tugas dan berhubungan baik satu sama lain. Hubungan yang buruk akan membuat para eksekutif keluar dari perusahaan atau bekerja tanpa maksimal.

Gaji dan tunjangan yang terlalu besar akan menjadi sebuah pemborosan, namun yang rendah akan membuat mereka kurang loyal. Harus ada tim audit yang bertugas untuk meninjau gaji dan tunjungan yang sesuai dengan standard industri atau wilayah setempat.

Untuk mengetahui hubungan para eksekutif, kita bisa memanfaatkan acara rups atau pubex untuk bertemu dan berbincang dengan beberapa eksekutif di level yang berbeda.

Contoh: BIRD. Walaupun disini bukanlah sesungguhnya tim management, namun tim pemilik perusahaan yang saling merebut kepemilikan. Jika yang atas saja sudah kacau dan tidak konsen untuk menjalani usaha demi mencapai tujuan yang sama, kira-kira sebagus apa dilapisan bawah yang butuh arahan dari atas?

9. Apakah perusahaan memiliki hiraki otoritas dan deligasi yang benar dalam management?

Untuk perusahaan kecil mungkin sering kita lihat dimana pemilik selalu memerintah sekaligus mengerjakan semua kerjaan yang ada alias one-man-show. Namun kinerja perusahaan kecil seperti ini akan mentok pada satu saat.

Untuk bisa berkembang lagi, maka pemilik harus bisa mengdelegasi tugas sehingga dia bisa fokus pada visi dan misi perusahaan, dan yang diberi tanggung jawab bisa membantunya menjalani tugas sesuai yang sudah di arahkan.

Walaupun cara yang paling mudah adalah mengrekrut calon management handal dari luar, namun hal itu akan berdampak negatif seperti yang sudah di ulas di point no. 8, akan mengganggu suasana kerja antar management yang sudah ada karena dinilai kurang pro dan mengapresiasi karyawan lama. Jadi, hal otoritas dan deligasi harus dicermati dengan seksama oleh perusahaan untuk menentukan opsi yang terbaik.

Contoh: SMSM. Di salah satu article yang saya pernah baca tentang wawancara jurnalis dengan CEO perusahaan, CEO menjelaskan dengan detail tahapan-tahapan pangkat promosi yang perusahaan bisa berikan kepada para pekerja. Ini sungguh menakjudkan dan memberi saya pandangan bahwa SMSM adalah perusahaan yang siap menjadi besar karena secara internal sudah di tata sedemikan baik dan rapi, sehingga setiap karywan dari lapisan paling bawah hingga paling atas mengerti persis apa yang bisa diharapkan dari perusahaan.

10. Sebagus apa analisa biaya perusahaan serta kontrol terhadap standar akunting?

Perusahaan harus bisa mengurai biaya pengeluaran secara akurat sehingga bisa menjelaskan secara rinci setiap segmen biaya yang timbul dalam operasional. Lewat analisa biaya perusahaan bisa melihat apa yang harus di perbaiki demi meningkatkan efisiensi.

Selain itu standard akunting juga perlu diperhatikan. Jika perusahaan sering tukar menukar standard yang di pakai demi mempercantik laporan keuangan, ini adalah perusahaan yang kita mau hindari.

Contoh: Saya ingat di tahun 2014 atau 2015, pernah melakukan analisa terhadap LK salah satu perusahaan tbk. Walaupun saat itu perusahaan melaporkan keuntungan, namun di neraca Aktiva dan Pasiva tidak imbang dan revisi tidak dilakukan hingga berbulan-bulan setelah mendapat teguran dari badan pengawasan. Perusahaan yang tidak jujur hingga satu saat akan kebongkar, dan saat itu terjadi, pasar akan menghukumnya habis-habisan.

11. Apakah perusahaan memiliki keunggunal kompetisi?

Fokus utama tentang point ini adalah MOAT.

Contoh: ICBP. Masih ingat begitu Mayora pertama kali meluncurkan Bakmi Mewah, tidak lama kemudian Indomie pun langsung meluncurkan produk yang sama dengan merk Real Meat. Toh, sebagai produsen mie instant terbesar di tanah air alias market leader, Indomie tidak mungkin tinggal diam saat pangsa pasarnya di coba rebut oleh pesaing dan menurunkan reputasinya dan brand imagenya. Toh, jika mengingat mie instan, siapa tidak langsung kepikir Indomie?

12. Apakah perusahaan memiliki pandangan jangka pendek atau jangka panjang terhadap laba?

Menurut Fisher perusahaan yang patut kita invest adalah perusahaan yang memiliki visi jangka panjang terhadap laba.

Perusahaan hebat adalah yang berani mengambil langkah yang dibutuhkan jika pun secara jangka pendek laba bisa terpangkas namun demi pertumbuhan bisnis dan keuntungan yang jauh lebih besar secara jangka panjang.

Tidak jarang kita dengarkan ucapan dari management bahwa mereka menjamin harga saham perusahaannya dalam kurun waktu tertentu akan naik ke harga tertentu. Toh, harga saham adalah tanggung jawab bursa, sedangkan kinerja perusahaan barulah tanggung jawab perusahaan, PLEASE JANGAN SALAH FOKUS!

Contoh: Management beberapa perusahaan tbk yang pernah memaparkan hal tersebut. Menurut saya ini adalah langkah yang sangat arogan. Tidak ada seorang pun yang bisa secara pasti bisa menjamin harga saham di timeframe tertentu, apa yang membuat mereka begitu yakin. Lagi pula, jika perusahaan terlalu peduli terhadap pergerakan harga sahamnya, cenderung mereka akan lebih mementingkan jangka pendek kebanding janga panjang, kemungkinan manipulasi data pun lebih cenderung terjadi. STAY AWAY.

13. Apakah ekspansi perusahaan akan merugikan pemegang saham?

Perusahaan bisa berekspansi lewat banyak cara, antara lain: private placement (mendapatkan investor yang mau membeli saham dari perusahaan langsung), menerbitkan saham baru (Right issues), pinjaman bank atau yang paling ideal menggunakan uang dari kas internal.

Contoh: LPPF dan LPCK. Walaupun perusahaan memiliki fasilitas pinjaman yang siap untuk di pakai, namun capex selalau datang dari kas internal, sehingga tidak menimbulkan beban keuangan tambahan.

14. Apakah management berani menceritakan tidak hanya hal baik namun juga hal buruk tentang perusahaan ke publik?

Coba dipelajari publikasi paparan management saat kinerja buruk, apakah management akan menjelaskan dengan apa adanya atau mencoba menutupi atau beralasan dan melemparkan tanggung jawab.

Contoh: SCMA dan SMSM. Saya beberapa kali berkomunikasi dengan Investor relations dari masing-masing perusahaan dan mendapat pengalaman yang sangat berkesan. Kedua perusahaan memiliki etika yang baik terhadap transparansi. Masing-masing menceritakan apa adanya tentang kesulitan pertumbuhan yang sedang di alami di tahun 2016. SCMA emang kalah saing dari kompetitor dalam audience share, sedangkan SMSM tetap mempertahankan harga demi menjaga marjin laba.

15. Apakah management memiliki integritas yang tidak terbantahkan?

Point ini cukup sulit sebetulnya. Dalam bisnis, kita harus memahami bahwa dalam kondisi tertentu tidak mudah untuk menjaga integritas apalagi jika hal tersebut akan berefek negatif dalam jangka pendek terhadap kinerja perusahaan. Namun jika kita berhasil menemukannya, maka itu adalah perusahaan yang patut kita invest.

Contoh: ROTI. Berani jujur dan tidak memanfaatkan situasi yang salah demi keuntungan perusahaan. Atas kejujuran tersebut sempat heboh dan membikin banyak issue negatif yang merugikan perusahaan, namun integritas perusahaan terjaga, dan itu sangat sulit kita temukan di Indonesia.

Jadi itulah 15 pedoman yang patut kita cek satu per satu untuk menemukan perusahaan superb.

Ok, setelah kita mengetahui apa yang mau di beli, sekarang mari kita lihat kapan waktu yang tepat untuk membeli?

Filosofi Fisher sangat sederhana. Waktu yang tepat untuk beli saham adalah saat memiliki uang nganggur.

Namun investor umumnya terlalu fokus kepada sirklus bisnis dan pergerakan bursa untuk menentukan waktu yang tepat untuk beli, padahal jika harus fokus ke sana, masih banyak faktor lain yang akan mempengaruhi penilaian kita, seperti: PDB, inflasi, neraca perdagangan, suku bunga dll.

Menurut penelitian Fisher, membeli pada harga puncak pun setelah 25 tahun tetap bisa memberikan imbal hasil antara 20x hingga 25x. Jadi, fokuslah pada apa yang mau di beli bukan kapan harus membeli.

Lalu Fisher juga memberikan pandangan tentang waktu yang tepat untuk jual.

Menurut Fisher hanya ada 3 alasan mengapa investor ingin menjual saham:

  1. Membuat kesalahan dalam analisa dan menjadi makin jelas bahwa potensi kinerja yang diharapkan meleset jauh dari fakta. Dalam hal ini, kejujuran diri sangat dibutuhkan untuk mengakui kesalahan dan menjualnya sesegera mungkin baik itu dalam posisi untung tipis (syukur) atau sudah loss banyak. Cutloss demi membebaskan uang untuk ditanamkan kembali di saham yang benar akan jauh lebih menguntungkan dibanding mempertahankan ego yang tinggi demi membantah kesalahan.
  2. Jika perusahaan memenuhi makin sedikit dari kriteria 15 pedoman banding sebelumnya. Butuh fokus dan follow the story untuk memberi penilaian ulang terhadap kelayakan perusahaan dalam 15 pedoman atas. Fisher juga memberi satu arahan untuk nge-test apakah perusahaan masih memiliki kualifikasi untuk digolongkan growth company. Tanyakan diri kita, apakah di puncak sirklus bisnis yang berikut, EPS perusahaan akan bisa lebih besar dari kini?
  3. Alasan terakhir ini agak langka (menurut Fishser) namun boleh dilakukan adalah switching saham. Kadang dalam situasi special, sebuah kesempatan beli yang begitu menarik timbul sehingga membuat penukaran stock menjadi layak. Namun, hal ini harus di lakukan dengan pemikiran yang matang. Investor cenderung lebih kenal dengan saham yang sudah di pegang lama, namun tidak demikian dengan saham yang baru di beli, sehingga prospek yang dikirakan bagus di saham baru ini belum tentu demikian dalam kenyataan. Jadi harus sangat hati-hati jika ingin melakukan switching.

Sebagai tambahan Fisher juga memberikan 1o arahan apa yang patut investor TIDAK LAKUKAN:

  1. Jangan beli perusahaan kemaren sore yang penuh promosi diri
  2. Jangan abaikan perusahaan bagus hanya karena sahamnya tidak liquid
  3. Jangan beli hanya karena laporan tahunan di tulis dengan cantik
  4. Jangan berasumpsi valuasi mahal, berarti harga saham tidak bisa naik lagi
  5. Jangan permasalahkan sebuah transaksi hanya karena beda harga 1-tick
  6. Jangan terlalu menekankan pentingnya diversifikasi
  7. Jangan takut membeli saat terjadinya perang
  8. Jangan menentukan posisi beli berdasarkan chart hi dan lo masa lampau
  9. Jangan kejar suatu posisi yang sedang digoreng walaupun growth stock
  10. Jangan ikuti massal

Inilah ringkasan saya dari buku Common stocks and uncommon profits, mungkin masih banyak detail yang tidak sempat saya paparkan dalam article ini, karena untuk memaksakan 1 buku kedalam 1 article membutuhkan nekad yang tinggi.

Untuk lebih detail, silahkan dibaca langsung dari buku aslinya.

Jujur buku ini cukup membosankan karena bahasanya sangat bertele dan stylenya sangat kuno sehingga menambah kesulitan dalam pemahaman, namun saya senang akhirnya kelar juga. Harus diakui, ilmu yang diajarkan dalam buku ini luar biasa hebat, 15 pedoman atas bisa menjadi acuan kita untuk bertanya kepada management/IR perusahaan kedepannya.

(Yey… anda masih bisa bertahan membaca sampai di sini, luaaaar biasa!!!)

Semoga article ini bisa bermanfaat bagi anda! Jika ada bagian yang agak membingungkan mohon dimaklumin dan anda bisa tanya ke saya lewat kolum komentar dibawah.

Dalam article ini saya juga banyak menggunakan contoh-contoh perusahaan lokal supaya yang baca bisa lebih gampang mengerti dan terasa dekat, tapi semua adalah opini pribadi saya untuk keperluan ilustrasi bukan rekomendasi. Jadi, mohon jangan keliru nanti.

Ok sekian untuk pembahasan buku perdana ini. Selamat menikmati!

Salam longterm investment!

Alianto Chan