Ujian final investor: cara menghadapi musim LOSS (Part 2)

Keep calm & get ready for final examJika di bulan Juli 2016, saya sudah membahas tentang Ujian midterm investor: cara menghadapi musin CUAN maka di article bagian ke 2 ini rasanya sudah cocok utk saya mulai membahas cara menghadapi musim LOSS.

Namun sesungguhnya saya kira kita sebetulnya masih jauh dari kondisi yg bisa di sebut krisis. Saya bukanlah investor yg peka terhadap keadaan global juga tidak spend banyak waktu utk mencoba mencari tau. Tapi yg jelas, inflasi tahun 2016 hingga Okt masih terkendali dengan baik di 3,31% saja, BI rate 7 hari repo stabil di 4,75% dan pertumbuhan PDB Q3 masih diatas 5% lebih tepatnya 5,02% dan kurs Rupiah cukup stabil di rentan harga Rp13.000-13.500 terhadap USD. 4 faktor ini menunjukan bahwa Indonesia masih berada di keadaan yg baik-baik saja. Jadi belum ada hal yg butuh kita hawatirkan.

3Q16 consensusSelain itu, jika kita lihat hasil rilis kinerja keuangan emiten Q3 pun lebih banyak yg tumbuh sesuai ekspektasi bahkan diatas ekspektasi, dibanding yg dibawah ekspektasi, maka ini sudah mencerminkan kepada kita secara garis besar bahwa adanya perbaikan ekonomi.

Namun, hanya dalam waktu 1 pekan terakhir yaitu tgl 03, tgl 09 dan tgl 11 Nopember 2016, kita menyaksikan gejolak pasar yg luar biasa, terutama hari ini dimana index turun hingga tutup minus 4%.

Tentunya disini saya tidak akan membahas apa yg terjadi, bukan karena saya tidak ingin, namun sesungguhnya saya tidak memiliki kapasitas utk mengartikan kondisi sesaat yg sedang terjadi dan menurut saya hal itu juga sangat tidak penting, namanya sentimen, akan selalu ada naik maupun turun. Apa yg menurut saya penting dan berkali-kali saya sampaikan ulang-mengulang adalah porto investasi saya dan saham-saham di dalamnya, diluar ini biarlah market yg menilai dan menimbang apa yg layak.

Sebelumnya di Juli kita mengbahas tentang asiknya merasakan cuan dan bagaimana kita mengelola hasil cuan, maka kali ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana kita mengelola loss yg sedang melandai porto kita.

Teknik ajaib tersebut adalah TEKNIK TIDAK MELAKUKAN APAPUN. Yup, sesimple itu! Anda mungkin merasa kaget, tercengang, bahkan lucu atas teknik yg saya sebut atas, betol anda tidak salah baca, teknik jitu ini adalah sesimple mengcueki kondisi pasar saat ini jika anda memiliki saham secara full portofolio.

Tidak akan ada metode canggih yg akan membalikkan kerugian anda dalam sekejap mata menjadi profit dan tidak juga ada metode yg akan membantu menenangkan mental anda dari kepanikan kecuali diri anda sendiri yg sudah terlatih dan terbiasa dgn kondisi seperti sekarang ini.

Dan jika ada teman yg bilang kepada anda bahwa dia sudah menjual semua sahamnya kemarin sebelum peristiwa hari ini terjadi karena dia bisa melihat masa depan, maka sesungguhnya dia hanya beruntung sesaat saja. Look, jika ada seseorang yg bisa melihat masa depan, maka dia sudah pasti orang yg paling kaya di dunia investasi dan dia akan terlalu sibuk menghitung cuannya dan tidak mungkin punya waktu memamerkan kepintaran dia kepada anda. Namun jika faktor luck yg membuatnya berhasil lolos dari penurunan hari ini, maka apa pula jaminan bahwa dia akan berhasil masuk kembali ke market pada saat market berada di bottom nantinya?

Jika anda ingin mendapatkan hasil yg konsisten dalam investasi saham, maka langkah yg anda tempuh pun harus konsisten, jika anda mulai mencoba menebak arah pasar, maka anda akan terjerumus dalam aksi spekulasi pasar dan itu sangat berbahaya, karena pasti ada waktunya anda benar dan cuan besar, namun pada saat lain anda akan salah dan rugi besar.

Ingat rumus resiko ini: setiap kali anda rugi 50% maka anda butuh bekerja 2x lebih keras untuk balik ke posisi awal dengan keuntungan 100%. Contoh: anda pegang KINO di harga 7000, dan KINO turun ke 3500 yaitu 50%, maka utk 3500 naik ke 7000, maka KINO harus naik 100%!!! Inilah mengapa anda harus benar-benar disiplin dan fokus dalam investasi dan tidak mengsia-siakan waktu dan pengetahuan investasi anda karena setiap kali kemunduran akan membutuhkan 2 kali kemanjuan utk pulang ke titik awal.

Mungkin anda berharap nasehat yg lebih dari ini dalam article ini karena anda sedang galau dan bingung apa yg harus anda lakukan, tidak melakukan sesuatu pastinya bukan aksi yg tepat menurut anda saat ini. Sebelum saya masuk ke pengecualian, biarlah saya sharing dulu apa yg saya sudah lakukan beberapa hari ini dalam kondisi yg sebentar hujan lalu panas di bursa saham minggu ini.

Porto 11/11/16Ini adalah kondisi porto saya saat ini pada penutupan hari Jumat tgl 11/11/16, sangat rapi, hijau dan merah berselang-selih hahaha!

Dua minggu yg lalu, saya sudah sampaikan dalam article bulanan saya utk Oktober bahwa saya memilih utk menjual MIDI bahkan di posisi rugi utk menambah posisi di JSMR. Nah karena saya mencoba menangkap momentum yg baik di JSMR dimana LK Q3 sudah rilis dan kinerja terlihat masih kokoh, namun sayangnya saya mengabaikan bahwa MIDI sesungguhnya mencetak kinerja yg FANTASTIS dan harganya pun belum kemana-mana masih semurah harga beberapa bulan lalu disaat saya membelinya.

Ini adalah keputusan yg salah besar. Membuang saham super demi saham bagus. Terbukti hal yg saya takut terjadi. Mengharap suatu saat nanti saya bisa kembali ke MIDI dengan modal yg cukup utk buyback di harga yg sama namun sayangnya saya tidak punya bola kristal yg bisa membaca kapan MIDI akan naik dan naik dia sudah. Sebaliknya JSMR yg saya beli malah turun dari posisi beli hingga saat ini di harga 4550. Jika saya tidak melakukan apapun, sesungguhnya rugi saya lebih kecil bahkan bisa untung.

Lalu minggu lalu, again saya melakukan penjualan ke DKFT dan SIDO utk membeli SCMA di 2530. Again jika saya TIDAK MELAKUKAN APAPUN, maka saya tidak akan rugi 7% di SCMA saat ini dan juga tidak akan kehilangan tambahan cuan di DKFT.

Terus 2 hari yg lalu saya menjual sebagian LINK dan menukarkannya dengan AISA, SMSM dan ROTI utk meningkatkan bobot ke 3 saham tersebut. AGAIN, jika saya TIDAK MELAKUKAN APAPUN maka cuan saya di LINK akan makin besar kebanding AISA, SMSM dan ROTI yg tergolong masih cukup stagnan utk sementara.

Sebetulnya saham-saham yg saya beli dan tambah adalah saham yg sangat layak, namun yang salah adalah saham-saham yg saya jual adalah saham-saham yg sama bagus dan layak juga, namun karena keterbatasan dana sehingga saya mencoba menimbang sana sini dan melakukan keputusan yg menurut saya lebih baik demi menciptakan porto yg lebih solid. Sayangnya saya lupa bahwa saham-saham yg saya jual juga merupakan saham-saham yg sudah saya filter dan analisa dengan teliti sebelum beli yg sangat layak saya hold utk jangka panjang.

Jadi dari situlah anda bisa mulai mengerti maksud saya TIDAK PERLU MELAKUKAN APAPUN, karena apa yg saya miliki adalah saham-saham yg sudah patut saya miliki sesuai dgn PR yg sudah saya kerjakan sebelumnya kecuali dalam laporan keuangan terbaru terdapat hal yg menghawatirkan secara fundamental. Tentunya saya disini juga berasumpsi bahwa anda juga sudah melakukan PR dalam investasi saham sehingga semua saham yg anda miliki adalah saham yg layak di simpan utk jangka panjang.

Diskon

Diskon

Pengecualian
Jika anda tidak berada dalam posisi full porto seperti saya, alias anda masih memiliki dana nganggur dalam porto yg bisa dimanfaatin utk berbelanja, maka anda tidak akan sebinggung saya yg mencoba timbang kiri dan timbang kanan melihat saham apa yg patut saya buang demi saham yg lebih layak, koreksi pasar adalah kesempatan terbaik utk anda membeli saham bagus di harga murah.

Saat pasar lagi hijau, kita bahkan tidak jarang berkompromi utk membeli saham kesukaan kita di harga diskon tipis bahkan premium, namun saat diskon besar-besaran datang, banyak diantara kita yg memiliki dana nganggur malah ciut utk berbelanja. Umumnya ini terjadi karena 2 alasan:

1. Kita belum memahami makna value investing. Kita takut pasar sedang tidak kondusif dan mungkin akan memicu krisis sehingga saat ini adalah saat dimana kita harus menghindari pasar saham dan tunggu pasar pulih kembali baru ikutin arus dalam PANIK BUY. Jika kita berpedoman pada fundamental, maka fundamental perusahaan lah yg harus kita ikutin. Pasar koreksi dan harga saham lagi murah secara valuasi adalah timing yg tepat utk beli, bukan saat medsos atau forum saham menasehati kita utk berbelanja.

2. Kita terlalu serakah dan mengharap harga yg sudah sangat murah lebih murah lagi. Dalam investing, kita harus realistis. Jika suatu saham yg berfundamental kokoh di lego dgn harga yg sangat murah contoh BC diskon 25% dari wajar atau 2nd liner diskon 40% dari wajar, maka itu sudah saatnya kita masuk tanpa menghiraukan sentimen pasar. Sentimen selalu datang dan pergi dan bisa berubah dalam hitungan dekit, sehingga adalah useless utk kita perhatikan. Kutipan favorit saya dari admin grup “saham yg tepat pada akhirnya akan mengalahkan waktu yg tepat”. Yang pasti sehebat apapun kita, tidak akan setiap kali dengan akurat bisa membeli saham di harga bottom. Jika kita memiliki uang nganggur yg memang sudah kita rencanakan utk di alokasikan ke saham, maka pada saat kesempatan datang, belilah jangan tunggu harga di bottom karena kita tidak pernah tau bottom dimana.

Benar dan salah

Semua kita tentunya menyukai pasar yg hijau kebanding koreksi yg dalam. Namun, kita harus ingat bahwa hanya di koreksi pasar yg dahsyat kita akan menemukan saham-saham dengan harga diskon yg paling fantastis. Tugas kita bukanlah mengprediksi kapan koreksi akan datang, namun memanfaatkan koreksi yg datang demi keuntungan kita dalam mengkoleksi saham-saham bagus dan murah.

Pesan terakhir buat semua investor saham: Kuatkanlah MENTAL anda lewat ilmu pengetahuan saham, fokus dan disiplinlah menjalani STRATEGI yg sudah anda asah, dan terakhir olahlah PORTOFOLIO anda dengan pertimbangan pembagian resiko yg baik dan perbesarlah kesabaran demi mencapai hasil investasi yg memuaskan dalam jangka panjang. Jika anda bisa melewati masa koreksi besar seperti ini dengan baik dan tenang, maka kedepannya anda sudah tidak akan pernah takut lagi dengan yg namanya market panic dan selamat! anda sudah tamat dari ujian mental terakhir di dunia pasar saham.

Sekian utk article kali ini, semoga bermanfaat!

Selamat berinvestasi!

Disclaimer: Saya lupa mengucapkan terima kasih kepada admin grup Saham Indonesia atas suapan banyak quote Peter Lynch yg selalu inspiratif dan bertepatan waktu sesuai dgn situasi pasar dan Bima S yg merupakan analis segudang data.

Tags

Author: aliantochan

I'm just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it's a way of life. The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person. Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same. Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

11 thoughts on “Ujian final investor: cara menghadapi musim LOSS (Part 2)”

  1. Saya juga mengalami pak, karena mau beli saham baru yg diincer tapi ga ada duit nganggur saya jual saham lain yg lagi turun berharap nanti bisa buyback dg harga lebih rendah. Hasilnya hampir semua nyesel, yg dijual langsung ngacir naik.
    Sekarang strategi saya kalau jual saham atau buat dituker cuma kalau harganya sudah kelewat mahal atau performa keuangannya jelas2 bakal jelek taun berjalan atau lap keuangan jelek tapi malah harga naik trus. Sejauh ini ga peernah nyesel, yg dijual akhirnya turun dalem juga karena emang udah kemahalan.
    Kalau ngga nemu alasan buat jual saham ya terpaksa diem aja ngga ngapa2in sampe ada duit nganggur. Tapi jadinya porto saya banyak sekali, tapi saya pikir ngga masalah wong harganya masih normal dan emang bagus sahamnya. Ngga ada alasan kenapa harus ngurangi jumlah saham di porto.
    Thx.

  2. Betol pak, kadang kita terlalu fokus ke prospek emiten yg bgs lg murag2 sampai2 kita pun lupa bahwa apa yg sudah kita beli adalah saham2 yg super, krna super makanya ada di porto krna sudah kita analisa dan beli di harga murah. X ini jd pelajaran yg baik.

    Namun saya ttp akan terapkan strategi switch, namun dlm kondisi yg lbh extreme swperti anda sebut, jika incaran lain sempat jatuh hingga terlalu dlm sehingga membuat alasan yg sangat kuat utk beli. Kita akan bs mendapatkan kesempatan itu klo kita santai menyikapi penurunan dan tdk terlalu intensive mengfollow valuasi harian/mingguan. Klo kita terlalu sering mengvaluasi, tiap hr saham bgs turun kita akan slalu tergoda utk switch dmn perbedaan antara yg sdh dimiliki dan calon hanya selisih dlm maybe 10℅, not worth it bgt.

    Thx sdh sharing pengalaman dan strateginya.

  3. Iya pak, kadang TIDAK melakukan sesuatu adalah hal yg bgs. Paling tdk kita belajar utk appreciate apa yg sdh kita miliki. Again, pikirkan alasan awal mengapa kita membelinya lalu kuatkan kesabaran utk tunggu hasil yg kita ingin saham itu capai potensinya.

    Karena sabar dan tdk tergesah-gesah, maka cenderung kita bs lbh baik memanfaatin situasi.

    Hehhe power of doing nothing, dgrnya ironis ya, namun kesabaran adalah harga yg sangat mahal.

    Pd saat market up, kita setuju dgn statement bawha even monkey can make money. Nah klo bgitu, napa ya byk yg blm sukses di saham? Termasuk saya di dlmnya.

    Investasi itu simple pada logikanya, semua org bisa kaya dr saham, namun yg membuat kita termasuk sy gagal adalah blm memiliki kualitas kesabaran yg baik. Hanya butuh 1 chart akan bs menjelaskan bawah jika kita sdh membeli saham bgs dan hold 5-10thn maka potensi untung kita sdh berkali-kali, namun apakah kita siap dan bersedia melakukannya? Masing2 bisa mencermin dan menjawab sendiri.

  4. Sangat terbuka bapak dalam menyampaikan isi portofolionya dan itu menurut saya baik sekali. Ada hal yang ingin saya tanyakan tentang jumlah emiten yg ada di portofolio bapak apakah diatur maksimal sekian emiten atau bagaimana?. Kebetulan thesis yang saya buat adalah tentang kinerja portofolio menggunakan CAPM dimana salah satu penelitian menyebutkan risiko akan menjadi minimal ketika portofolio hanya terdiri dari 10 emiten saja, apakah bapak ada berniat menambah lagi jumlah emiten di portofolio bapak? Thanks atas sharingnya : D

    1. Sebetulnya keterbukaan porto itu pilihan masing-masing. Kadang dgn melakukan bgini, orang juga bs beda penilaian pak. Anyway lets not go to pro dan kontra openess.

      Pak Warman mahasiswa ya? Kirain uda bpk2 swperti saya rupanya ms muda ya, hebat sekali pak. Msh muda dah melek terhadap keuangan dan investasi.

      Mengenai diversifikasi yg layak, sesungguhnya tdk ada 1 yg cocok buat swmua org, tergantung masing2.

      Sebetulnya saya sendiri paling byk sblmnya memiliki saham sejumlah 13 saham. Namun menurut saya jumlah itu berlebihan buat saya. Maka saat ini pun saya mencoba cut down, idealnya buat diri saya adalah 8 saham saja dgn porsi yg hampir rata atau 4-5 yg sedikit menonjol dan 3-4 saham yg merupakan saham dukungan.

      Jadi 11 saham sebetulnya ms kebanyakan pak buat saya, namun krna semua saham yg sy beli saya senang, jd benar susah sebetulnyaembayangkan gmn sy buang 3 dr list saya, jd utk sementara apa adanya saja hingga ada dr mrk yg sdh tdk memenuhi kondisi hold baru saya lakukan perubahan nnti.

      Nmun utk menjawab pertanyaan bpk, sebetulnya resiko tdk bs di ukur semata2 dr jumlah saham saja menurut sy pribadi. Byk faktor lain seperti fundamental, valuasi, dan bobot per saham swmua menyumbang ke resiko.

      Saya mencoba menempatkan porsi yg lbh bsr di saham yg menurut sy punya valuasi paling murah/prospek kinerja masa dpn yg sangat bgs, sedangkan utk shm lbh kurang liquid atau yg merupakan calon turnaround/asset play dgn porsi yg lbh kecil utk mengurangi resiko.

      Tapi jika bpk mau secara gamblang saja alias secara umum saja utk mengukur brpa jumlah saham ideal, saya sarankan bpk beli buku karya pak Rudiyanto, direktur dr panin asset management dgn judul Fit, Focus, Finish. Buku tersebut disajikan utk perkenalan terhadap reksadana, namun byk ilmu dan fakta statistics yg bs kita dpt dr buku itu.

      Menurut beliau sbb:

      Pertanyaannya, sampai berapa sahamkah risk manajemen akan maksimal. Data yang digunakan adalah LQ45 dr 2008 s/d 2013.

      Risiko dari memiliki
      1 saham : 90%
      2 saham : 65%
      3 saham : 60%
      4 saham : 55%
      5 saham : 50%
      6 saham : 45%
      7 saham : 42.5%
      8 saham : 40%
      9 saham : 39%
      10 saham : 38%
      11 saham : 37%
      12 saham : 36%
      20 saham : 30%
      25 saham : 27.5%
      30 saham : 25%
      (Data ini di sharekan ke kami oleh admin komunitas)

      Jadi bs dilihat bawah PENURUNAN RESIKO sdh mulai menurun stlh saham ke 8, sedangkan dr 20 saham keatas perbedaan resiko dgn lbh byk saham diporto sdh makin kurang berarti.

      Jadi ya, yg layak saya blng adalah 8 hingga 20 saham dlm hal ini.

      Terus saya tambahkan juga yg berikut ini yg mungkin bermanfaat, yaitu holding period, again ini sy kutip dr sharing admin komunitas kami dr buku pak Rudiyanto.

      Data yang digunakan adalah IHSG Juli 1997 s/d desember 2013. Maka hasil yang didapat adalah :

      1 tahun
      Tertinggi : 98%
      Rata-rata : 21%
      Terendah : -54%

      2 tahun
      Tertinggi : 70%
      Rata-rata : 21%
      Terendah : -24%

      3 tahun
      Tertinggi : 49%
      Rata-rata : 21%
      Terendah : -15%

      4 tahun
      Tertinggi : 47%
      Rata-rata : 22%
      Terendah : -10%

      5 tahun
      Tertinggi : 48%
      Rata-rata : 22%
      Terendah : -8%

      6 tahun
      Tertinggi : 39%
      Rata-rata : 22%
      Terendah : -6%

      7 tahun
      Tertinggi : 32%
      Rata-rata : 22%
      Terendah : 1%

      8 tahun
      Tertinggi : 33%
      Rata-rata : 22%
      Terendah : 6%

      9 tahun
      Tertinggi : 30%
      Rata-rata : 22%
      Terendah : 7%

      10 tahun
      Tertinggi : 29%
      Rata-rata : 21%
      Terendah : 12%

      11 tahun
      Tertinggi : 26%
      Rata-rata : 20%
      Terendah : 9%

      12 tahun
      Tertinggi : 25%
      Rata-rata : 19%
      Terendah : 10%

      13 tahun
      Tertinggi : 22%
      Rata-rata : 18%
      Terendah : 12%

      14 tahun
      Tertinggi : 22%
      Rata-rata : 17%
      Terendah : 13%

      15 tahun
      Tertinggi : 20%
      Rata-rata : 17%
      Terendah : 12%

      Jd kesimpulan dr data atas menunjukan jika kita dah hold selama 7 tahun resiko kita hampir nol utk rugi, skrg terjawab ya napa asuransi slalu blng hal yg sama, krna emang sdh ada penelitian. Dan return ihsg secara kasat mata rata2 adalah 20℅, jd mungkin ini bs menjadi target kita sebagai investor jangka panjang, beat 20℅ haha!

      Anyway smoga bermanfaat data2 ini, mau tau lengkap silahkan di beli bukunya pak, saya cukup rekomend.

  5. lagi-lagi penjelasan yang detail dari Pak Alianto,, superb pak. Btw saya baru saja lulus S2 Manajemen Keuangan Januari 2016 kemarin dan sudah 30 tahun hahaha……ok thanks atas penjelasannya pak.. kapan2 mungkin bisa sharing lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published.