Sekilas saham yang ada di Portofolio – AISA

Produk Tiga Pilar Sejahtera

AISA – Tiga Pilar Sejahtera Food

LK AISA 2017: Q1, Q2 dan Q3 secara isolated!

Beberapa point yang mau saya highlights:

1. Menyangkut divisi Makanan. Terlihat dari LK 3xQ 2017 yang terlah dirilis, efek kasus beras hampir tidak ada efek sama sekali secara external terhadap perusahaan. Mungkin secara internal interlinknya baik itu secara kasus maupun secara beban divisi beras, maka akan turut nanti mempengaruhi LK secara overall, namun secara langsung ke divisi Makanan tidak ada.

2. Divisi makanan masih tetap mencetak margin laba yang stabil yaitu range dari 8% s/d 10%.

3. Divisi makanan walaupun dengan Pendapatan yang selama ini jauh kecil dibanding Divisi Beras, namun membukukan Laba yang lebih menarik.

4. Di sisi yang berbeda, Divisi Beras dengan harga beras “Premium” yang dijual, hanya mampu membukukan Margin bersih 5% saja, nahhh kini dengan adanya intervensi Pemerintah untuk menetapkan harga atas, maka akan sangat mempengaruhi profitabilitas dan hampir sudah terlihat AISA sudah mulai mengalami kerugian, disamping Brand Image yang telah sekian rusak (berdasarkan Revenue yang dicapai di Q3).

5. Dengan kondisi profitabilitas yang berjalan, tentunya akan membuat legah jika Divisi Beras bisa dilepas, karena divisi ini tidak menguntungkan lagi, namun memiliki beban yang besar terhadap fundamental perusahaan.

6. Dengan pertumbuhan divisi Makanan yang tumbuh 15% secara compound, maka jika nanti Divisi Beras berhasil di divestasi dan semua beban one-off atau lain-lain sudah kelar, maka Laba AISA bisa mencapai 230M-240M (mungkin 1 hingga 2 tahun lagi setelah divisi Beras kelar dan AISA belum bankrut), maka EPS AISA adalah Rp 75. Dengan harga saham AISA saat ini masih dibawah 500, maka PER adalah < 7x.

Dari table atas kita bisa lihat bahwa divisi Makanan sebetulnya masih tumbuh cukup sehat, naik 100% setiap 4 tahun alias CAGR 15%. Dan size Pendapatan pun tidak beda jauh dari emiten STTP (Siantar TOP) yang juga bergerak dibidang FMCG, dengan PER > 20x dan NPM 8% (namun belum membandingkan rasio-rasio lain).

Jadi, dari data-data atas saya simpulkan bahwa DIVISI BERAS harus di CUTLOSS! Makin bertele proses divestasi maka makin tidak jelas FUNDAMENTAL AISA akan menjadi. Mampukah AISA mengdivestasikan divisi Beras setelah 2 opsi yang ditawarkan sudah ditolak oleh Bond Holder?

Mari kita lihat dulu Beban Pinjaman AISA hingga Q3, seberapa parah fundamental AISA dalam waktu dekat ini?

Utang bank Jangka Pendek = 2,107T

  • Sindikasi Rabobank International total 1,275T,bunga COF + 2,35% p.a.
    Jaminan adalah Tagihan dan Persediaan divisi Beras, jatuh tempo 1 Maret 2018.
  • Citibank total 355M, bunga JIBOR + 330 bps p.a.
    Jaminan adalah Persediaan perusahaan, jatuh tempo 11 Maret 2018, namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi:

    1. TIDAK menggabung usaha dengan perusahaan lain, TIDAK mengakuisisi dan TIDAK menjual, menyewakan, mengalihkan atau melepas property maupun asset perusahaan.
    2. TIDAK melakukan transaksi selain selain transaksi usaha umum.
    3. TIDAK mengubah susunan pemegang saham.
  • JP Morgan total 288M, bunga JIBOR + 4,5% p.a.
    Jaminan adalah Persedian perusahaan, jatuh tempo 28 Juni 2018.
  • Bank UOB total 160M, bunga COF + 400 bps p.a.
    Jaminan adalah Persedian perusahaan, jatuh tempo 17 Nopember 2017.

Total Persediaan perusahaan hingga 30 September 2017 adalah sebesar 1,912T.

Utang bank Jangka Panjang = 207M

Selain Pinjaman Bank, Perusahaan juga memiliki Obligasi dan Susuk Ijarah I dengan total Rp 900M (belum potong biaya emisi), bunga 10,25% p.a. + fee Rp 30,8M p.a.ย dan jatuh tempo pada tanggal 5 April 2018. Obligasi dan Susuk Ijarah I dijamin oleh Aset Tetap perusahaan.

Terus terakhir, Perusahaan memiliki Susuk Ijarah II dengan total nilai Rp 1,2T (belum potong biaya emisi), fee 126,6M p.a. jatuh tempo pada tanggal 19 Juli 2021 dengan jaminan Aset Tetap dari PT Sukses Abadi Karya (SAKTI/anak divisi Beras).

Dari data atas kita juga bisa lihat bahwa pinjaman yang berkaitan langsung dengan divisi Beras adalah:
– Rp 1,275T dari Rabobank International yang akan jatuh tempo pada tanggal 11 Maret 2018, dan
– Susuk Ijarah II sebesar 1,2T yang jatuh tempo masih sangat lama.

Sedangkan untuk pinjaman lain, lebih untuk modal kerja divisi Makanan (tafsiaran saya) dengan nilai sebesar Rp 832M jangka pendek dan 207M jangka panjang.

Jadi boleh juga kita simpulkan bahwa beban utang yang paling mendesak adalah Rp1,275 dari Rabobank ini karena divisi Beras kini bermasalah sehingga kita tidak tau apa tindakan yang akan diambil oleh pihak Kreditor dan yang pasti perusahaan tidak memiliki uang untuk membayarnya saat ini, untung saja jaminan yang diberikan adalah berkaitan dengan divisi Beras saja, sehingga mudah-mudahan ini tidak akan mempengaruhi asset perusahaan yang lain, namun itu kita juga tidak bisa pasti hanya secara garis besar terlihat demikian.

Untuk refinancing utang divisi Makanan sebesar 832M secara garis besar kita lihat sih tidak ada kendala, namun karena kasus Beras yang menimpa perusahaan, kita juga tidak pasti langkah apa yang akan ditempuh oleh para Kreditornya.

Jadi ada beberapa ketidakpastian disini dan semuanya bertujuh pada divisi Beras. Jika berhasil di divestasi maka saya yakin kedepannya AISA akan jauh membaik dan dengan valuasinya yang mungkin berada di PER < 7x adalah berkah buat yang berani ambil tindak ASALKAN PERUSAHAAN TIDAK DIGUGAT BANKRUT.

Jika ada input dan info lebih detail, mohon teman-teman bisa post dibagian komentar dibawah article ini! TQ!

Sekian untuk pembahasan saham AISA yang ada di porto saya. Dari waktu ke waktu saya akan rilis lagi catatan-catatan saya tentang saham-saham yang ada di Porto.

Salam longterm investment,

Alianto Chan

Tags

Author: aliantochan

I'm just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it's a way of life. The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person. Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same. Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

55 thoughts on “Sekilas saham yang ada di Portofolio – AISA”

  1. Pak uda itung icr? Interest coverage ratio..
    Ga ngeri pak liat beban bunga utang naek dan laba usaha makin kecil.. ? Dijamin q4 jebol labanya efek bunga yg harus di bayar dan divisi beras ga maksimal jualan. Beberapa pabrik uda stop produksi dan di segel

    Lalu salah satu syarat utang itu aisa ga bole menjual aset.. dah pasti susa jual divisi beras.. gimana mau divestasi klo syaratnya aja uda di lock..

    Trakir kas aisa makin turun sisa separo dibandinh taun lalu.. ga serem pak?

    1. Keliatannya ms banyak PR ya buat AISA pak… Thx ya dah banyak masukan. Itu bpk2 yg komentar di bawah bpk juga ya. Koq namanya mirip2 hahaha… Ada guru wira, musuh wira, bukan wira dll haha

      Pinjaman jangka pendeknya emang cukup menghawatirkan dan belum jelas way out nya pak. Dan anda benar fundamental akan makin buruk jika divisi Beras ms bertele ga beres2. Solusi idealnya menurut sy tetap di jual dan dgn kondisi saat ini potensi transaksi penjualan divisi beras cenderung rugi. Namun klo ga di lepas rugi makin besar.

      Klo masalah syarat sih, semua bisa dibicarakan pak. Klo anda sebagai kreditor, anda lbh pentingkan syarat atau uang anda kembali, kuncinya itu saja sih. Gmn dia mampu meyakinkan kreditor.

    2. Beras masuk dalam Fast Moving Item(FMI), Turnover nya sangat tinggi jika dibandingkan dengan barang lain. Perusahaan dagang pasti ada barang kategori FMI karena perputarannya yang tinggi bisa membantu barang lain ikut laku.

    3. Benar sekali pak, namun sayang beras marjinnya tipis modalnya besar mirip komoditas toh krna makanan pokok, pokok sekali klo di indo, dgn kombinasi premium dan curah, aisa hanya mampu mwmberikan kontribusi marjin bersih 5%. Dan ini sesungguhnya dah bgs sebetulnya. Sayangnya pemerintah menerapkan bwrbagai aturan yg membuatnya mati langkah.

      Kini harga atas di patok, kira2 sisa brpa % marjin aisa di divisi beras, itu yg jadi masalah.

      Hancurnya brand sih jujur ga terlalu masalah jika kita bicara barang pokok, skrg gini, akan menjadi masalah klo pilihan diberikan, klo ga ada pilihan, org pst ttp beli, tp di dunia bisnis kenyataannya gitu lah, mana ada yg tanpa kompetisi.

      Dgn kondisi saat ini, aisa sebaiknya cut divisi beras dan balik fokus di makanan saja sy kira, akan lbh cerah prospek kedepan, akan lbh mirip seperti STTP nnti.

  2. Oh iya ketinggala. Salah satu relasi (owner) masi terlibat skema jual beli GOLL yg pembayarannya pun tidak terupdate.. bagaimana pendapat pak al?

  3. Hmmm tangung kliatanya…
    Pertama
    Klo pak al liat di lk. Itu aisa ada pendapatan lain” 40b dr denda krn lon dibayar lunas penjualan goll… Skarang coba pak al adjusted lk nya angep pendapatan lain” tidak ada krn itu bukan dr laba bisnis inti… Satu hal lagi pembeli GOLL itu relasi . Denda itu hanya kantong kiri kantong kanan . Jadi fiktif pendapatan lain” dia

    Kedua
    Klo pak al liat lagi ada biaya konsultan hukum gr kasus hukum dia.. sebesar 100B di lk.. dan itu lon terealisasi di arus kas maupun di income statement sbg beban lain” coba klo di adjusted lagi .. kira” aisa q3 2017 itu separah apa? Laba tahun berjalan dia hanya 176B loh pak

    Ketiga.
    Katakanlah bisnis beras bs dijual.
    Saya py analogi.
    Saya py 3 toko. Toko saya uda py pelangan maupun omset ok hanya saja salah satu toko saya banyak utang dan trlibat hukum disegel polisi… Lalu saya mau jual toko itu ke pak al… Pak al apakah bersedia membeli toko saya?

    Terima kaaih dan mohon maaf klo ada kekeliruan

    1. Iya pak, dalam jangka pendek bakal banyak pos pos yg one off yg tdk jelas makanya utk jangka pendek valuasi AISA susah di ukur tp kita berharap dalam 1-2thn mendatang, semua kasus bs dibereskan sehingga murni sisa divisi makanan.

      Seperti sy blng secara langsung tdk ada efek kasus divisi beras terhadap divisi makanan. Seperti breakdown table sy diatas, jd masalah divisi beras harus di selesaikan dlu.

  4. Jika berhasil di divestasi maka saya yakin kedepannya AISA akan jauh membaik dan dengan valuasinya yang mungkin berada di PER < 7x adalah berkah buat yang berani ambil tindak ASALKAN PERUSAHAAN TIDAK DIGUGAT BANKRUT.

    Numpang tanya, tindakan apa yang Bang Ali sudah lakukan untuk turut mendapatkan berkah? Apakah Bang Ali udah jual kolor untuk AD AISA? Kok avg nya blm turun bnyk Bang Ali? Atau jangan2 Bang Ali termasuk yang tidak berani ambil berkah?

    1. Klo kolor sy mahal, tentu boleh saja pak, sayang kagak laku hahaha…

      Hmmm… tp Good question pak, tindakan apa yg telah dilakukan?

      Jujur sy sendiri ms blm konfiden atas nasib aisa selagi masalah divisi beras ms membebani fundamental aisa. Namun jika nnti sy yakin divisi beras bisa kelar, saya cukup berani utk tambah posisi apalg diharga yg saya yakin sangat undervalue.

      Menurut bpk gmn?

  5. Aliantochan asal mana? Sumatra? Jepang? Koq bahasanya terkadang rada aneh, ambil tindak, semuanya bertujuh. Maksudnya apa ya?

    1. Dengan mengeluarkan porsi divisi beras pak seperti table atas. Sehingga yg sisa hanyalah divisi makanan. Tentu ga akan langsung segitu seperti sy ingatkan, saat ini maupun kedepan hingga divisi beras tuntas akan ada biaya2 yg tdk diduga baik itu krna rugi dlm divestasi, biaya legal, biaya phk, dll yg kita blm tau apa… Tp klo divisi beras nnti dah benar2 kelar, maka aisa akan sangat mirip dgn pt siantar top tbk (STTP).

  6. Kalau mau skeptis, kenapa margin beras, yang notabenenya beli beras murah dikemas ulang dijual premium marginnya tipis sekali ?
    Ada yang bisa jawab

    1. Ini kembali antara percaya sama LK dan tidak. Jika tdk percaya dgn LK sudah tdk ada gunanya membahas saham ini pak, toh apa menjadi pegangan kita.

      Namun klo percaya itulah faktanya dan itu napa AISA blng di pubex, dgn HET skrg, divisi berasnya sdh tdk menguntungkan.

      Dan jujur menurut sy sembako pokok wajar2 saja marjin tipis krna mainnya di kuantitas. Coba cek kompetitornya yg dah listing di bisnis beras, apakah demikian juga? Itu mungkin bs memberi sedikit perbandingan dan gambaran.

  7. Pak al.
    Itu yg nama aneh” Bukan saya yg nulis. Mungkin haters yg nyangkut akut pak tolong ditenangkan ..

    Back to topic

    Pak al bilang divisi makanan ga terpengaruh krn kasus beras
    Coba pak al liat notes 33 segmen operasi

    Itu divisi makanan sec qoq beban keuangannya naek lebi cepat dr laba usahanya Beban keuangan naek 57% qoq 2017 dan laba usaha hanya naek 38%>>>> bapak ga serem klo cuan bapak kalah ama bunga utang?

    Dr notes 33
    Klo diliat opm divisi beras q2 sktr 16% q3 turun jadi 15% … Kesimpulan marjin turun bunga utang naek.. npm pasti kegerus tampa di hubungkan ama divisi beras

    Yg pak al optimis kan skenario baik’ bagaimana klo terjadi skenario buruk tyt mengalami kerugian… ?

    Kas aisa q3 2017 hanya sisa 120B untuk beban bunga aja uda ga cukup pak. Apalagi klo sampe rugi?

    Itu owner apa ga pusing ? Urusan goll belom beres..ditambah aisa .. jgn lupa goll juga py utang bank yg ga kalah besar jg… masalah goll = masalah aisa. Krn terkait

    Terimakasih atas responya

    Salam

    1. Pak Wira lihat beban keuangan itu secara consolidated ya? krna klo secara segement operasi tidak naik tuh….

      Menurut sy klo kenaikan/penurunan marjin 1-2% di periode tertentu itu biasa saja pak, toh namanya bisnis pasti ada saatnya penjulaan lbh gampang ada juga saatnya penjualan lebih susah efek dari faktor external seperti kompetitor dll. Tapi tentunya, jika marjinnya terus meningkat, itu makin joss karena ada kompetitive edge disitu.

      Emang pak masalah beban utang ini hrs kita cermati lebih detail. karena jika dilihat dari catatatn 33 tentang segment operasi, bunga yg dibebankan ke divisi makanan tidak terlalu besar, namun seperti anda sudah mencoba jelaskan juga divisi beras dan DIVISI LAINNYA (yang notabene tetap menjadi beban perusahaan) cukup besar. However jika dibaca dari jelasan utang, jaminannya adalah asset tetap dari pt sakti (anak dari divisi beras) dan fee yg dibebankan ke perusahaan adalah 168M per tahun. sangat besar.

      Masih banyak yang abu-abu ya…. hufftttt~~~!

  8. Pak al bikin hanya cagr laba. Rasanya lebi fair klo dibuat cagr beban keuangan di divisi makanannya. Jgn liat cuannya bertumbuh tp liat utangnya kayak apa larinya cagr…
    bukankah lebih mantep laba opm tetap tapi beban menurun jadi lebih efisien ?

    Klo di bilang 16-15% biasa aja. Coba pak al bayangkan dengan .. pak al dagang kue opm 15% sama ama opm taun lalu. Tapi pak al ngutangnya tamba banyak.. bayar bunga lebih banyak lg.. apakah cuan bapak tambah banyak?

    Lalu klo di notes. 33 itu pak al bisa liat divisi makanan liabilitas dia ga kalah gede ama divisi beras. Ini ibarat bom waktu aja kapan meledak… Lom lagi lini bisnis baru caprison.. emang bs langsung cuan? Bkar duit dl pak cari omset…

  9. Klo pak al penasaran.
    Coba liat di neraca.utang usaha di q3 cuma 120 B sisanya mayoritas utang berbunga baik obligasi maupun bank..

    120B ini gabungan loh pak utang usaha dr supplier modalin aisa tanpa bunga untuk semua divisi

    Sekarang bapak cek notes 33 itu liabiliats divisi makanannya 3T pak…mayoritas utang berbunga.. aset divisi makanan 4T
    Dr sini aja kliatan roa nya der nya divisi makanan kayak apa… Ga serem lagi pak?

  10. Sama sama pak al. Gutlak..
    Perusahaan konsumer yg baik selain memiliki moat yg tercermin dr gpm opm npm bagus.. (brapa aja harga nya walau naek tetep dibeli) dan merk yg kuat…

    Perusahaam itu harus mempunyai bargain yg kuat di supplier bahan bakuna… Tercermin dr utang usaha yg lebi tinggi dr utang berbunga… Ibaratna perusahaan itu modalny bahan baku free, banyak vendor mau supply ke dia.tanpa syarat macem” kayak bunga or keringanan term of payment……

    Klo penasaran cek aja unvr brapa utang berbunga dia dan brapa utang usaha dr supplier dia yg tanpa bunga…. Asik ga klo pak al py pabrik roti yg dimodalin vendor? Bukan dr utang berbunga…

    Jgn abaikan interest coverage ratio untuk setiap perusahaan yg py utang segaban. Awal dari kehancuran perusahaan itu dr kacau nya utang. berbunga..

    Akhir kata. Pak al gutlak.. sukses selalu

    1. @Wira Wijaya
      Kalau Pak Wira jadi direksi, apa hal pokok (misalnya 3 buah) yang akan dikerjakan?
      Kalau calon investor, apa mau masuk sekarang, “wait and see”, atau gak usah masuk, wong gak jelas ini barang?

      @Bang Ali. Pertanyaannya sama.

      Makasih semuanya

    2. Klo sy ga tau pak, jika sy lbh tau dr management mau gmn, sy uda lamar jd direktur perusahaan. Sy hanya berharap mrk bs dgn cepat dan tepat selesaikan masalah divisi beras.

      Trus menyangkut entry di shm ini, sy juga ms wait n see, menanti kejelasan tentang utang perusahaan atau entry jika sy sdh sangat yakin utang jangka pendek bs kelar dgn baik.

  11. Iya…hutang memang punya sisi positif sebagai pengungkit keuangan. Tapi…banyak dirut dan direktur keuangan lupa bahwa ada asumsi dalam teori pengungkit hutang yakni pendapatan (bersih) tumbuh, minimal tidak anjlok. Dalam kasus pendapatan turun drastis, CEO yang rajin berhutang seperti di AISA dan rajin membuat manuver gak jelas pasti pusing tujuh keliling.

    1. Benar pak, double edge sword (pedang 2 mata). bgitu kondisi fundamental memburuk, memberikan masalah yg besar! haha! smoga aj, management bisa menyelesaikan masalahnya, kita pantau dulu saja!

  12. Iya. . Tidak melalukan apa-apa adalah suatu taktik yang bisa jadi lebih baik daripada melakukan sesuatu.
    Eh lupa…Selamat tahun baru ya Bang Ali.

    1. Pak Raden
      sori telat balas karena saya baru liat
      klo untuk kasus aisa saya tidak tertarik,dan saya tidak punya posisi di saham ini, simple aja apakah aisa pro investor ritel? kapan trakir bagi dividen?

      slamat tahun baru

  13. Selamat tahun baru juga Pak Wira

    Perusahaan yang ketika jaya suprana tidak mau memberi deviden akan dihukum (sebagian) investor. Akhirnya, kepelitan berbuah buruk. Saat roda berputar ke bawah, investor langsung pencet tombol sell. Sudah terjerembab pun, (sebagian) investor tetap segan meliriknya lagi. Nasib AISA.

  14. Pembahasan tentang dividen adalah perdebatan classic. Apakah perusahaan patut bagi dividen, jika iya brpa?

    Apa yg bpk sampaikan emang benar juga, jika perusahaan tdk membagikan dividen bs menciptakan persepsi bahwa perusahaan tdk peduli dan tdk pro terhadap investor. Toh, investor kan tdk mau ambil resiko krna ga ada yg tau masa depan, maka setiap ada kesempatan mrk akan berharap dividen dicairkan sehingga sudah pasti menyumbang terhadap pengembalian modal mrk. Jd dr sudut pandang investor dah benar.

    Tp jika kita lihat dr sudut pandang perusahaan, ceritanya kebalik pula. Bayangkan jika kita punya perusahaan, dan perusahaan ini bertumbuh namun krna ekspansi, pinjam bnyk duit. Skrg sebagai perusahaan, tentunya kita akan utamakan pelunasan utang dlu jika emang uangnya tersedia, dibanding byr ke investor, sehingga beban keuangan perusahaan bs lbh ringan.

    Selain itu, jika emang emang laba bs lbh bsr dan menguntungkan dibanding ekuitas yg dikurangi demi meng”happy”kan investor, perusahaan emang patut juga ambil prinsip dahulukan dlu perusahaan, supaya di kemudian hr, semua diuntungkan sehingga perusahaan makin maju dan bsr dan investor bs mendapatkan return yg lbh tinggi lwt dividen NANTInya.

    Jadi susah kita blng mana yg lbh benar, yg ada adalah mana konsep yg lbh bisa kita terima. Dua2nya benar namun ke dua nya melihat dr sudut yg beda.

    1. Oh ya ada juga opsi lain seperti kita lihat di sebagian emiten. Walaupun perusahaan ttp ekspansi bahkan tambah pinjaman, disisi lain mrk ttp rutin membagikan sedikit dividen salah 1nya ROTI. Again, tdk ada yg benar atau salah, balik ke pandangan masing2 apa yg cocok dgn pemikiran kita.

    2. wah langsung di bahas pak al , terima kasih

      Btw dividen itu satu screening awal saya, tentu ada kriterianya, brapa payout rationya dan berapa yieldnya, selain itu apakah rutin ato tidak?
      selain itu tentu bukan asal dividen sekian lalu layak haka, di liat lagi asal dividennya,, perusahaan cash bejibun tapi no growth dan dia bagi dividen tentu beda dengan perusahaa dnagn cash standar di industrinya tapi masi ada growth,

      Prospek Bisnis/model bisnis nya lebih menjadi pertimbangan utama saya dibanding analisa ratio belaka,

      regards
      Wira Wijaya

  15. Untuk kasus roti, saya simple aja
    coba bapak cek di lk notes bagian pendapatan detil
    disitu disebut pendapatan detil dia dari roti tawarnya, dan paling banyak jualan via modern market,dan paling banyak returnya

    simple aja pesaingnya banyak ga yg uda masuk di roti tawarnya,, ? bahkan sekelas prime bread belom masuk roti tawarnya,, coba bapak bayangkan klo di etalase indomaret/alfa ada roti tawar prime bread?

    kedua roti sedang bakar duit dengan bangun market di filipin yang notaben itu pasr utamanya qaf sebuah perusaan salim group yg bergerak di food indstry ,

    selain itu saya tidak sreg ama bisnisya ROTI selain utang nya besar, sec yield diveden pun tidak menarik

    Regards
    Wira Wijaya

    1. Setelah saya kembali belajar supply chain management di indonesia X saya makin sreg sama ROTI sesungguhnya pak. Tantangan supply chain industri ini besar, utk mengimbangkan efisiensi biaya serta efisiensi waktu. Dikit salah, maka roti akan menjadi pakan ternak hahaha…

      Roti adalah perusahaan bgs dan mengapa tiba2 bgitu byk roti di estalase? Ya krna emang industri ini sangat menarik jd pada mau icip kuenya. Apakah dgn bgitu byk saingan bisnis ROTI kemudian terpukul? Ya tentu saja seperti yg sdh kita saksikan. Ga perlu bawa politik juga, emang saingan sebuah tantangan bkn krna efek des kmrn ๐Ÿ™‚

      Namun dr segi valuasi sy kelewatan konfiden, ini shm mahal dgn bottom line yg biasa2 saja, tp kedepan ms misteri, kedepan sy optimis bgs. Filipina adalah negara dgn penduduk ke 2 yg paling bsr di asia tenggara dan demografinya mirip sekali. Itu juga alasan mengapa byk yg ekspansi keluar dr indo slalu larinya kesana dlu, contoh: alfa, sido kini roti.

  16. tambahan info aja dari sisi manajemen pun roti ini sedang melakukan repo saham alias gadai saham di harga 1250 persis sebelom right issue dimana psp salim justru tidak mengambil hak nya untuk menebus, seusatu yang sedikit ganjil menurut saya

    bapak bisa cek ke idx bag pengumuman . mengenai gadai saham yang dilakukan ROTI dalam keterbukaan infomasinya

    terima kasih
    Wira Wijaya

  17. Silakan aja klo itu pendapat pak AL mengenai keyakinannya
    berkaca dari dividen yield dari situ sudah mengandung unsur discount price,,, dengan harga saat ini dan yield kisaran1 % ditambah ratio dan harga ROTI skg,,, mnurut saya masi premium. apalagi model bisnis dia seperti itu, saya bisa aja beli roti non branded yang keliling rumah toh secara rasa ROTI tidak istimewa di banding merek Home industry laen yg lebih murah dan enak

    laen cerita klo dibawah 1000 boleh saya itung ulang lagi valuasinya siapa tau ada bargain

    saran saya perhatikan saja ICR alias interest coverage ratio nya, perusahaan yag aggresif berutang dan agresif ekspansif klo ga dimbangin dengan NPM yang baik , akan sia sia walau pun GPM selangit… tidak efisien

    Semoga beruntung pak Al
    regards
    Wira Wijaya

  18. Tentang Deviden, saya setuju dengan tidak ada strategi tunggal penggunaan keuntungan perusahaan. Saya termasuk yang konservatif. Saya tidak terlalu suka manajemen yang terlalu ekspansif. Ukuran dasar yang saya gunakan untuk perusahaan normal (tidak dalam masalah) adalah keuntungan. Kedua, keuntungan yang sebagian direalisasikan. Bagi saya, ini itikad baik manajemen. Dalam proporsi yang wajar, baru sisanya untuk ekspansi dan bayar hutang.

    Ketiga, posisi hutang. Debt to equity ratio dan Debt to Asset Ratio menjadi ukuran saham selanjutnya. Sebenarnya, saya tidak suka hutang, kecuali jika kondisi mengharuskannya. DER kudu di bawah 1. Saya sendiri tidak suka mainan ‘marjin’ karena pada prinsipnya hutang juga. Menurut hemat saya, ukuran-ukuran hutang dapat bergerak ke atas, menjadi prioritas nomer satu untuk melihat perusahaan-perusahaan ‘cantik rupawan’, tetapi terlalu agresif seperti bisnis-bisnis milik om ‘boneka beruang’. Bisa tiba-tiba roboh. Kalau mundur lagi, bahkan pelajaran kita dapat raih dari Grup Astra yang saat ini kinclong di bawah kontrol asing. Tahun 1994, DER-nya sekitar 3x. Tahun 1997, perusahaan nyaris tumbang.

    Keempat, PBV. Kelima, ukuran-ukuran keluar masuk dana tunai (casf flow). Operating income harus +, jika negatif saya anggap fundamentalnya bermasalah dalam jangka pendek, dan mungkin jangka panjang. Kelima, arah angin bisnis. Yang terakhir tetapi bisa jadi naik jadi prioritas nomer 1 ketika kondisi makro memberi sinyal memburuk.

    1. Semua yg disebut sini dah benar pak, namun namanya rasio masing2 akan melihatnya dr segi yg berbeda, dan akan sangat sulit jika kita sangat konservatif utk bs mendapatkan shm yg bs memenuhi semua kriteria, umumnya pst ada timbal balik, bbrpa kondisi tdk bs dipenuhi namun kita melakukan penyesuaian krna ada indakator fa yg menurut kita dah ok.

      Sedikit menyangkut DER, klo sy sih tdk terlalu pusing dgn total debt. Yg sy lbh perhatikan adalah utang berbunga

      Ini sangat aplikable di sektor property, dimana utang adalah sebagian bsr sumbangan dr deposit dr pelanggan. Yg menjadi beban perusahaan adalah utang berbunga yg membebani kinerja, itu sy akan lbh concern.

    1. Tq pak, namun pergerakan harian tdk memberi jaminan, kita hanya berharap dr sisi fundamental dan kinerj masa depan semoga akan jauh lbh baik, krna itulah yg menjadi jaminan suatu shm akan naik dan bertahan atau tdk. Sama halnya dgn mppa hr ini juga rebound tinggi, smoga ini juga ada indikasi perbaikan FA bkn panas2 pasar sesaat saja.

  19. Ternyata Fidelity Funds, sebuah perusahaan investasi dari Luxembourg, masuk ke AISA mulai 16-01-18 sampai 19-01-18 (sumber: Otoritas Bursa). Reputasi perusahaan ini terkenal hebat dalam membeli perusahaan-perusahaan “sakit” tapi punya potensi besar untuk disehatkan. Saya tidak tahu informasi “orang dalem” apa yang dipunyai perusahaan ini.

    Sebelumnya, Pefindo menurunkan peringkat hutang AISA sedikit lebih rendah.

    Jadi, kita terpapar dua berita penting. Bagaimana pendapat Bang Ali? Saat masuk (atau menambah koleksi) AISA?

    Happy Weekend

  20. Tambahan: Fidelity mengaku bahwa perusahaan “sekedar berinvestasi”, bukan “mempengaruhi perusahaan”.

    1. Ga ada komen pak klo itu. Fidelity itun perusahaan dimana Peter Lynch dlu bekerja, namun kita ga tau apa tujuan mrk dlm membeli aisa. Kecuali mrk memaparkan alasan dan tujuan beli aisa maka lbh jelas kita memahami view mrk.

      Saya sangat yakin klo masalah utang ga akan menjadi kendala, semua pasti bs di refinanced, namun ttp masalah utama gmn ba menyelesaikan divisi beras pak. Itu yg ms sy tunggu2 solusinya.

      Dah patut pefindo menurunkan rating, krna dr segi keuangan emang potensi default itu secara pembukuan ya, namun dlm fakta lapangan, masih jauh, kecuali semua divisi usaha aisa dah ga prospek dan siap bankrut, klo cmn masalah utang dlm bisnis yg ms jalan, sy sangat tdk yakin.

  21. Saya juga kuatir dengan divisi beras itu. Sederhana saja, perusahaan terlibat konflik kepentingan dengan negara, berabe urusannya.

    Jika terjual, AISA jadi lebih jelas. Seberapa untung atau seberapa rugi hasil penjualannya. Sayangnya top management tidak (banyak) buka suara seputaran negosiasi penjualannya. Kalau tidak dijual, perusahaan juga bersuara sedikit sekali kecuali kecewa kepada bondholders. Bisa kah efisiensi dijalankan dengan ketat untuk menurunkan biaya produksi beras ? Yang terjadi malah perusahaan “merumahkan” banyak pegawai yang artinya operasi divisi beras bisa dikatakan berhenti. Saya wait and see dulu lah

  22. Benar ternyata Bang Ali. Perbaikan fundamental jauh lebih penting dari terbangnya harga saham. Sinyal yang menipu. Sekarang harganya turun tajam mengikuti tren turunnya bursa Amerika, Eropa, dan Jepang. Penjualan Divisi Beras adalah pokok persoalan. Mampukah manajemen menjualnya? Jika mampu, pada harga diskon rugi berapa persen? Bagaimana pendapat Bang Ali?

    Happy Weekend!

    1. Hello pak wijaya, longtime tidak aktif nih…. thx slalu kembali mengunjungi blog sy.

      Di penghujung april sy sudah lepas posisi sy di aisa bersama mppa, kbli dan roti utk swtich ke saham lain. sepertinya sy juga kehabisan kesabaran dan alokasikan ke shm lain, tidak lain sih, tapi lpck, namun nasib lpck juga tidak beda jauh, masih koreksi panjang yg tidak tau titik bottom.

      Dalam banyak hal, analisa bisnis kedepan tidak segampang yang kita bayangkan, krna kita berada di masa distrupsi sehingga banyak pola bisnis yang mulai berubah namun tanpa itu pun, tidak ada yg bisa menjanjikan seperti apa masa depan sebuah bisnis. dan jika kita berhasil mengprediksi masa depan pun, belum tentu kita memiliki stamina utk carry on hingga good days datang.

      Again, logika dasar investing, jika perusahaan tidak dalam masalah, maka kesempatan utk mendapatkan harga bgs cukup langka. tapi saat masalah sedang melanda, apakah kita masih bisa dengan tenang dan melek mempertahankan bahkan menambah posisi kita utk menanti big gain/reward yg mungkin akan kita dptkan di tahun tahun mendatang dgn resiko yang mungkin kita tau atau kita dgr dari berita yang tentunya sangat menakutkan?

      Jadi, tidak gampang memang invest saat perusahaan sedang mengalami masalah, namun jika kita sudah mampu melewati tantangan seperti ini, maka mental kita sudah terbentuk utk masa yang paling suram sehingga smoga, kita pun sudah bisa melewati tantangan terbesar dalam dunia saham, sehingga gain follows nntinya.

      Menyangkut pertanyaan bpk, sy juga sulit untuk menjawab, krna jika kita akan tau apa yg akan terjadi, maka kita sudah pasti tidak hawatir lagi. umumnya kita akan tau stlh kejadian dan disitu kita pun kehilangan kesempatan. jadi, balik lagi pertanyaan klasik? seberapa percaya kita dgn management perusahaan untuk bisa mengendalikan masalah yg sedang dihadapi?

      Good luck pak!

  23. Pak saya ada nyangkut aisa di 482 sbanyak1.920 lot. Setelah lk fullyear aisa keluar. Besok tgl 2 juli adalah hari yg mendebarkn. Kemungkinan sy dpt jual pun kecil (udah arb). Apa yg sy harus lakukan, hold atau jual berapapun?
    Terimah kasih pak

    1. yang Punya Blog ini uda sell di 500 pak. dari april , uda ngaku di stockbit, kok anda mala berani beli?
      perusahaan punya masalah hukum berkeuatan hukum tetap vonis bersalah, kok berani di beli ditambah utang bejibun uang cash seuprit, dan pemegang saham pengendali uda banyak sell,,,,,

    2. Hi pak, mohon maaf baru balas! Benar seperti yg dibilang bpk diatas ini, sy sudah lepas posisi sy di AISA, KBLI, MPPA dan ROTI di penghujung april dan menggantikannya dengan LPCK!

      Namun jika bpk tanya sy apa yang harus bpk lakukan, jujur sy kesulitan untuk menjawab, krna jika sy bisa memprediksi pergerakan harga, maka sesungguhnya porto sy tidak akan semerah yang anda liat di halaman ini?

      Dalam investasi itu, selain kita harus bisa menganalisa sesimple/rumit apapun, lebih pinting kita harus bisa independent dalam menilai apa yang menurut kita layak. Karena lagi-lagi jika apa yang kita lakukan dlam investasi hanya sekedar ikutan yang lain, atau mendengarkan yang lain, maka saat harga tidak bergerak sesuai keinginan kita, kita akan terlanjur panik krna kita tidak memiliki alasan yang kuat utk tentukan posisi kita.

      Masalah AISA cukup rumit dan bukan dalam sekejap akan selesai. Namun, jika AISA berhasilkan menyelesaikan masalah yang dihadapi, maka harga saat ini yang ada di < 200 adalah sangat undervalue! Tp dengan catatan dia bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dan divisi beras tidak lagi menjadi beban berkelanjutan. Belakangan beredar berita bahwa pemilik AISA menjual kepemilikannya terus terusan, ini tentunya tidak sedap di dengar, namun klo kita cermati, apakah itu adalah FAKTA sesungguhnya? Ibaratnya jika saya memiliki akun di sekuritas A dan sodara saya memiliki akun di sekuritas B. Saya jual ke adik saya, apakah itu sama dengan jual sungguh2? dan apakah itu yg terjadi dengan AISA saat ini, tidak ada yang tau, hanya yang bersangkutan lah yg tau. Dan jika saya ingin jual jumlah yg banyak dan sebagai seorang pemilik, tentunya saya akan diam2 tidak diketahui, masa iya saya kasih tau orang rame klo saya ingin menjual saham saya, sehingga motifnya pun kita tidak jelas. Tapi itu tidak penting menurut saya, karena mencoba menganalisa dari segi bandarmologi. Karena sesungguhnya jika bandar beraksi, dia tidak akan segampang itu membiarkan anda mengetahui langkahnya, itu menurut sy. Intinya pak, jika anda tidak nyaman dengan posisi anda di AISA, maka mungkin menjualnya adalah opsi. Tapi sebelum anda menjualnya, alangkah baiknya anda bisa terlebih dulu ketemu saham penggantinya dan melakukan evaluasi dan hitungan, apakah switching ini worth the effort dan risk? Kita sudah berkali-kali menyangsikan perusahaan yang kena masalah, pada akhirnya bangkit dengan catatat perusahaan termasuk management tidak bubar. Saat masalah sedang terjadi, tentu harga juga bergerak turun ga karuan, bgitu masalah selesai, naiknya pun ga karuan. Tapi itulah dia, investasi itu sederhana tapi tidak gampang! saat murah tidak akan ada yang menyyuruh kita beli, semua memberi peringatan ke kita utk mengjauhi, dan hanya saat sudah naik tinggi nnti, barulah ramai-ramai berebutan beli di puncak! hehehe! So, apa yang akan anda lakukan pak, semoga apapun yang terjadi dengan AISA mu, berkah selalu menyertai anda!

  24. Hai Pak Al

    saya baru membaca tanggapany,, uda lepas yah, tuker ama LPCK
    saya no comment lebih jauh,

    satu hal apakah pak al perna mempelajari tipe tipe bias?
    https://www.youtube.com/watch?v=wEwGBIr_RIw silakan tonton video nya

    yang paling banyak terjadi di saham itu
    1.choices supportive bias, banayk terjadi bagi setiap orang yg py/hold saham tsb ,
    2. confirmation bias,
    3, information bias
    4. ostrich bias

    beebrapa tipe bias itu sering terjadi di pelaku pasar modal dan menghancrkan kinerja portfolio

    buat bapak yang nyangkut di aisa , coba bapak pelajari bias ini ,

    satu hal lagi GCG itu tyt bagi setiap orang beda” terapannmya,bagi saya aisa jelek , LK telat lapor skg uda q2 2018 aisa baru lapor yan 2017, perusahaan kena kasus hukum .. bagi yang buy aisa atau saham lain, yg punya kasus hukum laen sudah tentu beranggapan gcg “tidak terlalu masalah” karena apa? ya itu ada faktor bias (psikologi). tapi yang jeleas warren buffet mengajarkan jauhi perusahaan bad gcg ,,

    sekian itu saja pandangan dari saya

    Semoga Beruntung
    Wijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published.