Menambang EMAS di tumpukan sampah DKFT!

Progress Smelter DKFT

Progress Smelter DKFTSaya pertama kali mendengar DKFT dari salah satu milis, dimana ada seorang member yg sedang panik dan bertanya mengapa harga saham tersebut terjun bebas dan akhirnya di suspensi dan mengapa pula pendapatan perusahaan bisa tiba-tiba menjadi nol, sangat mengejutkan.

Sudah sekian banyak kali kita melihat bagaimana bahayanya seorang investor yg hanya peduli pada pergerakan harga saham, tidak tau menau soal fundamental, hingga pada saat harga saham tidak lagi bergerak sesuai dgn harapan maka timbullah pertanyaan dan kecurigaan dan pada akhirnya kepanikan serta kerugian.

Mungkin anda sedang bertanya mengapa saya bahas saham DKFT yg super jelek ini? Well, kadang barang jelek tidak sejelek yg terlihat dari permukaan. Jika kita mau menyisihkan sedikit waktu utk mengenalnya lebih dalam, barang kali isinya tidak sejelek yg terlihat dari cover. Dan inilah yg saya lihat di saham DKFT sekaligus menjadi¬†saham perdana saya di katagori “TURNAROUND” alias saham yg berpotensi balik badan dari kepurukan.

Ok, first thing first. Ayo kita cari tau dulu apa sih DKFT ini?

Central Omega Resources tbk (kode emiten: DKFT) adalah perusahaan yg bergerak di bidang tambang biji nikel. Selama ini perusahaan hanya menjual biji nikel mentah dengan pangsa pasar 100% luar negeri alias export. Secara struktur perusahaan, 75% saham DKFT dipegang oleh perusahaan China (PT. Jingsheng Mining), sedangkan 25% sisanya oleh publik.

Jika kita cek kembali hasil kinerja 5 tahun terakhir, terlihat bahwa sejak tahun 2011 (pasca backdoor listing di 2008) hingga 2013 perusahaan sebetulnya mampu mencetak pertumbuhan laba positif yang cukup bagus (CAGR pendapatan +33% dan laba +38%). Tapi sejak berlakunya UU MINERBA di tahun 2014, aktivitas export DKFT pun terpaksa dihentikan total. Dan itulah alasan mengapa tiba-tiba pendapatan DKFT bisa menjadi nol dan sudah berjalan sejak 2014 hingga kini.

Kabar baik datang di awal tahun 2015 dimana perusahaan berhasil mendapatkan investor China (Macrolink Group) utk menggandengnya dalam pembangunan smelter. Sesuai dgn press release perusahaan, proyek smelter ini akan di bangun dalam 3 tahap dan rampung total di 2019 dgn total capex estimasi 5,5T. DKFT mengambil porsi 40% (capex = 2,2T).

Untuk tahap 1, di pubex yg di selengkarakan di bulan Juni ini, perusahan menyampaikan bahwa smelter tahap 1 akan rampung di awal tahun 2017 dan akan mulai produksi dgn volume sebesar 72.500 ton NPI/tahun, dan angka ini akan meningkat bertahap hingga 100.000ton/tahun hingga akhir tahun 2017. Direksi juga mengaku progress pembangunan smelter tahap 1 kini sudah mencapai 80%.

Sedangkan utk tahap 2 dan 3 di rencanakan akan rampung di tahun 2018 dan 2019 dgn peningkatan volume masing-masing 100.000ton/tahun, jadi pada akhirnya, jika semua berjalan sesuai rencana, maka produksi nickel pig iron (NPI) DKFT adalah 300.000ton/tahun.

Jika di lihat dari simulasi yg di sampaikan direksi di pubex kemarin, maka estimasi kinerja perusahaan akan seperti ini:

simulasi-1

simulasi-2

Ok, sedikit penjelasan tambahan! Jika LME adalah USD8.800/ton dan kurs adalah Rp13.500, mengapa harga jual NPI/ton adalah Rp11.880.000 (USD 880)? mungkin anda bertanya. Karena kandungan nickel tambang DKFT adalah 10%-12% ni, sehingga otomatis harganya adalah 10% dari besi utuh. CMIIW!

Lalu apakah laba yg diperhitungkan sudah termasuk beban bunga dari utang yg dipinjam utk membangun smelter? Terima kasih kepada teman saya yg sempat hadiri acara pubex dan sudah terkonfirmasi oleh management bahwa beban tersebut sudah termasuk dalam hitungan simulasi atas.

Ok, jika benar harga LME di 2017 nanti bisa kembali diatas USD8.800 sehingga apa yg disimulasikan di table atas bisa saja valid, maka dengan laba Rp179,326M di 2017, dan asumpsi dividen pay-out-rasio sama yaitu di average 3 tahun = 78,61%, maka dividen yg akan dibagikan adalah Rp140,968M, dan dengan total saham yg di tempatkan saat ini sejumlah 5.638.246.600 lembar, maka DIVIDEN per saham adalah = Rp25,-. Dengan harga saham saat ini berada di Rp200, maka dividen yield adalah 12,50%. Cukup menarik. Perusahaan ini rajin membagi dividen besar menurut saya persis seperti ITMG dimana mayoritas kepemilikan adalah pihak asing, BUMN Thailand, hasil keuntungan di ITMG akan setiap tahun di tarik ke perusahaan induk pusat di Thailand sana. Sedangkan dalam hal DKFT, labanya lewat dividen akan ditarik ke perusahaan pusat di China.

Jadi kesimpulannya, jika anda berharap saham ini anda pegang utk investasi longterm hingga puluhan tahun kedepan, saya tidak tau apakah layak. Tapi jika anda adalah risk taker untuk mencoba invest di perusahaan yg terkesan bermasalah tapi memiliki potensi yg luar biasa, mungkin ini adalah salah satu saham yg layak di pertimbangkan. Namun, layak atau tidak itu kembali ke analisa masing-masing dan kenyamanan style investasi masing-masing pula.

Karena saya belum kebiasa membeli saham dalam katagori TURNAROUND seperti DKFT, jadi posisi saya hanya sangat kecil yaitu MAX 1/2 alokasi saham saja. Ini sekaligus menjadi pengalaman investasi saya dalam menambang emas di tumpukan sampah. Akankah DKFT bangkit seperti yg diharapkan di 2017? Waktu akan menjawab.

Selamat berinvestasi!