Portfolio bulan Maret 2017

IHSG vs PORTO

Terlampir adalah hasil akumulasi pertumbuhan porto (or should I say penyusutan) saya hingga Maret 2017.

Pada saat IHSG rally dan sudah tumbuh hingga 5,12% YTD di akhir bulan Maret 2017, mala porto pribadi saya jeblos hingga (minus) -0,13%. Ini kadang membuat sakit hati ya bagi banyak investor termasuk diri saya, melihat index nanjak tinggi hingga melampaui All Time High, namun kita gagal menikmati trend yang sama hadewww…

Ok, sebelum kita bahas lebih jauh ke dalam porto, saya ingin meluruskan beberapa hal penting yang sempat membuat banyak kegalauan saya di bulan Maret.

Saya menerima banyak kritikan konstruktif (baca: kritik yang bersifat nasehat demi kebaikan) dari banyak teman-teman, baik dari Forum, Sosmed, Blog maupun (terutama) komunitas kami.

Kadang, kita yang sudah memahami fundamental investasi tidak menjamin bahwa kita sudah bijak. Pengetahuan dan kebijaksanaan adalah 2 hal yang berbeda. Berawal dari keserakahan hingga sesat di jalan. Namun yang patut di syukuri adalah memiliki banyak teman seperjuangan baik itu secara kenal langsung maupun hanya sebatas cyber friends.

Yup, yang mengikuti blog ini sudah pasti tau masalah apa yang saya bicarakan. Tidak lain, adalah pilihan saya memindahkan porto ke AKUN MARJIN.

Saya sempat galau berminggu-minggu mendengarkan tanggapan dari teman-teman masalah penggunaan marjin. Tentunya saya pasti punya alasan mengapa melakukan itu, namun apakah alasan saya memiliki dasar yang layak dan benar atau hanya sebatas keserakahan? Setelah saya gali ke dalam hati, sedalam-dalamnya saya bisa, sekaligus mencermati perjalanan saya selama setahun lebih terakhir, saya menemui jawabannya, dan saya harus mengakui bahwa tindakan saya adalah menyesatkan dan sangat munafiq.

Pasalnya saya berkali-kali mengingatkan teman seperjuangan untuk melakukan investasi secara sabar, namun jika harus berutang, gimana mau suruh orang sabar? Lalu, jika saya katakanlah berhasil meraup cuan yang besar lewat metode marjin, apakah metode ini bisa di ciplak oleh yang lain? Layakkah saya mengajari yang baru terjun ke saham untuk memanfaatkan marjin untuk meningkatkan persentase profit mereka? Ini sama saja saya menyuruh para investor newbie terjun ke jurang.

Justru di tahun 2015 saya sudah pernah terjebak di marjin dan rugi besar. Walaupun kondisi saat ini agak berbeda namun alasan dasarnya sama, yaitu KESERAKAHAN. Jadi tindakan saya memang tidak butuh bantahan, namun mengaku salah langkah sejujur-jujurnya saja. Dan itu yang akan saya lakukan dan mencoba membalikkan situasi ke semula.

Kita bisa saja belajar untuk meningkatkan skills kita dalam berinvestasi, namun ada hal lain yang jauh lebih penting, dan itu sering kita lupakan, dan itu yang saya lupakan, yaitu mental yang sehat dan serangkaian moral terpuji lainnya. Parahnya saya sudah pernah membahasnya disini.

Itu juga mengapa saya berkali-kali menasehatin teman-teman seperjuangan yang ingin belajar dan berinvestasi dengan benar, “BIKINLAH BLOG!!! Lalu datakanlah perjalanan investasi anda dengan SEJUJUR-JUJURNYA!“.

Blog itu berfungsi seperti CCTV, bisa melihat balik waktu; Apa yang ingin kita lakukan, apa yang kita janji akan lakukan, dan apa yang telah kita lakukan, semua bisa kita datakan untuk di review kemudian hari. Setiap kali kita meragukan cara investasi kita, baca ulang semua catatan blog sejak awal, dan disitulah kita akan kembali menemukan kompas arah tujuan investasi kita.

Berkah kejujuran dan transparansi saya di blog inilah, saya bisa memberi peluang kepada yang lain (hahaha dengarnya lucu ya seolah-olah yang bantu mala diberi kesempatan) untuk menasehati saya dengan jujur apa adanya (Karma). Jadi yang awalnya blog ini dimulai hanya untuk fungsi kontrol diri, kemudian berekspasi menjadi tempat berbagi filosofi dan ilmu kepada yang membutuhkan, namun yang sangat menakjudkan namun ironis adalah, lewat blog ini saya yang awalnya adalah sang “penolong” mala pada akhirnya yang “ditolong”.

TERIMA KASIH kepada teman-teman yang sudah sangat iklas dan jujur mendidik saya dan mencoba membawa saya kembali ke jalur yang benar, saya mungkin akan terjerumus lebih jauh jika tanpa ada teguran dan dukungan dari anda. So, THANK YOU!!!

Jika anda adalah orang yang masih percaya dan nyaman dengan penggunaan marjin, ya, biarlah anda menjalaninya sesuai kenyaman anda, saya tidak akan berdebat hal ini, namun saya melihat marjin bukanlah hal yang layak jika kita mengakui diri sebagai seorang investor jangka panjang.

Dibawah ini saya akan mengdemonstrasikan mengapa penggunaan marjin tidak layak, dan mengapa harusnya kita lebih bijak tidak menggunakannya.

Sebelum itu, saya akan menjelaskan sedikit tentang akun marjin supaya para investor baru bisa memahaminya nanti.

Marjin adalah HUTANG! Fasilitas ini secara otomatis sudah disediakan oleh semua sekuritas di akun anda dan besarnya biasanya di tentukan oleh net asset (ekuitas) yang anda miliki dalam porto, dan setiap sekuritas memiliki marjin rasio terhadap ekuitas yang berbeda bisa variasi antara 100% hingga 400%. Jadi dalam kata lain, miriplah dengan kartu kredit. Anda boleh memakainya, namun anda harus melunasinya pada saat jatuh tempo, jika tidak, anda akan dikenakan biaya bunga yang tinggi.

Marjin di “Akun Regular” dan marjin di “Akun Marjin” sedikti berbeda. Untuk marjin di akun regular, batas waktu adalah 3 hari saja, lewat dari itu akan dikenakan bunga pinjaman yang ditentukan oleh sekuritas anda, namun jika di hari ke 6 masih belum anda lunasi utang marjin, maka sekuritas anda akan melakukan forcesell. Untuk melunasinya bisa dengan 2 cara: anda setor dana segar, atau anda jual sebagian saham yang nominalnya minimal sama dengan utang marjin+bunga marjin anda.

Lalu ada jenis kedua yaitu marjin di Akun Marjin, dimana anda tidak memiliki keterbatasan waktu untuk berhutang (namun saya dengar ada sekuritas yang hanya memfasilitasi hingga 90 hari saja setelah itu juga akan di forcesell), namun di sekuritas saya, setau saja tidak ada limit waktu. Dan bunganya akan terus berguling dikenakan pada setiap akhir bulan hingga anda melunasi utang atau lebih parahnya pada saat anda loss anda sudah mencapai batas rasio utang maka anda wajib setor dana segar atau anda dipaksa jual saham untuk menurunkan rasio utang yang bisa ditoleransi.

Ok, sekarang mari kita ilustrasikan mengapa probabilitas marjin itu jelek. Saya memakai probabilitas karena di dunia saham itu tidak ada yang pasti, dan karena ada aturan-aturan seperti saya sebut diatas, maka ada kalanya kita akan terpaksa menjual saham untuk menutupi utang jika tidak mampu menyetor dana tambahan.

Anggaplah kita memiliki modal 100jt, dan bunga marjin adalah 20% per tahun dan untung/rugi imbang di 30%!

Contoh 1: Modal 100jt, Marjin 50%, Cuan/Loss 30%

SAAT CUAN:
TANPA MARJIN

Maka Sisa Porto = 100jt + 30jt = 130jt (Porto +30%)
DENGAN MARJIN
>> Modal = 100jt + 50jt = 150jt
>> Cuan 30% = 45jt
>> Utang marjin = -50jt
>> Bunga marjin = -10jt (20% dari 50jt pinjaman)
Maka Sisa Porto = 150jt + 45jt – 50jt – 10jt = 135jt (Porto +35%)

SAAT RUGI:
TANPA MARJIN

Maka Sisa Porto = 100jt – 30jt = 70jt (Porto -30%)
DENGAN MARJIN
>> Modal = 100jt + 50jt = 150jt
>> Rugi 30% = -45jt
>> Utang marjin = -50jt
>> Bunga marjin = -10jt
Maka Sisa Porto = 150jt – 45jt – 50jt – 10jt = 45jt (Porto -55%)

Kesimpulan: Jika pakai marjin, saat cuan akan mendapatkan tambahan 5% profit saja di banding non-marjin, namun saat Loss akan menderita tambahan kerugian -25% dibanding non-marjin (-55% vs -30%), parah! dan itu hanya menggunakan marjin 50% saja lho!

Contoh 2: Modal 100jt, Marjin 100% Cuan/Loss 30%

SAAT CUAN:
TANPA MARJIN

Maka Sisa Porto = 100jt + 30jt = 130jt (Porto +30%)
DENGAN MARJIN
>> Modal = 100jt + 100jt = 200jt
>> Cuan 30% = 60jt
>> Utang marjin = -100jt
>> Bunga marjin = -20jt (20% dari 100jt pinjaman)
Maka Sisa Porto = 200jt + 60jt – 100jt – 20jt = 140jt (Porto +40%)

SAAT RUGI:
TANPA MARJIN

Maka Sisa Porto = 100jt – 30jt = 70jt (Porto -30%)
DENGAN MARJIN
>> Modal = 100jt + 100jt = 200jt
>> Rugi 30% = -60jt
>> Utang marjin = -100jt
>> Bunga marjin = -20jt
Maka Porto = 200jt – 60jt – 100jt – 20jt = 20jt (Porto -80%)

Kesimpulan: Jika pakai marjin, saat cuan akan mendapatkan tambahan 10% profit saja di banding non-marjin, namun saat Loss akan menderita tambahan kerugian -50% dibanding non-marjin (-80% vs -30%), parah sekali!

Nah, saat saya melihat perhitungan atas (ini adalah contoh yang di berikan oleh seorang teman dari Forum), saya langsung merasa mual…. Kadang itu sih penyakitnya investor, selalu merasa hebat. Yakin sekali bakal bisa mengalahkan pasar, termasuk diri saya.

Tapi kita lupa, pasar saham itu sangat dinamis. Saham bagus pun bisa turun ga karuan dan tidak tau kapan bakal pantul. Jika kita belinya dengan uang sendiri dan uang dingin, kita bisa saja membiarkannya hingga pantul mau 1 tahun, 2 tahun bahkan selamanya. Tapi kita sudah menggunakan marjin, ada batasan-batasan dimana kita dipaksa oleh sekuritas untuk menjualnya atau memperbaiki rasio utang kita.

Seperti contoh no.2 diatas, jika marjin rasio maksimal adalah 100% dari ekuitas (sisa nilai porto), maka dengan kerugian 30% kini porto hanya tersisa nilai 20jt dan marjin 100jt, berarti kita harus mencari uang tambahan 80jt untuk menjaga rasio utang tersebut, atau kita cutloss 80jt untuk membuat rasio marjin kita balik ke 100% (karena sisa nilai porto 20jt, maka marjin pun hanya bisa 20jt saja sekarang). See, bahayakan? Padahal belum tentu saham yang kita beli itu jelek dan saham bagus pun sangat bisa turun 30% hingga 40% yang sering kita saksikan di pasar saham.

Semoga anda yang membaca Laporan Bulanan ini bisa memahami maksud saya dan alasan mengapa kita sebagai investor jangka panjang patut menghindari marjin.

Jika anda tidak setuju dengan pendapat atas, saya bermohon anda untuk berbesar hati tidak memperdebatkannya di sini, biarlah profit anda, anda saja yang nikmatin, sedangkan buat investor baru, biarlah mereka secara perlahan meningkatkan hasil investasi mereka hingga satu saat mereka merasa mandiri dan bisa menentukan pilihan mereka secara sadar dan mandiri.

What’s next? Karena disini saya sudah mengakui kesalahan dan saya juga sudah berjanji kepada diri saya untuk keluar dari posisi marjin, dan itulah yang akan saya lakukan dalam beberapa bulan kedepan.

Tapi karena saat ini saya sudah dalam posisi kejebak (you see, kirain pinter sekali tadi, toh ujung-ujungnya nyangkut juga dan utang lagi), maka saya membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk memperbaiki posisi saya sebelum saya full exit di marjin, akan secara bertahap saya kurangi hingga nanti tidak lagi memiliki utang di sekuritas.

Cukup menyesalkan sebetulnya dengan cara pikir saya yang emosional sebelumnya. Berbulan-bulan hingga tahun saya menulis disini, memberi saran dan bertukar pikiran dalam investing, dan mendapatkan banyak dukungan dan kehormatan dari pembaca, namun ujung-ujungnya saya juga masih kejebak keserakahan. Seperti Warren Buffet bilang,

“Membangun sebuah REPUTASI membutuhkan waktu bertahun-tahun, namun menghilangkannya hanya butuh 5 menit”.

Ok, setelah saya get rid of my galau-ness, sekarang mari kita masuk ke pembahasan Porto bulan Maret 2017.

Kinerja 3 bulan awal tahun 2017 saya tergolong sangat jelak, di saat IHSG yang menembus posisi puncak tertinggi sebelumnya YTD +5,12%, porto saya malah tidak kemana-mana, YTD -0,13% (minus).

Dan saya percaya ini juga ada efeknya terhadap pilihan saya ke akun marjin ini. Karena kita selalu ingin mengukur dan membanding diri baik dengan performa investor lain maupun index bursa efek, sehingga kita terpancing untuk melakukan hal-hal kurang rasional.

Dalam investing kita harus selalu kembali mengingat tujuan jangka panjang kita. Tidak bisa setiap saham yang kita beli, hari esoknya berharap langsung auto-reject-KANAN. Jika saham tersebut bisa melakukan itu, maka ingat kembali probabilitas yang saya sampaikan di atas tadi, saham tersebut juga mungkin akan bisa auto-reject-KIRI esok hari.

Sesungguhnya masalah utama selalu adalah di psikologis kita. Disaat kita berfikir ingin berinvestasi dengan tenang dan sabar, namun semua hal disekitar kita menunjukan indikator yang membuat kita harus bergerak melawan waktu dan saling berbanding.

Pola pikir kita harus berubah. Jika kita masih terpaku keberhasilan kita itu dari segi harga saham, maka sampai kapan pun kita tidak akan bisa degnan jeli melihat peluang bisnis-bisnis bagus yang ditawarkan oleh emiten-emiten yang ada di bursa saham.

Think logic! Pada saat kita harus membeli sebuah saham, posisikan kita sebagai seorang prospek investor yang sedang ditawarin peluang untuk berinvestasi di sebuah bisnis oleh pemiliknya, apa yang akan kita tanyakan? Bagaimana reaksi kita saat dia keluarin jurus, menunjukan kontrak investasi bahwa tetangga kita uda masuk dana 100jt lhooo, apakah kita tanpa pikir panjang langsung investasi juga? Umumnya kita akan lebih bijak dan cermat dalam ambil keputusan jika ini adalah bisnis real dalam arti usaha bukan hanya dilihat dari sisi ticker gerakan harga saham. Coba di renungkan…!

Untuk bulan Maret, tidak banyak yang mau disampaikan bersangkutan prihal porto, saya banyak melakukan salah transaksi seperti di saham: SMSM, TBIG, AISA, SCMA, LINK dimana saya harusnya stay put, memegang saham-saham bagus ini kebanding secara terpaksa maupun sengaja melepaskan posisi di mereka demi berutak atik dan masuk ke akun marjin.

Untuk detail tinggal lihat dari porto saya diatas dan bobot masing-masing saham. SCMA saya baru buyback karena sayang tidak dimiliki apalagi dengan harga tergolong masih murah secara valuasi, namun saya baru masuk dengan posisi kecil, overall hanya 2,23% dari total bobot porto.

Semoga article laporan bulanan Maret ini bisa meluruskan perjalanan anda jika kejebak seperti saya.

Ayo, back to longterm investment, sampai ketemu lagi di article berikut.

Salam investasi jangka panjang,

Alianto Chan

Tags

Author: aliantochan

I’m just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it’s a way of life.

The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person.

Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same.

Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

21 thoughts on “Portfolio bulan Maret 2017”

  1. Kalau saya menganalisa suatu saham dibedakan antara fundamental (neraca) dan kinerja (laba dan casflow operasional), jadi yang terutama dari 2 hal di atas adalah kinerja. Seperti Peter lynch katakan laba,laba dan laba.

    1. Setuju pak, laba laba dan laba. Namun itu simpulan, diatasnya ada 6 kategori saham, jd yg bpk maksud dgn laba melihat perusahaan fast growth saja kah?

    2. Baik fundamental maupun kinerja sama penting swbetulnya pak, namun condong di pakai pd saat yg berbeda pd saham yg berbeda.

      Contohnya jika bpk membeli shm yg bermasalah, uda pasti kinerja jelek, maka fundamental otomatis menjadi acuan kita mengukur brpa aman jika salah analisa.

      Sedangkan perusahaan yg super growth uda pst byk utang dan funda condong tdk begitu baik, namun kinerja super, disini ya emang fokusnya lbh ke kinerja dan menganalisa seberpa bsr growth potential yg ms tersisa.

    3. saham Fast growth adalah saham terbaik untuk dimiliki, tapi ingat tidak selamanya saham masuk kategori fast growth, contoh LPCK sampai 2014 masuk kategori fast growth dan lihat kenaikan harga sahamnya tetapi sejak 2015 growth menurun sampai sekarang belum ada perbaikan kinerja malah makin menurun sebaiknya hindari dulu walaupun fundamental bagus, contoh lain LPPF growth laba menurun biasanya diatas 25% sekarang hanya 13%.

    4. Benar pak, namun growth sebaiknya tdk kita pandang secara tahun ke tahun krna cenderung akan lbh fluktuatif, tp sy setuju lpck tdk akan seperti dlu lg dmn faktor pendorong berasal dr jual lahan, sedangkan kini fokus ke komersial/residential dan penataan kota. Kembali ke horizon yg kita lihat, jika shortterm ya yearly achievement butuh kita perhitungkan, namun jangka panjang, selagi yakin prospeknya ms bgs, saat murah adalah berkah.

      Kadang susah pak kita mau justifikasi menggunakan harga saham yg di tentukan pasar yg kita tau cenderung tdk rasional. Lihat inaf, apakah kinerja wow, toh uda naik 10xlipat, gmn pula dgn shm yg kita pandang bgs seperti smbr dan ppro, kinerja juga biasa2 saja, namun harga naik 5-10x juga.

      Bagaimana pula dgn jsmr yg kinerja tumbuh positif harga tdk jalan.

      Saya kira emang kadang cukup sulit utk tdk melihat harga krna harga ada dimana2 apalg skrg masa media sosial, tapi jika ba bertahan emosi dan fokus kembali ke perusahaan dan hold jangka panjang, wktnya akan dtng utk market melihat kenyataan.

      Jangka pendek market adalah voting machine, jangka panjang market ada weighting machine.

    5. Perubahan saham fast growth menjadi slow growth biasanya harga saham akan menurun, dan setiap kategori selalu berubah , kalau kita bisa mencermatinya kita bisa mengambil keuntungan.

    6. Sebenarnya perubahan kategori fast ke slow atau sebaliknya, dapat terlihat dari LK perkuartal, dan untuk pengertian jangka panjang pandangan orang berbeda, kalau menurut saya jangka panjang itu perkuartal selama masih bagus kinerjanya hold, menurun apalagi rugi jual dan cari saham lain.

    7. Iya sebetulnya strategi bpk sudah benar, dan aman krna mengikuti perkembangam kinerja. Mantap pak sharingnya. Sempat beli KBLI tah pak? Di komunitas sy yg jeli, pd cuan triple digit di shm tersebut, haha

    8. Saya ada 2 saham di sektor kabel KBLI dan SCCO, saya masih pegang dari tahun 2016 sampai sekarang, dan karena LK masih oke hold terus hingga kinerja menurun atau buruk. Oke pak semoga sukses selalu.

    9. Wihhh KBLI dan SCCO, kerennn pak, happy super cuan! smoga KBLI bisa capai dan tembus 1000 nnti haha! Di komunitas sy byk yang cuan besar dr saham ini, goodluck juga ya pak

    1. Belum sempat sy cek satu per satu kinerja 2016, sejujurnya pak. Lagi pula harganya uda turun sangat dalam, nnti sy lihat dlu lbh dlm baru tentukan mau di apain mppa. Tp jika dia adalah perusahaan bgs dia tdk akan terpuruk secara kinerja lbh dr 2 thn. Selain itu krna posisinya kecil di porto jd tdk ada urgency utk bertindak, mala lpck yg hrs sy byk tinjau krna penurunannya dlm dan menempati porsi yg lbh bsr.

  2. Pak
    MPPA dan LPCK apa tidak lebih baik di switch ke saham lain??

    Yg mungkin sifatnya lebih cycle?
    Tapi yg stabil perushaannya

    Biar bisa dpt untung juga

    1. Thanks pak Hermawan sarannya, untuk saat ini saya stay put dan sit on my position, karena saya tau LPCK akan pantul hanya tidak tau kapan hahaha! Justru jika saya ada tambahan dana mungkin saya akan tambah.

      Intinya pak menurut saya, perusahaan yang bagus tidak akan dlm sekejab tiba2 jadi perusahaan murahan, emang saat ini pertumbuhan kinerja cukup menantang, but hey, 1 thn yg jelek dlm kinerja adalah 1 thn yg bagus utk yg berikutnya, contoh: GJTL, JPFA, CPIN dkk

      Seperti saya bilang (termasuk diri saya), kita hidup di dunia yg penuh perbandingan, selain kita sering bandingkan saham yg ada di BEI, kita juga sering banding performa 1 sama lain, dan banyak noise seperti media masa yg setiap saat mengingatkan kita tentang harga suatu saham, jadi emang sangat menantang saat rugi, dan parahnya tidak melihat fakta dan punya mental baja memegang shm loss beda tipis, sehingga kadang susah kita bedain.

      Namun sy optimis LPCK punya potensi masa depan yg bagus pak walaupun saat ini harga blng tidak.

      Sedangkan MPPA krna posisi sy kecil, saya juga wait and see, belum tentukan mau di apain.

  3. Saran nih…. berinvestasi sebaiknya jangan dengan 1 model saja pak…. karena tipe saham itu berbeda2, ada yang naik pada waktu tertentu saja, ada yang naiknya berkelanjutan seperti UNVR, ada juga yang tidur lama dan baru naik kalau ada sentimen positifnya dll…. ya.. karena investasi tuajuannya adalah untung maka bagi seorang value investor harus bisa jeli melihat trend juga…tidak apa kalau saham yang kita beli tidak akan dipegang dalam waktu lama, yang penting value-nya dan fundamentalnya dan bisa memberi keuntungan…. sebut saja saham batu bara… banyak sekali yang fundamentalnya cemerlang saat ini dan trendnya juga lagi baik…. kenapa mas tidak coba beli 1-2 sahamnya, misalnya ITMG atau MYOH yang masih murah…. sy juga beli 2 saham tersebut dan profitnya sudah di atas 20% semua padahal kurang dari 2 bln belinya…. dan begitu harga batu bara mulai redup… barulah kita keluar dan masuk lagi ke saham lain yang mungkin trendnya akan naik seperti WSBP, ADHI dan lainnya… kan kalau seperti ini kita bisa untung tanpa harus keluar dari prinsip value investing.

    Soal LPCK sy juga yakin sahamnya akan naik… hanya saja masalahnya trendnya lagi redup dan lagian sekarang masih down trend juga dan bisa saja berlanjut turun hingga posisi 3000an karena masih ada waktu sekitar sebulan tuk masa downnya… dia mungkin akan naik lagi di awal mei saat LK sudah keluar… nah kalau tampak masih akan berlanjut turun kenapa kita harus beli sekarang.. lebih baik dipakai dulu beli yang lain.. karena yang perlu diperhatikan dalam investasi adalah PERCEPATAN PENINGKATAN ASET. kalau hanya 10% per tahun sih mending kita invest di deposito aja… enak .. karena bisa ditinggal tidur dan resiko hampir nol.

    Selain itu jangan lupa beli 1-2 saham untuk tuajuan long term dan komitmen tidak akan dijual walau pasar runtuh bagaimana pun, ya hitung2 tuk warisan buat anak nanti seperti kisah bapak yang beli UNTR di harga 3000 dan untung sampai belasan milyar itu lho. Pas mas beli MYOR di harga 1400 sebenarnya itu saham yang bagus sekali untuk jangka panjang bahkan selamanya…. histori grafinya saja di masa lalu sebelum stockplit sangat cantik dan tidak terpengaruh sama naik turunnya IHSG… kalau bisa pengang sampai harga 20ribu saja, maka jika mas beli banyak, dividennya per tahun saja cukup buat makan sekeluarga setahun tanpa kerja he he….

    Sekedar berbagi saja mas…. bukan menggurui he he!

    1. Terima kasih pak saran dan niat baiknya dalam berbagi, saya cukup apresiasi 🙂

      Namun saya pribadi sih belum bisa mengetahui apa saham yang akan naik dan apa yang akan turun.

      Menurut sy saham itu tidak bisa di prediksi dlm jangak pendek dan akan bergerak sesuai fundamental secara jangka panjang. Kalau untuk coal karena komoditas (tidak punya added value) saya sih tidak terlalu tertarik karena semua kembali ke fluktuasi harian harga dunia. namun saya juga pernah beli untr dan dkft namun dah exit jauh hari.

      Intinya jika kita bisa selalu mutarin saham kita dgn metode buy low sell high tanpa buang waktu, saya yakin kita sudah pasti kaya raya, tapi ini adalah sesuatu yang sy bilang mustahil secara jangka panjang.

      Kadang kita bisa benar, kadang kita juga bisa salah total. mungkin saya tergolong orang yg sedikit idealis ya, saya tuh pengen menunjukan bahwa investasi itu bukan semata-mata cuan, tapi hrs cuan dengan berarti, sehingga kita faham mengapa kita ambil resiko untuk beli perusahaan tersebut. jika beranggapan saham itu adalah komoditas (non added value), itu menurut sy sama saja membawa prinsip trading. Maaf tapi ini seperti sy bilang adalah sifat yg sedikit idealis ya, karena dalam kenyataan banyak yg tdk peduli sebab, asal hasil bagus toh? hahaha….

      Again, saya kira investasi itu tidak harus rumit, dan cukup fokus di mikro saja yaitu perusahaan itu sendiri, tanpa hirau dgn makro (mau ekonomi susah, sektor susah) namun klo perusahaan itu bagus, pada akhirnya dia akan bangkit dan cetak kinerja diatas rata-rata. dan jika kita lakukannya terhadap 10 perusahaan saya yakin akan ada minimal 5 saham yg tepat sasaran nnti. karena kenaikan tidak ada batas sedangkan penurunan max adalah 100% jadi sesungguhnya kita tetap untung.

      intinya saya ingin selain mencari untung di saham juga ingin menerapkan cara yg gampang ditiru oleh siapa saja dlm mencari untung, sehingga jika saya bisa melakukannya, siapapun yg membaca dan mengikuti cara saya pun bisa sama untung.

      namun jujur saya sendiri juga masih terus belajar ya, masih blm begitu konsisten dgn strategi saya, kadang diversifikasi kadang concentrated, jadi masih banyak yg sy lagi test coba-cobaan, namun semua saya lakukan dengan cara yg sy kira bisa di duplikasi dengan gampang.

      dan itu juga alasan saya mengapa hrs keluar dari marjin, karena itu bukan cara yg baik utk di tiru hahaha dan itu juga yg saya maksud ms dlm tahap belajar, dari waktu ke waktu masih membuat kesalahan dasar hahaha.

      tapi terima kasih ya pak sudah memberi nasehat dan pandangan tentang metode yang baik, jika ada waktu boleh pak sering2 sharing di bagian komen disini, yang mana bpk merasa bisa berkontribusi dalam edukasi saham.

      thanks,

      ali

  4. Salam kenal pak alianto saya mau kasih sedikit masukan berdasarkan pengalaman saya. Waktu pertengahan bulan februari ini saya membeli saham icbp, wkst dan wsbp semua itu saham saya beli dalam keadaan sideways yang terjadi kemudian adalah saham ternyata tidak naik malah turun. Setelah saya membaca artikel di blog pak iyan bahwa saat yang tepat untuk membeli saham adalah ketika saham sedang uptrend. Lalu saya mencari saham berfudamental bagus dan menunggu saat yang tepat untuk masuk dan ternyata memang benar saham yang belakangan saya beli terus naik. Saham tersebut antara lain hrum, ssia dan smsm. Smsm inilah yang sangat saya sayangkan bapak lepas tapi ternyata naik. Saya tahu bapak seorang fundamentalist dengan slogan saham yang tepat akhirnya mengalahkan waktu yang tepat tapi akan lebih baik lagi jika kita membeli saham yang tepat dengan waktu yang tepat. Untuk saham yang tepat maka kita harus menggunakan fa dan untuk waktu yang tepat maka kita harus pake ta. Jesse Livermore trader terbaik sepanjang masa juga menyarankan beli ketika saham sedang uptrend dan jual ketika sudah berbalik arah, jangan pernah membeli saham yang lagi tidak jelas arah pergerakanannya (sideways) apalagi downtren. Ini hanya sekedar masukan aja dari pengalaman saya tidak bermaksud mengajari.

    1. Hello pak parmin, terima kasih atas masukkannya pak.

      Itu adalah cara investasi/trading yg ideal pak, beli saat baru naik dan jual saat puncak.

      Namun sy sekali lagi ttp mempertahankan view sy bahwa market itu tdk bisa di timing dan tidak berpola secara harga.

      Maaf klo sy terkesan agak ngotot, namun saya kira jika pergerakan shm bgitu gampang di terka semua org yg menggunakan indikator tersebut uda pst kaya raya. Namun sebaliknya bisa saja indikator itu akurat cmn kita yg sering tdk setia dan memilih utk menukar2 metode kita sehingga blm mendapatkan hasil yg maksimal.

      Menurut sy shm lebih ke seni pak, buka n ilmu pasti, bahkan dlm FA juga sama, siapa bisa menjamin kinerja perusahaan bs selalu bgs walaupun sblmnya bgs seperti LPCK.

      Jadi, saya kira kita emang hrs byj eksplorasi metode di thp awal utk meyakinkan diri kita menemukan metode yg cocok dgn kepribadian kita, bgitu dah ktmu, ya kita usahakan bisa konsisten memakainya.

      Utk saat ini sy nyaman menggunakan metode buy low secara valuasi dan tidak di hadang oleh wkt mau tunggu brpa lama, tp seperti anda sdh saksikan kadang dlm situasi special kita tdk konsisten dan kita menderita konsekuensinya.

      Jadi, point yg ingin sy tekankan disini adalah BE CONSISTENT!

  5. Apakah Anda memerlukan pinjaman liburan? Sudahkah anda mencoba mendapatkan pinjaman dari bank tanpa keberhasilan? apakah Anda sangat membutuhkan uang untuk keluar dari hutang? Anda butuh uang untuk memperluas atau mengenalkan bisnis Anda sendiri? Dapatkan pinjaman dari salah satu perusahaan kartu kredit terkemuka dengan baik hubungi kami melalui email kami di; (balkaleonardo@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.