Performa AL+ EF Dec 2016 (+1.03% MoM)

Setelah berjalan lebih kurang 40 hari hingga penutupan tahun 2016, AL+ Equity Fund berhasil tumbuh 3,77% mengalahkan IHSG di periode yang sama yang tumbuh 1,03%.

Namun tidak tau mekanisme cara hitung sistem Daewoo (kini sudah ganti nama menjadi Mirae Asset) seperti apa, jika dilihat dari chart atas sepertinya pertumbuhan AL+ dibawah Index. Barang kali ada hubungannya dengan penebusan JSMR-R sehingga perhitungan sistem Mirae Asset menjadi acak namun tidak masalah asal nominal asset di porto tidak salah.


Ini adalah porto AL+ EF per 30 Dec 2016 diurut berdasarkan bobot nilai terbesar kebawah. JSMR sendiri menempati porsi sebesar 22,9%, sedangkan LPPF menempati urutan ke 2 dengan nilai 14,1% dan di urutan ke 3 SCMA menempati porsi 12%.

Penebusan JSMR-R sebetulnya memiliki lot yang lebih besar dari yang seharusnya, karena di porto pribadi saya sudah full porto sehingga tidak lagi punya dana untuk tebus, sehingga saya melakukan transfer rights JSMR ke akun ini lalu tebus disini. Alhasil AVG Price JSMR saya turun dari sebelumnya 4178 menjadi 4146.

Selain itu, saya juga menambah 2 saham property yang terkoreksi sangat dalam. 2 saham ini sebetulnya bukanlah pilihan investasi jangka panjang yang ideal, karena kinerja mereka cukup fluktuatif. Namun secara valuasi sudah menyentuh level yang sangat murah, maka saya memutuskan untuk membeli mereka.

LPKR sendiri adalah induk dari grup Lippo. Kinerja LPKR akan sangat di pengaruhi oleh kemampuannya berekspansi dan menawarkan asset-asset yang di peroleh/dibangun kepada REITs, juga grup mereka di Singapura sebagai langkah cashflow recycling. Selain itu, LPKR sendiri juga merupakan property developer dan saat ini sektor property sedang terpuruk. Imbas dari kelesuan sektor property ini pun sudah dirasakan oleh banyak pengembang papan atas, sebut saja: BSDE, SMRA, CTRA dkk.

Jika dilihat dari segi PER tentunya dengan performa yang jelek valuasi LPKR menjadi mahal. Namun jika di kaji dari segi Book Value (harga pokok perusahaan) maka LPKR sendiri di harga < 800 adalah murah. Karena hingga 3Q16 BV LPKR adalah 811. Dengan harga saham LPKR di 720 maka PBV adalah 0,9x.

Terlampir adalah data riset Maybank yang saya dapat dari teman, terlihat bahwa RNAV (nilai property dan lahan yang tersisa ditambah surplus dari appraisal) LPKR adalah 2146. Jadi dengan harga 720 anda tinggal simpulkan sendiri saja apakah layak di beli.

Saya beli LPKR di harga 765, namun hingga kini harga sahamnya masih turun dan tutup di 720 pada perdangan hari sebelumnya.

SSIA adalah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, lahan industri dan perhotelan. Hingga 3Q16, Book Value SSIA adalah 632, sedangkan harga saham SSIA saat ini ada di 434, sehingga PBV adalah 0,7x. RNAV SSIA (sayang datanya sudah tidak saya miliki) adalah 750 per saham.

Berbeda dengan sektor lain, saya senang menggunakan BV dalam menilai kewajaran sebuah saham property karena:

1. Perusahaan property jarang atau hampir tidak pernah melakukan valuasi asset karena faktor pajak. Dengan asset lahan yang lebih murah maka pajak yang harus dibayar pun makin kecil. Umumnya BV yang tercantum di LK cenderung tidak murni dan undervalue, karena masih menggunakan nilai akuisisi.

2. Lahan property beda dengan mesin produksi, makin lama nilainya makin tinggi karena harga tanah makin hari makin mahal.

3. Perusahaan property melalukan valuasi asset umumnya hanya untuk 1 tujuan. Menaikan ekuitas untuk memperbesar plafon potensi rasio pinjaman. Jadi hanya pada saat mereka membutuhkan uang pinjaman, dan rasio ekuitas belum mencukupi, maka terpaksa mereka lakukan valuasi asset.

Saya beli SSIA dalam 2 transaksi pertama di harga 515 kemudian di harga 440, sehingga saat ini modal AVG SSIA saya adalah 493.

Saat ini porto AL+ EF sudah teralokasi ke saham semua, dengan sisa dana di rekening hanya Rp 115.600,-

Saatnya duduk santai, menyambut tahun baru 2017 dan menanti perkembangan portofolio sesuai dengan keinginan mekanisme pasar.

Sekian untuk ringkasan porto AL+ EF bulan Desember 2016. Sampai ketemu di article berikut, dan…

HAPPY NEW YEAR 2017!