My life changing journey

img-20160430-wa0013_1471187326638Setelah cukup banyak article yg sudah saya sharing di blog ini sekarang saya mau tarik ulur sedikit, kembali ke sejarah riwayat investasi saya selama 3 tahun berjalan. Ada suka, duka dan perubahan drastis yg terjadi dalam 3 tahun ini, namun semua adalah tindakan yg membawa dan membentuk saya yg kini. Walau saya belum bisa dibilang sudah mencapai kesuksesan yg di inginkan karena secara barometer value, saya masih dalam posisi running loss dibanding modal tahun 2015, namun kini saya jauh tenang, damai dan bahagia dgn cara investasi saya.

Ayo, kita flashback sejenak ke masa lampau…

KEJAYAAN SESAAT!
Saya mulai terjun ke dunia saham sejak mid 2013. Bukan tanpa bekal, saat itu saya sudah banyak membaca buku, sosmed, blog dan forum tentang topic diskusi saham baik secara TA maupun FA. Dengan sedikit bekal tapi keyakinan diri yg tinggi, saya mulai masuk ke bursa saham di mid 2013 dgn modal yg bisa dibilang masih kecil. Begitu masuk ternyata IHSG mulai koreksi dalam sehingga cuman dalam beberapa minggu saja porto sudah minus lebih dari 20℅. Namum itu tidak memadamkan semangat saya mala saya memberanikan diri utk invest lebih besar.

Dengan tambahan modal puluhan kali lipat saya masukkan ke porto saat itu, dan berfokus pada dua saham saja yaitu ADHI dan SSIA di penghujung 2013 hanya butuh beberapa bulan saja porto saya sudah meningkat lebih dari 100℅ dari modal baru banding tadinya yg rugi 20℅an dari modal awal.

RODA KEBERUNTUNGAN BERPUTAR!
Pasca cuan besar dari ADHI dan SSIA, saya menjadi over-confident dan merasa sangat hebat. Bahkan dalam diskusi forum jika ada yg menyarankan diversifikasi demi resiko, jawaban saya selalu, ” Diversifikasi itu hanya buat orang yg tidak mengerti apa yg dia beli. Jika anda mengerti saham, melakukan diversifikasi itu adalah tindakan yg BODOH. Justru karena fokus di 1-2 saham maka cuan anda bisa maximal. Jika anda membagi-bagi porto anda ke banyak saham, cuan 100% pun tidak menendang!”, begitu keras saya mengkritik diversifikasi.

Masuk pertengahan 2014 saya mengulang strategi yg sama. Kali ini saya menembak dua saham lain yg berkode NRCA (65℅ porto) dan SIDO (35℅ porto). Walaupun SIDO terus mengecewakan dari segi pergerakan harga saham maupun dari kinerjanya yg cukup stagnan (btw modal avg saya 640 saat itu), namum NRCA sesuai harapan. Saham ini terus naik dari 700an hingga peak di 1610. Sepanjang pergerakan itu, saya juga terus avg-up hingga modal saya mencapai 1000an, dan saya juga beli waran NRCA di modal 220. Untung di NRCA sudah bagus, namum karena serakah maka saya terus berharap utk NRCA bisa naik tembus 2000 suatu saat dekat. Namun hal tersebut tidak terjadi, bukannya naik, mala NRCA mulai koreksi. Kinerja perusahaan pun mulai jelek pasca selesainya proyek tol CIPALI. Akhirnya harga NRCA terus jatuh hingga saya pun kejebak running loss.

MASA SURAM!
Karena kesal dgn kehilangan potensi cuan apalagi dalam posisi rugi, saya mulai berupaya mencari cara lain utk bisa kembalikan profit yg hilang di NRCA. Saya mulai masuk ke saham kelas gorengan. Namum saat itu saya sudah full porto sehingga yg bisa saya andalkan adalah margin yg di fasilitasi oleh sekuritas. Sebut saja saham seperti: TRAM, SIAP, DFSI, BUMI, MTFN, INVS, BKSL, PADI, TKIM, GREN dkk semua pernah saya goreng dan goreng. Saat saya untung, cuannya sedikit kerana takut harganya jatuh kembali, namun karena sudah merasakan cuan kecil jadi pengen bisa cuan besar, jadi saya mulai pasang posisi besar, namun yg ada mala rugi, karena rugi tidak ingin cutloss, maka rugi lebih besar, hingga akhirnya terpaksa cutloss ditambah jual sebagian NRCA dan SIDO utk menutup rugi/bunga/penalty margin call. Proses ini tidak berhenti hingga penghujung 2015 dimana total loss saya mencapai lebih dari 60℅ dalam setahun saja. Padahal IHSG hanya terkoreksi seingat saya tidak lebih dari 15% sepanjang 2015. Jadi jauh jelek performa saya kebanding index. Untungnya, sesaat setelah cuan besar di ADHI dan SSIA saya sudah tarik lebih dari 50% dana buat kebutuhan lain sehingga hitung-hitung saya masih cuan 50%an dari total modal awal hingga tutup tahun 2015.

MALAIKAT PENYELAMAT!
Datang tahun 2016, saya bertekad utk melakukan perubahan. Tidak ingin lagi mengulang kejadian yg saya alami di tahun 2015 sebelumnya. Namum masalahnya satu. Jika apa yg sudah saya lakukan 2,5 tahun silam tidak bisa memberikan peta yg jelas cara investasi yg benar, apa jaminannya saya tidak akan salah langkah lagi, bagaimana saya bisa mengawasi diri saya? Inilah alasan utama mengapa blog ini saya ciptakan. Namum masalah utama tetap ada, bagaimana bisa menuju jalan sukses di dunia saham dan bisa konsisten?

Satu malam yg merubah nasib…

Saya mendapat kiriman broadcast message dari seorang pakar saham yg isinya ada group saham yg menawarkan open-invitation utk join group mereka. Nama group WA tersebut adalah “SAHAM INDONESIA“.

Di group ini lah saya diberi kompas utk mempelajari ilmu yg benar dalam investasi saham. Admin group tanpa bosan dan penat, selalu mengingatkan membernya hal tersebut bahkan cukup sering nasehatnya jauh dari hanya sekedar pengetahuan saham tapi juga prinsip hidup. Sungguh luar biasa dan sungguh berterima kasih atas apa yg sudah diajarkan dan itulah menjadi alasan ke 2 saya menulis di blog ini. Karena saya percaya, jika ada orang baik yg telah memberikan ilmu kepada kita, kita wajib mewariskan ilmu tersebut kepada orang lain yg membutuhkannya. Jika setiap 1 orang bisa mengajarkan kepada orang ke 2 dan seterusnya, maka dunia ini akan lebih banyak orang yg bertambah ilmu.

For the rest of the story anda bisa baca dari blog saya ini yg setiap bulan saya update.

MORAL OF THE STORY?
Jangan pernah merasa terlalu pintar sehingga lupa utk menambah ilmu. Sehebat-hebat kita, banyak lagi orang yg jauh lebih pintar dan hebat dari kita diluar sana. Karena sudah cuan besar di tahun pertama, saya menjadi egois, berfikir kalau “main saham” itu begitu gampang dgn profit yg begitu menggiurkan dan begitu cepat.

Jangan juga terlalu yakin dgn analisa kita. Seteliti apapun kita menganalisa sebuah saham, ada kalanya kita salah analisa. Saya sudah menganalisa NRCA dan SIDO dan saya sangat yakin kalau sejarah keberhasilan saya akan mengulang. SIDO walau produknya sangat terkenal namun kinerja tidak sesuai harapan. Sedangkan NRCA yg awalnya begitu cemerlang, namun pasca selesai proyek tol CIPALI kesulitan mendapatkan proyek anyer sehingga kinerja mulai memburuk bahkan hingga kini. Dan setelah saya hadiri RUPS perusahaan dua bulan yg lalu baru benar-benar bisa meliat begitu membosankan semangat management dalam bisnis.

Jangan pula meletakkan semua telor anda di keranjang yg sama, jika keranjang jatuh, semua telor pecah. Kalimat terakhir ini seperti saya lagi jilat ludah saya sendiri! Lakukan lah DIVERSIFIKASI yg baik. Saya terlalu yakin dgn pilihan saya dan terlalu berani mengambil resiko demi keuntungan. Padahal jika kita ingin berinvestasi jangka panjang, jangan pernah takut kurang cuan, takutlah dgn resiko loss. Setiap 50℅ yg kita rugi, maka kita harus untung 100℅ utk bisa balikin modal yg sama. Jadi, lakukanlah diversifikasi yg layak, jangan pernah ambil resiko yg berlebihan.

Dan yg terakhir, jangan pernah tergiur dgn profit cepat! Inilah sebenarnya yg membuat rugi paling besar dan cepat. Jika kita mengincar profit cepat di saham gorengan, satu-satunya faktor yg bisa kita follow adalah harga, harga akan selalu bergerak sesuai sentimen, dan sentimen datang dari emosi sesaat, sehingga hampir di pastikan tidak ada konsistensi yg terkandung di dalamnya, persis sama seperti sedang berjudi.

Ok, mungkin anda yg sedang baca article ini tidak setuju dgn semua atau sebagian pendapat saya namun tujuan saya bukanlah utk berdebat apa yg benar maupun salah, hanya murni ingin berbagi pengalaman buruk sepanjang masa investasi saya.

So, jika anda sedang mengalami apa yg sudah saya alami, jangan hawatir, ini adalah bagian dari proses anda menuju sukses, yg penting anda punya tekad utk berubah dan menekuni cara investasi yg benar. Bahkan di sharing session pertemuan group kami, kami semua setuju dan mengakui bahwa kami semua sudah pernah mengalami satu masa gelap dalam investasi saham. Sebagian sudah pulih, sebagian dalam proses pemulihan dan sebagian pula yg masih sangat dalam terpuruk. Jadi kita semua sama. Semua mulai dari salah langkah!

Investasi saham itu sebetulnya gampang, sederhana, dan menyenangkan tapi kita yg suka membuat ribet. Ilmu investasi saham yg diajarkan di group kami yg sudah saya sebut-sebut diatas mungkin ditafsir sebagai ilmu ajaib hehehe… Padahal kami hanya menganut ajaran dari sebuah buku yg berjudul “One up on wall street” karya Peter Lynch. Jika anda bisa memahani sesungguhnya isi dari buku tersebut, maka anda sudah bisa do well dalam investasi saham, yakin lah! semua yg anda butuh ada di dalamnya. NAMUN yg paling susah adalah secara konsisten menjalaninya dan itulah kehebatan admin group kami yg tidak pernah lelah mengingatkan kami semua.

Utk meringkas semua atas, inilah my final words utk anda yg ingin tekunin longterm investment!

Untuk berhasil di dunia saham, pastikan anda mengerjakan PR, berfikir logika, sabar dan disiplin menjalani semuanya dan jangan lupa diversifikasi!

Sekian riwayat perjalanan saya selama 3tahun terkahir. Dan utk penutupan article ini, saya ingin membagikan beberapa kutipan menarik dari group kami.

“Daripada uang hilang di saham-saham tidak jelas mending buat foya-foya sekalian. Foya-foya bikin happy digocek saham ga jelas bikin gondok. Mending linting uang isi tembako cengkeh buat ngrokok” – Pak Onang

“Trading 1-2 tahun pertama rugi. Itu dianggap uang belajar. Tahun ketiga sama dengan deposito. Tahun keempat mulai dapat hasil di atas deposito. Tahun kelima dan keenam sama atau di atas IHSG dan tahun ketujuh bisa kalahkan reksa dana saham unggulan.” – Pak Moko

“Kita sekolah sd+smp+sma+kuliah = 15-16 tahun buat gaji bulanan. Masa ilmu investasi dipelajari sehari ngarep buat uang pensiun?” – Bu Lindawaty

“Manusia itu aneh, liat penderitaan temen kok bikin tenteram, menjadi damai, karena kita ternyata nggak sendiri.” – Pak Timotius

“Saham yg tepat pada akhirnya akan mengalahkan waktu yg tepat!” – Pak Yulius

Sekian my story.

Selamat berinvestasi!

Tags

Author: aliantochan

I'm just an anybody guy who shows strong interest in stock investing. Stock investing is more than just making money, it's a way of life. The way we approach stock investing will reflect the way we are as a person. Choose wisely how you want to invest as to how you would want to live your life. The fundamental principles are the same. Contentment, discipline, endevour, patience, practice and mindfulness are the very true principles of a better person!

28 thoughts on “My life changing journey”

  1. Sip pak, walaupun sy tdk tau seperti apa perjalanan anda, namun klo boleh sy berasumpsi pasti sdh pernah mengalami masa suram, dan jika hal tersebut sedang terjadi, jgn hawatir, semua di mulai dr niat. Asal punya niat, pasti bisa. Salam berinvestasi pak bayu!

  2. Sharingnya gak jauh beda yg pernah saya alami dr coba gonta ganti cara investasi saham emang long term yg paling bikin tenang, skrg kembali kejalur investasi bener, cuma klo kangen trading entry porsi kecil itupun model serok dibawah hehe..

  3. Terima kasih buat ko ali yg udah sharing pengalaman jatuh bangun dan evolusi strategi investasinya.Bursa saham memang cerminan fluktuasi harapan dan kecemamasan para pelakunya terlihat dalam grafik harga yg sangat fluktuatif noisenya dlm jangka pendek namun dlm kerangka long term fundamental emitenlah yg bercerita via chart. Semoga ko ali semakin kuat dan wise mengarungi ombak bursa ini.

    Dedy Muller

  4. Iya pak, saya secara inti sebetulnya tdklah menyesal dgn apa yg sdh terjadi, jiga kesal pun tdk ada gunanya. Sy percaya apa yg kita lakukan sblmnya akan membentuk kita yg kin, dan apa yg kita lakukan kini akan membentuk kita yg akan dtng. Maju terus tanpa gentar!

  5. Terima kasih buat ko ali yg udah sharing pengalaman jatuh bangun dan evolusi strategi investasinya.Bursa saham memang cerminan fluktuasi harapan dan kecemamasan para pelakunya terlihat dalam grafik harga yg sangat fluktuatif noisenya dlm jangka pendek namun dlm kerangka long term fundamental emitenlah yg bercerita via chart. Semoga ko ali semakin kuat dan wise mengarungi ombak bursa ini.

    Dedy Muller

  6. Terima kasih buat ko ali yg udah sharing pengalaman jatuh bangun dan evolusi strategi investasinya.Bursa saham memang cerminan fluktuasi harapan dan kecemamasan para pelakunya terlihat dalam grafik harga yg sangat fluktuatif noisenya dlm jangka pendek namun dlm kerangka long term fundamental emitenlah yg bercerita via chart. Semoga ko ali semakin kuat dan wise mengarungi ombak bursa ini.

    Dedy Muller

  7. Menarik perjalanan investasinya. Saya masih pegang nrca avg di 6xx. Bisa dijelaskan seperti apa yg bapak maksud dg ini:
    “Dan setelah saya hadiri RUPS perusahaan dua bulan yg lalu baru benar-benar bisa meliat begitu membosankan semangat management dalam bisnis.”
    Dan kira2 kenapa susah dapat tender baru apa karena kbanyakan dimenangkan sm konstrukksi besar spt wskt wika ptpp dsb? Apa kira2 ini hanya sementara saja.
    Mohon pendapat bapak.
    Trims.
    Chandra

  8. Bgini pak chandra ceritanya.

    Saat kita hanya membedah LK kita hanya liat sisi kuantitatif perusahaan lewat angka2.

    Namun saat kita bertemu langsung dgn management, kita akan mendapatkan feeling (sisi kualitatif) terhadap org2 yg memimpin perusahaan.

    Dari cara penyampaian direksi hingga sesi tanya jawab, saya tdk mendapatkan optimisme yg tinggi dr mrk. Pikiran saya, jika management saja kurang semangat dgn prospek masa depan, tdk punya strategi yg solid utk memecah masalah (paling tdk berusaha mencoba), apa layak kita stay invest di mrk. Tentunya ini bisa di blng bias, krna mungkin saja setiap org yg hadiri rups mendapatkan pandangan dan tafsiran yg beda, namun bukannya yg paling penting di saham itu, kita bs meyakinkan diri kita sendiri bkn apa kata org lain? Ini jg berlaku buat yg baca komen ini, jgn langsung percaya dgn apa yg sy blng tp anda hrs liat sendiri utk memastikan.

    Saya sih blm byk menghadiri rups, selain: ROTI, MIDI dan LPCK namun dr 3 terakhir ini sy mendapatkan optimisme yg kuat dr management dan itu membuat sy lbh yakin utk keep dan tambahnsaham2nya. Again, bias.

    Sy jg pernah blng, NRCA hrsnya uda sangat murah apalg di harga 560 skrg. Jadi jika tdk ada saham lain yg lbh murah, ya biarin saja. Namun klo dtng kesempatan ada saham yg lbh bgs dan lg murah, ya saya memilih utk cutloss dan masuk ke saham baru. Ini sdh sy lakukan bbrpa hr terakhir dgn byk sekali transaksi, blng saja: SMSM, MYOR, ROTI, LPCK, AISA, PGAS, JSMR, semua ini mendapatkan posisi baru dan/atau tambahan bobot dlm porto sy yg kini. Sisa nrca sy di porto saat ini hanya sisa 6℅an saja dr sblmnya 24℅. Klo nnti dtng kesempatan utk beli yg lbh bgs dan murah, sy terus akan cutloss dan masuk ke saham baru. Ini juga berlaku utk saham2 lain di porto nnti yg kurang performing.

    Lalu mengapa nrca susah dpt proyek anyer? Well emang thn 2015 lbh sepi krna faktor makro, lalu nrca emang lbh byk di konstruksi gedung dan bangunan tinggi dan sektor ini lg sepi jg. Utk tol, emang sulit utk berkompetisi bersama jsmr maupun wskt. Kini dia sdh mau ikut investasi di konsesi jd bkn hanya kerjaan sipil utk proyek tol saja, selain itu tdk ada strategi lain yg di paparkan selain tunggu ekonomi membaik.

  9. Terima kasih penjelasannya pak.
    Kalau boleh tanya lagi, bagaimana pendapat bapak tentang sektor komoditas dan energi, terutama bluchip seperti UNTR, PGAS, dll.
    Apakah ada strategi khusus untuk invest di sektor ini karena siklusnya sekarang masih kurang bagus dan juga kalau pgas pemerintah mengintervensi harga gas.

    Terima kasih.
    Chandra

  10. Klo sektor tambang sy ga ikutan pak. DKFT jg sy beli dgn modal kecil krna klo sy hitung worth the try utk saham turnaround. Namun secara sektor sy tdk bgitu faham.

    Namun klo merujuk kpd ajaran Peter Lynch. Lbh baik invest di saham yg menjadi pendamping di sektor yg byk kompetisi. Contohnya: saat ecom lg gencar2 berperang harga, sapa yg dinuntungkan? JNE. Mau ecom rugi brpa, cuan brpa, bisnis dia ttp mantap krna jasa pendamping.

    Jd dlm hal itu sy kebayang UNTR namun masalahnya sektor mining bkn lg kompetisi mati-matian, namun terpuruk secara keseluruhan. Tp klo sy hrs invest di mining, sy pilih UNTR krna terdiversifikasi bgs. Minig iya, jasa kontraktor mining iya juga, serta jual alat dan konstruksi dan ga lama lg pltu.

    Tp yg lbh kena dr ajaran atas sih sektor telekomunikasi. Br edar berita tarif antar provider akan di turunkan, ya jelek mungkin buat tlkm bgs buat yg lain, tp nnti klo ada perang harga lg ya ttp aj sama2 keimbas. Namun penyewa tower ttp happy2 saja bkn ga penting sapa menang sapa rugi, tower mrk ttp di sewa. Hr ini sy br beli TBIG #promosi sekalian haha

  11. Oops lupa energi. Sy senang dgn pgas, seperti yg sdh pernah sy ulas di article sblmnya. Jd itu sy keep. Klo mau super growth akan sulit, tp kinerja akan lbh prediktable di masa2 depan, dgn slow growth big dividen.

    Yg paling menarik sih sektor consumer goods bagi sy pak. Coba cek bbrpanyg bgs dan ms murah seperti: roti, myor dan ultj, aisa kedepan bgs namun klo hitung valuasi saat ini dah ga murah, namun sangat menarik utk jangka panjang semua yg sy dah sebut atas.

  12. Saya juga ada TBIG dan juga TOWR porsi kecil, TELE juga ada. Tlkm, roti, myor juga dicicil soalny lagi all time high, sambil tunggu turun.
    Boleh tau kenapa pilih TBIG bukan TOWR? tbig hutangnya besar, towr kurang likuid dan tidak bagi dividen.
    Kalau sempat diulas ya pak.
    Saya juga ingin tahu pendapat bapak soal saham fundamental lumayan bagus tapi kurang liquid yang transaksinya biasanya dibawah 100 juta dan ngga tiap hari ada transaksi, contohnya midi, abda, dll.
    Trims.
    Chandra.

  13. Iya pak chandra, sy ms ada bbrpa PR antri di dpn yg blm kelar. Seperti MPPA, SMSM, SIDO. nnti akan sy ulas juga satu per satu hingga ke TBIG.

    Namun mengapa TBIG over TOWR ya? Jujur sy baru sempat kaji TBIG dan suka bgt dgn kinerja lampaunya, sehingga sblm sy kaji TOWR sy sdh ambil posisi. Jika di cek sekilas, sepertinya dua2 sama menarik mungkin ada bbrpa pro dan kontra mungkin nnti sy akan ulas.

    Mengenai saham liquid, klo invest sy ttp tdk akan 100℅ di saham yg tdk liquid, walaupun ngakunya longterm investment namun mental butuh di latih terusan dulu. Ms ada perasaan iri saat liat saham lain naik sedangkan yg di porto tdk bergerak. Oleh krna itu sy akan sedikit mengimbangkan. Sebagian ttp di saham liquid dan sebagian pula di saham nonliquid jika layak secara FA dan valuasi. Namun sejujurnya klo kita sdh bs memandang secara loooong term, mau liquid tdk liquid sdh bkn masalah. Krna saatnya tiba biarpun non liquid akan menjadi liquid atau paling tdk naiknya sama kencang. Contoh saham ULTJ, toh ga liquid namun ttp bs naik. Jd balik lagi ke kenyamanan masing2 dan sbrpa kuat mental kesabaran kita. MIDI sy sangat suka, sekapal kita pak, namun TELE slalu membuat sy ragu. Ini saham tiap thn cetak laba fantastis, dan produknya juga fantastis DAN di support oleh TSEL, tapi toh mengapa cashflow operasi SELALU NEGATIF! Padahal secara logika awam, ini kan bisnis cash to cash minimal 60-70℅ pendapatannya. So, sy abaikan dlu saja saat ini sambil liat2 kedepannya seperti apa cashflow TELE.

    TLKM one i have missed. Pasca selesai perang provider, TLKM sdh jelas2 mendominasi sektornya dan yg terbaik, dan ini jg mrnjadi kendala TBIG nnti, kehilangan bargaining power krna provider sdh tdk byk saingan lg.

    Balik ke TBIG sedikit, yg saya suka dr TBIG walau pertumbuhan sdh jelas melambat, namun cashflownya super sekali. Ini adalah salah 1 saham cash machine menurut sy. Strateginya jg simple krna cash operasi yg melimpah. Ekspansi atau bayar utang/dividen, sumber dana tiap thn slalu ada. Jd sy ga takut dgn saham yg utang bsr, asal terbukti dia memiliki cash operasi yg cukup utk membayar beban setiap thn dan tentunya ms cetak profit.

    Klo boleh sy ilustrasi seperti saat beli property ya utk model bisnis TBIG dgn ROAnya yg 7,3℅.
    Anda membeli property dgn modal rp0 yg nilainya 1M. Lalu property anda bs disewakan dgn return 7,3℅/thn nett sdh termasuk biaya op dan cicilan.

    Artinya stlh +/- 10thn (general rule 72/7,3), maka property itu sdh menjadi milik anda, dan juga berarti tanpa keluar uang sepersen pun, 10thn lg anda mendapatkan asset 1M. Gitulah model bisnis TBIG klo sy menggambarkannya. Mungkin 7,3℅ terlihat kecil namun jgn lupa dia ga pakai modal.

  14. Nice to see blognya bapak. Saya juga mulai start investasi di saham (bukan main saham :D) sejak Agustus 2013 dan punya pengalaman yang kurang begitu bagus di tahun 2015 kemarin but so far realisasi keuntungan di saham sudah sangat lumayan. Saya juga penganut aliran fundamental meihat website bapak apakah ada rasio khusus yang bapak jadikan patokan dalam memilih saham? dan apa alasannya? Thanks

  15. Thanks sharing nya pak. Saya baru sebulan belajar saham. Banyak hal yg masih perlu dipelajari.
    Btw, apakah ada rekomendasi group yg membahas saham pak?
    Saya joint ke stockbit tapi saya rasa kurang nyaman ikut disana.

    Thanks pak ali.

  16. Kalau baru sebulan, take it slow saja pak, cenderung 2-3thn pertama masih “proses belajar awal” dan banyak sekali jebakan emosi yg perlu kita pelajari dlm investasi saham. Dan yg membuat sulit adalah, hal ini tidak bisa diajarkan oleh siapapun karena dinamisnya personality setiap org yg unik.

    Yg bs sy saran yaitu, take it slow saja, jgn ambil resiko berlebihan, lalu mulailah mencari kenyamanan style investasi anda, anda pasti akan ktmunya, cepat atau lambat.

    Krna sy percaya sama FA dan investasi jangka panjang, jadi sy akan slalu mempertahankan view sy atas hal ini, namun jika berada di lapak org lain, sy akan slalu mencoba mengakomodir dan menghargai perbedaan.

    Sebanyak-banyaknya kejelekan stockbit, disitu juga terdapat banyak sekali hal positif, jadi ya imbanglah seperti dimana saja. Tinggal kita filter aj seperti kita mengfilter saham sesuai selera dan analisa kita 🙂

    Klo komunitas saham (grup sosmed), sy yakin diluar sana byk sekali, namun sy cmn ada 1 tapi komunitas tertutup. Anda bisa membaca ratusan article tentang investasi yg admin slalu bagikan di situsnya http://www.saham-indonesia.com

    Jika anda ingin “mencoba” tekunin investasi jangka panjang dan serius, coba cari buku Peter Lynch yg berjudul “One up on wall street” diluar sana, di Indo ga jual. Itu by far buku yg menurut kami adalah salah 1 terbaik utk investasi longterm dan cocok bagi retail seperti kita.

    Salam,
    Ali

  17. Salam kenal, Pak Ali.
    Saya baru di minggu ini menemukan tulisan2 di blog bapak, karena mencari informasi tentang investor yg pegang saham SMSM.

    Saya baru jalan satu bulan inves saham dengan cara learning by doing, sambil banyak baca2 juga. Sampai saat ini rata2 gain saya kurang lebih 1-2 % (dua minggu pertama selalu minus). Bisakah saya bergabung di grup belajar saham fundamental yg grupnya tertutup yang bapak ikuti?

    1. Slm kenal pak Fery, mungkin bpk coba hub admin langsung ya pak, soalnya sy tdk punya wewenang atas hal itu dan grup kami berkembang cukup bsr skrg, jd cukup selektif sepengetahuan sy utk member baru, namun silahkan di coba ya pak. Kontak admin ada di situs http://www.saham-indonesia.com

      Good luck ya, namun klo ada hal lain yg bs sy bantu, silahkan komen saja.

      Ali

Leave a Reply

Your email address will not be published.