Ringkasan Buku #2: The Warren Buffett way 3rd edition by Robert G. Hagstrom (Bagian 2 dari 2)

Menyambung pembahasan sebelumnya, ini adalah bagian ke 2 dari rincian buku The Warren Buffett Way dan merupakan bagian terakhir.

Di article sebelumnya, kita sudah membahas ciri-ciri karakter seorang WB, juga prinsip investasi WB dalam memilih saham yang di bagi menjadi 4 aspek dalam 12 prinsip, namun itu hanyalah setengah dari cerita utuh keberhasilan WB. Setengahnya lagi adalah cara bagaimana seorang WB berhasil mengelola portofolio sehingga bisa bertahan dan sukses hingga kini.

Selain merujuk kepada MOS dalam pengambilan keputusan untuk membeli, mempertahankan posisi atau menjual saham, ada 3 hal lain yang tidak kalah penting dalam keberhasilan investasi saham ala WB, yaitu:

1. Konsep dasar membangun sebuah portofolio untuk pertumbuhan jangka panjang.

2. Cara alternatif selain pergerakan harga untuk mengukur kemajuan sebuah portofolio.

3.  Teknik dalam mengendalikan emosi terhadap fluktuasi pasar.

Konsep dasar membangun sebuah portofolio untuk pertumbuhan jangka panjang

Beda dengan fund manager pada umumnya yang sibuk memantau dan mengelola ratusan saham dalam portofolio mereka, WB adalah penganut FOCUS INVESTING, dimana ia hanya fokus di beberapa saham yang luar biasa saja. Hal ini sangat mempermudahnya dalam mengelola portofolio.

Walaupun focus investing adalah ide yang simple secara teori, namun dalam praktek sebetulnya ide ini di dasari oleh fondasi yang cukup rumit.

Saat ini, ada 2 strategi pengelolaan portofolio yang kita kenal yaitu: pengelolaan aktif dan index investing.

Pengelolaan aktif bertujuan memberikan hasil maksimal dengan cara giat bertransaksi jual dan beli saham secara masif, sedangkan index investing bertujuan menduplikasi index sehingga mampu memberikan performa yang tidak jauh beda dari performa index.

Namun sesungguhnya, tujuan utama kedua strategi adalah sama, yaitu mencoba meminimalisir resiko lewat diversifikasi yang luas. Tapi masalahnya cuman satu, kedua strategi ini hanya mampu menghasilkan performa yang biasa-biasa saja, tidak spektakuler.

Menurut WB ada alternatif ke 3 yang jauh lebih ideal, yaitu focus investing dan secara bahasa gamblang, berarti: Berkonsentrasi di beberapa saham saja yang memiliki probabilitas untuk mencetak performa di atas rata-rata dalam jangka panjang, lalu siapin mental menghadapi gejolak pasar jangka pendek.

Jika anda kembali bertanya, bagaimana cara memilih saham yang bagus? Coba kembali baca bagian 1 dari buku ini!

Dalam strategi focus investing ataupun strategi investasi lainnya, kita tidak bisa lepas diri dari perhitungan probabilitas dan teori probabilitas ini lah yang merupakan salah satu konsep penting dalam focus investing.

Secara simplistik, bursa saham adalah sebuah gudang yang penuh dengan probabilitas. Tugas seorang investor cukup sederhana, yaitu menyaring apa ia tidak tau dan fokus pada apa yang ia tau.

Teori probabilitas pertama kali di kemukakan oleh Blaise Pascal di tahun 1654 yang kemudian menjadi dasar kita dalam pengambilan keputusan untuk mengendalikan resiko.

Teori Pascal ini kemudian dikembangkan lagi oleh Thomas Bayes yang berhasil mengimplementasikan teori probabilitas secara praktek di bursa saham yaitu dengan cara mempertimbangkan:

“Probabilitas rugi x jumlah nominal yang mungkin rugi banding probabilitas untung x jumlah nominal yang mungkin untung”.

Intinya, jika nilai untung lebih besar dibanding nilai rugi, maka penawaran tersebut menjadi layak untuk dieksekusi. Tidak sampai disitu saja, kita juga harus memasukan faktor “waktu” sehingga kita bisa menghitung ROI / tahun yang dihasilkan lalu dibandingkan dengan penawaran lainnya yang tersedia, yang mana memberikan probabilitas yang optimal lah yang menjadi fokus kita.

Harus diakui, strategi ini bukanlah solusi yang terbaik, namun layak di terapkan, toh dalam pengambilan keputusan, hal yang sama kita lalukan, memilih alternatif yang terbaik dari yang tersedia.

Selain Bayes Analysis, ada juga strategi Kelly Optimisation atau lebih dikenal dengan nama Optimal Growth Strategy yang awalnya diaplikasikan dalam permainan Black Jack.

Rumusnya adalah 2p – 1 = x

Penjelasan rumus atas: 2 x probabilitas kemenangan (p) dikurang 1 sama dengan persentase optimal pertaruhan kita (x).

Contoh: Jika diketahui probabilitas kemenangan adalah 55%, maka 2 (0,55) – 1 = 0,1, berarti pertahuran optimal kemenangan adalah 10% dana kita. Jika probabilitas kemenangan adalah 70%, maka taruhan optimal adalah 40% dana, dst.

Namun bursa saham sesungguhnya jauh lebih rumit dibandingkan Black Jack, tapi konsep dasarnya sama, kita harus selalu mengkalkulasi ulang probabilitas begitu kondisi/fakta berubah.

Charlie Munger juga memiliki strateginya tersendiri yang ia sebut “Pari-Mutuel” strategi, yang ia ilustrasikan dalam permainan pacu kuda.

Ibaratnya, orang bodoh sekalipun bisa melihat bahwa kuda yang memiliki beban paling ringan dan rekam jejak kemenangan yang fantastis akan memiliki probabilitas kemenangan yang lebih besar dibanding kuda yang memiliki beban lebih berat dan riwayat kalah terbanyak. Namun jika diamati bayarannya, umumnya kuda jelek adalah 100 banding 1, sedangkan kuda bagus adalah 3 banding 2. Nah, karena faktor bayaran yang adil, maka membuat pertaruhan menjadi kurang menarik bukan?

Analogi atas juga sekaligus mencerminkan bursa saham. Sering kali, investor terlalu optimis untuk mengambil posisi yang jelek demi mengejar keuntungan setinggi langit (membeli kudu jelek dengan iming-iming bayaran 100 banding 1) atau memilih posisi yang cenderung pasti untung tanpa mempertimbangkan pengembaliannya (kuda bagus dengan bayaran cuman 3 banding 2).

Menurut Munger, cara yang paling bijak adalah menunggu hingga probabilitas kemenangan membesar dan bayaran yang maksimal alias tunggu saham bagus di jual dengan diskon terhadap MOS.

Hampir mirip strategi Munger, Andrew Beyer memiliki strategi yang membagi taruhan menjadi 2 jenis: taruhan pokok dan taruhan aksi.

Taruhan Pokok adalah taruhan besar dimana hanya di pakai saat 2 kondisi muncul: probabilitas kemenangan sangat besar dan bayarannya menggiurkan. Sedangkan Taruhan Aksi dipakai untuk taruhan kecil dan tidak pernah boleh menjadi taruhan pokok dan fungsinya adalah untuk memenuhi kecanduan bertransaksi si penaruh semata.

Dari semua teori yang sudah disebutkan di atas, kesimpulan yang bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam investasi saham adalah:

1. Lakukan kalkulasi terhadap probabilitas kemenangan untuk hasil jangka panjang.

2. Sabar menunggu kesempatan yang berpihak muncul.

3. Beradaptasi terhadap informasi baru sehingga bisa mengevaluasi ulang probabilitas kemenangan.

4. Tentukan nominal investasi yang ingin di pakai berdasarkan teori Kelly, bisa juga 50% dari teori Kelly untuk pengendalian resiko salah hitung probabilitas.

The wise bet heavily wen the world offers them that opportunity. They bet big when they have the odds. And the rest of the time, they don’t. It’s just that simple. – Charlie Munger

Cara alternatif selain pergerakan harga untuk mengukur kemajuan sebuah portofolio

When the price of a stock market can be influenced by a herd on Wall Street with price set at the margin by the most emotional person, or the greediest person, or the most depressed person, it is hard to argue that the market always prices rationally. In fact, the market prices are frequently nonsensical. – WB

Ini penting, jika kita menganggap bahwa harga tidak selalu rasional, maka kita tidak lagi berpedoman pada harga dalam pengambilan keputusan investasi tapi berdasarkan apa yang sesungguhnya penting yaitu riset mendalam dan analisa bisnis.

Cara mengukur performa portofolio jika bukan berdasarkan harga, maka apa?

Kinerja perusahaan tentunya! Adalah fakta bahwa pergerakan harga cukup bermanfaat, karena secara berkala akan memberikan kita peluang untuk mendapatkan harga diskon, namun itu bukanlah hal yang utama.

Pada akhirnya, nasib sebuah perusahaan akan ditentukan oleh kinerjanya sendiri, dan bursa saham boleh mengabaikan kesuksesan sebuah bisnis untuk sementara waktu, namun pada akhirnya bursa saham tetap akan mengakuinya.

Berdasarkan data dari portofolio Berkshire sejak 1965, laba yang dihasilkan berhasil tumbuh secara paralel dengan kapitalisasi pasar perusahaannya, namun hal ini tidak berjalan secara konsisten setiap tahun, kadang laba mendahului dan di tahun yang beda kapitalisasi mendahului pula, namun secara jangka panjang selalu paralel.

Inti dari pendekatan ini adalah memaksa investor untuk menilai sebuah perusahaan dari sisi prospek usaha jangka panjang dan abaikan prospek jangka pendek, sebuah pendekatan yang akan membantu meningkatkan hasil investasi kita dalam skala panjang.

WB juga mejelaskan bahwa, setiap kali ia ingin membeli sebuah posisi baru, ia akan terlebih dulu membandingkan probabilitas keuntungan posisi baru dengan apa yang sudah dimiliki.

Sama dengan Munger yang menyarankan kepada semua investor bahwa apa yang di miliki harusnya menjadi pedoman/katalis dalam pengambilan keputusan beli. Dengan teknik ini, umumnya 99% saham baru akan tereliminiasi.

Sebagai seorang focus investor, target kita adalah mencapai tingkat pemahaman yang tinggi terhadap bisnis perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang banding investor lain. Mungkin terdengar tidak realistis sejenak, namun sesungguhnya tidaklah sulit menimbang banyak yang lebih fokus pada performa jangka pendek.

Kuncinya adalah, kita harus bekerja keras dan membiasakan diri untuk mempelajari analisa bisnis secara mendalam.

Teknik dalam mengendalikan emosi terhadap fluktuasi pasar

Untuk membahas tentang emosi, mari kita lihat dulu beberapa perangkap sikologi dalam dunia investing.

1. Kepedean (Overconfindence)

Investor yang tergolong kepedean umumnya beranggapan bahwa mereka lebih pinter dari investor pada umumnya. Mereka cenderung menaksir berlebihan atas kemampuan dan pengetahuan mereka.

Umumnya, mereka mengandalkan informasi yang mengkonfirmasi apa yang mereke percaya namun mengabaikan informasi yang tidak berpihak. Selain itu, mereka juga punya kebiasaan untuk menilai lewat informasi yang tersedia secara umum daripada informasi yang butuh riset yang mendalam.

2. Prasangka yang berlebihan (Overreaction Bias)

Manusia suka bereaksi berlebihan terhadap berita buruk namun lambat bertindak terhadap berita baik. Jadi tidak heran jika kinerja jangka pendek yang jelek menimbulkan reaksi berlebihan jangka pendek yang umumnya tercermin oleh pergerakan harga.

3. Menghindari kerugian (Loss Aversion)

Manusia menimbang untung dan rugi secara berbeda (tidak simetri). Menurut riset manusia 2x merasa sedih saat rugi dibanding bahagia saat untung.

Manusia juga jarang melihat hasil final yang akan di capai dalam jangka panjang dan cenderung terpaku pada peningkatan/penurunan nilai kini saja.

Dalam investasi saham efek dari menghindari kerugian ini juga sangat dominan.

Investor rela nyangkut di saham yang salah ketimbang cutloss dengan harapan harganya akan kembali naik sehingga ia tidak perlu mengakui kesalahannya.

4. Akuntansi Mental (Mental Accounting)

Manusia memiliki persepsi yang beda atas uang yang dimiliki dan fungsinya.

Contoh: pada umumnya manusia akan bertindak lebih pelit saat berbelanja jika uang tersebut adalah berasal dari gaji/hasil usaha sendiri banding uang yang ia dapat dari THR maupun menang loteri. Padahal sama-sama adalah uang miliknya juga.

Pikiran ini juga merupakan alasan mengapa investor cenderung bertahan di saham salah dibanding cutloss, karena menurut mereka tidak cutloss = belum rugi.

5. Menghindari kerugian jangka pendek (Myopic Loss Aversion)

Riset penulis menunjukan bahwa keberhasilan investasi jangka panjang jika di ukur dari waktu adalah efek dari 7% waktu saja sedangkan sisa 93% waktu hampir tidak berkontribusi terhadap peningkatan portofolio sama sekali.

Artinya jika kita cek dan mengukur performa portolio setiap hari, kita cenderung akan kecewa. Makin lama kita mengabaikan fluktuasi pasar, lebih menarik pula seleksi saham dalam portofolio kita menjadi.

6. Faktor ikutan masal (The Lemming Factor)

Faktor ini sudah banyak kita kenal baik di kalangan investor retail maupun para fund manager. Mengapa mereka melakukannya? Bagi seorang investor retail mungkin karena kurang pengetahuan sehingga membuat mereka ikut-ikutan, sedangkan bagi yang profesional adalah ketakutan untuk bertampil beda dan salah. Karier mereka menjadi pertaruhan.

Cara mengendalikan perangkap emosi

Menurut penulis dari semua perangkap emosi yang sudah dibahas atas, yang paling parah adalah no. 5. Inilah yang membuat banyak investor gagal berinvestasi seperti WB.

Semua pasti tau Coca-Cola adalah salah satu investasi terbaik WB. USD 1 miliar investasi Berkshire di Coca-Cola di tahun 1988 telah tumbuh 10xlipat dalam waktu 10 tahun saja dimana index S&P hanya tumbuh 3xlipat.

Sepanjang tahun 90an, di setiap seminar yang penulis hadir, penulis sering menanyakan: Siapa yang telah invest di Coca-Cola dalam 10 tahun terakhir? hampir semua menunjukan tangan, tidak aneh karena Coca-Cola emang perusahaan yang tidak sulit untuk di analisa. Namun, pertanyaan berikut ini yang banyak membuat banyak berenung: Lalu siapa di antara anda semua yang berhasil mendapat hasil investasi seperti WB di Coca-Cola?

Alasannya jelas adalah Myopic Loss Aversion. Dalam 10 tahun dari 1989-1998, Coca-Cola hanya mengalahkan performa index 6x. Sebagian besar investor melihat performa Coca-Cola yang kalah dari index di tahun tertentu memutuskan untuk menjualnya, sedangkan yang WB lakukan adalah mengkonfirmasi ulang analisanya dan bertahan saat ia melihat hasil risetnya yang masih memuaskan untuk hold.

I don’t need a stock price to tell me what I already know about value. – WB

Jadi kesimpulannya apa? WB adalah seorang investor yang rasional bukan emosional. Rasionalitas lah obat pencegah terjebaknya investor kedalam perangkap efek sikologi negatif ini.

Rasioanlitas dalam kamus oxford berdefinisi: sebuah kepercayaan bahwa sebuah opini atau aksi harus di dasari oleh alasan dan pengetahuan bukan emosi.

Kesabaran

Kita sering curiga dan bertanya, apakah benar strategi buy and hold bisa memberikan hasil investasi yang memuaskan dalam jangka panjang?

Untuk membuktikannya, dalam sebuah riset sang Penulis mencoba kalkulasi hasil investasi untuk satu tahun, tiga tahun dan lima tahun (murni berdasarkan pergerakan harga saham) antara tahun 1970 hingga 2012 yang mana memberikan hasil kenaikan 100% tercepat.

Dalam masa 43 tahun tersebut, rata-rata jumlah saham dalam index S&P 500 yang mengganda alias naik 100% dalam kurun waktu tertentu, adalah sbb:
– Dalam 1 tahun = 9 / 500 (1,8%)
– Dalam 3 tahun = 77 / 500 (15,3%)
– Dalam 5 tahun = 150 / 500 (29,9%)

Berdasarkan fakta ini, Penulis telah membuktikan kebenaran bahwa lebih lama kita menunggu, lebih besar kemungkinan harga saham di portofolio kita akan berganda.

Dengan menunggu 5 tahun, kesempatan kita untuk mendapatkan pengembalian 100% adalah sebesar 30%. Itu adalah CAGR 15%, kecuali kita masih menganggap return sebesar 15% per tahun secara majemuk adalah terlalu kecil.

Tentunya riset ini hanya relevan jika kita juga memiliki kemampuan untuk mengseleksi saham yang memiliki potensi bagus untuk tumbuh double dalam 5 tahun dan mengelola portofolio dengan baik, serta memiliki rasionalitas yang tinggi menghadapi gejolak pasar dan kesabaran yang besar untuk menanti return.

Di bursa saham di Indonesia, saya pribadi sangat optimis bahwa return yang bisa dihasilkan dengan strategi ini akan jauh di atas 15% per tahun, toh tidak jarang kita lihat saham yang kini kita nilai bagus, jika di banding harganya 10 tahun yang lalu, banyak yang telah tumbuh 5x hingga 10x lipat. Jadi, strategi dan filosofi yang dibahas dalam buku ini menurut saya adalah sangat patut untuk di pelajari.

Inilah ringkasan dari buku the Warren Buffett Way bagian terakhir dari saya. Pasti masih banyak detail dari buku ini yang belum tersimpul dalam article ini, dan setiap kali saya membaca ulang, selalu ada saja penambahan pengetahuan baru yang bisa saya sadari. Namun, lewat tulisan kesimpulan ini, pemahaman saya juga makin bertambah dan terinspirasi untuk mengikuti langkah sang WB.

Namun seperti yang diingatkan oleh si penulis, tidak sulit untuk mengerti teori investasi WB, yang sulit adalah menemukan keteguhan dan kedisiplinan dalam penerapannya.

Semoga siapapun yang telah membaca ringkasan ini akan terdorong untuk membaca bukunya secara utuh dan menemukan kekuatan dan keteguhan dalam diri untuk mempelajari dan menerapkan prinsip investasi WB secara tekun.

Semoga sukses menyertai anda selalu, salam longterm investment!

Alianto Chan

Tags

Author: aliantochan

I'm just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it's a way of life. The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person. Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same. Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

Leave a Reply

Your email address will not be published.