Today, I leveled up!

JV dan ALBeberapa hari yg lalu, tepatnya pada hari Sabtu tgl 27 Agustus 2016, saya diberi kesempatan oleh komunitas untuk menjadi salah satu pembicara, membawakan presentasi kepada para peserta gathering triwulan kami (gathering yg ke 3 di tahun 2016). Sungguh terharu karena admin memberikan kepercayaan kepada saya utk bebas menentukan materi yg ingin saya sampaikan di gathering tersebut.

Tidak ada kata yg tepat utk bisa menggambarkan kesenangan hati atas pengalaman tersebut. Bukan karena saya ingin mengincar popularitas, juga bukan karena membutuhkan pengakuan, namun kepuasan diri ini datang dari kesempatan utk berbagi, persis seperti yg pernah saya ceritakan di article sebelumnya, jika ada yg sudah berbaik hati mengajarkan kita, maka selayaknya ini menjadi kewajiban kita utk mewariskan ajaran tersebut kepada orang lain pula. Jika setiap kita bisa melakukannya seperti strategi MLM (multi level marketing), maka akan lebih banyak lagi investor-investor retail seperti kita yg nantinya akan terbantu. So, thank you Saham Indonesia, komunitas ku! Dari kita, untuk kita, oleh kita! Bravo!!!

Dalam acara gathering tersebut, turut hadir (our special guest) sang guru besar, Jhon Veter, seorang pakar saham yg sangat kami kagumi. Beliau walaupun sudah terkenal baik di kalangan media maupun investor namun kerendahan hatinya sungguh saya acui jempol tangan dan kaki. Tidak semua orang sukses bisa seperti beliau yg sudah terkenal namun masih sangat rendah hati dan rela meluangkan waktu dalam kesibukan utk berbagi ilmu. Dan ini juga bukan pertama kali beliau menghadiri acara kami, tapi sudah yg ke dua kali dalam setahun ini.

Saya masih ingat beberapa bulan yg lalu pas beberapa hari menjelang gathering ke 2 kami di akhir bulan April. Admin mencoba menghadirkan Jhon Veter di acara gathering tersebut, jadi admin menanyakan beliau bayaran yg beliau harapkan utk bisa hadir, dan jawaban beliau begitu berkesan buat kami semua. Beliau menjawab, “Dibayar berapa ya, hmmm…..? Gini dech, asal saya diberi makan siang saja, itu sudah cukup!“. Kami semua ngakak sambil terharu mendengarnya saat admin bercerita dan ini tentunya menjadi inspirasi dan motivasi kami utk terus belajar, mengingkatkan kapasitas dan menyebarkan semangat dan ilmu fundamental kepada orang yg lebih banyak.

Jujur jika Jhon Veter tadinya menyebutkan angka dan kami sanggup, kami tetap akan membayarnya utk hadir di acara kami. Satu hal yg admin selalu mengajarkan kami semua, “HARGAILAH KARYA ORANG LAIN”. Orang yang sukses tidak hanya ditentukan oleh aksinya dalam mengejar mimpi tapi juga mentalitasnya dalam mengejar mimpi tersebut. Jangan pernah merugikan orang lain demi keuntungan diri kita sendiri. Sangat beda antara irit dan pelit jika kita bisa mengerti maknanya.

So, disini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pak Jhon Veter, anda sungguh-sungguh orang yg luar biasa. Bukan hanya karena kemampuan anda membawakan acara dengan lucu dan tidak membosankan, tapi karena jiwa besar anda yg sangat mempesona! Thank you, Mr. Veter, you are a great man with a BIG HEART!

gathering2Ok, kembali ke cerita tentang presentasi saya.

Sebelumnya saya kira menjadi seorang murid baru itu cukup menantang. Kita harus mulai beradaptasi di lingkungan yg baru, berlatih meninggalkan semua kebiasaan buruk lama, lalu belajar utk bersabar mempelajari ilmu baru sambil menekan emosi utk tidak bertransaksi sebelum menguasai dasar ilmu namun rasa takut kehilangan potensi cuan selalu muncul. Bagaimana kalau saat kita sedang belajar, ihsg makin mahal dan naik hingga 6.000? Apakah tidak sia-sia kita belajar sekarang namun nanti sudah tidak ada saham murah utk dibeli lagi? Inilah tantangan tantangan awal yg cenderung kita alami sebagai murid baru. Namun jika kita merasa itu adalah tantangan yg cukup berat, maka tantangan menjadi seorang guru yg baik JAUH LEBIH BERAT.

Oh ya, disini saja juga mohon maklum menggunakan kata guru dan murid, sebetulnya hanya utk kemudahan saja dalam penyampaian. Dalam konteks article ini saya lebih bermaksud yg memberi dan yg diberi ilmu. Jadi bukan lagi sok hebat, karena baru 1 presentasi langsung menganggap diri seperti seorang guru yg hebat. Hahaha…!

Anyway, mengapa saya bilang jadi seorang guru lebih berat? Karena seorang guru selain harus bisa mengajar juga harus bisa mendukung muridnya dari semua kegalauan, keraguan dan ketidak fahaman yg sang murid sedang rasakan, dan membuat sang murid ngerti dan damai utk sabar menjalani semua ini demi masa depan yg mandiri. Jadi beban seorang guru sesungguhnya 2xlipat lebih berat kebanding sang murid.

Saat saya selesai melakukan presentasi, baru saya melihat betapa kurangnya pengalaman saya dalam menyampaikan apa yg saya ingin berikan.

Pertama, seorang guru yg baik bukan hanya bisa memaparkan ilmu yg tinggi supaya semua murid bisa menjadi sama seperti dia, namun seorang guru yg hebat harus terlebih dahulu mengenal semua muridnya. Kapasitas setiap orang beda, jadi dalam menyampaikan materi, sang guru juga harus bisa mengsegmentasi dan mengajarkan materi sesuai dgn tingkat kemampuan muridnya dalam subyek yg diajarkan.

Saya mencoba memberikan yg terbaik dgn mengkompilasi sebagus mungkin materi menurut saya, namun jika ilmu tersebut tidak bisa difahami oleh para murid, apalah gunanya?

Saya gagal dalam menekankan dgn tegas point point penting, sehingga pada saat murid keluar dari ruangan, paling tidak point-point ini akan masih nempel kokoh di benak mereka sehingga mereka tidak mengambang-ngambang bingung apa yg tadi disampaikan saya.

Saya juga ngus-ngusan keburu keterbatasan waktu utk menyelesaikan semua materi yg menurut saya saling berhubungan dan penting utk bisa difahami, namun saya belum memiliki time management yg baik dalam hal itu sehingga semua secara kilat saya gas penuh demi menyelesaikan semua materi, dan tentunya ini sangat kontra produktif dgn intensi awal utk berbagi.

Seperti Jhon Veter, beliau berhasil menarik atensi semua peserta karena beliau mengerti kapan beliau harus serius memaparkan sesuatu yg penting, tapi juga tau kapan waktunya utk berlucu supaya para murid yg hadir tidak bosan dan bisa stay fokus kepada dia dan time management beliau yg begitu bagus. Tentunya ini pasti tidak terjadi secara alami, tapi hasil dari praktek ratusan seminar yg sudah beliau selenggarakan.

Jadi kesimpulan cerita, presentasi yg sudah saya lakukan sesungguhnya penuh dengan kekurangan, namun saya tidak sedikitpun menyesal, karena saya tau, apa yg saya lakukan kamarin, saya lakukan dengan sungguh-sungguh, tulus dan murni demi kebaikan para peserta yg ingin belajar. Namun, setelah pengalaman tersebut saya mulai belajar lagi, kali ini belajar utk menjadi seorang guru yg baik. Dengan semua kekurangan yg saya miliki saat ini, next jika ada kesempatan lagi utk berbagi, maka saya akan lebih siap. Practice makes perfect. Sama dengan apa yg sudah saya jalankan saat saya menjadi seorang murid, makin sering saya belajar dan mempraktekkannya, maka semakin lincah saya mengerti dan melakukannya.

Jadi pengalaman saya di atas mungkin bisa dijadikan sebagai sedikit masukkan para guru-guru baru utk hal-hal yg butuh dipertimbangkan jika takdir datang menyapa anda utk membuka cakra utk berbagi.

Sekian utk article kali ini, selamat belajar dan mengajar.

Salam berinvestasi!

Tags

Author: aliantochan

I'm just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it's a way of life. The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person. Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same. Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

Leave a Reply

Your email address will not be published.