Ringkasan Buku #1: Common stocks and uncommon profits by Philip A. Fisher

Philip A. Fisher adalah seorang investor yang sangat sukses di eranya. Strategi analisa Fisher bertitik berat pada 2 hal: management dan prospek kinerja perusahaan.

Beliau adalah sosok yang tidak menyukai publisitas, namun menjadi sangat terkenal di era 1950-1960an pasca penerbitan bukunya yang berjudul “Common stocks and Uncommon profits” ini.

Hal utama dalam investasi saham menurut Fisher adalah memiliki mindset yang benar. Membeli saham dan menyimpannya untuk jangka panjang.

Jikapun dari waktu ke waktu harga saham bisa menjadi cukup mahal berdasarkan valuasi wajar, namun jika prospek pertumbuhan kinerja masa depan masih bagus dan cerah, tidak ada alasan mengapa investor harus menjualnya sekarang. Dengan menjual saham di harga mahal, maka investor seakan-akan membatasi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan masa depan.

Ini mirip dengan prinsip yang diajarkan oleh Admin grup kami. Jika anda jual saat cuan 50% maka anda tidak akan pernah merasakan cuan 51%, dan jika anda jual saat cuan 100% maka anda tidak akan pernah merasakan cuan 101% dst. Tentunya, kita harus bijak mengikuti perkembangan fundamental dan prospek kinerja perusahaan, namun bukan pergerakan harga saham.

Lihat saja saham MYOR, bukankah dah cukup mahal secara valuasi, namun karena prospek pertumbuhan kinerja masih sangat terbuka, sehingga sahamnya masih layak di pegang untuk jangka panjang.

Sama halnya seperti saham ROTI, UNVR, ICBP, MLBI, HMSP dkk walaupun secara PER dinilai sudah premium, namun mereka berhasil bertahan di harga mahal, ya karena mereka adalah perusahaan hebat yang masih akan bertumbuh di masa depan.

Konsep growth investing mungkin cukup asing bagi kita, karena kebanyakan kita yang berjurus FA masih lebih fokus ke value investing, yaitu beli saat murah, jual saat mahal.

Dalam buku Common stocks and uncommon profits, Fisher mencoba mengajarkan kita cara menemukan perusahaan hebat yang memiliki prospek kinerja dahsyat. Dan dari buku ini juga, kita di perkenalkan analisa KUALItatif, sangat berbeda dengan analisa KUANTI-tatif yang sering kita pelajari dari berbagai pakar dalam bentuk berbagai rasio finansial.

Inilah letaknya perbedaan antara Phil Fisher dan Ben Graham, namun yang paling hebat dan beruntung adalah Warren Buffett (WB) karena beliau berhasil meleburkan ke dua strategi ini dalam strategi investasi beliau. Toh, banyak kredit juga harus diberikan kepada Charlie Munger karena Charlie Munger lah yang mengenalkan growth investing kepada WB.

Ok, mari kita mulai masuk ke pembahasan buku Common stocks and uncommon profits.

Semua orang yang terjun ke dunia saham dengan alasan apapun pada akhirnya adalah demi keuntungan. Jadi, patut kita pelajari dulu sejarah bagaimana uang di hasilkan dari bursa saham sebelum kita masuk ke strategi dll.

Sejak era abad ke 19 hingga masuk ke awal 20, keberhasilan investasi saham di dominasi oleh 2 strategi utama.

Yang pertama adalah buy low, sell high. Beli saat sirklus sektor sedang buruk dan menjual saat sektor membaik. Pada masa itu, akses ke informasi khusus tidaklah mudah (sebetulnya hingga kini pun masih sama, hanya insider yang punya akses VIP terhadap data ginian), sehingga yang bisa benar-benar memanfaatkan teknik ini adalah sekaum kecil investor yang memiliki koneksi dekat dengan perusahaan, sedangkan bagi yang lain, itu murni spekulasi pasar alias mencoba market timing.

Namun ada strategi ke dua yang Fisher lebih menonjolkan karena strategi ini jauh lebih aman dan hasilnya jauh memuaskan, yaitu buy and hold. Membeli perusahaan hebat tanpa perlu melakukan market timing. Inilah yang kita kenal dengan strategi growth investing.

Sekali lagi, saya harus tekankan kembali perbedaan antara buku ini dengan banyak buku investasi lain yang sudah pernah kita baca. Analisa Fisher sangat terfokus ke sisi kualitas perusahaan, sangat sedikit membahas rasio finansial, dan itu menjadi tantangan bagi kita untuk meniru caranya, karena sesuatu yang berbasis non-angka menjadi cukup subyektif sehingga susah untuk membuat patokan antara apa yang kita yakin itu fakta dan apa yang sesungguhnya adalah fakta.

Dalam analisa growth investing, Fisher menggunakan istilah “Scuttlebutt”. Kita hanya butuh mengkoleksi pecahan-pecahan informasi dari berbagai narasumber yang berhubungan langsung dengan industri tersebut. Baik itu karyawan perusahaan, vendor, supplier, badan hukum, badan peneliti, kompetitor, bahkan mantan karyawan dll.

Fisher juga bilang, tidak semua informasi yang kita kumpulkan itu harus saling sinkron satu sama lain, namun jika kita berhasil menanyakan pertanyaan yang pinter kepada orang yang tepat, maka dari pecahan informasi yang terkumpul akan terlihat sangat jelas perusahaan mana yang jauh unggul. Terus langkah terakhir barulah kita tanyakan kepada management perusahaan untuk menyempurnakan analisa kita.

Menurut Fisher, ada 15 pedoman yang patut kita ketahui tentang sebuah perusahaan hebat yaitu:

1. Apakah perusahaan memiliki produk dan jasa dan pangsa pasar yang bisa menunjang pertumbuhan pendapatan di masa depan? 

Disini, Fisher membagikan perusahaan menjadi 2 jenis: “beruntung dan bisa” dan “beruntung karena mereka bisa”.

Yang pertama adalah perusahaan yang mendapatkan kiprah dari perubahan eksternal. Contoh: sejak dulu bisnis JNE bisa dibilang cukup bagus, namun sejak boomingnya penjualan online, kini pengiriman paket JNE meningkat pesat sehingga membuat bisnisnya tumbuh pesat.

Terus jenis yang kedua adalah perusahaan yang visioner yang mampu menciptakan produk baru atau sektor baru untuk menunjang kinerja masa depan. Contoh: Unilever, walaupun semua produknya sudah ada di Sabang sampai Merauke, namun perusahaan tidak pernah berhenti menciptakan produk baru yang bisa menunjang pertumbuhan baru.

2. Apakah management memiliki keteguhan untuk terus menciptakan produk baru jika permintaan atas produk sekarang sudah di tingkat matang?

Point ini hampir mirip dengan point no. 1 namun beda. Point no. 2 ini membahas tentang sikap management. Karena semua pasar pada satu saat pasti mencapai titik matang, sehingga management harus siap dan mampu terus menerus menciptakan produk baru untuk memperlebar pasar atau membuka pasar baru demi menunjang pertumbuhan pendapatan masa depan.

Contoh: Disaat lahan industri Lippo Cikarang sudah terbatas, management terus mencari cara untuk menunjang peningkatan pendapatan masa depan. Perusahaan sudah mulai beralih ke sektor residensial, komersil sekaligus pemeliharaan kota lewat mega proyek Orange County, dan perusahaan juga sudah memiliki rencana menjadikan Lippo Cikarang seperti Shenzhen nya China.

3. Seberapa efisien dan efektif penelitian dan pengembangan (R&D) perusahaan?

Secara umum, analis selalu membandingkan efektifitas R&D satu perusahaan dengan yang lain dengan cara membandingkan rasio beban R&D terhadap pendapatan. Namun sayangnya cara ini tidak memberikan kita kejelasan secara rinci pendapatan aktual yang di hasilkan oleh masing-masing setiap R&D. Tentunya, hal itu sangat sulit untuk di ukur, apalagi setiap perusahaan pasti memiliki kebijakan yang berbeda apa yang digolongkan sebagai R&D. Namun, R&D yang efektif adalah yang bisa memberi keunggulan kompetisi kepada perusahaan, yang bisa menciptakan produk baru namun tidak gampang di tiru oleh pesaing.

Contoh: KLBF yang terus berekspansi ke segment biofarmasi. Dengan product range yang sangat luas dalam kategori obat resep dan potensi pertumbuhan yang baik karena program BPJS, KLBF terus melakukan penelitian dan bangun pabrik. Inilah R&D yang efisien dan efektif yang bisa menciptakan produk-produk baru, memperbesar potensi pasar dan menekan biaya lewat produksi pabrik sendiri.

4. Apakah perusahaan memiliki team marketing dan penjual yang hebat?

Rasanya jarang sekali kita membahas hal ini di dalam analisa kita. Ini juga sempat di singgung oleh Fisher, investor amatir hingga “professional” cenderung suka salah persepsi antara sebab dan akibat. Justru apa yg kita lihat di pendapatan itu adalah refleksi dari akibat alias hasil, sedangkan penyebabnya adalah hal seperti yang di bahas di point no. 4 ini.

Walaupun ada pengecualian di beberapa produk yang bisa menjual sendiri, namun secara umum tim penjual yang handal ditambah dengan marketing dan logistik yang kuat lah yang menjadi jaminan peningkatan penjualan perusahaan.

Untuk mengetahui perusahaan mana yang memiliki tim penjual/pemasar yang handal, bisa kita tanya ke kompetitor, supplier maupun customer. Lalu kita juga bisa tanya langsung ke tim penjual tersebut bagaimana sistem bonus dan promosi mereka.

Di laporan tahunan juga bisa kita lihat pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kapasitas para sales dan management.

Contoh: Asuransi Prudential. Pelatihan yang diselenggarankan oleh perusahaan begitu hebat, setiap agen yang keluar dari sana pasti sudah memiliki kapasitas jual yang tinggi. Walaupun memang ada sebagian kecil manusia itu dilahirkan hebat dalam penjualan, namun banyak bisa dilatih dan dibentuk menjadi handal.

5. Seberapa bagus marjin laba perusahaan?

Fisher menyarankan investor untuk tidak berinvestasi di perusahaan yang memiliki marjin laba yang tipis, kecuali perusahaan memiliki rencana bagus untuk memperbaiki marjinnya di masa mendatang. Alasan Fisher adalah dengan marjin yang tipis, maka kinerja akan lebih fluktuatif. Pada saat ekonomi lagi bagus, maka laba mungkin bisa tumbuh pesat hingga 3-angka sama halnya saat ekonomi terpuruk, kerugian pun bisa saja sama.

Yang layak menjadi kandidat investasi jangka panjang itu adalah perusahaan yang sehat yang bisa tumbuh secara konsisten. Contoh: pada tahun 2015 saat sektor pakan ternak terpuruk, CPIN masih berhasil mencetak laba sedangkan MAIN dan JPFA sudah mengalami kerugian, terus di tahun 2016 semua sudah mulai mencetak laba, kinerja JPFA naik menggila, inkonsistensi inilah yang Fisher anjurkan kita hindari.

Namun Fisher juga menyingung tentang satu pengecualian, yaitu perusahaan yang memiliki turnover rate asset yang tinggi. Disini bisa kita tafsir bahwa yang di bicarakan adalah perusahaan yang memiliki turnover rate di persediaan yang tinggi, alias fast moving consumer goods. Contoh: MPPA, AMRT, MIDI, RANC dkk

6. Apa yang perusahaan akan lakukan untuk memperbaiki marjin laba?

Point ini mengingatkan seorang teman di grup kami yang sering membahas tentang prospek masa depan perusahaan. Banyak investor termasuk saya hingga para “pakar” sering berasumsi bahwa jika dalam 10 tahun terakhir marjin laba perusahaan adalah 10%/thn, maka cenderung untuk 10 tahun kedepan marjin laba perusahaan akan tetap di 10%/thn.

Fisher menyinggung bahwa, performa masa lampau bukanlah jaminan untuk performa masa depan. Investor jeli yang bisa membaca arah perbaikan marjin laba masa depan dan mengambil langkah yang tepat akan bisa mendapatkan keuntungan yang dahsyaat.

Contoh: NIRO. Perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan ruang pusat keramaian. Walaupun saat ini masih mencetak rugi, namun model bisnisnya sangat bagus.

Mereka mengetahui bahwa di kota-kota besar, tempat perbelanjaan sudah banyak jadi mereka berekspansi ke kota tier 2 hingga 4 dimana pusat perbelanjaan masih minim dan orang masih butuh tempat jalan-jalan dan hiburan keluarga sehingga okupansi penyewaan ruang usaha di mal NIRO selalu tinggi.

Contoh lain adalah AISA yang berfokus kepada penjualan beras premium dan menunda pembangunan pabrik. Inilah upaya perusahaan hebat dalam meningkatkan marjin laba.

7. Seberapa harmonis hubungan perusahaan dengan para pekerja dan buruh?

Point ini mencerminkan produktivitas pekerja. Jika pekerja selalu demo dan menuntut hak terhadap perusahaan, barang kali ada yang kurang harmonis dengan cara perusahaan mengatur para pekerja. Ini akan menghambat produktivitas sehingga akan meningkatkan beban alhasil marjin laba menurun.

Sesungguhnya dengan hubungan baik saja belum tentu produktivas para pekerja bisa meningkat, apalagi tidak harmonis. Namun jika perusahaan memiliki pekerja yang anthusias terhadap pekerjaan mereka, maka itu adalah perusahaan yang layak kita perhatikan.

Salah satu cara mengetahui perusahaan mana yang memiliki hubungan harmonis antar para pekerja adalah membandingkan labour turnover rate mereka, rate yang rendah bisa diasumpsikan sebagai hubungan yang baik, namun lebih baik lagi jika kita bisa mendengarkan langsung dari para pekerja tanggapan mereka terhadap perusahaan.

Contoh: Ada perusahaan tbk yang dekat dengan lingkungan saya. Saya sempat ngobrol dengan beberapa karyawannya dari beberapa divisi. Saya bermulai dengan memuji bahwa perusahaannya sekarang sudah menjadi perusahaan terbuka, namun tanggapan yang saya terima cukup membuat kaget.

Mereka menyeluh bahwa image perusahaan memang meningkat, namun bonus mereka sudah lama ditiadakan dan tunjangan pun tidak sesuai harapan. Ini adalah kata-kata awal yang dilontarkan ke saya. Bayangkan sebagus apa loyalitas para pekerja terhadap perusahaan jika hal pertama yang di ucap kepada orang luar adalah kritik terhadap perusahaannya sendiri.

8. Bagaimana pula hubungan dengan para eksekutif?

Sama dengan point no.7 namun di level eksekutif. Apakah eksekutif memiliki passion, motivasi dan antusiasme dalam menjalani tugas dan berhubungan baik satu sama lain. Hubungan yang buruk akan membuat para eksekutif keluar dari perusahaan atau bekerja tanpa maksimal.

Gaji dan tunjangan yang terlalu besar akan menjadi sebuah pemborosan, namun yang rendah akan membuat mereka kurang loyal. Harus ada tim audit yang bertugas untuk meninjau gaji dan tunjungan yang sesuai dengan standard industri atau wilayah setempat.

Untuk mengetahui hubungan para eksekutif, kita bisa memanfaatkan acara rups atau pubex untuk bertemu dan berbincang dengan beberapa eksekutif di level yang berbeda.

Contoh: BIRD. Walaupun disini bukanlah sesungguhnya tim management, namun tim pemilik perusahaan yang saling merebut kepemilikan. Jika yang atas saja sudah kacau dan tidak konsen untuk menjalani usaha demi mencapai tujuan yang sama, kira-kira sebagus apa dilapisan bawah yang butuh arahan dari atas?

9. Apakah perusahaan memiliki hiraki otoritas dan deligasi yang benar dalam management?

Untuk perusahaan kecil mungkin sering kita lihat dimana pemilik selalu memerintah sekaligus mengerjakan semua kerjaan yang ada alias one-man-show. Namun kinerja perusahaan kecil seperti ini akan mentok pada satu saat.

Untuk bisa berkembang lagi, maka pemilik harus bisa mengdelegasi tugas sehingga dia bisa fokus pada visi dan misi perusahaan, dan yang diberi tanggung jawab bisa membantunya menjalani tugas sesuai yang sudah di arahkan.

Walaupun cara yang paling mudah adalah mengrekrut calon management handal dari luar, namun hal itu akan berdampak negatif seperti yang sudah di ulas di point no. 8, akan mengganggu suasana kerja antar management yang sudah ada karena dinilai kurang pro dan mengapresiasi karyawan lama. Jadi, hal otoritas dan deligasi harus dicermati dengan seksama oleh perusahaan untuk menentukan opsi yang terbaik.

Contoh: SMSM. Di salah satu article yang saya pernah baca tentang wawancara jurnalis dengan CEO perusahaan, CEO menjelaskan dengan detail tahapan-tahapan pangkat promosi yang perusahaan bisa berikan kepada para pekerja. Ini sungguh menakjudkan dan memberi saya pandangan bahwa SMSM adalah perusahaan yang siap menjadi besar karena secara internal sudah di tata sedemikan baik dan rapi, sehingga setiap karywan dari lapisan paling bawah hingga paling atas mengerti persis apa yang bisa diharapkan dari perusahaan.

10. Sebagus apa analisa biaya perusahaan serta kontrol terhadap standar akunting?

Perusahaan harus bisa mengurai biaya pengeluaran secara akurat sehingga bisa menjelaskan secara rinci setiap segmen biaya yang timbul dalam operasional. Lewat analisa biaya perusahaan bisa melihat apa yang harus di perbaiki demi meningkatkan efisiensi.

Selain itu standard akunting juga perlu diperhatikan. Jika perusahaan sering tukar menukar standard yang di pakai demi mempercantik laporan keuangan, ini adalah perusahaan yang kita mau hindari.

Contoh: Saya ingat di tahun 2014 atau 2015, pernah melakukan analisa terhadap LK salah satu perusahaan tbk. Walaupun saat itu perusahaan melaporkan keuntungan, namun di neraca Aktiva dan Pasiva tidak imbang dan revisi tidak dilakukan hingga berbulan-bulan setelah mendapat teguran dari badan pengawasan. Perusahaan yang tidak jujur hingga satu saat akan kebongkar, dan saat itu terjadi, pasar akan menghukumnya habis-habisan.

11. Apakah perusahaan memiliki keunggunal kompetisi?

Fokus utama tentang point ini adalah MOAT.

Contoh: ICBP. Masih ingat begitu Mayora pertama kali meluncurkan Bakmi Mewah, tidak lama kemudian Indomie pun langsung meluncurkan produk yang sama dengan merk Real Meat. Toh, sebagai produsen mie instant terbesar di tanah air alias market leader, Indomie tidak mungkin tinggal diam saat pangsa pasarnya di coba rebut oleh pesaing dan menurunkan reputasinya dan brand imagenya. Toh, jika mengingat mie instan, siapa tidak langsung kepikir Indomie?

12. Apakah perusahaan memiliki pandangan jangka pendek atau jangka panjang terhadap laba?

Menurut Fisher perusahaan yang patut kita invest adalah perusahaan yang memiliki visi jangka panjang terhadap laba.

Perusahaan hebat adalah yang berani mengambil langkah yang dibutuhkan jika pun secara jangka pendek laba bisa terpangkas namun demi pertumbuhan bisnis dan keuntungan yang jauh lebih besar secara jangka panjang.

Tidak jarang kita dengarkan ucapan dari management bahwa mereka menjamin harga saham perusahaannya dalam kurun waktu tertentu akan naik ke harga tertentu. Toh, harga saham adalah tanggung jawab bursa, sedangkan kinerja perusahaan barulah tanggung jawab perusahaan, PLEASE JANGAN SALAH FOKUS!

Contoh: Management beberapa perusahaan tbk yang pernah memaparkan hal tersebut. Menurut saya ini adalah langkah yang sangat arogan. Tidak ada seorang pun yang bisa secara pasti bisa menjamin harga saham di timeframe tertentu, apa yang membuat mereka begitu yakin. Lagi pula, jika perusahaan terlalu peduli terhadap pergerakan harga sahamnya, cenderung mereka akan lebih mementingkan jangka pendek kebanding janga panjang, kemungkinan manipulasi data pun lebih cenderung terjadi. STAY AWAY.

13. Apakah ekspansi perusahaan akan merugikan pemegang saham?

Perusahaan bisa berekspansi lewat banyak cara, antara lain: private placement (mendapatkan investor yang mau membeli saham dari perusahaan langsung), menerbitkan saham baru (Right issues), pinjaman bank atau yang paling ideal menggunakan uang dari kas internal.

Contoh: LPPF dan LPCK. Walaupun perusahaan memiliki fasilitas pinjaman yang siap untuk di pakai, namun capex selalau datang dari kas internal, sehingga tidak menimbulkan beban keuangan tambahan.

14. Apakah management berani menceritakan tidak hanya hal baik namun juga hal buruk tentang perusahaan ke publik?

Coba dipelajari publikasi paparan management saat kinerja buruk, apakah management akan menjelaskan dengan apa adanya atau mencoba menutupi atau beralasan dan melemparkan tanggung jawab.

Contoh: SCMA dan SMSM. Saya beberapa kali berkomunikasi dengan Investor relations dari masing-masing perusahaan dan mendapat pengalaman yang sangat berkesan. Kedua perusahaan memiliki etika yang baik terhadap transparansi. Masing-masing menceritakan apa adanya tentang kesulitan pertumbuhan yang sedang di alami di tahun 2016. SCMA emang kalah saing dari kompetitor dalam audience share, sedangkan SMSM tetap mempertahankan harga demi menjaga marjin laba.

15. Apakah management memiliki integritas yang tidak terbantahkan?

Point ini cukup sulit sebetulnya. Dalam bisnis, kita harus memahami bahwa dalam kondisi tertentu tidak mudah untuk menjaga integritas apalagi jika hal tersebut akan berefek negatif dalam jangka pendek terhadap kinerja perusahaan. Namun jika kita berhasil menemukannya, maka itu adalah perusahaan yang patut kita invest.

Contoh: ROTI. Berani jujur dan tidak memanfaatkan situasi yang salah demi keuntungan perusahaan. Atas kejujuran tersebut sempat heboh dan membikin banyak issue negatif yang merugikan perusahaan, namun integritas perusahaan terjaga, dan itu sangat sulit kita temukan di Indonesia.

Jadi itulah 15 pedoman yang patut kita cek satu per satu untuk menemukan perusahaan superb.

Ok, setelah kita mengetahui apa yang mau di beli, sekarang mari kita lihat kapan waktu yang tepat untuk membeli?

Filosofi Fisher sangat sederhana. Waktu yang tepat untuk beli saham adalah saat memiliki uang nganggur.

Namun investor umumnya terlalu fokus kepada sirklus bisnis dan pergerakan bursa untuk menentukan waktu yang tepat untuk beli, padahal jika harus fokus ke sana, masih banyak faktor lain yang akan mempengaruhi penilaian kita, seperti: PDB, inflasi, neraca perdagangan, suku bunga dll.

Menurut penelitian Fisher, membeli pada harga puncak pun setelah 25 tahun tetap bisa memberikan imbal hasil antara 20x hingga 25x. Jadi, fokuslah pada apa yang mau di beli bukan kapan harus membeli.

Lalu Fisher juga memberikan pandangan tentang waktu yang tepat untuk jual.

Menurut Fisher hanya ada 3 alasan mengapa investor ingin menjual saham:

  1. Membuat kesalahan dalam analisa dan menjadi makin jelas bahwa potensi kinerja yang diharapkan meleset jauh dari fakta. Dalam hal ini, kejujuran diri sangat dibutuhkan untuk mengakui kesalahan dan menjualnya sesegera mungkin baik itu dalam posisi untung tipis (syukur) atau sudah loss banyak. Cutloss demi membebaskan uang untuk ditanamkan kembali di saham yang benar akan jauh lebih menguntungkan dibanding mempertahankan ego yang tinggi demi membantah kesalahan.
  2. Jika perusahaan memenuhi makin sedikit dari kriteria 15 pedoman banding sebelumnya. Butuh fokus dan follow the story untuk memberi penilaian ulang terhadap kelayakan perusahaan dalam 15 pedoman atas. Fisher juga memberi satu arahan untuk nge-test apakah perusahaan masih memiliki kualifikasi untuk digolongkan growth company. Tanyakan diri kita, apakah di puncak sirklus bisnis yang berikut, EPS perusahaan akan bisa lebih besar dari kini?
  3. Alasan terakhir ini agak langka (menurut Fishser) namun boleh dilakukan adalah switching saham. Kadang dalam situasi special, sebuah kesempatan beli yang begitu menarik timbul sehingga membuat penukaran stock menjadi layak. Namun, hal ini harus di lakukan dengan pemikiran yang matang. Investor cenderung lebih kenal dengan saham yang sudah di pegang lama, namun tidak demikian dengan saham yang baru di beli, sehingga prospek yang dikirakan bagus di saham baru ini belum tentu demikian dalam kenyataan. Jadi harus sangat hati-hati jika ingin melakukan switching.

Sebagai tambahan Fisher juga memberikan 1o arahan apa yang patut investor TIDAK LAKUKAN:

  1. Jangan beli perusahaan kemaren sore yang penuh promosi diri
  2. Jangan abaikan perusahaan bagus hanya karena sahamnya tidak liquid
  3. Jangan beli hanya karena laporan tahunan di tulis dengan cantik
  4. Jangan berasumpsi valuasi mahal, berarti harga saham tidak bisa naik lagi
  5. Jangan permasalahkan sebuah transaksi hanya karena beda harga 1-tick
  6. Jangan terlalu menekankan pentingnya diversifikasi
  7. Jangan takut membeli saat terjadinya perang
  8. Jangan menentukan posisi beli berdasarkan chart hi dan lo masa lampau
  9. Jangan kejar suatu posisi yang sedang digoreng walaupun growth stock
  10. Jangan ikuti massal

Inilah ringkasan saya dari buku Common stocks and uncommon profits, mungkin masih banyak detail yang tidak sempat saya paparkan dalam article ini, karena untuk memaksakan 1 buku kedalam 1 article membutuhkan nekad yang tinggi.

Untuk lebih detail, silahkan dibaca langsung dari buku aslinya.

Jujur buku ini cukup membosankan karena bahasanya sangat bertele dan stylenya sangat kuno sehingga menambah kesulitan dalam pemahaman, namun saya senang akhirnya kelar juga. Harus diakui, ilmu yang diajarkan dalam buku ini luar biasa hebat, 15 pedoman atas bisa menjadi acuan kita untuk bertanya kepada management/IR perusahaan kedepannya.

(Yey… anda masih bisa bertahan membaca sampai di sini, luaaaar biasa!!!)

Semoga article ini bisa bermanfaat bagi anda! Jika ada bagian yang agak membingungkan mohon dimaklumin dan anda bisa tanya ke saya lewat kolum komentar dibawah.

Dalam article ini saya juga banyak menggunakan contoh-contoh perusahaan lokal supaya yang baca bisa lebih gampang mengerti dan terasa dekat, tapi semua adalah opini pribadi saya untuk keperluan ilustrasi bukan rekomendasi. Jadi, mohon jangan keliru nanti.

Ok sekian untuk pembahasan buku perdana ini. Selamat menikmati!

Salam longterm investment!

Alianto Chan

Tags

Author: aliantochan

I’m just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it’s a way of life.

The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person.

Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same.

Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

17 thoughts on “Ringkasan Buku #1: Common stocks and uncommon profits by Philip A. Fisher”

  1. Bagus sekali artikelnya, mencerahkan. Kalau dilihat dari isi porto, bro ali kayaknya penganut aliran fisher ini ya. Kalau di indo utk value investor ada pak lo kheng hong. Utk growth investor siapa yg sudah terbukti sukses ya pak? Utk nambah2 reference

    1. Sebetulnya sy ms blm ketemu konsistensi saya pak, lihat saja perubahan dlm porto sy sejak blog ini ada, namun semoga lwt pemahaman di buku ini, suatu puluhan thn yg akan dtng, sy bs mengisi slot kosong yg bpk tanyakan diatas.

      Siapa yg sudah berhasil di growth investing di indonesia?

    1. Terima kasih pak atas semangatnya. Berbagi itu indah, semoga bisa menjadi virus menyebar kemana-mana sehingga lebih banyak lagi yg saling berbagi demi kebaikan bersama.

      Yup, konsep growth investing sangat luar biasa menarik, saya sangat menyukainya. Tq kpd sang guru besar Philip Fisher atas ilmunya 🙂

  2. terima kasih atas ringkasan bukunya. Sering kali kita malas baca buku dengan 1001 macam alasan. Saya tunggu ringkasan buku berikutnya, khususnya yg tentang Warren Buffett atau value investing.

    1. Hello pak BS,

      Sama pak, ini buku jika sy tdk paksa juga tidak akan selesai2. Kadang ya emang kebantu oleh target yg kita pasang. Krna sy sdh janji akan selesiakan 6 buku utk thn ini, jd ya terpaksa NAMUN BAHAGIA akhirnya buku perdana saya kelarkan juga.

      Namun yg hebatnya, banyak kali, bgitu ada diskusi di grup komunitas kami, ga jarang sy keluarkan ilmu2 dr buku ini dgn sangat cepat. Quote point-point dr buku ini dgn sangat leluasa.

      Inilah sesungguhnya manfaat terbesar saya dr apa yg sy lakukan diatas. Klo sy hanya baca 1-2 bahkan mungkin 5x, cenderung sy tetap cepat lupa. Namun sy hrs tulis dlm bahasa sy, pikirkan contoh yg menurut sy applicable dgn pasar sahan kita, sehingga, ilmu yg sy baca banyak yg akhirnya nempel.

      Jd buat bpk, sy berharap dengan adanya ringkasan 1 ini bs menjadi motivasi, bukan bpk saja sih, siapa sj yg sempat baca, bisa terinspirasi utk membaca dan membikin ringkasannya sendiri, dan berbagilah secara luas ke org yg mungkin membutuhkannya.

      Ayo bangkitkan semangat MLM (multi lvl marketing) dlm sharing ilmu sehingga dunia investasi makin indah.

      Ali

  3. Thanks for “translating” the essense of CSUP to Indo. I’ve been trying to do that for ages but so far too lazy to complete it.
    Although I didn’t fully go through the article (rather long), I am quite sure (in few glances) it is rather accurate.

    My friend who has been asking me to share with them the CSUP (in indo) would likely benefit from this.

    Appreciate your frank sharings in this blog. I find an intereting yet peculiar critical “contradiction” in your valuation.
    If you would like to discuss we can do it in personal correspondences so as not to hijack this post.

    1. Hi fallcushion,

      Interesting nickname and superb blog you have there. Its quite intriguing really when u think there aint many fundamental investors around, yet from time to time we do bump into each other virtually.

      Like my mentor always says, birds of a feather flock together. If fundamental is what you’re wilding, then u shall find your type all around, likewise if speculation is what u prefers, u shall find them all around u too.

      Actually this blog serves me well. From being just a tool for selfcheck, it expanded to become a place where i could share my analysis and views in stock investing to visiting friends.

      Tho i do share a lot of honest views in my blog, but that doesnt automatically make me a great investor, and im sure there are much to learn from ppl like u who are willing to share their knowledge and experience for greater good.

      So, if anything u feel that i or we (including anyone else reading this) could benefit from ur thoughts, i’d very much welcome ur comments and thank you for that. Pls do give ur honest views and criticisms where u find fit. Love to hear from you.

      Even better if u can write in bahasa, so that anyone else can better understand better.

      Thank you fallcushion for your good intention and thx for visiting my blog.

      Chat again soon, hopefully. U can also reach me at alianto.chan@gmail.com

      Ali

  4. halo pak, saya ingin bertanya, di artikel ini tertulis kita harus mengakui kesalahan kita bila salah dalam menganalisa dan harus cutloss, berapa lama waktu toleransi yang kita berikan terhadap kinerja saham pilihan kita hingga kita c?
    semoga pertanyaan saya tidak membingungkan.

    1. Jika kita sadar salah, PF blng kita harus secepatnya keluar pak. Namun sy mengerti maksud anda.

      Kadang dlm shm walaupun kita tau dah salah tp krna harga naik, kita seakan2 tunggu, supaya bs memaksimalkan untung kita jikapun tau salah.

      Sebaliknya pd saat salah, kita berharap dia bs pantul sehingga kita bs meminimalkan kerugian.

      Jujur ga ada 1 teknik yg bs memberi kita kepastian kapan 1 shm akan pantul atau koreksi, semua hanya rabah2 (maaf ga maksud menyinggung siapapun), namun nyatanya demikian. Ada shm seperti LPCK yg terus2an turun, ada juga shm seperti SMBR yg terus-terusan naik, dan ada juga yg dah naik/turun bbrpa saat, mulai balik arah… Jd bukankan itu sama saja dgn melemparkan sebuah coin, pilih kapala atau ekor? Chances adalah 50-50.

      Ok, jd kapan exit? Ya secepatnya bgitu kita bs menyadari kesalahan kita dan hapuskan ego kita. Itu menurut sy apa yg PF maksud, dan tukarkanlah posisi ini ke posisi yg kita jauh yakin akan bgs kedepannya hingga kita salah lagi, lakukan lagi hal yg sama.

      1 hal yg kita slalu keliru dlm investasi. Klo harga naik kit benar, klo harga turun kita salah. Ini adalah pandangan yg sangat pendek terhadap investasi. Kita hrs benar2 mendalami analisa kita sehingga kita bs melihat sesuatu bgs yg akan terjadi di FA shm yg kita pegang jikapun harganya turun, hingga sesuatu itu tidak ada lagi.

      Jd ya, sy jga tdk bermaksud membingungkan anda, krna seakan2 bolak balik penjelasan sy haha… Tp jika kita dah cukup lama di shm dan menekuni cara analisa kita ga gonta ganti, nnti kita akan ktmu ritma dan konsistensi dlm pandangan kita, nahhh itulah saatnya kita akan jauh lbh jelas memahani ini semua.

  5. Demen banget sm artikel ini pak!

    Moga2 next article bisa bahas tentang salah satu buku tentang value investing ala Buffet atau Benjamin Graham punya juga.

    Thanks!

    1. Tq pak Evan. Saya juga senang sekali dgn filosofi investing ala phil fisher ini.

      Next saya sih lagi kerjain buku tentang WB, the warren buffet way, namun saya baru sadar kalo buku ini juga sudah ada di gramed dlm versi indonesia, boleh di beli pak jika blm, akan sangat bermanfaat saya kira.

      Tadinya kira stlh buku phil fisher yg berat maka akan mulus membaca dan meringkas buku2 selanjutnya, rupanya gangguan (atau sy hrs blng ilmu lain) banyak menggoda juga.

      Sy juga lagi belajar bacakilat sekaligus kmrn ktmu di seminar sang pakar financial freedom, pak Lim Tung Ning, jd skrg juga sambil lagi baca buku beliau sambil baca yg lain (hadewww, klo saja sy benar bs baca seperti kilat dan mengerti isi setiap buku yg di baca dgn kilat, alangkah banyaknya ilmu yg bs di download dgn cepat)… Wishing… Hahaha!

  6. bagus sekali, dari awal membaca artikelnya saya tidak ad rasa bosan karena mmng terasa dekat saat saya membayangkan contoh2 nya.
    saya ingin bertanya, dimana saya bisa mendapatkan buku itu yang berbahasa indonesia, karena saya sudah cek di toko2 online yang ada hanya versi inggris dan bahasanya sangat sulit dipahami untuk saya yang kemampuan bahasa inggrisnya masih setengah2

Leave a Reply

Your email address will not be published.