Ringkasan Buku #2: The Warren Buffett way 3rd edition by Robert G. Hagstrom (Bagian 1 dari 2)

Warren Buffett (WB), nama yang sudah sangat akrab di kalangan dunia saham baik anda itu adalah seorang trader maupun value investor, kita semua pasti sama, sangat kagum dengan ajaran sang guru besar value investing satu ini.

Buku yang saya baca kali ini sangat unik dan menarik karena tidak hanya sekedar membahas teori prinsip investasi WB, namun memberikan 10 contoh nyata bagaimana prinsip-prinsip ini dipraktekkan WB saat membeli perusahaan seperti Washington Post, GEICO, Coca-Cola, American Express dll (sebanyak 10 kasus).

Mungkin saya tidak akan membahas 10 perusahaan tersebut dalam article saya karena akan menjadi super panjang nanti, namun akan sangat berguna menurut saya untuk anda membacanya langsung supaya bisa mengerti bagaimana WB menggunakan prinsipnya dalam berinvestasi. Saya akan mengulas lebih ke sisi teori saja sehingga anda yang baca article ini bisa mendapatkan gambaran besar atas prinsip yang WB anut dalam menilai sebuah perusahaan bagus dan barangkali nanti bisa menjadi pedoman anda juga dalam berinvestasi.

Buku ini adalah sebuah super hit, selain karena sudah menjual lebih dari sejuta eksemplar, juga karena kata pengantar buku ini di tulis oleh sebanyak 5 orang praktisi saham yang cukup popular (Howard Marks, Bill Miller, Peter Lynch, Kenneth Fisher dan si penulis itu sendiri, Robert Hagstrom). Masing-masing memberikan apresiasi kepada WB lewat pandangan mereka masing-masing, namun banyak kesamaan, jadi saya coba bahas 1 saja yang menurut saya merepresentasikan mereka semua.

Kata pengantar dari Howard Marks menurut saya adalah yang paling menarik, karena lebih rinci mengilustrasikan karakter seorang WB yang kian sukses dalam dunia investasi, and menurut Howard, inilah alasannya:

WB itu sangat analistis dan cepat dalam memahami situasi, sehingga beliau bisa dengan sigap mengambil keputusan atas sebuah investasi.

WB juga orang yang tau diri. Beliau tau persis kekurangannya sehingga beliau hanya fokus di bisnis yang beliau bisa mengerti.

Namun WB juga fleksibel. Beliau tau jelas kapan harus berubah dan kapan tarik ulur. Contohnya: sebelumnya WB sangat fokus pada strategi Ben Graham yaitu Value Investing, namun kini WB lebih menganut Growth Investing yang dikembangkan oleh Phil Fisher.

WB tidak emosional. Baik saat market lagi euforia maupun kolaps. WB selalu bisa menjaga emosinya dengan baik sehingga selalu bisa melihat situasi dengan jernih. WB memiliki pandangan jangka panjang terhadap investasi, sehingga votalitas jangka pendek tidak memberi arti apapun kepadanya.

WB adalah seorang kontrarian. Namun bukan berarti beliau secara buta membeli semua saham yang dijauhi investor lain, namun menurut WB, kesempatan bagus tidak datang setiap hari, jadi beliau akan selalu sabar menanti kesempatan itu datang jikapun itu berarti beliau harus menunggu lama tanpa bertransaksi. Tapi saat WB beli, beliau berani membeli besar di ide yang luar biasa di kesempatan yang langka.

Waktu terbaik untuk membeli saham menurut WB bukanlah saat ekonomi lagi baik dan perusahaan mencatatkan kinerja yang fantastis, justru saat ekonomi lagi sulit dan perusahaan bagus melaporkan kinerja jelek dan sahamnya dihargai kelewatan murah alias salah harga.

Inilah nilai-nilai karakter seorang WB yang sangat lengkap di ringkas oleh Howard Marks, dan bisa menjadi pedoman kita dalam berinvestasi.

Setelah kata pengantar, sang penulis juga masuk membahas riwayat hidup WB sejak kecil baik sebagai seorang individu bocah cerdas maupun sebagai seorang investor hebat dan pendiri Berkshire. Penulis juga tidak lupa membahas tentang guru-guru WB dimana beliau belajar dan meningkatkan ilmu investasinya seperti sang legenda Ben Graham, Phil Fisher serta Charlie Munger (partner WB di Berkshire).

Dan masuk ke bab 3, penulis barulah mulai membahas inti dari buku ini, yaitu 12 prinsip investasi WB. 12 prinsip inilah yang menjadi kompas arah investasi WB dalam setiap perusahaan yang beliau akuisisi, mungkin tidak selalu 12 points yang dipakai dalam setiap akuisisi, namun setiap perusahaan yang dibeli selalu berdasarkan pedoman prinsip ini.

Sebagian kita suka berargumentasi bahwa, WB sukses karena beliau mampu membeli perusahaan bukan sekedar saham. Namun sesungguhnya menurut WB fundamental dalam pembelian itu sama saja. Benar ada sedikit beda, karena membeli sebuah perusahaan berarti bisa mengintervensi alokasi modal perusahaan tersebut, namun sebaliknya kelebihan membeli saham di bursa terbuka juga tidak kalah. Lebih banyak kesempatan bagus yang tersedia di bursa saham dengan modal yang lebih kecil, memanfaatkan mekanisme kepanikan pasar.

WB menyarankan bahwa, saat berinvestasi posisikan lah diri kita sebagai seorang analis bisnis, BUKAN analis pasar ataupun analis makro ekonomi. Caranya begini: Cek riwayat kinerja, selidiki aspek kualitas management, pelajari aspek finansial dan terakhir tentukan MOS.

Jika di perdalam, maka langkah-langkah atas bisa di kategorikan menjadi 4 aspek, yaitu:

A. Prinsip business (Business tenets) yang mencakup 3 prinsip tentang karakteristik dasar sebuah bisnis.

B. Prinsip manajemen (Management tenets) yang mencakup 3 prinsip penting yang wajib di miliki oleh setiap manager senior perusahaan.

C. Prinsip finansial (Financial tenets) yang mencakup 4 prinsip keputusan finansial super penting yang perusahaan harus pertahankan.

D. Prinsip Pasar (Market tenets) yaitu panduan antara nilai dan harga yang saling berhubungan.

A. Business Tenets

WB bilang, jika mau berinvestasi, posisikan lah diri anda sebagai seorang analis bisnis. Beliau tidak peduli dengan teori pasar, konsep makro maupun sektor. Beliau mengambil keputusan investasi murni berdasarkan cara kerja (operasi) sebuah bisnis itu sendiri.

Masalahnya jika investor membeli sebuah saham berdasarkan berita menarik yang tidak berbasis fundamental, maka disaat nanti masalah muncul, panik akan terjadi dan dalam proses akan merugikan investor tersebut.

Dan itulah mengapa WB akan selalu fokus mempelajari sebanyak mungkin tentang sebuah bisnis yang di lirik. 3 prinsip yang menjadi panutan beliau:

1. Sebuah bisnis harus sederhana dan bisa di pahami (Simple and Understandable).

Pemahaman tentang cara operasi sebuah bisnis adalah kunci utama. Tidak kurang penting pemahaman tentang angka-angak seperti Pendapatan, Beban, Arus kas, Hubungan ESDM, Keleluasaan dalam penentuan harga jual, dan Alokasi modal.

WB bisa mengerti cara kerja setiap bisnis yang beliau miliki bukan karena beliau super pintar, namun justru karena beliau telah menyingkir semua ide bisnis yang tidak bisa di fahami dan fokus di bisnis yang bisa di mengerti.

Intinya sukses dalam berinvestasi tidak di tentukan oleh seberapa banyak perusahaan yang anda tau, tapi seberapa arif anda bisa membatasi diri dalam hal yang anda tidak mengerti.

2. Sebuah bisnis wajib memiliki riwayat kinerja yang konsisten (Consistent Operating History).

WB tidak hanya menghindari model bisnis yang rumit, beliau juga menghindari bisnis yang mencoba memecahkan masalah dunia atau yang secara fundamental berubah arah karena rencana sebelumnya gagal. Bisnis yang secara bertahun-tahun memproduksi dan menjual produk dan jasa yang sama adalah bisnis yang patut di pelajari lebih dalam menurut WB.

Walaupun mencoba memprediksi kinerja masa depan sebuah perusahaan tidak lah mudah, namun perusahaan yang memiliki rekam jejak kinerja yang stabil dan masih menjual produk dan jasa yang sama selama bertahun-tahun maka tidaklah keterlaluan jika kita beranggapan trend kinerjanya akan berlanjut walaupun tidak selalu benar.

WB tidak percaya dengan bisnis turnaround (mampu berbalik badan), karena dari pengalamannya bersama Charlie, bisnis ini jarang sekali turn (berbalik badan). Jadi hikmah yang beliau terima adalah: hindari mereka!

3. Sebuah bisnis wajib memiliki prospek jangka panjang yang menguntungkan alias MOATS (Favourable longterm prospects).

Secara mendasar, WB menerangkan bahwa sebuah bisnis yang memiliki MOAT (kekuatan kompetisi yang berkesinambungan) adalah yang produk dan jasanya memiliki 3 karakteristik dasar yaitu:
– Di butuhkan atau di inginkan.
– Tidak memiliki pengganti (substitusi) yang dekat.
– Tidak di atur/limitasi oleh regulasi.

Dengan adanya 3 karakteristik atas, sebuah perusahaan bisa mempertahankan harga jual bahkan menaikannya tanpa harus hawatir kehilangan pangsa pasar atau terjadinya penurunan volume penjualan. Keleluasaan dalam pengaturan harga jual merupakan ciri sebuah bisnis yang kuat yang bisa memberikan pengembalian modal yang lebih tinggi dibanding sektor.

Disini WB juga memberi peringatan tentang bisnis komoditas yang tidak memiliki diferensiasi sehingga harga jual yang murah akan menjadi satu-satunya faktor dalam perebutan pangsa pasar. Namun hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap marjin perusahaan. Di masa lalu, minyak, gas, kimia, tembaga, kayu, gandum dan oren jus adalah produk komoditas. Namun hari ini bahkan komputer, otomotif, jasa penerbangan, bank dan asuransi pun telah menjadi komoditas karena tipisnya perbedaan produk antar perusahaan.

B. Management Tenets

WB menggaris bawahi kepentingan kualitas manajemen saat melirik sebuah bisnis. Kejujuran dan kompetensi adalah dua hal yang WB cari.

Terlepas dari seberapa menarik prospek sebuah bisnis, tanpa kejujuran dan kompetensi, WB percaya kemitraan tersebut tidak akan sehat dan berlangsung lama, mustahil bisa hasil.

Ada 3 pertanyaan penting (prinsip) yang WB lontarkan saat mencari manajemen yang jujur dan berkompetensi yaitu:

1. Apakah manajemen rasional? (Rationality)

Satu misi terpenting seorang manajer dalam bisnis menurut WB adalah pengalokasian modal. Secara jangka panjang modal akan berdampak pada nilai yang diterima oleh pemegang saham. Menginvestasikan ulang keuntungan atau mengembalikannya dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham menurut WB akan menunjukan rasionalitas manajemen.

Kemana keuntungan di alokasikan sangat lah berkaitan dengan fase siklus bisnis perusahaan (business life cycle) tersebut sedang berada.

Saat perpindahan siklus bisnis terjadi, tingkat pertumbuhan pendapatan, laba dan arus kas pun akan berubah drastis.

Di fase awal (development stage), perusahaan sering mengalami kerugian karena sedang membangun produk dan merintis pasar, itu sangat wajar.

Terus di fase berikut, penjualan bertumbuh kencang (growth stage), dan mulai mencetak laba, namun belum cukup untuk membiayai ekspansi usaha yang begitu ekspansif sehingga keuntungan cenderung diputar kembali bahkan seringkali harus berutang.

Berikut, perusahaan masuk ke fase kematangan (maturity stage). Pertumbuhan pendapatan mulai melambat namun akumulasi arus kas terus meningkat dan melebihi keperluan ekspansi dan kebutuhan operasional.

Terakhir fase penurunan (decline stage), perusahaan mulai mengalami kontraksi di pendapatan dan laba, namun masih terus mencetak kelebihan arus kas.

Di fase kematangan dan penurunan ini lah (terutama di fase kematangan) muncul pertanyaan, kemanakah sebaiknya kelebihan arus kas di alokasikan?

Menginvestasikan kembali kelebihan arus kas kedalam bisnis jika pengembalian ekuitas (ROE) bisa meningkat.

Namun kalau hal atas adalah mustahil, maka manajemen memiliki 3 opsi lain, yaitu:

–  Abaikan masalah yang ada dan tetap invest seperti yang di terangkan atas walaupun tingkat ROE makin memburuk.

– Membeli pertumbuhan baru lewat akuisisi bisnis.

– Kembalikan kelebihan uang ini kepada pemegang saham.

Naaah, di persimpangan jalan sinilah, WB dengan sangat teliti menanti tindakan yang akan diambil oleh manajemen karena akan mencerminkan rasionalitas manajemen dalam berbisnis.

Jika manajemen masih tetap melakukan investasi ulang walaupun ROE terus menurun, maka manajemen mengambil pandangan bahwa ini hanyalah masalah sementara, manajemen percaya kejayaan akan kembali.

Namun jika masalah ini berlarut lama dan manajemen terus mengabaikannya, maka kinerja akan semakin memburuk, kelebihan arus kas semakin menumpuk dan nganggur, harga saham pun akan mendapat sentimen negatif. Ini umumnya menandakan era manajemen baru, karena banyak korporasi yang akan sangat tertarik membelinya dengan kas yang melimpah dan di jual di harga murah.

Untuk menangkis ancaman ini, manajemen melakukan aksi akuisisi. Namun WB tidak terlalu optimis dengan cara membeli pertumbuhan, karena 1 hal, akuisisi itu mahal. Selain itu, menjalani bisnis baru cenderung menimbulkan kesalahan baru dan ini akan merugikan pemegang saham.

Jadi opsi yang paling rasional menurut WB adalah mengembalikan kelebihan uang kepada para pemegang saham. Ini bisa di lakukan lewat pembagian dividen atau membeli kembali saham perusahaan.

2. Apakah manajemen jujur kepada pemegang saham? (Candor)

WB sangat menghargai manajemen yang berani secara jujur dan terbuka melaporkan performa kinerja perusahaan apa adanya dan berani mengakui kesalahan dan sudi berbagi kesuksesan.

Setiap laporan kinerja yang dilaporkan minimal harus bisa menjawab 3 pertanyaan penting: estimasi nilai perusahaan, kemampuan keuangan untuk memenuhi kewajiban, dan tingkat kinerja manajemen saat ini.

3. Apakah manajemen mampu menaham tekanan korporat sejenis? (Institutional imperative/dependent thinking)

Jika setiap manajemen perusahaan pasti hebat dan jujur dalam mengatasi masalah, mengapa di laporan tahunan sering hanya ditemukan berita sukses saja? Jika alokasi modal begitu mudah dan logika, mengapa manajemen begitu ceroboh dalam mengaturnya?

Inilah yang disebut dengan tekanan korporat sejenis alias institutional imperative alias peer-pressure dalam bentuk korporat. Keinginan untuk meniru tindakan korporasi lain terlepas dari sebodoh apa dan se-irrasional apa tindakan tersebut.

Tekanan korporat sejenis bertanggung jawab atas 4 masalah serius sebuah perusahaan, antara lain?
– Penolakan terhadap perubahan arah bisnis yang salah (buta fakta).
– Kegagalan dalam optimalisasi alokasi modal yang selalu mengarah ke aksi akuisisi (deworsifikasi).
– Dukungan setia dari bawahan terhadap manajemen irrasional (krisis manajemen).
– Meniru tindakan irrasional perusahaan sejenis (ikut-ikutan).

Evaluasi terhadap tindakan manajemen dalam aspek: rasionalitas, kejujuran dan pemikiran mandiri tidaklah gampang namun sangat penting, karena akan memberi peringatan awal kepada para investor yang saat ini belum terlihat di angka-angka laporan keuangan maupun tercermin di harga saham.

Beda dengan kuantitatif rasio, kualitas tidak bisa diukur dengan angka. Karena menganalisa manajemen butuh galian informasi yang lebih mendalam, seringkali bahkan analis pun malas melakukannya, namun ini adalah kerugian mereka, dan keuntungan bagi yang rajin.

WB memberikan beberapa saran cara mengevaluasi manajemen perusahaan, antara lain:

– Baca laporan tahunan beberapa tahun terakhir dan letakkan perhatian khusus pada ucapan manajemen atas strategi bisnis yang akan mereka lakukan di masa depan, lalu bandingkan rencana sebelumnya dengan hasil sekarang, seberapa sukses?

– Bandingkan strategi bisnis beberapa tahun sebelumnya dengan strategi sekarang, bagaimana pemikiran manajemen berubah?

– Bandingkan laporan tahunan perusahaan dengan laporan tahunan para pesaing. Mungkin tidak mudah mencari pesaing yang persis sama, namun yang relatif sama adalah evaluasi yang cukup.

Pesan terakhir mengenai “prinsip manajemen”, WB menerangkan bahwa memiliki manajemen yang mantap tidaklah cukup untuk menggodanya. Beliau mengingatkan bahwa, banyak kali dalam bisnis jikapun memiliki tim manajemen yang hebat, perusahaan jelek tetaplah susah untuk bangkit, jadi tindakan bijak dari seorang investor adalah menghindari mereka.

C. Financial Tenets

Dalam aspek Finansial, WB melihat data secara periode panjang, bukan tahunan. Dan ada 4 prinsip yang memandu beliau dalam aspek ini, yaitu:

1. Return on Equity (ROE)

Secara umum di pasar saham, analis mengukur performa sebuah perusahaan berdasarkan Earning Per Share (EPS). Apakah EPS meningkat, apakah EPS mengalahkan ekspektasi, dan apakah EPS meningkat drastis sehingga bisa di sombong kan?

Namun WB menilai bahwa EPS hanyalah data samaran. Karena hanya mencerminkan pertumbuhan ekuitas dan itu tidak cukup. Yang WB ingin tau adalah seberapa efisien pertumbuhan tersebut, dan itu sebabnya WB menggunakan ROE.

ROE versi WB sedikit lebih detail, ini untuk menjamin apa yang diukur benar-benar merepresentasikan nilai sesungguhnya, sehingga beberapa revisi dilakukan:

– Semua jenis aset dalam bentuk sekuritas harus di nilai secara harga pokok. Karena jika di hargai secara pasar, maka ekuitas akan menjadi fluktuatif tergantung pergerakan nilai aset saat itu, sehingga tidak mencerminkan nilai dasar.

– Dari sisi laba, anggaran-anggaran yang hanya terjadi satu kali wajib di hapus (contoh: untung/rugi dari penjualan aset).

– Terakhir, WB percaya sebuah bisnis yang sehat adalah yang mampu mencetak pengembalian atas ekuitas yang bagus dengan menggunakan utang yang minim atau tanpa utang. Selain itu, perusahaan yang memiliki utang terlalu besar juga lebih bahaya di saat perlambatan ekonomi tiba.

Meskipun penilaian WB yang konservatif terhadap utang, WB menyarankan bahwa jika mau berutang, lakukan sebelum kebutuhan tersebut hadir sebagai langkah antisipasi. Karena pengalaman menunjukan seringkali jika suatu peluang bagus hadir uang adalah langka, sedangkan saat uang melimpah peluang adalah langka. Metafora​ yang WB pakai adalah, “Jika anda ingin menembak seekor gajah yang langka dan berlari cepat, anda harus selalu membawa senapang“.

2. Owner Earnings

WB mengingatkan bahwa setiap investor wajib mengerti data finansial yang ingin dipakai sehingga mengerti apa yang dia baca. Contohnya laba. Setiap model bisnis memiliki tingkat laba yang berbeda, ada yang aset ringan ada pula yang aset berat. Sama juga dengan arus kas. Beda industri akan memiliki hasil yang beda. Ada yang memiliki pola capex yang mengecil seiring fase siklus bisnis, ada juga yang capex tidak berubah di fase manapun bisnis tersebut berada.

Selain itu persis seperti Peter Lynch menceritakan, banyak analis menggunakan arus kas untuk mempromosikan suatu bisnis yang belum memiliki laba, sehingga arus kas dipakai untuk membenarkan analisa mereka.

Bagi WB, beliau lebih nyaman menggunakan Owner Earnings, yaitu:

Laba bersih + Depresiasi + Amortisasi + Laba dari non cash lainnya – Capex + Peningkatan di modal kerja*

*Modal kerja = Aset Lancar – Liabilitas jangka pendek

3. Profit Marjins

Tidak ada rahasia tentang profitabilitas. Semua adalah tentang pengendalian beban/biaya.

WB mengingatkan investor bahwa pengendalian beban adalah kewajiban rutinitas setiap perusahaan. Jika ada manajemen yang mengumumkan bahwa mereka akan membikin program potongan biaya, maka WB tau bahwa manajemen ini belum mengerti apa itu beban/biaya bagi perusahaan.

4. One-Dollar Premise

WB percaya jika beliau telah memilih sebuah perusahaan yang memiliki prospek jangka panjang yang bagus dan di kelola oleh manajemen yang hebat, rasional dan pro terhadap pemegang saham, maka hasilnya akan terlihat di nilai pasar perusahaan tersebut.

Hal yang sama juga berlaku atas laba yang di tahan. Jika perusahaan berhasil meningkatkan ROE maka market akan merefleksikan keberhasilan tersebut, dan sebaliknya juga akan terjadi jika ROE menurun.

WB menggunakan istilah One-Dollar Rule (Peraturan Satu-Dollar) sebagai alat ukur untuk menilai perubahan di nilai pasar terhadap efektivitas manajemen dalam meningkatkan nilai perusahaan.

Peraturan ini menyatakan bahwan peningkatan di setiap dollar laba ditahan harus disertai dengan kenaikan minimal setiap dollar nilai pasar.

D. Market Tenets

Semua prinsip yang sudah di bahas dari A hingga C diatas adalah bertuju pada 1 keputusan: beli atau tidak beli. Namun masih ada 2 prinsip lain untuk merampungkan sebuah transaksi, yaitu pengetahuan tentang nilai bisnis tersebut dan seberapa murah saham ini bisa di beli terhadap nilai wajarnya.

1. Menentukan nilai perusahaan

Menurut WB cara terbaik menghitung nilai sebuah bisnis sudah ditemukan 70 tahun yang lalu oleh John Burr Williams (JBW) dalam bukunya yang berjudul The theory of investment value.

WB mengutip JBW menerangkan, nilai sebuah bisnis bisa ditentukan dari Jumlah Arus Kas Bersih yang bisa dihasilkan di masa depan, lalu di hitung kembali ke nilai kini dengan menggunakan tarif diskon suku bunga yang wajar.

Mungkin terdengar sulit, namun sesungguhnya cukup mudah dilakukan, asal kita memiliki variabel yang tepat, yaitu: jumlah arus kas bersih masa depan dan tarif diskon yang tepat.

Jadi balik lagi ke aspek pertama tentang prinsip bisnis tadi. Jika sebuah bisnis adalah mudah dan bisa dimengerti, dan memiliki rekam jejak yang konsisten, maka WB yakin arus kas bersih masa depan bisa dihitung. Namun jika beliau tidak bisa, beliau tidak akan coba menilai perusahaan tersebut, inilah letaknya perbedaan antara pendekatan WB dengan investor lain, yang selalu mengacu pada prinsip hindari resiko.

Tarif diskon yang WB pakai adalah tarif suku bunga obligasi jangka panjang pemerintah Amerika Serikat (long-term US government bond).

2. Membeli di harga yang menarik

WB mencatat, investasi di perusahaan bagus yang mudah dan bisa dimengerti dan memiliki prospek jangka panjang yang bagus dan di kelola oleh manajemen yang baik tidaklah memberi garansi sukses. Investor harus membeli di harga yang wajar dan perusahaan tersebut pun harus menghasilkan kinerja yang sesuai ekspektasi.

Jika gagal, kemungkinan ada 3 faktor:
– Harga yang di bayar
– Manajemen perusahaan
– Prospek bisnis masa depan
dan yang paling sering terjadi adalah salah kalkulasi di prospek bisnis masa depan.

Jika seorang investor sudah tau nilai sebuah perusahaan, maka dia akan dengan gampang menilai harga yang harus dia bayar dan ini kita kenal dengan istilah Margin of Safety (MOS) alias diskon terhadap harga wajar yang di ciptakan oleh Ben Graham.

Inilah ringkasan dari 12 prinsip investasi WB yang beliau pakai dalam menganalisa sebuah bisnis. Untuk selengkapnya mohon di baca langsung dari bukunya.

Tadinya saya ingin menulis secara lengkap ringkasan buku ini dalam 1 article, namun masih cukup banyak yang mau di bahas, sehingga saya memutuskan untuk berhenti disini dulu supaya anda yang membaca bisa mencerna dulu, dan saya juga bisa menunda sejenak dalam meringkas.

Semoga article ini bisa memberi banyak manfaat kepada anda yang sedang belajar.

Sampai ketemu lagi di bagian ke 2 dari buku The Warren Buffett Way.

Selamat menikmati dan jangan sampai ketiduran!

Alianto Chan

Tags

Author: aliantochan

I'm just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it's a way of life. The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person. Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same. Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

2 thoughts on “Ringkasan Buku #2: The Warren Buffett way 3rd edition by Robert G. Hagstrom (Bagian 1 dari 2)”

  1. Ini dia ringkasan yg saya cari.

    Salah satu yg bisa saya pelajari adalah metafora wb : bila ingin menembak gajah langka yg berlari cepat, kita harus selalu bawa senapan.

    Seringkali senapan saya masih di bank dlm bentuk deposito sehingga butuh waktu agar senapan ready.

    Semoga ringkasan bag 2 segera dipublished dan Mohon buku selanjutnya juga tentang WB.

    1. Heheheh seperti kita slalu bilang ya pak, persiapkan diri untuk hari hujan. Kadang emang sebel kalo lihat market lagi murah saham2 bgs pada murah, namun kita juga tidak memiliki dana utk beli. Tapi kondisi bpk lbh mapan, bkn ga punya dana, hanya hrs tunggu es jadi cair hehe.

      Barang kali boleh tanya ke agen sekuritas maupun tmn2 shm, karena sy tau diluar sana seperti yg ada di baraksa, investasi index dlm bentu fixed income alias deposito yg sifat ikatan wkt hanya 1 hari namun returnnya tidak kalah dgn yg bulanan-tribulanan. coba di cek saja pak.

      Mengenai buku berikut blm sy tentukan, tapi pastinya tidak akan buku WB pak, sebetulnya article ini hanya ringkasan mini saja, banyak info2 yg ga kalah penting tidak tercantum, jadi lbh bagus sih dibaca bukunya, dan buku ini sudah sangat komprehensif mengerti cara investasi WB, sehingga menurut sy agak mubazir jika masih hrs bahas buku wb yg lain kecuali yg lbh specifik ke strategi-strategi khusus/perusahaan khusus yg diulas.

      Saya ada bbrpa opsi sih utk next book, mungkin bukunya william J. O’neil namun coba nnti sy baca dulu apakah cocok buat dipakai untuk sharing ilmu. Jika ada rekomen bgs boleh di saran pak, atau lbh bagus lagi, jika tertarik utk berkontribusi article yang bisa turun mengedukasi, sy sangat tertarik utk publikasikan disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.